Aksi kelompok tari De Stilte dari Belanda

PEMENTASAN FLYING COW

Penari mementaskan pertunjukkan tari berjudul Flying Cow di Balai Budaya, Balai Pemuda Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (19/1/2019). Pertunjukkan dengan koreografer Jack Timmermans yang ditampilkan kelompok tari De Stilte asal negara Belanda itu menceritakan tentang persahabatan dan solidaritas, bermain dan pentingnya berimajinasi. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/pras.

Fahmi Hendrawan luncurkan buku “Sedekah Inspirasi”

Jakarta (ANTARA News) – Fahmi Hendrawan membagikan kisah perjalanan hidup serta gairahnya dalam bisnis fesyen melalui buku berjudul “Sedekah Inspirasi”.

Fahmi Hendrawan dikenal sebagai seorang pengusaha fesyen dan CEO Fatih Indonesia, sebuah merek baju muslim pria modern. Perjalanannya mencapai tahap seperti sekarang tidaklah mudah. Diawali dengan keputusannya mengundurkan diri dari jabatan sebagai manajer bank swasta, ditipu hingga ratusan juta pernah dialami oleh Fahmi.

Kehidupan Fahmi semasa mengenyam pendidikan juga tidak gampang. Ia pernah hampir putus sekolah karena tidak memiliki biaya. Namun karena tekad dan niat yang kuat, Fahmi bisa menyelesaikan bahkan kini ia sudah mendapat gelar S2.

Melalui “Sedekah Inspirasi”, Fahmi bercerita tentang proses jatuh bangun hidupnya dari berbagai aspek. Ia juga menuliskan tentang pengalaman spiritual yang kemudian membawanya pada bisnis busana muslim untuk pria.

“Buku ini bukan untuk sombong tapi untuk menginspirasi. Saya ingin buku ini menjadi amal jariyah buat mereka yang membacanya. Untuk itulah kenapa namanya sedekah, karena sedekah tidak hanya berupa uang. Apa pun yang kita punya bagikan, karena kita enggak tahu cerita mana yang bisa kita bagikan,” kata Fahmi dalam peluncuran buku “Sedekah Inspirasi” di Jakarta, Sabtu.

Buku ini juga tidak hanya bercerita tentang passion Fahmi. Ia juga memberikan tips untuk memulai dan menjalankan wirausaha.

Buku yang diterbitkan oleh Roda Publikasi Kreasi ini dijual dengan harga Rp99 ribu dan hasil penjualannya akan diwakafkan untuk pembangunan masjid Al Fatih yang merupakan pesantren tahfiz dan pendidikan Da’i Institut Cinta Quran Centre yang dipimpin oleh ustaz Fatih Karim. 

Baca juga: Tren fesyen muslimah tahun depan
Baca juga: Generasi muda didorong masuk ke industri kreatif fesyen dan kerajinan

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Karya Djenar Maesa Ayu dan Ratih Kumala dipamerkan di London

Jakarta (ANTARA News) – Karya dua sastrawan perempuan Indonesia, Djenar Maesa Ayu dan Ratih Kumala, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris guna diikutkan dalam pameran buku internasional London Book Fair 2019 (LBF) pada 12–14 Maret 2019.

Gramedia Pustaka Utama dalam keterangan pers, Jumat, mengatakan karya Djenar yang dipamerkan adalah “Nayla”, sementara Ratih membawa novel “Potion of Twilight”. 

“Nayla” diterbitkan pertama kali tiga bulan lalu di Ubud Writers & Readers Festival, sementara “Potion of Twilight” sudah diterbitkan pada di SOAS University of London, 25 September 2018.

Kehadiran dua buku berbahasa Inggris ini akan meramaikan pasar hak cipta terjemahan buku fiksi dari Indonesia. Tahun ini, industri buku Indonesia sekali lagi akan menjadi sorotan dunia karena akan dihelat menjadi Market Focus Country untuk London Book Fair 2019 (LBF). 

Menurut data yang dirilis oleh Komite Buku Nasional (KBN), hingga saat ini buku-buku dengan kategori fiksi menduduki 28,3 persen persen bagian dalam total penjualan hak cipta terjemahan buku-buku karya penulis Indonesia di dunia. 

Angka ini diikuti dengan 42,1 persen buku anak, 13 persen buku bertema keagamaan, 10,9 persen buku-buku non-fiksi, 3 persen buku puisi, dan 2,8 persen untuk buku komik.

Ratih Kumala dan Djenar Maesa Ayu berbincang dalam diskusi “Woman in Translation”, Kamis (17/1), mengenai sastra Indonesia yang baru kelihatan di mata dunia pada pameran buku internasional Frankfurt Book Fair (FBF) tiga tahun lalu. 

Menilik sejarah sastra Indonesia, butuh 145 tahun agar karya sastra lokal bisa tampil di ajang bergengsi berkelas internasional. Di pameran buku Frankfurt itu, Indonesia menjadi tamu kehormatan (Guest of Honour, GOH).

Baca juga: “Nayla” dan “Gugug!” rilis di Ubud Writers & Readers Festival 2018

Baca juga: Jadi ibu tiri Dian Sastro, Djenar Maesa Ayu mau berakting lagi

Sejak Frankfurt Book Fair, Ratih dan Djenar merupakan penulis perempuan Indonesia yang karyanya mampu menyapa pembaca global. 

Artinya, karya sastra perempuan Indonesia sudah diterima pula oleh pembaca global karena penerjemahan biasanya mengikuti permintaan pasar alias pembaca. 

Kedua, selain isu perempuan, bahasan yang menarik lainnya adalah penerjemahan. Karya-karya berbahasa Inggris di Indonesia maupun yang beredar secara global memang masih jarang jika dibandingkan dengan ribuan karya berbahasa Indonesia. 

Banyak faktor di balik fenomena ini. Pertama, biaya pengalihan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris memakan biaya yang tidak murah. 

Kedua, kurangnya sumber daya penerjemah berkualitas. 

Ketiga, belum banyaknya pembaca buku berbahasa Inggris di Indonesia membuat buku-buku berbahasa Inggris rendah serapan pasarnya sehingga membuat penerbit merugi.

Faktor-faktor itu membuat publikasi atau buku-buku berbahasa Inggris saat ini belum menjadi perhatian bagi penerbit-penerbit di Indonsaia. 

Sedangkan satu-satunya cara agar karya-karya sastra Indonesia dibaca banyak orang terutama orang-orang yang tidak berbahasa Indonesia adalah dengan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. 

Agar karya penulis Indonesia dibaca semakin banyak orang, GPU menerbitkan lebih banyak buku-buku berbahasa Inggris dan Gramedia International berpartisipasi dalam pameran-pameran di luar negeri seperti Frankfurt Book Fair, London Book Fair, Beijing Book Fair dan Bologna Children’s Book Fair.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wisata edukasi kian diminati masyarakat

(Antara)-Objek wisata berbalut nilai pendidikan atau lebih dikenal dengan wisata edukasi, saat ini menjadi tren yang semakin diminati masyarakat. Maka tak heran, bila wisata dengan konsep edukasi saat ini ramai dikunjungi, seperti wisata agro tanaman obat di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Peluncuran buku foto Armenia

Pangunjung mengamati foto-foto yang dipamerkan saat peluncuran buku Armenia: Land of Legend di Auditorium Adhiyana, Wisma Antara, Jakarta, Selasa (15/1/2019). Buku foto Armenia: Land of Legend menyajikan foto-foto yang diabadikan pewarta foto senior Kantor Berita Antara Hermanus Prihatna dan pewarta senior Atman Ahdiat saat berkunjung ke “tanah legenda” Armenia. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak/pras.

Pelajar Korea belajar membuat kue putu

PELAJAR KOREA BELAJAR MEMBUAT KUE PUTU

Pelajar asal Daejeo Middle/High School Busan Metropolitan City, Korea Selatan belajar membuat Kue Putu saat berkunjung ke SMP 5 Muhammadiyah, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/1/2019). Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengenalkan salah satu kuliner tradisional Jawa sekaligus sejarah yang terkandung di dalamnya. ANTARA FOTO/Moch Asim/pras.

Pameran Pernikahan Tradisional

Model menunggu proses penjurian ketika mengikuti perlombaan rias pengantin bertema Nusantara saat Pameran Pernikahan Tradisional di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (11/1/2019). Perlombaan rias pengantin tersebut merupakan salah satu rangkaian pameran perlengkapan pernikahan tradisional (Traditional Wedding) yang berlangsung hingga 13 Januari 2019. ANTARA FOTO/Moch Asim/foc.

Tintin rayakan 90 tahun dengan edisi kontroversi kolonial

Jakarta (ANTARA News) – Tintin akan merayakan ulang tahun ke-90 tahun ini dengan edisi baru “Tintin in the Congo” yang kontroversial, karya seniman Belgia tahun 1930, yang saat itu menuai tuduhan rasisme.

Petualangan pewarta muda di tempat yang dulu koloni Belgia itu adalah cerita pertama Tintin yang dijadikan serial oleh seniman Herge.

Serita itu dirilis ulang dengan versi digital remastered berwarna untuk merayakan 90 tahun sejak karakter kartun strip itu pertama kali muncul di surat kabar Brussels pada 1929.

Penerbit menolak pendapat bahwa cerita, yang menampilkan karakter orang Afrika gendut, berkulit hitam dengan bibir merah dan mengenakan cawat, itu bermasalah.

“Dialog itu paling penting dan pekerjaan dekonstruksi, dekolonisasi juga sama penting,” kata Robert Vangeheberg, Kamis (10/1), seperti dikutip Reuters.

Meski demikian, seorang komikus Kongo bernama Barly Baruti, mengatakan pada Reuters bahwa penerbitan ulang karya tersebut saat kelompok nasionalis dan rasis sedang menggelora di Eropa patut dipertanyakan. 

“Kita harus bertanya pada diri sendiri apakah itu momen yang tepat,” katanya.

Edisi pertama buku “Tintin in the Congo” pada 1946 menampilkan Tintin dan anjing setianya Snowy bergulat dengan penyelundup berlian.

Pengadian Belgia menolak permintaan pegiat Kongo satu dekade lalu untuk melarang buku tersebut. Para hakim mengatakan komik itu mencerminkan sikap kolonial saat itu dan tak ada bukti bahwa Herge –yang meninggal pada 1983 ketika berusia 75 tahun– punya pandangan rasis.
 

Penerjemah: Nanien Yuniar
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ratusan karya kartunis Semarang akan dipamerkan di Belgia

Semarang, (ANTARA News) – Kartunis senior Semarang Jitet Kustana akan meramaikan panggung seni Eropa dengan memamerkan ratusan karya-karyanya di Belgia, pada 27 Januari-14 April 2019.

“Sebuah kehormatan bagi saya bisa pameran di European Cartoon Center (ECC) Kruishoutem, Belgia,” kata Jitet di Semarang, Rabu.

Pendiri Gold Pencil Indonesia itu akan bertolak ke Kruishoutem, Belgia, pada 24 Januari mendatang untuk pembukaan pameran karyanya tersebut.

Sebagai pusat kartun di Eropa yang dibuka pada 2007, ECC menjadi tempat yang digadang sebagai surga bagi kartun, rumah bagi kartunis, dan penggemar kartun.

Selain menggelar kontes dua tahunan Euro Kartoenale, ECC juga membuka ruang untuk pameran tunggal, kuliah, dan kegiatan yang relevan dengan seni kartun.

Sosok pria kelahiran 4 Januari 1967 itu menceritakan undangan berpameran di Belgia berawal dari kiriman surat elektronik yang diterimanya dari pengelola ECC.

Melalui surat elektronik tersebut, pengelola ECC meminta Jitet untuk mengirimkan sejumlah karyanya karena mereka berminat untuk memamerkannya.

“Surat elektronik saya terima sekitar Oktober 2018. ECC minta 130 karya, dan aku kirimkan 147 karya,” kata Jitet.

Jitet mengungkapkan sebagian besar karyanya yang akan dipamerkan di Eropa nantinya merupakan karya yang pernah memperoleh penghargaan internasional.

Sampai saat ini, Jitet telah mengantongi kurang lebih 180 penghargaan kartun tingkat internasional, yang terbaru dinobatkan sebagai kartunis terbaik 2018 versi Cartoon Home Network International yang berbasis di Norwegia.

Pada pameran di Belgia nanti, Jitet bakal berduet dengan kartunis asal Portugal, Cristina Sampaio.

Selain memamerkan karya-karya kartun terbaiknya, Jitet dalam lawatan ke Belgia kali ini juga bakal terlibat dalam penjurian even kartun Euro Kartoenale yang mengangkat tema “The Wall”.

Baca juga: Kartunis asal Semarang juarai lomba internasional di Turki

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019