Genda Gendu Rasa Sujiwo Tejo

Budayawan Sujiwo Tejo tampil saat diskusi budaya ‘Genda-gendu Rasa: Desa Mawa Cara Negara Mawa Tata’ dalam Festival Dana Desa 2018 di Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (27/12/2018). Dalam acara yang membahas tentang idealnya pemanfaatan dana desa dari pemerintah pusat tersebut, Sujiwo Tejo tampil menyanyikan tembang-tembang karyanya, seperti Ingsun, Sugih Tanpo Bondo, Goro-goro, dan Jancuk. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/pras.

Koleksi pribadi Ir Djuanda akan disimpan di Museum Maritim

Jakarta (ANTARA News) – Sejumlah koleksi pribadi pahlawan kemerdekaan Ir. H. Djuanda akan disimpan di Museum Maritim Indonesia termasuk seragam militernya yang sarat kenangan bersejarah.

Direktur Utama PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia (PMLI), Amri Yusuf, di Jakarta, Jumat, mengatakan Museum Maritim Indonesia akan menyimpan beberapa koleksi pribadi Pahlawan Kemerdekaan Ir. H Djuanda. 

“Koleksi pribadi pencetus Deklarasi Djuanda ini terdiri dari seragam militer dengan pangkat Jenderal Tituler, yang diberikan Proklamator RI Soekarno, penghargaan Bintang Mahaputra, serta tempat surat,” katanya.

Koleksi pribadi Djuanda itu diserahkan oleh pihak keluarga kepada pengelola Museum Maritim Indonesia sebagai langkah untuk memperkaya khasanah pengetahuan kemaritiman di Tanah Air.

Penyerahan koleksi pribadi tersebut dilakukan di sela-sela kegiatan Workshop Temu Mugalemon (Museum, Galeri, dan Monumen), yang kali ini diadakan di Museum Maritim Indonesia, Pelabuhan Tanjung Priok, Jumat.

“Kami sangat mengapresiasi pemberian koleksi pribadi Pahlawan Kemerdekaan Ir. H Djuanda kepada Museum Maritim Indonesia. Koleksi-koleksi tersebut akan menjadi salah satu perangkat untuk mempelajari masa lalu dan sekaligus menginterpretasikan sejarah Indonesia sebagai bangsa maritim,” katanya.

Amri mengatakan, museum bukan sekadar tempat menyimpan artefak dalam arti konvensional. Lebih dari itu, Museum Maritim Indonesia harus menjadi sarana penyebaran informasi, peningkatan citra, identitas, dan budaya yang terus berkembang, serta proyeksi perubahan di masa yang akan datang.

Temu Mugalemon merupakan pertemuan rutin para pengurus serta komunitas pecinta Museum, Galeri, dan Monumen. 

Pertemuan kali ini mengusung tema “Museum sebagai Pilar Pemajuan Kebudayaan” di mana PT PMLI sebagai pengelola Museum Maritim Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan.

Workshop ini  menjadi wadah bertukar pengalaman dalam pengelolaan museum serta evaluasi terhadap aktivitas museum di Jakarta, selama 2018.

Dalam kesempatan ini Museum Maritim Indonesia memaparkan rencana pengembangan museum yang baru diluncurkan pada 7 Desember 2018 itu, di hadapan Direktur Jenderal Kebudayaan, para kepala museum dan asosiasi pemerhati museum. 

Momentum ini juga menjadi awal Museum Maritim Indonesia memperkenalkan dunia pelabuhan dan kemaritiman dengan mengadakan kunjungan ke berbagai terminal dan bangunan-bangunan bersejarah di pelabuhan Tanjung Priok.

Amri berharap, pengembangan Museum Maritim Indonesia akan mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak dan masyarakat luas.
 
Baca juga: Pengunjung Museum Lawang Sewu tembus satu juta
Baca juga: Aplikasi “Museum Wayang” edukasi digital wisatawan milenial

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pembukaan Denpasar Festival

Sejumlah anak menampilkan tarian saat inagurasi pembukaan Denpasar Festival 2018 di Denpasar, Bali, Jumat (28/12/2018). Festival bertema “Urban Playground” yang menampilkan berbagai atraksi seni budaya, kuliner khas, dan produk UMKM tersebut digelar untuk mempromosikan potensi wisata Kota Denpasar sekaligus sebagai daya tarik wisata alternatif selama libur akhir tahun. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/foc.

Kawasan Percandian Muara Jambi

Foto udara areal Candi Tinggi di Kawasan Percandian Muarajambi, Jambi, Sabtu (29/12/2018). Kawasan percandian terluas di Asia Tenggara tersebut menjadi salah satu destinasi wisata pilihan warga setempat dan sekitarnya untuk mengisi waktu libur. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/kye.

Ulaon Matumona, doa keselamatan masyarakat Batak

Jakarta (ANTARA News) – Pagi itu hujan mengguyur kawasan Bandara Internasional Silangit di Siborongborong, Tapanuli Utara, Sumatera Selatan, setelah semalaman suhu udara mencapai 14 derajat Celsius. Namun dalam jarak 30 menit, terik sinar matahari menyinari kawasan Pelabuhan Muara di tepi Danau Toba.

Di bawahnya, ribuan orang berkumpul. Anak-anak sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama berbaris, dengan lembar-lembar ulos masing-masing melekat sebagai selendang atau ikat kepala. Mereka tengah mengikuti Pawai Budaya 1.000 Ulos, yang dipepatkan dalam rangkaian puncak upacara adat Ulaon Matumona.

Pria berusia 80 tahun yang akrab disapa Opung Jafaris boleh dibilang menjadi salah seorang yang bertanggung jawab atas terjadinya perbedaan cuaca nan kontras tersebut. Sebab ia bertindak sebagai dukun penjaga alam, hujan, angin serta pencegah gangguan dari hal-hal yang tidak nampak (begu-begu) dalam rangkaian acara Ulaon Matumona tersebut.

Dipimpin Opung Jafaris, rombongan peserta Ulaon Matumona dari berbagai horja bius yang menetap di Kecamatan Muara bergerak mulai dari muka Gereja HKBP Untemungkur diarak dalam kelompok Pawai Budaya 1.000 Ulos, berjalan kaki sekira 650 meter jauhnya menuju Lapangan SD Inpres Muara, tempat acara puncak Ulaon Matumona dilangsungkan.

Ulaon Matumona secara harafiah berarti kegiatan untuk berkumpul untuk memetik hasil produksi dan mengkonsumsinya secara bersama-sama dalam satu kecamatan, demikian penjelasan singkat Opung Jafaris.

“Dunia Muara ini jadi tempat kami semua, di sini ada banyak pohon yang berbuah, ada banyak batu-batu yang bisa dijual juga pasir. Lagi, padi, alpukat, mangga, rambutan dan selain-lainnya itu baru dipetik. Itu artinya matumona, artinya masih matang,” kata Jafaris.

“Kayak padi itu masih disabit, lalu padi tadi itu mau digiling, kita mau makan, patumona. Matumona itu mengambil, patumona itu memakan,” tuturnya lagi.

Sebagai seorang yang bertanggung jawab untuk memantapkan rangkaian acara supaya berkesesuaian dengan berbagai aturan adat dan tradisi masyarakat Batak, Opung Jafaris mengandalkan betul ingatannya yang menjamah pada upacara serupa yang ia saksikan saat ia masih remaja berusia 12 tahun.

Mengingat Opung Jafaris saat ini sudah menginjak usia 80 tahun, maka terakhir kali ia menyaksikan upacara Ulaon Matumona di Muara terjadi pada medio tahun 1950-an.

“Pada saat itu saya sudah umur 12 tahun, dari situ saya masing ingat-ingat semua, apa yang bisa disuguhkan itu dikumpulkan,” kata Opung Jafaris.
  Opung Jafaris (kiri) yang bertindak sebagai tim ritual upacara adat Batak, Ulaon Matumona, dalam rangkaian prosesi puncak Mangalahat Horbo atau menombak kerbau persembahan. (ANTARA/Gilang Galiartha)

Soal kapan terakhir kali Ulaon Matumona digelar di Muara memang cukup simpang siur, setidaknya ada dua pendapat lain yang mengutarakan keterangan berbeda.

Tumpak Winmark Hutabarat misalnya, pria yang menjabat sebagai Direktur Pesta Budaya Rakyat dalam kepanitiaan Festival Tenun Nusantara 2018 menyebutkan bahwa terakhir kali Ulaon Matumona digelar pada tahun 1986 silam.

Sedangkan Jusman Sianturi, salah seorang tetua adat di Kecamatan Muara menyebut upacara sejenis pernah digelar di wilayahnya pada 2013 lalu.

Terlepas dari mana yang benar, berlangsungnya Ulaon Matumona di Muara pada 15-17 Oktober lalu menjadi tonggak pelestarian budaya tanah Batak di kalangan remaja dan generasi penerus agar nantinya lima, 10, 50 maupun 100 tahun mendatang ia tak hanya berakhir menjadi arsip  semata tetapi merupakan rutinitas yang berulang dalam periode tertentu.

Baca juga: Festival Tenun Nusantara diharapkan mengangkat derajat penenun

Martonggo Raja  

Meski tak satu suara soal kapan terakhir kali Ulaon Matumona digelar, Opung Jafaris, Tumpak Hutabarat dan Jusman Sianturi menyepakati bahwa gelaran tersebut harus berlangsung dalam tiga tahapan yang dibagi dalam tiga hari.

Di hari pertama, raja-raja bius, ketua adat dan ketua masyarakat yang bisa diwakili kepala desa berkumpul dalam musyawarah yang bernama Martonggo Raja. 

Dalam Martonggo Raja ditentukan jambar atau pembagian berbagai peran yang diemban tiap-tiap orang yang terlibat dalam Ulaon Matumona, termasuk penentuan porsi bagi masing-masing dari kerbau yang nantinya akan dipersembahkan pada acara puncak.

Pada hari kedua, tim ritual yang sudah ditunjuk pada Martonggo Raja akan menentukan kayu pohon yang akan dipakai dalam Paojakkon Borotan, menjemput dan mengaraknya sejauh dua kilometer menuju lokasi prosesi acara. Secara harfiah Paojakkon Borotan adalah prosesi untuk menanamkan batang pohon yang akan dijadikan tempat mengikat tali kerbau yang bakal dipersembahkan.

Lantas pada hari ketiga, prosesi puncak Ulaon Matumona akan ditandai dengan Mangalahat Horbo atau menombak kerbau persembahan yang nantinya sebagian dagingnya bakal dibagikan sesuai dengan jambar masing-masing peserta upacara.

Tumpak, yang akrab disapa Siparjalang lantaran hobinya berkeliling Indonesia itu, mengaku memiliki tantangan untuk memastikan keotentikan rangkaian prosesi Ulaon Matumona.

“Sangat banyak yang tidak pernah melakukan dan sangat sedikit yang pernah melihat Ulaon Matumona ini. Jadi Ulaon Matumona ini konsepnya disatukan dari berbagai perungindan bersama masyarakat Muara,” kata Tumpak.

Eratnya prosesi upacara sejenis Ulaon Matumona dengan kepercayaan lokal Batak baik itu Sipelebegu (punya sebutan berbeda di beberapa wilayah Batak, misalkan Perbegu di Karo) maupun Parmalim juga diakui Tumpak menjadi salah satu tantangan tersendiri untuk menggelar kembali kegiatan yang menjadi bukti kekayaan tradisi Nusantara itu.

“Ini yang harus dimoderasi, karena proses kebudayaan berbeda dengan proses agama. Prosesi kebudayaan adalah bagian dari tradisi masyarakat itu sendiri, yang berdinamika sendiri,” ujar Tumpak.

Pun demikian, Tumpak bersyukur masyarakat Muara cukup antusias menyambut kehadiran Ulaon Matumon yang menjadi bagian dari Festival Tenun Nusantara, yang tidak terlepas dari lekatnya kehidupan warga setempat dengan ulos.

“Tidak ada penolakan di sini. Denyut nadi masyarakat sini dari ulos, hidup dari menenun. Di luar aspek ekonomi, keseharian tradisi mereka juga selalu bersentuhan dengan ulos, mulai dari pernikahan, kelahiran, pesta adat, kematian…jadi tidak ada penolakan di sini,” tegasnya.
  Ketua Adat Batak Kecamatan Muara, Tapanuli Utara, Jusman Sianturi (kedua kiri), dalam prosesi puncak Ulaon Matumona, Mangalahat Horbo. (ANTARA/Gilang Galiartha)

Jusman Sianturi mengamini pernyataan Tumpak, menyebut Ulaon Matumona sebagai kegiatan budaya yang biasa dikerjakan oleh nenek moyang warga Muara, meski pada masa lampau hal itu memang erat dengan prosesi meminta berkah dan kemudahan dari Mulajadi Nabolon, demikian masyarakat Batak menyebut Dewa tertinggi dalam sistem kepercayaan mereka.

“Dulu kegiatan itu dilaksanakan oleh leluhur kami untuk meminta restu dari Mulajadi Nabolon untuk berkat dan keselamatan bagi masyarakat Muara, agar pekerjaan kami bisa menghadirkan kemakmuran dan kesejateraan,” kata Jusman.

Baca juga: Wisata Toba berpotensi saingi Bali

Rumitnya prasyarat  

Sebagai sebuah prosesi adat, berbagai prasyarat tentu telah digariskan agar nilai kesakralan dan kebersesuaian Ulaon Matumona tercapai. Dalam hal ini, Opung Jafaris menjadi salah satu sosok yang berperan untuk menyelami kembali ingatannya –yang menurutnya– seusia 68 tahun silam.

Menurut Opung Jafaris terdapat 21 jenis suguhan yang nantinya akan dikonsumsi atau di-patumona bersama-sama oleh peserta Ulaon Matumona, di antaranya kambing putih, ayam putih, ayam merah merah, ayam hitam putih, dekenehura (ikan mas), ita putih, ita gurgur dan hino pingan.

Untuk batang pohon yang bakal dipakai sebagai Borotan pun tentu ada kriterianya.

“Harus tumbuh sendirian dalam radius 20 meter, yang artinya kalau dia nanti tumbang tidak merusak kayu yang lain,” kata Opung Jafaris.

“Ukurannya harus sebesar orang gemuk, dengan panjang tiga meter. Satu meter ditanam, satu meter lepas, dan satu meter di atasnya dipasangi jagar zagar (semacam sesajen yang disematkan ke bagian atas batang Borotan). Satu meter yang lepas itu nanti buat tempat ikat kerbau,” ujarnya menambahkan.
  Opung Jafaris (tengah) yang bertindak sebagai tim ritual upacara adat Batak, Ulaon Matumona, memberikan minum kepada kerbau yang akan dijadikan persembahan dalam rangkaian prosesi puncak Mangalahat Horbo. (ANTARA/Gilang Galiartha)

Untuk kerbau yang nantinya bakal dikorbankan juga tak kalah rumit syaratnya yakni harus memiliki dua belang di leher, empat pusaran yang di bagian depannya harus sejajar tembus antara sisi kanan dan kiri dengan usia sudah mencapai enam tahun.

Kemudian tanduk si kerbau harus berdiri tegak dan tidak boleh terdapat pusaran di kepala maupun di dekat ekor.

“Ekornya harus makorus, bukan madungdung. Artinya harus menjuntai hingga ke bawah lutut kerbau. Kalau madungdung itu berarti kerbaunya masih marsai, kurang sempurna,” katanya.

Baca juga: Presiden dorong pembenahan produk wisata Danau Toba

Prasmanan swadaya  

Kendati dihadirkan sebagai sebuah kegiatan budaya yang dilakukan dalam rangkaian Festival Tenun Nusantara 2018, Ulaon Matumona di Muara tak meninggalkan aspek paling penting yang menjiwainya yakni sarana bersyukur dan meminta keselamatan serta kesejahteraan bersama-sama.

Oleh karena itu, hampir seluruh masyarakat Muara terlibat di dalamnya, bersumbangsing dengan apa saja yang bisa mereka berikan demi terlaksananya Ulaon Matumona.

Tumpak Hutabarat mengaku hal itu serupa dengan apa yang dilakukan pada masa lampau, bahwa prosesi Ulaon Matumona berlangsung ditanggung biaya swadara masyarakat.

“Jadi karena mereka konsepnya per marga, ada yang menyumbangkan uang, ada yang menyumbangkan beras. Setahun sekali semua orang bersyukur, karena kadar bersyukur tidak cuma ditakar dari kesehatan semata, tapi bisa juga keamanan maupun hasil panen yang melimpah,” kata Tumpak.

Kehadiran masyarakat Muara juga dipastikan oleh Upung Jafaris dalam Ulaon Matumona kali ini.

“Kehadiran masyarakat Muara itu ada masing-masing. Yang punya uang menyumbangkan agar pesta ini jadi, yang lainnya bisa berkontribusi secara otak, doa, semua harus terlibat, karena ini untuk kita semua,” tegas Opung Jafaris.

Muara hari-hari ini mengamalkan kembali peribahasa Batak, arga do bona ni pinasa yang artinya tanah leluhur bernilai tinggi, dan apa lagi yang bisa dilakukan untuk menjaga nilai tanah leluhur selain melestarikan tradisi yang dimiliki?
 

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

“Help!”, ayo lawan pencuri bulan!

Jakarta (ANTARA News) – Bocah-bocah di bangku penonton bersorak, lari dari tempat duduk menuju panggung untuk membantu para pemain di pementasan “Help!” menaklukkan dua robot pencuri bulan yang merenggut perdamaian.

“Ayo! Ayo!” 

Beberapa anak dengan kostum dan wig warna-warni turun dari panggung untuk mengajak penonton ikut menyerbu penjahat dalam pentas yang naskahnya ditulis sastrawan Putu Wijaya dan disutradarai Jose Rizal Manua. 

Pertunjukan “Help” dari Teater Tanah Air di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Minggu, memang membuka kesempatan pada para penonton untuk ikut merasakan serunya panggung teater meski hanya sejenak.

“Help!” dibuka dengan belasan anak menyanyi riang, menyerukan pesan untuk menjaga perdamaian di muka bumi.

“Sudah waktunya hentikan perang!” begitu bunyi lirik yang mereka nyanyikan. 

Pertunjukan ini memanjakan mata penonton berkat permainan cahaya dipadu dengan video yang ditembakkan ke layar putih membentang, memperlihatkan bulan purnama, keelokan alam dan budaya Tanah Air, alam semesta, angkasa luar hingga isi pesawat antariksa. 
  Pementasan teater “Help!” karya Putu Wijaya yang disutradarai Jose Rizal Manua di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (30/12/2018). (ANTARA News/ Nanien Yuniar)
Lampu merah dan hijau secara manual digerakkan dari depan panggung, menciptakan bayangan para pemeran yang lincah menari-nari di permukaan layar yang bergerak dinamis. “Help!” memang minim properti karena menonjolkan permainan cahaya dan video.

Pentas ini bercerita tentang dua robot jahat yang menembak bulan, membuatnya menghilang. 

“Hebat! Kita jagoan curi-curi bulan!”

Tak cuma mencuri bulan, seorang anak juga mereka culik, namun akhirnya berhasil diselamatkan oleh teman-temannya. Upaya penyelamatan bulan masih dilakukan oleh anak-anak yang pantang menyerah. Tetapi mereka justru dikurung oleh dua robot jahat dalam selubung transparan.

Penonton ikut membantu melawan kejahatan dan para bocah yang disekap berhasil selamat. Dua robot itu dipreteli, memperlihatkan sosok aslinya, dua narapidana yang lari dari penjara. 

Anak-anak mungkin masih dianggap remeh dan tak dipercaya bisa membuat perubahan besar. “Help” memperlihatkan bahwa anak-anak –meskipun kecil– punya kekuatan yang akan semakin kuat bila mereka bergotong royong. Ketika menyatukan kekuatan, penjahat bisa mereka kalahkan, bahkan bulan bisa mereka kembalikan.

Gotong royong dan cinta Tanah Air adalah pesan yang ingin disampaikan lewat pementasan ini.

“Kita harus bersatu,” tutur Jose kepada Antara seusai pementasan. “Tapi tetap harus waspada karena di sekitar kita ada yang berperangai tidak bagus, kejahatan ada di dekat kita yang disimbolkan oleh dua robot itu.”

Pementasan ini juga sudah ditampilkan di 15th World Festival of Children’s Theatre di Lingen, Jerman pada 22-29 Juni 2018. Di sana Teater Tanah Air meraih penghargaan “The Best Performance”.

Teater Tanah Air sudah berdiri sejak 14 September 1988 dan kini beranggotakan lebih dari 60 anak dan remaja. Teater tersebut sudah meraih sederet penghargaan di tingkat dunia. 

Berkali-kali mereka jadi penampil terbaik di World Festival of Children’s Theatre, termasuk pada 2006 lewat pementasan “Spectacle WOW A Visual Theater Performance” dan pada 2008 lewat naskah “Spectacle Peace A Visual Theater Performance”.

Teater Tanah Air adalah grup teater pertama perwakilan Indonesia yang bergabung dalam International Amateur Theater Association. Mereka juga pernah diundang tampil di markas besar PBB di Eropa pada 2008.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Parade Ngelawang Barong

Pemuda menampilkan tarian saat mengikuti Parade Ngelawang Barong di Denpasar, Bali, Minggu (30/12/2018). Kegiatan tersebut digelar sebagai upaya pelestarian seni tradisional Bali sekaligus untuk memperingati Hari Raya Galungan dan Kuningan. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/pras.

Danau Sipin bakal jadi tujuan wisata unggulan Jambi

Jambi  (ANTARA News) – Danau Sipin di Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi ditargetkan menjadi tujuan wisata unggulan di kota itu, kata Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jambi Fachrori Umar.

“Semoga pembangunan wisata Danau Sipin ini cepat diselesaikan baik dari pemerintah Provinsi Jambi maupun dari Pemerintah Kota Jambi,”  kata Fachrori usai mengeliling danau tersebut menggunakan perahu dalam rangka meninjau langsung pembangunan objek wisata Danau Sipin, Jambi, Senin.

Pada tahun 2019 di Danau Sipin akan diselenggarakan perlombaan pacu perahu berskala internasional sesuai   janji Menteri PUPR, kata dia.

Menurutnya, objek wisata Danau Sipin merupakan  potensi wisata yang menarik dikembangkan di tengah Kota Jambi yang diharapkan bisa meningkatkan perekonomian warga setempat.

Danau Sipin yang terletak  di Kecamatan Telanaipura dan Kecamatan Legok memliki panjang 4.500 meter dan lebar rata-rata sekitar 300 meter lebih dengan kedalaman 2-6 meter.

“Danau Sipin yang merupakan Danau yang terletak di tengah-tengah Kota Jambi bisa menjadi destinasi atau ikon wisata unggulan di Provinsi Jambi, asalkan kita kelola dengan indah dan rapi,” ujar Fachrori.

Danau Sipin, lanjutnya, selain menjadi tempat menampung air yang berguna untuk mengantisipasi banjir bagi masyarakat Jambi, juga bisa digunakan sebagai tempat rekreasi warga yang sangat bagus.

“Danau Sipin ini jika dimaksimalkan dengan baik juga bisa digunakan untuk olahraga air, wisata air yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jambi,” katanya menjelaskan.

Fachrori menyatakan pembangunan objek wisata alam Danau Sipin itu dilakukan bersama-sama oleh Pemerintah Provinsi Jambi, Pemerintah Kota Jambi, dan Pemerintah Pusat.

Perpaduan danau dan kearifan lokal budaya masyarakat  menjadi daya tarik wisata Jambi, ujarnya.

Baca juga: Belasan ribu benih ikan jelawat dilepasliarkan di Danau Sipin
Baca juga: Jambi bangun jembatan di Danau Sipin

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Revitalisasi kawasan jam gadang tak pengaruhi jumlah wisatawan

(Antara) – Penutupan Kawasan Pedestrian Jam Gadang serta revitalisasi pasar atas Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, tidak berpengaruh pada jumlah kunjungan wisatawan ke kota tersebut. Pemerintah Kota Bukittinggi mencatat target kunjungan 1 juta wisatawan ke Bukittinggi sudah jauh melebihi target yang ditetapkan pada awal tahun lalu. Selain jam gadang, terdapat beberapa objek wisata lain yang masih menjadi primadona.

Tradisi Perang Air

Warga saling menyiramkan air saat Tradisi Perang Air dalam rangkaian Festival Air Suwat di Desa Suwat, Gianyar, Bali, Selasa (1/1/2019). Tradisi tersebut dilakukan warga setempat untuk membersihkan diri secara lahir dan batin, memperkuat persaudaraan warga sekaligus sebagai atraksi wisata untuk menarik kunjungan wisatawan. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/foc.

20 seniman Banyuwangi akan tampil di Riyadh

Banyuwangi (ANTARA News) – Sebanyak 20 seniman muda Banyuwangi bakal tampil di Festival Janadriyah di Riyadh, Arab Saudi, yang merupakan festival terbesar di kawasan Timur Tengah.

Bupati Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Rabu mengatakan penampilan para seniman Banyuwangi itu atas undangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Kerajaan Arab Saudi.

“Kepercayaan ini mahal. Kesempatan tidak datang dua kali. Maka, kemarin saat melepas anak-anak muda Banyuwangi itu, saya bepesan agar kesempatan ini digunakan dengan sebaik-baiknya untuk mempromosikan Banyuwangi,” ujar Anas dalam keterangan tertulis yang diterima Antara, Rabu.

Festival Janadriyah adalah festival seni budaya tahunan terbesar di Arab Saudi yang setiap tahunnya dikunjungi sekitar 12 juta pengunjung yang berasal dari dalam dan luar Arab Saudi. Pada tahun ini, Festival Janadriyah dibuka langsung oleh Pemimpin Kerajaan Arab Saudi Raja Salman Bin Abdulaziz Al Saud.

“Terima kasih kepada pemerintah pusat, terutama Kemenlu dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), yang terus memfasilitasi promosi Banyuwangi ke mancanegara,” ujar Anas.

Anas mengaku sangat antusias dengan festival ini, karena Banyuwangi mendukung pengembangan pariwisata halal yang salah satunya menyasar wisatawan asal Timur Tengah. Wisata Banyuwangi, kata Anas, sangat potensial bagi pasar turis Timur Tengah. Berdasarkan data dari Kementrian Pariwisata, pada 2017 sebanyak 222.297 wisman Timur Tengah masuk ke Indonesia.

“Belanja turis Eropa kalah dari turis Timur Tengah. Berdasarkan riset Kemenpar, turis dari kawasan Teluk ini rata-rata mengeluarkan uang mencapai US$1.918 (sekitar Rp28 juta) per wisatawan per kunjungan,” ujar Anas.

Anas berharap, kontingen asal Banyuwangi dapat menyuguhkan penampilan terbaik di Arab Saudi. “Ini tidak cuma berdampak pada pariwisata, tetapi juga membawa dampak psikologis. Ini bukti kebudayaan diapresiasi di Arab Saudi,” kata dia.

Rombongan kesenian asal Banyuwangi berjumlah sekitar 20 orang. Mereka terdiri atas sepuluh penari yang masih berusia sekolah dasar (SD) serta para penabuh musik. Di festival tersebut, mereka akan membawakan kesenian hadrah dan kuntulan.

Salah satu anggota rombongan, Erlinda Fibriani (11 tahun) mengaku sangat bangga terpilih mewakili Banyuwangi tampil di Festival Janadriyah di Arab Saudi.

“Sangat bangga. Senang sekali. Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Pengalaman ini tidak akan saya lupakan seumur hidup, dan menjadi penyemangat untuk terus belajar dan berkesenian,” kata pelajar kelas 6 SDN 1 Bukuk, Kecamatan Rogojampi tersebut.

Baca juga: Asesor Geopark UNESCO tinjau kesiapan Banyuwangi

Baca juga: Seniman dan artis yang berpulang pada 2018

Baca juga: Lukisan seniman kelas dunia dipajang di Terminal 3 Soekarno-Hatta

Baca juga: Patung Habibie 7 meter akan dipajang di Bandara Djalaluddin

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Berkat Beyonce – Jay Z, museum Louvre Paris kebanjiran pengunjung

Jakarta (ANTARA News) – Video klip Beyonce dan Jay-Z yang berlatar belakang Louvre mendorong jumlah pengunjung, memecahkan rekor hingga 10,2 juta orang tahun lalu dan menjadi terbanyak dalam sejarah museum mana pun, kata Louvre, Kamis (3/1) waktu setempat.

Seperti dikutip Reuters, peningkatan jumlah wisatawan, yang sempat menurun setelah Serangan Paris 2015, juga membantu peningkatan pengunjung museum hingga 25 persen tahun lalu.

Louvre mengatakan mereka senang atas respons orang-orang terhadap video klip “APES**T” Beyonce dan suaminya Jay-Z di mana mereka tampil di depan Mona Lisa, Venus de Milo dan karya seni ternama lain. Video itu sudah ditonton hampir 150 juta kali di YouTube.

“Senang sekali melihat musisi Amerika, kreator masa kini, tertarik dengan museum arkeologi dan seni,” kata Direktur Louvre Jean-Luc Martinez pada Reuters.

Rekor pengunjung Louvre sebelumnya adalah 9,7 juta orang, pada 2012, ketika museum memperkenalkan bagian Seni Islam dan menggelar pameran Leonardo da Vinci dan Raphael.

Tiga perempat pengunjung adalah orang asing, dengan jumlah 1,5 juta warga Amerika dan sejuta turis China.

French Center for National Monuments juga melaporkan rekor 2018, dengan jumlah 10,2 juta pengunjung, naik delapan persen, di 100 lokasi yang mereka tangani.

The Arc de Triomphe adalah monumen terpopuler di Prancis pada 2018 dengan jumlah pengunjung 1,7 juta orang, diikuti Mont-Saint-Michel di Normandy yang didatangi 1,4 juta orang.

Jumlah total turis yang mendatangi Paris selama setahun belum tersedia, tapi pada paruh awal 2018 tempat itu dikunjungi 17,1 juta kali dan diharapkan rekor setahun mencapai 50 juta kunjungan.
 

Penerjemah: Nanien Yuniar
COPYRIGHT © ANTARA 2019