Identitas, tema diskusi penulis Indonesia di London Book Fair 2019

Jakarta (ANTARA) – Kehadiran Indonesia sebagai Market Focus Country di ajang pasar buku internasional London Book Fair 2019, diisi dengan sejumlah acara, salah satunya panel diskusi di British Library yang menghadirkan Seno Gumira Ajidarma, Dewi Lestari, dan Agustinus Wibowo, Senin (11/3) waktu setempat.

Acara diskusi dengan judul “17.000 Islands of Imagination: Indonesian Literature Today” ini dipandu oleh Louise Doughty, penulis dan kritikus dari Inggris yang telah meraih sejumlah penghargaan atas karya-karyanya.

Salah satu bahasan dalam diskusi yang berlangsung hampir dua jam itu adalah mengenai identitas.

Seno Gumira Ajidarma menilai identitas adalah definisi yang tak bisa diisolasi kecuali dalam sebuah buku paspor. Bahkan ia menilai, pertanyaan-pertanyaan akan identitas sering kali membawa persoalan pada hidup.

Sementara Agustinus menilai bahwa identitas adalah sebuah persepsi, di mana pandangan ini ia peroleh dari pertanyaan dan pencariannya akan rumah yang membawanya melakukan perjalanan ke China, Afghanistan dan negara-negara lainnya.

Sedangkan Dewi Lestari menyampaikan bahwa identitas adalah pencarian akan tujuan hidup di mana ia mendapatkan pertanyaan-pertanyaan filosofis ini yang mempengaruhi di semua karya-karyanya.

Ketiganya juga menyampaikan betapa kebudayaan yang bercampur dalam kehidupan mereka, membentuk jawaban-jawaban atas pertanyaan tentang Indonesia.

Agustinus sebagai penulis berketurunan China, mencoba mencari identitasnya hingga memutuskan tinggal di negara China selama sembilan tahun.

“Tetap saja saat di sana, sebagai pemegang paspor Indonesia, saya merasa terasing,” kata Agustinus dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Rabu.

Sementara Seno yang lahir di Amerika Serikat, merasakan kehidupan sebagai manusia berdarah Jawa kembali ke Yogyakarta.

“Kemudian saya belajar bahasa Indonesia dan di bahasa ini saya menemukan pembebasan terutama dari bahasa Jawa yang penuh tata krama,” ujar Seno.

Adapun Dewi Lestari sebagai penulis berdarah Batak, justru merasa dirinya lebih memahami bahasa dan budaya Sunda karena lahir dan dibesarkan di Bandung, Jawa Barat.

“Namun saya tumbuh dengan membaca buku-buku Barat, seperti karya-karya Enid Blyton. Dan saya rasa sejak muda saya sudah terpapar oleh globalisasi,” ujar Dewi.

Selain berdiskusi, ketiganya juga membacakan cuplikan-cuplikan karya mereka masing-masing.

Agustinus membacakan sepotong tulisannya tentang Tana Toraja, Seno membacakan cuplikan karya Saksi Mata, dan Dewi Lestari membacakan serta menyanyikan bagian novel terbarunya Aroma Karsa.

Diskusi dan pembacaan karya ini menambah pemahaman menarik bagi publik Inggris yang memadati ruang Knowledge Centre di British Library, akan keberagaman budaya di Indonesia.

Di acara yang diselenggarakan bekerja sama antara Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, British Library, dan British Council ini, Ketua Harian Panitia Pelaksana Indonesia Market Focus Country untuk London Book Fair 2019, Laura Bangun Prinsloo menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung acara ini. “Kami mengharapkan kedatangan publik Inggris di 100 lebih acara yang telah kami susun untuk London Book Fair 2019,” ujar Laura.

Sementara Kepala Bekraf Triawan Munaf yang memberikan pidato penutup, turut menyampaikan harapannya akan kesuksesan acara ini mengingat industri penebitan memiliki potensi besar di industri kreatif Indonesia.

“Industri penerbitan memberikan kontribusi cukup besar bagi GDP, di mana penerbitan menempati urutan kelima,” ujar Triawan Munaf yang kemudian memperkenalkan penulis-penulis Indonesia lainnya yang akan tampil di acara-acara selanjutnya di ajang Indonesia Market Focus Country untuk London Book Fair 2019.

Selain acara diskusi, Panitia Pelaksana Indonesia Market Focus Country untuk London Book Fair telah menyelenggarakan sejumlah acara sejak 8 Maret 2019.

Di antaranya, pelajaran bahasa Indonesia dan pertunjukan musik kecapi suling di toko buku Foyles, pameran arsitektur di ruang-ruang publik dengan tema New Ways of Reading, The Indonesian Kebaya and Dressing with Cloth oleh Didiet Maulana di Kedutaan Inggris, dan Indonesian Board Games di Draughts Board Game Café di Waterloo, London.

The London Book Fair (LBF) adalah ranah pemasaran global bagi negosiasi hak cipta yang meliputi penjualan dan distribusi konten-konten intelektual dan kreatf meliputi bidang cetak, audio, TV, film, dan jaringan-jaringan digital.

LBF 2019, yang merupakan bursa ke-48, berlangsung di Olympia London pada 12-14 Maret 2019.

Baca juga: Kepala Bekraf ingin literatur Indonesia digemari dunia

Baca juga: Sastra Indonesia di LBF 2019

Baca juga: Triawan buka Paviliun Indonesia di London Book Fair 2019

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wariskan budaya sejak dini, Museum Siwalima gelar lomba busana daerah

Kita berharap ketika anak-anak ini besar, mereka mengetahui ada nilai yang terkandung dalam pakaian daerah, memiliki rasa bangga memakai pakaian daerah, serta bentuk menanamkan jati diri sebagi anak Maluku

Ambon (ANTARA) – Museum Siwalima Ambon di Provinsi Maluku mewariskan budaya kepada anak usia dini melalui lomba peragaan busana daerah Maluku, kata Kepala Museum Siwalima Ambon, Jean Saiya.

“Lomba ini fokus untuk pakaian daerah bagi anak-anak, sebagai bentuk pewarisan budaya bagi anak-anak, agar sejak dini mengenal akan kebudayaan,” katanya di Ambon, Selasa.

Lomba peragaan busana daerah Maluku difokuskan bagi anak usia dini tingkat Taman Kanak-Kanak, dengan tujuan untuk meningkatkan kreativitas anak.

Ia mengatakan, saat ini pengaruh modernisasi berkembang dengan cepat, sehingga tidak lagi mengenal pakaian daerah terutama bagi generasi milenial.

Selain itu dalam berpakaian, katanya, tidak lagi mengikuti aturan yang berlaku dan diwariskan oleh leluhur, sehingga kegiatan ini dilakukan untuk memperkenalkan nilai budaya terutama pakaian daerah kepada anak usia dini.

“Kita berharap ketika anak-anak ini besar, mereka mengetahui ada nilai yang terkandung dalam pakaian daerah, memiliki rasa bangga memakai pakaian daerah, serta bentuk menanamkan jati diri sebagi anak Maluku,” ujarnya.

Jean menjelaskan, peserta lomba peragaan busana daerah diikuti 37 taman kanak-kanak di Kota Ambon.

“Dari 74 jumlah TK di kota Ambon yang kami kirimkan surat pemberitahuan lomba, hanya 37 sekolah yang merespon,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Maluku, Mimi Hudjadani menyatakan, peran museum sesuai Peraturan Pemerintah (PP) nomor 66 tahun 2015 tentang museum dan Undang-Undang nomor 5 tahun 2017, bukan hanya terkait koleksi benda peninggalan budaya tetapi juga pendidikan karakter.

“Museum bukan hanya tempat koleksi benda peninggalan sejarah dan kebudayaan, tetapi mempunyai peran yang bersentuhan langusng dengan pendudikan karakter,” katanya.

Museum, katanya, memliki peran penting dalam pendidikan karakter yakni mengenalkan kebudayaan dan memberikan pembekalan bagi anak usia dini.

“Pembekalan bagi anak usia dini juga tidak terlepas dari peranan guru dan orang tua, dan museum menjadi mediasi bagi pengenalan kebudayaan,” demikian Mimi Hudjadani.

Baca juga: Mendikbud: jadikan Museum Siwalima tempat menyenangkan

Baca juga: Museum Siwalima pamerkan karya lukis siswa SD

Baca juga: Museum Siwalima Maluku gelar pameran keliling

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

SATU Indonesia Awards 2019 angkat tema “Ikon Inspirasi Negeri”

Jakarta (ANTARA) – Program SATU Indonesia Awards, ajang pemberian penghargaan untuk generasi muda Indonesia yang berkontribusi positif bagi masyarakat, kembali digelar tahun ini dengan mengangkat tema “Ikon Inspirasi Negeri”.

“Tahun ini di momentum satu dasawarsa melalui partner kami, kami bisa menggaungkan ikon yang menginspirasi negeri,” kata Head of Internal Relations Department PT Astra International Tbk, Karnanda Kurniardhi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

SATU Indonesia Awards adalah program yang diselenggarakan oleh PT Astra International Tbk.

Pendaftaran untuk calon penerima apresiasi resmi dibuka Senin (11/3) hingga 31 Juli 2019. Lebih lanjut, peserta yang telah terdaftar akan disaring berdasarkan kriteria penilaian yang sudah ditentukan seperti yang tercantum dalam laman www.satu-indonesia.com.

Para dewan juri yang terlibat tahun ini adalah Dosen Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Indonesia, Prof. Dr. Emil Salim dan Guru Besar Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Prof. DR. Fasli Jalal, juga dari kalangan selebiritas Dian Sastrowardoyo.

Lalu, Menteri Kesehatan Prof. Nila Moeloek, pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan Tri Mumpuni, pakar teknologi informasi Onno W. Purbo, Head of Corporate Communications PT Astra International Boy Kelana Soebroto dan Deputy Chief of Corporate Affairs PT Astra International Riza Deliansyah.

Para juri akan melakukan penjurian pertama untuk mendapatkan 24 calon penerima apresiasi.

“Kita memang harus mencari orang-orang yang kadang tidak merasa berjasa, mereka memacu gelombang kreativitas,” kata Fasli Djalal.

Sementara itu, Boy Kelana Soebroto berkisah, 10 tahun lalu jumlah pendaftar program penghargaan itu hanya 120 orang.

“Di tahun 2010 kami mencanangkan SATU Indonesia Awards pertama kali. Dulu pendaftar hanya 120 pendaftar. Agak ragu ada enggak ya anak muda tanah air sejalan dengan ASTRA. Tahun 2011, 2014, 2018, pendaftar sampai 5.961 pendaftar,” ujarnya.

Selama sembilan tahun terakhir, penghargaan sudah diberikan kepada 245 penerima, yang terdiri dari 53 penerima apresiasi tingkat nasional dan 192 penerima tingkat provinsi. Para anak muda berprestasi itu mewakili kategori bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, teknologi dan kelompok.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kebaya dipopulerkan di London

Kebaya dipopulerkan di London

Perancang busana Didiet Maulana memperkenalkan batik tradisional kepada publik di London dalam peragaan batik di Kedutaan Besar RI di London, Senin (11/3/2019). Batik adalah materi busana yang bisa dirancang untuk segala musim dengan rancangan kebaya berbagai model.(ANTARA Foto/ Mulyo Sunyoto)

Kalteng diwakili Kotawaringin Timur di ajang “Jember Fashion Carnaval”

Kotawaringin Timur dipilih karena memang sudah mampu membuktikan kualitas. Kami melihat sendiri saat “Sampit Ethnic Carnaval” 2018 lalu

Palangka Raya (ANTARA) – Kabupaten Kotawaringin Timur diberi kepercayaan besar mewakili Provinsi Kalimantan Tengah dalam ajang peragaan busana kelas dunia yaitu Jember Fashion Carnaval di Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur pada 30 Juli hingga 4 Agustus 2019.

Kotawaringin Timur dipilih karena memang sudah mampu membuktikan kualitas. Kami melihat sendiri saat Sampit Ethnic Carnaval 2018 lalu. Acaranya sukses dan hasil kreasinya sangat berkualitas,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah, Guntur Talajan di Sampit, Minggu.

Jember Fashion Festival merupakan ajang peragaan busana tahunan dengan cat walk terpanjang mencapai 3,6 kilometer. Kegiatan itu menjadi ajang unjuk kreasi budaya anak bangsa yang dituangkan dalam balutan busana.

Acara tahunan ini sudah mendunia sehingga selalu ditunggu wisatawan asing. Kerap kali perancang busana dari luar negeri juga tidak melewatkan event yang dinilai unik karena memadukan tren busana dan budaya.

Guntur sangat yakin Kotawaringin Timur akan mampu menampilkan karya berkualitas yang tidak kalah dengan peserta dari tuan rumah dan daerah lain. Apalagi, kebudayaan Suku Dayak memiliki keunikan tersendiri sehingga sangat menarik jika dituangkan dalam kreasi busana.

“Saya sangat bangga karena saat Sampit Ethnic Carnaval 2018 lalu, perancang busana dan modelnya semua merupakan putra dan putri daerah dan karyanya sangat bagus. Karena itulah pemerintah provinsi tidak ragu memberi kepercayaan kepada Kotawaringin Timur mewakili provinsi ini di Jember Fashion Carnaval 2019,” katanya.

Guntur menyarankan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat untuk mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari agar hasilnya maksimal. Pelaku seni dan budaya perlu dilibatkan untuk menghasilkan rancangan yang kreatif, menarik, berkualitas dan memiliki makna.

Sementara itu, Bupati Kotawaringin Timur H Supian Hadi menyambut gembira kabar tersebut. Dia menyebut ini sebagai kepercayaan dan amanah luar biasa bagi Kotawaringin Timur.

“Kami nyatakan, kami siap mewakili Kalimantan Tengah pada Jember Fashion Carnaval nanti. Kami segera mempersiapkan diri agar karya yang ditampilkan nanti mampu bersaing sehingga bisa mengharumkan nama Kalimantan Tengah,” katanya.

Menurut Supian, keikutsertaan pada Jember Fashion Carnaval bukan sekadar meramaikan acara. Ini menjadi kesempatan besar mengenalkan kebudayaan dan karya putra dan putri Kalimantan Tengah di event berkelas dunia.

Event ini juga menjadi momen bagi Kotawaringin Timur dan Kalimantan Tengah untuk mempromosikan potensi sumber daya alam dan pariwisata daerah. Pemerintah daerah akan memanfaatkan kesempatan ini dengan maksimal.

Baca juga: Pawai kemerdekaan jadi sarana harmonisasi masyarakat Kotim

Baca juga: Warga antusias siapkan kostum `Sampit Ethnic Carnival`

Pewarta: Rendhik Andika/Norjani
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival Budaya Desa Adat Kuta 2019 wujud komitmen menjaga adat-istiadat

Festival budaya ini merupakan ajang yang membuktikan bahwa masyarakat Kuta masih teguh dengan adat istiadatnya

Badung (ANTARA) – Desa adat Kuta, Badung, Bali, menyelenggarakan Festival Budaya Desa Adat Kuta 2019 sebagai wujud komitmen untuk tetap menjaga adat istiadat di tengah gempuran budaya modern.

“Festival budaya ini merupakan ajang yang membuktikan bahwa masyarakat Kuta masih teguh dengan adat istiadatnya dan sejalan dengan komitmen Pemkab Badung untuk melestarikan, adat, seni, budaya dan tradisi,” kata Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa, dalam pernyataan Humas Pemkab Badung yang diterima di Badung, Minggu.

Dalam penutupan kegiatan tersebut, kegiatan Festival Budaya Desa Adat Kuta 2019 dirangkaikan dengan puncak pemilihan Jegeg Bungan Desa (JBD) Kuta 2019 yang akan menjadi duta desa adat Kuta selama tahun 2019.

Sebelumnya, para peserta yang berasal dari 13 banjar di wilayah desa adat Kuta tersebut telah mengikuti sejumlah tahapan seleksi dari rangkaian festival bertema ”Kriya Wikrama Shantikara” atau artinya bekerja dan bekerja untuk mencapai kedamaian itu.

Pada malam puncak pemilihan Jegeg Bungan Desa Kuta 2019 tersebut, Ni Kadek Alisia Finlandia Daraputri perwakilan dari Banjar Anyar Kuta, berhasil menyisihkan peserta JBD dari 12 banjar lain adat di Kuta untuk menjadi Jegeg Bungan Desa Kuta 2019.

Sedangkan posisi “runner up” pertama diraih oleh Ni Nyoman Ayuning Pringgondani dari Banjar Pengabetan Kuta dan posisi “runner up” kedua diraih Wayan Windy Indah Sari dari Banjar Segara Kuta.

Bendesa Adat Kuta I Wayan Wastita mengatakan, selain pemilihan Jegeg Bungan Desa, rangkaian Festival Budaya Desa Adat Kuta selain parade Ogoh-Ogoh saat sehari sebelum Hari Raya Nyepi, juga digelar setelah Pasar Majelangu yang diselenggarakan sehari setalah Hari Raya Nyepi.

“Pasar Majelangu ini merupakan tempat berkumpul masyarakat desa yang dipusatkan di Pantai Kuta. Dalam Pasar Majelangu ini terdapat penjual makanan, minuman dan pakaian,” katanya.

Baca juga: Festival ogoh-ogoh dikerubuti ribuan orang

Baca juga: Kemacetan Kuta keluhan serius wisatawan

Pewarta: Naufal Fikri Yusuf
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tradisi pengantin sunat

Sejumlah anak pengantin sunat diarak menggunakan ‘sisingaan’ di jalan Curug-Kosambi, Karawang, Jawa Barat, Minggu (10/3/2019). Tradisi itu diadakan untuk merayakan pesta sunatan dan melestarikan khasanah budaya Nusantara. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/foc. 

“Cinta Tak Pernah Sederhana” akan berbeda dari deklamasi biasa

Jakarta (ANTARA) – Puisi – puisi cinta yang ditulis oleh para penyair Indonesia, mulai dari Chairil Anwar, Subagio Sastrowardoyo, WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, Wiji Thukul, Acep Zamzam Noor hingga Joko Pinurbo, akan dihidupkan dalam konser musikal “Cinta Tak Pernah Sederhana”.

Konser yang diselenggarakan oleh PT Balai Pustaka (Persero) bekerja sama dengan Titimangsa Foundation akan berlangsung pada 16 dan 17 Maret 2019 mendatang di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Happy Salma, pendiri Titimangsa Foundation, mengatakan pertunjukan itu akan berbeda dari deklamasi atau pembacaan puisi biasa.

“Dua tahun lalu saya membayangkan suatu kemungkinan pemanggungan puisi-puisi cinta karya para penyair Indonesia. Pentas yang berbeda dengan pembacaan puisi atau deklamasi,” kata Happy dalam keterangan pers, Sabtu.

Happy melanjutkan, “Dalam obrolan bersama Agus Noor, saya menyampaikan kemungkinan itu. Ia menyambut dan mengembangkannya ke dalam suatu konsep pertunjukan yang tidak terduga.”

Balai Pustaka menyambut baik adanya pementasan ini agar karya sastra klasik dan modern semakin dikenal masyarakat.

“Melalui pementasan ini, harapannya masyarakat Indonesia menjadi lebih mencintai karya-karya sastra Indonesia yang berperan dalam membangun karakter bangsa yang cerdas dan berbudaya,” kata Achmad Fachrodji, Direktur Utama PT. Balai Pustaka (Persero).

Sebanyak 25 puisi cinta akan dihadirkan ke panggung sebagai suatu alur kisah dalam percakapan dan nyanyian.

Para aktor yang terlibat ditantang untuk mengucapkan puisi secara wajar, sebagaimana mengucapkan dialog pada umumnya.

Drama musikal ini menggaet aktor terbaik Indonesia seperti Reza Rahadian, Marsha Timothy, Chelsea Islan, Atiqah Hasiholan, Sita Nursanti, Teuku Rifnu Wikana dan Butet Kartaredjasa serta aktor teater kawakan Wawan Sofwan dan Iswadi Pratama.

Tak hanya itu, penyanyi yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam genre nyanyian masing-masing juga terlibat, di antaranya Daniel Christianto, Sruti Respati, Heny Janawati, dan pemain harpa Maya Hasan.

Pementasan konser musikal ini merupakan kolaborasi antara Agus Noor sebagai sutradara dan penulis naskah, Happy Salma sebagai produser, Bintang Indrianto sebagai penata musik, Iskandar Loedin sebagai penata artistik, Josh Marcy sebagai koreografer, Aktris Handradjasa sebagai penata rias dan Hagai Pakan sebagai penata kostum.

Pemain dalam pementasan ini akan mengenakan busana yang khusus dibuat oleh designer Biyan dan menggunakan kain tenun Baron.

Baca juga: “Bunga Penutup Abad” pembuktian Marsha Timothy sebagai Nyai Ontosoroh

Baca juga: Tiara di pernikahan Maia Estianty buatan Happy Salma

Baca juga: Happy Salma PP Jakarta-Bali demi anak

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Barbie rayakan ulang tahun ke-60, hadirkan koleksi mutakhir

Jakarta (ANTARA) – Barbie, boneka fashion terpopuler di dunia, merayakan ulang tahun ke-60, Sabtu, dengan menampilkan koleksi baru sebagai penghormatan untuk para perempuan inspiratif dan profesi di mana perempuan kurang terwakili.

Dilansir Reuters, Sabtu, ini adalah bagian dari evolusi Barbie selama beberapa dekade sejak debut di New York Toy Fair pada 9 Maret 1959.

Untuk merayakan ulang tahun ini, Mattel yang memproduksi Barbie menciptakan 20 versi baru yang dibuat dari perempuan inspiratif, mulai dar petenis Jepang Naomi Osaka hingga model dan aktivis Inggris Adwoa Aboah.

Mattel juga mengeluarkan enam koleksi baru di mana Barbie berprofesi sebagai astronot, pilot, atlet, jurnalis, politisi dan pemadam kebakaran, semua bidang di mana perempuan kurang terwakili.

Barbie dibuat oleh Ruth Handler yang terinspirasi dari nama putrinya.

Boneka Barbie sudah memiliki banyak koleksi dengan lebih dari 200 karir, mulai dari dokter bedah hingga pengembang video game sejak debut di mana boneka itu mengenakan baju renang garis-garis hitam putih.

Setelah menuai kritikan bahwa bentuk tubuh Barbie memberikan citra tidak realistis untuk anak-anak perempuan, Mattel menghadirkan variasi baru, mulai dari warna kulit, bentuk tubuh, hingga ada juga boneka berkerudung dan dilengkapi peralatan sains agar boneka itu bisa lebih memberi edukasi.

Baca juga: Barbie luncurkan boneka berkerudung pertama

Baca juga: Margot Robbie bakal bintangi “Barbie”

Baca juga: Barbie luncurkan 17 boneka tokoh perempuan menginspirasi

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pementasan teater wayang Tavip

Para penonton dari murid SMK di Jakarta meninjau di panggung, usai pementasan Wayang Tavip, berjudul Beringin Setan, naskah dan dalang oleh Budi Ros, di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, Jumat (8/3/2019). Pementasan “Beringin Setan” merupakan pertunjukan yang ke 6 sejak tahun lalu di beberapa tempat, yang menceritakan lakon penebangan sebuah pohon beringin yang membuat heboh sebuah kampung. ANTARA FOTO/Dodo Karundeng/hp.

Warga gelar tradisi Mbed-Mbedan usai Hari Raya Nyepi

Warga saling tarik dalam tradisi Mbed-Mbedan atau tarik tambang tradisional di Desa Semate, Badung, Bali, Jumat (8/3/2019). Tradisi yang digelar pada hari Ngembak Geni atau sehari setelah Hari Raya Nyepi tersebut untuk memohon keharmonisan dan mengembalikan kebersamaan antar warga desa setempat. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/wsj.

Hello Kitty akan debut di Hollywood

Jakarta (ANTARA) – Untuk pertama kalinya dalam sejarah 45 tahuh sejak Hello Kitty muncul, karakter kucing paling dicintai sedunia itu akan debut di Hollywood.

Dilansir Kyodo, Warner Bros. Entertainment dan Sanrio mengatakan Hello Kitty akan debut di film yang diproduksi FlynnPictureCo dari Beau Flynn. Rincian tentang film tersebut, apakah dalam bentuk animasi atau live-action, serta kapan penayangannya, masih dirahasiakan.

“Hello Kitty sudah lama jadi simbol persahabatan dan kami berharap film ini akan memperluas lingkup persahabatan di dunia,” kata Shintaro Tsuji, pendiri, presiden dan CEO Sanrio.

Kerjasama antara Warner dan Sanrio ini terjalin setelah Flynn dan New Line Cinema, unit Warner Bros yang memproduksi trilogi The Lord of the Rings, selama lima tahun meminta izin untuk hak cipta atas ikon budaya populer Jepang itu.

“Hello Kitty dan teman-temannya telah jadi bagian dari budaya kami selama beberapa dekade, dan kami tak sabar mengeksplorasi ke mana dia akan berpetualang,” kata presiden New Line Cinema Richard Brener dan Carolyn Blackwood dalam pernyataan bersama.

Karakter populer Sanrio lainnya yang termasuk dalam kerjasama itu adalah Gudetama, si kuning telur pemalas dan melankolis, My Melody, gadis kelinci dengan penutup telinga pink atau merah yang ikonik, juga Little Twin Star, pasangan saudara serupa malaikat.

Hello Kitty debut pada 1974 dan punya penggemar di penjuru dunia dari berbagai generasi. Karakter itu bisa ditemui di 50.000 produk berbeda di 130 negara. Kucing dengan pita merah di kuping kirinya sudah membintangi film dan animasi Jepang, Hello Kitty juga punya serial animasi televisi buatan perusahaan AS, tapi belum pernah hadir di layar lebar global.

Dikutip dari Sanrio, Hello Kitty lahir di pinggiran kota London. Dia tinggal bersama orangtua dan saudari kembar sekaligus sahabatnya, Mimmy.

Hello Kitty punya hobi memanggang kue dan mendapatkan teman baru. Hello Kitty yang tingginya sama seperti lima buah apel itu selalu berkata, “tidak ada namanya punya terlalu banyak teman!”.

Baca juga: Hello Kitty akan melaju bersama kereta peluru Jepang

Baca juga: ANTAM jual emas “Hello Kitty” ke Jepang

Baca juga: Hello Kitty dibawa ke layar lebar

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gebyar Kebudayaan-Pariwisata Yogyakarta sasar delapan kota di China

Sekitar 14.000 wisatawan berhasil didatangkan ke Bali selama 2018 oleh agen pariwisata yang berkantor di Ibu Kota Provinsi Liaoning

Beijing (ANTARA) – Gebyar Kebudayaan dan Pariwisata Yogyakarta menyasar delapan kota besar di China selama bulan Maret 2019.

“Ini bagian dari promosi pariwisata Yogyakarta sebagai 10 destinasi wisata baru yang diprogramkan pemerintah,” kata Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun di Beijing, Kamis.

Pentas kebudayaan untuk mempromosikan pariwisata Yogyakarta itu dimulai di Shenyang, Provinsi Liaoning, Rabu (6/3).

Dilanjutkan di Jinan (Provinsi Shandong) pada Jumat (8/3), Zhengzhou (Provinsi Henan) pada Senin (11/03), Xi’an (Provinsi Shaanxi) pada Rabu (13/03), Taiyuan (Provinsi Shanxi) pada Jumat (15/03), Nanchang (Provinsi Jiangxi) pada Senin (18/03), Nanjing (Provinsi Jiangsu) pada Jumat (22/03), dan Guangzhou (Provinsi Guangdong) pada Rabu (27/03).

Menurut Dubes, sekitar 500 agen perjalanan wisata di Kota Shenyang turut menyaksikan sendratari dan paparan keindahan pariwisata Yogyakarta dalam acara tersebut.

Sekitar 14.000 wisatawan berhasil didatangkan ke Bali selama 2018 oleh agen pariwisata yang berkantor di Ibu Kota Provinsi Liaoning itu.

“Sampai bulan Maret 2019, jumlah wisatawan yang mengunjungi Indonesia dari daerah itu sudah mencapai 900 orang,” kata Dubes Djauhari.

Promosi pariwisata dalam bentuk pentas seni itu digelar oleh agen perjalanan pariwisata milik pengusaha asal Indonesia yang berkantor pusat di Guilin, Provinsi Guangxi.

Kegiatan tersebut didukung oleh Kedutaan Besar RI di Beijing, Konsul Jenderal RI di Guangzhou, dan Kementerian Pariwisata RI.

Baca juga: Panitia pemilu Guangzhou gunakan kotak suara keliling

Baca juga: Imigrasi KBRI Beijing menjangkau China tengah

Baca juga: Perusahaan onderdil Indonesia-China ekspor ke Amerika Serikat

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Karma, tema Ubud Writers & Readers Festival 2019

Jakarta (ANTARA) – “Karma” menjadi tema dari Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) ke-16 yang akan diselenggarakan pada tanggal 23–27 Oktober mendatang

Mulai dari penulis, seniman, pegiat, sutradara, cendekiawan dari seluruh dunia akan berkumpul di Ubud untuk berbagi cerita dan gagasan yang mengeksplorasi tema tahun yang terinspirasi dari filosofi Hindu, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Bagi masyarakat dunia karma sering diartikan sebagai hukum sebab akibat, sementara bagi orang Hindu Bali, Karma Phala adalah konsep spiritual yang menyatakan bahwa setiap tindakan akan memicu konsekuensi yang setara dalam kekuatan dan bentuk yang serupa.

“Karena tindakan dalam kehidupan mereka sebelumnya mempengaruhi masa kini, dan perbuatan yang dilakukan di masa kini akan mempengaruhi masa depan mereka. Orang Hindu Bali menyadari bahwa nasib ada di tangan mereka sendiri,” jelas Founder & Director UWRF Janet DeNeefe dalam siaran pers, Kamis.

Festival yang akan dilangsungkan selama lima hari berturut-turut ini akan mengupas dampak dari tindakan pribadi dan kolektif manusia pada lingkungan sosial.

Diskusi menarik yang dibawakan oleh sosok-sosok sastra, cendekiawan, hingga penulis emerging pun akan menyemarakkan Festival.

Bersamaan dengan pengumuman tema 2019, UWRF juga meluncurkan karya seni untuk tahun ke-16, yang telah diciptakan oleh seniman visual komunitas Samuel Indratma, salah satu pendiri dari seni publik kolektif Yogyakarta yang ternama, Apotik Komik.

“Selain menerjemahkan semangat Ubud Writers & Readers Festival, saya juga mencoba menerjemahkan seperti apa karma itu sendiri. Apakah manusia mengubah wajah mereka? Apakah manusia mengubah bentuk mereka? Inilah mengapa saya memilih simbol topeng. Saya membayangkan karma sebagai siklus manusia yang terus berputar, kemudian kembali lagi,” tutur Samuel.

Baca juga: Beberapa pengamat asing bicara tentang Indonesia kini

Baca juga: Intip secuplik daftar pembicara Ubud Writers & Readers Festival 2018

Baca juga: N.H. Dini, legenda sastra yang terus berkarya

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Walau hujan lebat, turis tumpah lihat ogoh-ogoh di Ubud

Gianyar, Bali (ANTARA) – Walau hujan lebat mulai Rabu siang hingga sore hari, namun hal itu tidak menyurutkan para turis asing dan domestik untuk melihat parade ogoh-ogoh di Ubud, kabupaten Gianyar.

Para turis mulai berdatangan sejak pukul 4 sore. Dengan menggunakan jas hujan, mereka berdatangan dan berdiri di pedestrian di jalan Ubud Raya dan jalan Monkey Forest, kata salah seorang polisi yang mengamankan arak-arakan ogoh-ogoh.

Ogoh-ogoh adalah simbol dari setan yang diwujudkan dalam berbagai bentuk rupa yang menyeramkan. Kemudian diarak-arak keliling oleh masyarakat Hindu Bali kemudian dibakar.

“Ogoh-ogoh ini bagian dari kegiatan ritual hari raya Nyepi yang jatuh Kamis, 7 Maret 2019,” kata kepala dinas pariwisata Gianyar Anak Agung Ari Brahmanta.

Para turis ada yang berjalan dari berbagai hotel dan penginapan. Banyak juga yang mengendarai sepeda motor.

Sejak sore, jalan-jalan utama di Ubud lengang. Hanya motor yang boleh lewat karena dikosongkan untuk kelancaran arak-arakan masyarakat menggotong ogoh-ogoh. Baik pemuda, remaja, bahkan anak-anak berpartisipasi menggotong ogoh-ogoh.

Richard, seorang warga Amerika, bersama istri dan anaknya menyaksikan ogoh-ogoh.

“Sangat kreatif pembuatan ogoh-ogoh. Ada ogoh-ogoh bercampur tubuh manusia dengan babi, ada yang perpaduan antara manusia dengan gajah, dan ada juga perpaduan antara manusia dengan ikan hiu. Sangat menarik dan membuat anak-anak saya senang,” katanya.

Ia menonton arak-arakan ogoh-ogoh sampil menyeruput kopi dan teh di sebuah kafe di Ubud.

Turis asal Denmark, Christin bersama teman-temannya tampak sibuk mengambil foto dan berfoto dengan latar belakang ogoh-ogoh.

“Kami datang ke Bali memang mau melihat kegiatan ritual yang dilakukan setahun sekali ini. Jadi walau hujan, kami tetap keluar dan berjalan menyaksikan acara ini,” katanya.

Karena hujan, ogoh-ogoh di Ubud yang biasanya berkumpul di lapangan sepak bola Ubud, tapi karena becek akhirnya ogoh-ogoh diparkir di tengah jalan. Ada yang di jalan Ubud Raya dan jalan Monkey Forest.

Beberapa pedagang diantaranya jualan bakso, sate dan jagung bakar, yang sudah berkumpul di lapangan terkena imbasnya penjualan menurun.

“Akibat hujan pembeli juga menurun dibandingkan tahun lalu. Begitu juga ogoh-ogoh yang kumpul di lapangan lebih sedikit dibandingkan tahun lalu,” kata Kadek, salah seorang penjual jagung rebus dan jagung bakar di Ubud.

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pawai ogoh-ogoh di Kupang diikuti berbagai keyakinan berbeda

Kupang (ANTARA) – Pawai ogoh-ogoh dalam rangkaian perayaan hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941 yang digelar umat Hindu di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu petang diikuti umat dari berbagai keyakinan di daerah ini.

Pawai ogoh-ogoh yang berlangsung di ibu kota provinsi NTT ini tampak semarak karena diikuti juga oleh kelompok etnis Tionghoa dengan mengelar Barong Sai serta kelompok etnis Jawa Timur dengan menampilkan seni budaya Reog Ponorogo.

Ratusan umat hindu serta warga Kota Kupang dari berbagai etnis dan beragam keyakinan sudah berkumpul di kawasan bundaran Patung Tirosa yang berada sebelah barat jembatan Liliba sejak pukul 14.00 Wita.

Ketua Parisada Hindu Dharma, Kota Kupang, Wayan Wire mengatakan, pawai ogoh-ogoh yang berlangsung di Kota Kupang bergerak dari kawasan bundaran patung Tirosa menyusuri jalan Frans Seda-Patung Kirap dan berakhir di kawasan jembatan Liliba untuk menggelar ritual penyucian (Buana Agung) sebagai simbol membakar berbagai bentuk kehajatan.

Ia mengatakan ada enam ogoh-ogoh yang ditampilkan dalam pawai menjelang perayaan hari Raya Nyepi di Kota Kupang.

“Kegiatan pawai ogoh-ogoh tahun 2019 untuk pertama kali digelar di lokasi yang memiliki perempatan jalan seperti dalam kepercayaan umat Hindu, sehingga kami sangat bersyukur atas dukungan pemerintah Kota Kupang yang telah memberikan kesempatan bagi umat Hindu untuk menggelar kegiatan ini yang berlangsung di kawasan bundaran Tirosa,” kata Wayan. 

Baca juga: Umat Hindu di Kupang gelar pawai ogoh-ogoh
Baca juga: Satpol PP Mataram siap amankan pawai ogoh-ogoh

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Umat Hindu di Kupang gelar pawai ogoh-ogoh

Kupang (ANTARA) – Ratusan umat Hindu di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu menggelar pawai ogoh-ogoh, untuk menyonsong Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941.

Dalam pawai yang dimulai dari Bundaran PU itu, umat Hindu membawa serta sembilan patung ogoh-ogoh, terdiri dari tiga berukuran besar, empat berukuran sedang dan sisanya berukuran kecil yang dipandu anak-anak.

Ogoh-ogoh merupakan karya seni patung manusia dengan wajah yang menyeramkan.

Wajah patung yang menyeramkan itu, merupakan simbol dari sifat-sifat buruk manusia. Usai dipawai Ogoh-ogoh tersebut akan dibakar sebagai tanda penyucian diri.

Pawai ogoh-ogoh yang dimulai dari dari Bundaran PU itu, melalui Jalan Frans Seda menuju Patung Kirab, Taman Nostalgia lalu kembali ke Bundaran PU untuk melakukan upacara pencaruan.

Pawai tersebut dilepas Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Koreh.
***3***
 

Pewarta:
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ribuan orang di Kolaka Timur Pawai Ogoh-Ogoh

163 Views

ANTARA-Ribuan pemeluk Hindu di  Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, menggelar pawai ogoh–ogoh, di Lapangan Loea, Kecamatan Loea, Kabupaten Kolaka Timur, Senin 4 Maret, dalam rangka menghadapi Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Caka 1941.

Jelang nyepi ribuan orang gelar prosesi Melasti

303 Views

ANTARA-Ribuan pemeluk Hindu, Selasa, menggelar upacara melasti di Pantai Petitenget, kabupaten Badung, Bali. Melasti adalah ritual pembersihan segala simbol suci keagamaan dan wilayah desa pekraman adat serangkaian dengan Hari Raya Nyepi.

Festival “Khanduri Laot” diharapkan tingkatkan kunjungan wisatawan

Sabang (ANTARA) – Pemerintah Kota (Pemkot) Sabang, Provinsi Aceh optimistis Festival Khanduri Laot atau kenduri laut yang akan berlangsung dari  30 Maret hingga 1 April 2019 akan berdampak pada kunjungan wisatawan ke daerah tersebut.

“Kita yakin, festival khanduri laot akan berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan,” kata Wali Kota Sabang, Nazaruddin saat berbincang dengan Kepala Biro Perum LKBN ANTARA Biro Aceh, Azhari di Sabang, Senin.

Menurut Nazaruddin, pihaknya  menetapkan Festival Khanduri Laot sebagai ajang tahunan memang untuk meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara ke Sabang.

“Jika kunjungan wisatawan meningkatkan maka ekonomi masyarakat pun akan tumbuh,” ujar politisi Partai Aceh yang lebih familiar disapa Tgk Agam itu.

Acara kenduri laut  yang mengangkat tema “Dari Sabang Untuk Indonesia”  tersebut akan menampilkan sejumlah atraksi seni budaya masyarakat pesisir kepulauan di antaranya, atraksi adat melaut, lomba masak kuah beulagoeng, dan lomba kayuh perahu naga.

Kemudian, pentas pesona budaya, khanduri untuk aulia 44 dan anak yatim, dialog budaya dan silaturahmi Panglima Laot se-Aceh,  dan pameran produk kreativitas daerah pesisir.

“Rangkaian itu semua diharapkan dapat menarik minat kunjungan wisatawan ke Sabang. Karena selain menikmati pesona bahari, para wistawan juga disuguhkan penampilan budaya masyarakat pesisir,” terangnya.

Pada kesempatan itu, ia juga berharap Perum LKBN ANTARA mendukung serta mempromosikan potensi industri pariwisata kepulauan paling barat Indonesia demi meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.  

Baca juga: 3 provinsi ikut festival “Khanduri Laot” di Sabang
 Baca juga: Sabang siapkan lahan untuk bangun bandara internasional

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kain jumputan 1,1 km disiapkan pecahkan rekor Muri

Palembang (ANTARA) – Direktorat Lalu Lintas Polda Sumatera Selatan menyiapkan kain jumputan 500 motif sepanjang 1,1 kilometer untuk memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) pada festival keselamatan berkendara kalangan milenial “South Sumatra Millenial Road Safety Festival” pada 9 Maret 2019.

“Kain khas kerajinan warga Palembang saat ini sudah siap dikerjakan oleh puluhan pengerajin dan akan dibentangkan menutupi jembatan Ampera ketika festival tersebut berlangsung,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Sumsel, Kombes Pol Dwie Asmoro di Palembang, Senin.

Melalui pemecahan rekor Muri tersebut diharapkan festival keselamatan berkendara yang menyasar kalangan anak muda/milenial mendapat perhatian masyarakat luas baik di dalam negeri maupun luar negeri karena masalah kecelakaan lalu lintas dengan korban sebagian besar kalangan milenial menjadi masalah dunia.

Dia menjelaskan, setiap tahun secara nasional terdapat 100 ribu korban kecelakaan lalu lintas dari jumlah itu sekitar 30 ribu di antaranya meninggal dunia dan 70 persen korbannya adalah kalangan milenial.

Sementara berdasarkan data PBB melalui WHO tercatat satu juta korban kecelakaan lalu lintas di dunia setiap tahunnya yang sebagian besar korbannya anak muda.

Melihat fakta tersebut, kasus kecelakaan lalu lintas dijadikan WHO sebagai pembunuh nomor lima di dunia dan menjadi perhatian untuk ditanggulangi secara bersama, katanya.

Melihat tingginya angka kasus dan korban kecelakaan lalu lintas yang menjadi permasalahan dunia, pihaknya berupaya menurunkan angka kasus kecelakaan lalu lintas dan meminimalkan jumlah korbannya, melalui berbagai kegiatan/gerakan sosial dan penegakan hukum, kata Dirlantas.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Palembang, Isnaini Madani menyatakan pihaknya mendukung kegiatan festival keselamatan berkendara dengan memanfaatkan kain jumputan untuk memecahkan rekor Muri.

Kegiatan pemecahan rekor Muri dengan membentangkan kain jumputan dari pangkal jembatan Ampera, Jalan Jenderal Sudirman hingga atas jembatan ikon Kota Palembang itu perlu didukung karena dapat mempromosikan potensi pariwisata di Bumi Srwijaya ini.

Dengan adanya pemecahan rekor Muri, kain jumputan khas Palembang dapat menarik perhatian masyarakat secara nasional maupun internasional.

Besarnya perhatian masyarakat kepada kota ini diharapkan dapat menjadikan Palembang lebih terkenal dan mendorong wisatawan nusantara dan mancanegara tertarik berkunjung menikmati berbagai objek wisata alam dan budaya, serta membeli cendera mata baik berupa makanan maupun kerajinan khas daerah seperti kain songket dan jumputan, kata Kadis Pariwisata.

Baca juga: Kain jumputan khas Palembang akan pecahkan rekor Muri

Baca juga: Kain jumputan Palembang dipamerkan di “Indonesian Fashion Week”
 

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gelaran Pawai Ogoh-Ogoh di Yogyakarta

ANTARA-Menjelang perayaan Nyepi, umat Hindu di Yogyakarta menggelar pawai budaya ogoh-ogoh di kawasan malioboro pada Sabtu sore lalu. Selain untuk menyambut Nyepi, pawai ogoh-ogoh digelar untuk melestarikan budaya, menghibur masyarakat, dan menjadi kegiatan untuk menarik wisatawan.

Pementasan teater karya Putu Wijaya

Seniman yang tergabung dalam Kelompok Teater Mandiri mementaskan lakon teatrikal karya Putu Wijaya di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (2/3/2019) malam. Sejumlah judul teater karya Putu Wijaya ditampilkan pada acara tersebut sebagai edukasi bagi generasi milenial untuk mampu melahirkan karya dan kreativitas. ANTARA FOTO/Novrian Arbi/foc.

Puisi romantis penyair Indonesia di musikal “Cinta Tak Pernah Sederhana”

Jakarta (ANTARA) – Konser musikal puisi-puisi cinta bertajuk “Cinta Tak Pernah Sederhana” akan diselenggarakan pada tanggal 16 dan 17 Maret 2019 mendatang di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

PT Balai Pustaka (Persero) bekerja sama dengan Titimangsa Foundation akan menghadirkan sajian yang menampilkan puisi – puisi cinta yang ditulis oleh para penyair Indonesia, mulai dari Chairil Anwar, Subagio Sastrowardoyo, WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, Wiji Thukul, Acep Zamzam Noor hingga Joko Pinurbo.

“Semoga lewat drama musikal yang kami sajikan dalam pertunjukan ini mampu menghadirkan alternatif tontonan yang bukan hanya menghibur tetapi juga diharapkan mampu menjadi pemicu untuk penikmat puisi untuk menggali lebih dalam mengenai karya sastra yang diangkat serta memberi ruang yang baik bagi penonton, karena pada akhirnya penonton pulalah yang menjadi bagian dari pertunjukan ini,” ujar Happy Salma, Founder Titimangsa Foundation, dalam keterangan pers, Minggu.

Baca juga: Drama musikal “Jejak Kirana Nusantara” pukau penonton

Drama musikal ini menggaet aktor terbaik Indonesia seperti Reza Rahadian, Marsha Timothy, Chelsea Islan, Atiqah Hasiholan, Sita Nursanti, Teuku Rifnu Wikana dan Butet Kartaredjasa serta aktor teater kawakan Wawan Sofwan dan Iswadi Pratama.

Tak hanya itu, penyanyi yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam genre nyanyian masing-masing juga terlibat, di antaranya Daniel Christianto, Sruti Respati, Heny Janawati, dan pemain harpa Maya Hasan.

Pementasan konser musikal ini merupakan kolaborasi antara Agus Noor sebagai sutradara dan penulis naskah, Happy Salma sebagai produser, Bintang Indrianto sebagai penata musik, Iskandar Loedin sebagai penata artistik, Josh Marcy sebagai koreografer, Aktris Handradjasa sebagai penata rias dan Hagai Pakan sebagai penata kostum.

Pemain dalam pementasan ini akan mengenakan busana yang khusus dibuat oleh designer Biyan dan menggunakan kain tenun Baron.

Tiket konser terbagi dalam 5 kelas dengan harga mulai dari Rp250.000 hingga Rp1,5 juta.

Baca juga: Drama musikal “Dongeng Pohon Impian” akan meriahkan Hari Ibu

Baca juga: Edward Akbar cuma latihan seminggu untuk drama musikal

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pameran Jelajah Seni Rupa Nusantara

Pengunjung melintas di depan karya instalasi pada pembukaan Pameran Jelajah Seni Rupa Nusantara, di Galeri Cipta II, Jakarta, Sabtu (2/3/2019). Pameran itu menampilkan karya dari 23 perupa pengajar perguruan tinggi di Jakarta dan Jawa Barat, dengan sinopsis pengenalan kembali identitas kebudayaan dan kesenian yang diwariskan oleh nenek moyang Indonesia, dan berlangsung 3-15 Maret 2019. ANTARA FOTO/Risky Andrianto/foc.

Yogyakarta sepakati data tunggal bangunan cagar budaya

Yogyakarta (ANTARA) – Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta sudah menyusun kesepakatan dengan beberapa pihak, terkait data tunggal untuk bangunan cagar budaya (BCB) dan bangunan warisan budaya (BWB) yang ada di kota tersebut.

“Data yang digunakan untuk BCB dan BWB sudah tunggal. Sudah ada kesepakatan dengan Dinas Kebudayaan DIY dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Eko Suryo Maharsono di Yogyakarta, Minggu.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, total jumlah BCB dan BWB yang ada di Kota Yogyakarta tercatat sebanyak 289 bangunan yang kini dimanfaatkan untuk beragam fungsi. Data tersebut juga akan dicatatkan dalam register Kota Yogyakarta dan bisa diakses umum.

Menurut Eko, kesepakatan terkait data tunggal BCB dan BWB tersebut akan memberikan keuntungan kepada masyarakat karena adanya kepastian terkait status sebuah bangunan kuno yaitu masuk sebagai cagar budaya, warisan budaya atau tidak masuk dalam kedua kategori tersebut.

Data terkait  BCB dan BWB di Kota Yogyakarta tersebut akan diserahkan ke tiap kecamatan. Data tidak hanya menyebutkan lokasi atau alamat bangunan saja tetapi juga dilengkapi dengan detail bangunan.

“Karena bisa saja yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya atau warisan budaya dari sebuah bangunan hanya bagian depan saja, sedangkan bagian rumah yang lain tidak masuk dalam kategori cagar budaya atau warisan budaya karena merupakan bangunan baru. Ada detail yang jelas tentang deliniasinya,” katanya.

Kepastian terkait data BCB dan BWB tersebut juga bisa menjadi dasar bagi masyarakat saat akan melakukan renovasi atau pengembangan bangunan sehingga tidak menyalahi aturan yang berlaku. Setiap renovasi bangunan cagar budaya atau warisan budaya perlu menyertakan rekomendasi dari tim ahli cagar budaya.

“Atau saat pemilik bangunan akan menjual bangunannya. Mereka akan memperoleh kepastian harga sehingga tidak dirugikan,” ujar Eko.

Guna memberikan kepastian terhadap status bangunan kuno, baik cagar budaya maupun warisan budaya, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta juga akan memberikan penanda terhadap bangunan tersebut.

“Ada yang sudah diberi tanda, tetapi ada juga yang belum. Kami akan melanjutkan lagi pada 2019,”kata Eko.

BWB ditetapkan berdasarkan keputusan Wali Kota, sedangkan BCB ditetapkan oleh Gubernur atau dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Jumlah bangunan warisan budaya di Kota Yogyakarta dimungkinkan akan terus bertambah karena kajian terhadap bangunan-bangunan kuno terus dilakukan. Diperkirakan hingga akhir 2019 akan bertambah menjadi 200 bangunan.

Baca juga: Yogyakarta masukkan 289 cagar budaya dalam register daerah
Baca juga: Drainase kawasan cagar budaya Malioboro direvitalisasi tahun depan

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Calon sineas Indonesia-Jepang saling bertukar ilmu

Jakarta (ANTARA) – The Japan Foundation Asia Center kembali mengadakan program “…and Action! Asia” yang melibatkan calon-calon sineas berbakat di Jepang dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Ini adalah program pertukaran ilmu dan kolaborasi dalam menciptakan sebuah karya film berlatar Asia, yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman serta melahirkan sineas-sineas muda berbakat dan mampu berkarya di dunia internasional. Program dimulai pada 2 hingga 13 Maret 2019.

Japan Foundation dalam keterangan resmi, Sabtu, mengatakan pada tahun kelima program ini Indonesia menjadi tuan rumah untuk …and Action! Asia #05 di mana Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sebagai tuan rumah.

“Kegiatan yang dilakukan antar sekolah-sekolah film di Asia ini menjadi sebuah program penting yang harus terus didukung guna memperkuat jalinan kerjasama serta menumbuhkan semangat perfilman di Asia yang pada tahun belakangan telah semakin berkembang pesat. Pertemuan antara mahasiswa ini diharapkan mampu menjadi momentum bagi mereka sebagai generasi yang aktif berkolaborasi antar negara di masa yang akan datang,” kata R.B Armantono, Dekan Fakultas Film dan Televisi IKJ yang menjadi tuan rumah …and Action! Asia #5.

Para peserta dan mentor dipilih melalui proses seleksi yang diadakan oleh Japan Foundation Asia Center.

Program dibuka dengan orientasi antara peserta dengan instruktur, untuk memperdalam ide yang sebenarnya telah dikembangkan via online sejak beberapa bulan sebelum pelaksanaan Workshop.

Selain itu, para peserta juga mendapatkan materi tentang film dokumenter dari sudut pandang produser, sutradara, dan direktur fotografi dengan menghadirkan narasumber yaitu Tri Widyastuti Setyaningsih (pemateri produksi film dokumenter), Yudi Datau (pemateri penyutradaraan film dokumenter), dan Esnadi Djoko Santoso (pemateri kamera film dokumenter).

Peserta juga mendapatkan sesi workshop kamera dan audio agar setelahnya bisa langsung turun ke lapangan untuk melakukan produksi. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok yang akan memproduksi 4 film dokumenter dengan tema besar yang menjadi benang merah dari seluruh film, yaitu Bertahan Hidup di Kota Besar. Kelompok-kelompok ini akan mengangkat isu tentang transgender, manusia gerobak, bertahan dalam kemacetan, dan meraup keuntungan dari kemacetan.

Seluruh film hasil kolaborasi para peserta akan ditayangkan pada 12 Maret 2019 di XXI Taman Ismail Marzuki di Cikini. Mahasiswa dan masyarakat umum dapat menonton tanpa dipungut biaya. Setelah pemutaran film, para penonton dapat berdiskusi langsung dengan para pembuat filmnya.

Para instruktur yang mewakili sekolah film dari beberapa negara Asia juga akan berdiskusi tentang rencana-rencana kerjasama dalam rangka pengembangan pendidikan film di Asia.

Baca juga: Pengamat: Perlu pedoman baku untuk ke festival film internasional

Baca juga: Rektor IKJ menilai film g30s/PKI menarik dipelajari sebagai kasus

Baca juga: Pekan Budaya Jepang 2019 suguhkan karuta hingga anime

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lomba balap perahu layar tradisional

Warga menyaksikan lomba balap perahu layar tradisional bertajuk “Surabaya Fisherman Sailing Competition (SFSC) 2019” di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/3/2019). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut merupakan bentuk pengabdian dan pemberdayaan terhadap nelayan sekaligus upaya penguatan wisata berbasis masyarakat. ANTARA FOTO/Moch Asim/pras.

Festival Tenun dan Musik NTT

Ketua Dewan Konsultatif Nasional Komisi Perlindungan Anak, Seto Mulyadi mengenakan pakaian adat dengan motif tenunan dari Kabupaten Rote Ndao menyapa sejumlah pelajar ketika menghadiri Festival Tenun dan Musik NTT di Kupang, NTT, Sabtu(2/3/2019). Festival ini dilaksanakan untuk mempromosikan berbagai macam tenun khas NTT serta berbagai alat musik tradisional kepada dunia. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/pras.

Festival Meurukon di Lhokseumawe

Sejumlah syaikh atau syaikhuna melantunkan radat (irama) seni Rukon pada Festival Budaya Seni Aceh Dalail Khairat dan Seni Meurukon di Lhokseumawe, Aceh, Jumat (1/3/2019) malam. Meurukon merupakan seni dan budaya Aceh untuk memperdalam ajaran Islam dengan teknik penyajian komunikasi dua hingga tiga kelompok kafilah terdiri dari lima hingga sepuluh orang terlatih yang di pimpin oleh syaikh dan berbalas pantun dengan syair-syair religius. ANTARA FOTO/Rahmad/pras.

Meniti sepi di Museum Seni Rupa dan Keramik

Jakarta (ANTARA) – Suasana hening Museum Seni Rupa dan Keramik sangat terasa di antara riuhnya masyarakat yang sedang berlibur di kompleks Kota Tua, Jakarta Barat.

Di antara besarnya bangunan yang berdiri gagah tersebut hanya segelintir orang yang terlihat sedang mengantre untuk melihat setiap sudut museum.

“Sekarang sudah jarang masyarakat yang ‘iseng’ datang ke sini,” kata Eki (35) selaku pengelola museum.

Menurut Eki, kategori pengunjung di Museum Seni Rupa dan Keramik sudah bergeser.

“Sekarang kalangannya lebih spesialis, orang yang benar-benar tahu dan ingin belajar seni original saja yang datang. Ada sih yang iseng datang buat lihat-lihat, tapi sedikit,” tambahnya.

Seperti Jumat (1/3) siang, beberapa suara kaki yang sedang menapak di lantai kayu tua museum dan seketika memecah keheningan di sebuah ruangan yang menyimpan puluhan patung peninggalan kerajaan Majapahit.

Belasan anak muda berdatangan dengan raut wajah yang ceria dan semangat ketika mereka membaca satu per satu tulisan di salah satu kotak yang menyimpan keramik tua. Mereka adalah rombongan mahasiswa dari Podomoro University, Jakarta.

“Saya mengajak mahasiswa prodi desain produk kami untuk membuka wawasan dan wacana mereka tentang sejarah dan filosofi sebelum mereka mendesain sesuatu,” kata dosen desain produk Podomoro University, Nurul Primayanti (50).

Baca juga: Bus tingkat tujuan Kota Tua jadi alternatif wisata Tahun Baru

Wanita berambut panjang pirang tersebut berpendapat bahwa berkunjung ke museum yang memiliki koleksi seni asli akan semakin membantu mahasiswanya untuk memahami karya yang akan mereka garap.

“Museum seperti ini akan sangat membantu mereka dalam menghadirkan sebuah konsep serta menghadirkan desain atau karya orisinal dan kuat,” katanya.

Menurutnya, mempelajari sebuah seni dari karya yang orisinal seperti yang ada di museum ini juga dianggap sebagai bagian dari proses pembentukan pribadi yang profesional.

“Selain itu mengajak mereka ke sini agar mereka menghindari plagiarisme dan supaya nantinya tidak terjerembab menjadi desainer plagiat,” jelasnya.

Ia menabahkan, karya orisinal yang dimiliki oleh museum tersebut menjadi senjata utama untuk dapat menciptakan suara-suara baru dari pengunjung.

“Kalau museum yang pada baru berdiri kebanyakan karya mereka sudah dicampur dengan unsur moderenisasi ya, saya sih sebagai lecturer pasti memilih seni yang orisinal,” kata wanita paruh baya tersebut.

Baca juga: Kota Tua buka hingga dini hari pada malam tahun baru

Di sudut lain Museum Seni Rupa dan Keramik, tepatnya di ruangan yang menyimpan berbagai lukisan karya pelukis legendaris Indonesia, juga tampak sepi, hanya suara angin kecil berhembus menembus lubang-lubang tempat lukisan diletakkan.

Tak lama, teriakan dari beberapa anak kecil seketika membuat seisi ruangan menjadi bergema penuh dengan riangan mereka bersama gurunya.

Terlihat puluhan anak kecil berseragam oranye sedang berbaris rapi dengan sangat antusias untuk tidak sabar melihat keunikan benda-benda di ruangan tersebut.

“Lagi pada belajar tentang kesenian kayak keramik dan lukisan,” kata seorang wanita yang berprofesi sebagai guru di Paud Melati 102 Tanah Abang, Mutia (36).

Pemilihan museum tua ini sebagai media belajar para siswa, lanjut Mutia, menjadikan museum ini memiliki nilai fungsi edukasi yang dominan.

“Mungkin gurunya punya pertimbangan khusus kali ya kenapa pilih sini, tapi menurut saya kalau mau lihat atau belajar karya seni ya harus ke yang sudah jelas seperti ini,” kata Dewi (32), seorang ibu yang sedang mengantar anaknya berwisata.

Perasaan senang mempelajari bentuk karya seni pun sudah bisa dirasakan oleh Akira (5), seorang bocah kecil berambut kepang dua dengan pita biru di kepalanya.

“Senang sekali. Serem tapi lucu bentuknya,” katanya.

Lain halnya dengan David dan Fina, sepasang sejoli yang serempak memakai pakaian warna senada ini memiliki alasan tersendiri dalam memilih museum ini sebagai destinasi wisata.

“Murah sih daripada yang baru, lagian lebih art yang ini lah ya. Kalau difoto soul-nya lebih dapat, klasik banget,” kata Fina (24) dengan sangat antusias.

Alih-alih untuk sekadar berlibur, para pengunjung museum legendaris ini memilih untuk belajar sebagai tujuan utama mereka untuk datang ke sini.

Sudut-sudut museum yang berbau lawas dan tidak jarang terdapat beberapa sarang laba-laba yang sedang bergantung justru membuat daya tarik tersendiri bagi sebagian orang yang hobi mencari hawa klasik.

“Jelas bangunannya, kalau benda yang dipajang jelas lah ya yang mengerti art pasti bilang museum ini nomer satu,” kata Shakira (22), wanita berkacamata dengan rambut digerai yang hobi fotografi ini.

Nilai yang berbeda

Menurutnya berbagai sudut tua di Museum Seni Rupa dan Keramik ini menjadi nilai yang eksklusif.

“Dia punya sesuatu yang enggak dipunya sama museum modern. Sama-sama punya pintu, tapi kalau yang tahu pasti mengerti lah kalau makna pintu di sini beda,” tambahnya.

Dosen Universitas Podomoro, Nurul, juga menambahkan adanya peran penting masyarakat sebagai kunci utama dalam membawa suara-suara keramaian dalam ke tempat wisata bersejarah seperti ini.

“Justru kita harus support museum seni rupa yang legal dari pemerintah. Hanya harus lebih ditingkatkan juga fasilitas dan interiornya agar dapat berkompetisi dengan muse commercial swasta,” katanya.

Menurutnya, museum legendaris seperti Museum Seni Rupa dan Keramik ini harus memiliki cara pendekatan yang lebih baik.

“Harus bisa berkomunikasi dengan para milenial agar mereka merasa hommy di museum seperti ini, sehingga mereka akan lebih banyak belajar,” tutupnya.

(Penulis: Peserta Susdape XIX/Astrid Faidlatul Habibah)

Baca juga: Revitalisasi Kota Tua Ampenan dan potensi wisata sejarah

Baca juga: Kelenteng Kota Tua Ampenan rayakan Imlek secara sederhana

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia tampilkan seni tradisional di kampus Hongaria

London, (ANTARA) – Kedutaan Besar Republik Indonesia di Budapest dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hongaria menampilkan seni budaya tradisional Indonesia di Festival Budaya di Universitas Sopron di Kota Sopron dan Universitas Teknologi dan Ekonomi Budapest di Kota Budapest.

Pelaksana Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya di KBRI Budapest, Titania Arimbi, kepada Antara London, Jumat, mengatakan, kegiatan itu dibungkus dalam program Indonesia Goes To Campus.

Seni budaya yang ditampilkan adalah pertunjukan angklung interaktif di Sopron dan Tarian Saman di Budapest.

“Kami bersama PPI memang lagi gencar-gencarnya mempromosikan Budaya Indonesia yang kaya dan beragam kepada para mahasiswa Internasional di Hongaria,” ujar Titania Arimbi.

Diharapkannya, minat untuk mempelajari budaya Indonesia tumbuh di kalangan muda Hongaria yang nantinya akan membuat mereka menjadi Indonesianis.

Tidak berhenti di situ, KBRI Budapest juga akan membuka kursus tari Indonesia bagi pelajar asing yang ingin belajar mengenai tarian Indonesia.

Melengkapi promosi Budaya, PPI Hongaria dan KBRI Budapest juga turut mempromosikan produk mi instan unggulan Indonesia yaitu Indomie kepada para pelajar.

KBRI dan PPI membagi sampel Indomie gratis dan membagikan Indomie matang kepada para pengunjung. Produk Indomie telah tersedia di supermarket di sekitar Hongaria mulai Februari 2019.

Ketua PPI Hongaria, Muhammad Putra Hutama, mengatakan para pelajar Indonesia di Hungaria selalu mendukung produk Indonesia di Hongaria.

“Walaupun dalam skala kecil, PPI Hongaria gembira bisa membantu produk Indonesia sukses di Hongaria,” ujarnya.

Dikatakannya Indomie sangat diminati para pengunjung yang datang di kedua acara baik di Universitas Sopron maupun Univeristas Teknologi dan Ekonomi Budapest.

Ia mengharapkan dengan pengenalan produk mi tersebut dapat turut meningkatkan kepedulian terhadap produk Indonesia. 

Baca juga: Gamelan mengalun di pinggir Danau Balaton Hongaria
Baca juga: PPI Hongaria juara di kontes ASEAN Voice Budapest

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Disbud Denpasar tetapkan 32 nominasi “Ogoh-ogoh” jelang Nyepi

Denpasar, (ANTARA) – Tim penilai Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Bali mengumumkan total 32 nominasi dari 163  Ogoh-Ogoh (boneka raksasa) yang dilombakan, setelah menuntaskan penilaian di empat kecamatan setempat, jelang Nyepi.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Dewa Gde Juli Artabrata, didampingi Kabid Kebudayaan sekaligus Ketua Panitia Lomba  Ogoh-Ogoh  Made Wedana di Denpasar, Jumat, menjelaskan bahwa seluruh tahapan mulai dari pendaftaran, penilaian hingga pengumuman hasil penilaian telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan.

“Disbud Kota Denpasar mengumumkan delapan nominasi di masing-masing kecamatan yang keseluruhannya berjumlah 32 `Ogoh-Ogoh”,” katanya.

Ia mengatakan, hasil penilaian dewan juri bersifat transparan serta tidak dapat diganggu-gugat. Boneka raksasa pemenang tersebut berhak atas uang pembinaan sebesar Rp10 juta.

Dewa Juli menjelaskan, dari sebanyak 163 “Ogoh-Ogoh” yang mengikuti seleksi, Banjar Dukuh Mertajati, Kelurahan Sidakarya dan Banjar Mertha Rauh Kaja Desa Dangin Puri Kaja mendapat nilai tertinggi.

Ia mengatakan “Ogoh-Ogoh” yang berbahan dasar ramah lingkungan ini nantinya akan diserahkan kembali ke desa pakraman masing-masing untuk mengatur jalannya perayaan malam  pangerupukan  atau sehari sebelum Nyepi.

“Dinas Kebudayaan Kota Denpasar hanya melakukan penilaian, selanjutnya nantinya setelah itu seluruh ogoh-ogoh akan dikembalikan ke desa pakraman setempat serangkaian malam `pengerupukan,” ujarnya.

Ia menyampaikan selamat kepada 32 nominasi ogoh-ogoh yang beruntung, sedangkan sisanya yang belum beruntung harus berbesar hati dan terus berusaha di tahun depan dengan karya-karya kreatif sebagai bentuk pelestarian seni dan budaya Bali.

Dalam kesempatan tersebut Dewa Juli turut mengimbau kepada peserta pawai “Ogoh-Ogoh” untuk tidak mengkonsumsi minuman keras sebelum atau saat mengarak boneka raksasa menyeramkan itu.

“Mari bersama-sama kita menghormati serangkaian pelaksanaan Hari Suci Nyepi dengan bersama-sama menjaga ketertiban serta tidak menggunakan pengeras suara agar terhindar dari permasalahan yang riskan terjadi pada saat pawai “Ogoh-Ogoh” saat malam `pengerupukan`,” katanya.

Baca juga: Festival ogoh-ogoh dikerubuti ribuan orang
Baca juga: Lomba “ogoh-ogoh” mengisi hari suci Nyepi

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tradisi Buton Tengah jelang musim panen

1 Views

(Antara)-Masyarakat dari sembilan desa di Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, menggelar Festival Rumpun Bombonawulu. Sebuah festival budaya yang digelar dalam rangka menghadapi musim panen di kawasan tersebut.

Kacang bagus untuk penderita diabetes

Kacang bisa mengurangi risiko terkena penyakit kardiovaskular pada mereka yang menderita diabetes tipe 2, menurut studi dalam Journal of American College of Cardiology dan jurnal American Heart Association Circulation Research, dikutip Kamis.

Untuk sampai pada kesimpulan ini, para peneliti menggunakan kuesioner diet tentang konsumsi kacang. Hampir 16.000 orang dewasa berpartisipasi dan mereka mengisi kuesioner sebelum dan sesudah mereka menerima diagnosis diabetes tipe 2.

Ternyata, semua jenis kacang menawarkan manfaat kesehatan, terutama almond, kenari dan kacang tanah, kacang yang tumbuh di bawah tanah. 

Almond dan kenari menawarkan lebih banyak manfaat karena mengandung jumlah nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kacang tanah. Nutrisi yang umum terkandung dalam makanan ini adalah asam lemak tak jenuh, serat, vitamin E, folat, dan mineral, termasuk kalium, kalsium dan magnesium.

Hasil studi juga menunjukkan bahwa penderita diabetes tipe 2 yang makan lima porsi kacang per minggu berisiko 17 persen lebih rendah terkena penyakit kardiovaskular. Risiko meninggal akibat penyakit itu juga 34 persen lebih rendah. 

Baca juga: Makanan penangkal masalah jantung

Lalu, mereka yang mengonsumsi lebih banyak kacang setelah didiagnosis diabetes, memiliki risiko 11 persen lebih rendah terkena penyakit kardiovaskular dan 25 persen risiko kematian terkait penyakit jantung dibandingkan dengan orang yang tidak menambah asupan kacang.

Diabetes tipe 2 adalah kondisi kronis yang memengaruhi cara tubuh memetabolisme glukosa, yang merupakan sumber utama bahan bakar. Kemungkinan komplikasi akibat kondisi ini adalah kerusakan ginjal dan penyakit kardiovaskular.

“Temuan kami memberikan bukti baru yang mendukung rekomendasi termasuk kacang-kacangan dalam pola diet [sehat] untuk pencegahan komplikasi penyakit kardiovaskular dan kematian dini di antara individu dengan diabetes,” kata Dr. Gang Liu, Ph.D., peneliti ilmu nutrisi dari the Harvard T.H. Chan School of Public Health di Boston. 

Baca juga: Satu setengah genggam kacang untuk perpanjang harapan hidup
 
Menurut peneliti, setiap tambaham porsi kacang per minggu menurunkan 3 persen risiko penyakit kardiovaskular dan risiko kematian akibat penyakit jantung sebanyak 6 persen. 

Meskipun efek spesifik kacang pada kesehatan jantung belum sepenuhnya jelas, temuan menunjukkan bahwa nutrisi dalam kacang dapat memperbaiki tekanan darah, kontrol gula darah dan peradangan serta meningkatkan metabolisme lemak dan meningkatkan fungsi dinding pembuluh darah.

“Penyakit kardiovaskular adalah penyebab utama kematian dan penyebab utama serangan jantung, stroke, dan kecacatan bagi orang yang hidup dengan diabetes tipe 2,” kata Dr. Prakash Deedwania, seorang profesor kedokteran University of California-San Francisco School of Medicine di Fresno. 

Deedwania menambahkan bahwa temuan ini menambah bukti yang berkembang bahwa gaya hidup sehat, olah raga teratur dan diet seimbang dapat memiliki efek menguntungkan yang signifikan pada risiko penyakit kardiovaskular pada orang dengan diabetes.

Baca juga: Makanan ini bantu perbaiki suasana hati

Baca juga: Khasiat kacang kenari untuk cegah diabetes

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival Sarung NTT akan diramaikan 10.000 peserta

Kita juga akan mendorong penetapan Hari Sarung Nasional

Jakarta, (ANTARA News) – Sebanyak 10.000 peserta dari berbagai kalangan akan meramaikan kegiatan akbar Festival Sarung dan Musik Nusa Tenggara Timur (NTT) di arena Car Free Day (CFD) di Kota Kupang, NTT, Sabtu (2/3).

 Festival itu akan menampilkan kain tenun ikat hasil kreasi kaum perempuan di seluruh pelosok Flobamora (Flores, Sumba, Timor) yang beraneka ragam serta sarat pesan kearifan lokal yang unik.

 “Kami ingin mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya penenun. Juga untuk membangkitkan kebanggaan di kalangan generasi muda dan kaum milenial terhadap kain sarung NTT,” ujar Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT Julie Sutrisno Laiskodat dalam keterangan tertulisnya yang dikirim ke Antara Jakarta, Kamis.

  Ia menjelaskan, pihaknya akan terus mengupayakan agar tenun ikat NTT diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO. 

Berdasarkan catatan, Julie yang juga istri Gubernur NTT Victor Laiskodat itu dikenal sebagai Bunda Tenun NTT. Bahkan, ia pernah membawa hasil tenun NTT ke ajang peragaan busana internasional seperti Paris Fashion Week, London Fashion Week, dan New York Fashion Week.

 Hasil tenun NTT yang Julie tampilkan merupakan karya dari berbagai kelompok tenun di NTT yang ia bina.

 Julie melanjutkan, Festival Tenun Ikat NTT digelar Dekrasnasda NTT bersama Pemprov NTT. Para peserta terdiri atas 2.000 peserta dari perangkat daerah Provinsi NTT, 500 perangkat daerah Kota Kupang, 500 TNI/Polri, 500 peserta dari instansi vertikal, 500  dari organisasi wanita, 300 peserta dari kelompok etnis, sebanyak 700 peserta dari BUMD/BUMN, dan 5.000 peserta dari kalangan pelajar serta mahasiswa.

Festival yang mengangkat tema  Sarung Tenun Ikat NTT Identitas Budaya, Pemersatu Bangsa itu akan digelar mulai pukul 06.00 hingga 10.00 Wita. 

Julie menambahkan, festival tersebut juga akan dimeriahkan tarian yang ditampilkan 1.800 pelajar. Tarian yang dihadirkan adalah tarian massal Flobamora seperti Gawi, Dolo-Dolo Jai dan Tebe.

 Festival itu juga menghadirkan bazar aneka makanan serba kelor dari UMKM, lalu ada instalasi tenun, paduan suara pelajar yang diikuti 2.000 orang, musik tradisional, serta olahraga bersarung.

“Yang unik dari acara ini, peserta diwajibkan berbusana kaus putih dan sarung bahan tenun ikat asli NTT. Yang datang tanpa sarung tenuh ikat asli NTT saya tolak,” kata Julie Laiskodat.

Peserta akan dibagi ke empat lokasi di sepanjang Jalan El Tari dengan perincian, sebanyak 4.975 peserta di Depan Gedung Sasando Kantor Gubenur, lalu 1.685 peserta di depan Pengadilan Tinggi NTT, sebanyak 2.100 peserta di depan rumah jabatan Gubernur NTT, dan sebanyak 2.120 peserta di depan rumah jabatan Kejati NTT. Di setiap lokasi akan digelar berbagai hiburan.  

  Julie berharap festival itu dapat menjadi ajang tahunan yang dapat menjadi daya tarik pariwisata daerah, sehingga tenun NTT semakin berkibar di kancah nasional maupun internasional.

 “Kita juga akan mendorong penetapan Hari Sarung Nasional. Sarung yang merupakan warisan kekayaan leluhur yang mesti dilestarikan serta layak disejajarkan dengan batik sebagai busana nasional. Dengan itu, geliat perekonomian para penenun juga akan semakin meningkat,” tutur Julie Laiskodat.
 

Baca juga: Kemenkop dukung Festival Sarung Indonesia untuk dongkrak promosi UKM sarung
Baca juga: Kemenperin kembangkan potensi sarung jadi gaya hidup baru

Pewarta: Ganet Dirgantara
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Permainan tradisional Melayu dilestarikan dalam Lomba Jong 2019

pesertanya tidak hanya masyarakat Kepri, melainkan juga dari Malaysia dan Singapura.

Batam  (ANTARA News) – Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau, melestarikan permainan tradisional khas Melayu pesisir, Jong, dalam Lomba Jong 2019, di Pantai Tanjung Mak Dare Kampung Melayu, mulai Rabu hingga Sabtu, 13-15 Maret.

“Ini sebagian dari upaya kami melestarikan permainan olahraga tradisional khas,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Ardiwinata di Batam, Selasa.

Jong merupakan permainan tradisional, berupa balap perahu kayu tanpa awak dengan layar beraneka warna. Kapal berukuran sekitar 1 meter itu biasanya dipacu di sekitar bibir pantai.

Ardi mengatakan, pemerintah terus berupaya melestarikan berbagai kebudayaan setempat agar dapat terus dinikmati generasi muda.

Selain untuk melestarikan budaya, perlombaan Jong juga diharapkan dapat menarik kunjungan pelancong dalam dan luar negeri yang tertarik dengan budaya setempat.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kota Batam Hendriana Gustini menyatakan pemerintah sengaja menyelenggarakan lomba itu setiap tahun.

“Acara ini, selama 18 tahun digelar oleh masyarakat Melayu Batu Besar dan semenjak Tahun 2015 hingga sekarang dianggarkan oleh Pemkot Batam melalui Dispora Kota Batam yang tertuang dalam Kegiatan Penyelenggaraan olahraga rekreasi dan tradisional,” kata dia.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizky Handayani dalam siaran pers mengatakan, Lomba Jong 2019 diperkirakan berlangsung meriah, karena pesertanya tidak hanya masyarakat Kepri, melainkan juga dari Malaysia dan Singapura.

“Lomba Jong Batam 2019 bisa diikuti semua lapisan masyarakat dari semua kelompok umur,” kata dia.

Panitia membagi lomba atas beberapa kategori, antara lain kelas jong kecil dengan ukuran 1-1,29 meter, jong sedang 1,30-1,59 meter, jong besar 1,60-1,90 meter, dan kelas jong untuk anak-anak.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan, `sport tourism` menjadi potensi wisata yang tengah dikembangkan Kemenpar. Tak jauh berbeda dengan jenis wisata lain, sport tourism diyakini mampu menarik banyak pengunjung. bahkan mendatangkan wisatawan mancanegara.

“Sport tourism sudah dikembangkan beberapa daerah di Indonesia. Sebagian di antaranya masuk Calender of Event (CoE) Kemenpar 2019. Bukan tidak mungkin Lomba Jong Batam juga masuk suatu hari nanti dan semakin berkembang serta menjadi daya tarik wisatawan mancanegara,” kata dia.

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“South East” perkenalkan ragam tarian berdasar kurikulum

Tangerang (ANTARA News) – Sanggar tari South East Asia Dance Troupe yang telah berdiri di Hongkong sejak 23 Februari 2019, kini juga meramaikan jagat tari Indonesia dan memperkenalkan kepada siswa mengenai beragam tarian berdasarkan kurikulum.

Pembimbing Sanggar Dunia Tari South East, Surianty (Liu Chun Wai)  di Tangerang, Banten, Senin, mengatakan,  sanggar ini memiliki konsep pembelajaran tari yang dilakukan secara sistematis dan modern yang telah disusun sesuai perkembangan zaman.

Sanggar Dunia Tari SE menghadirkan pelajaran seni dengan menggabungkan tarian dari berbagai daerah, sekaligus juga mempelajari tarian dari berbagai negara lain. 

Para siswa akan mendalami dan tetap mempertahankan gaya khas dan pesona tarian tradisional, namun diperkaya dengan pengetahuan dan gerakan dari tarian lainnya, ujarnya.

Ia mencontohkan, Chinese Dance, ballet, jazz, belly dance, line dance, senam pernafasan, senam kesehatan dan lainnya, yang dikemas menjadi suatu tarian yang indah, sehingga membuat generasi muda lebih tertarik untuk mempelajari tarian tradisional.

 Melalui pembelajaran teknik menari yang tepat, Sanggar Dunia Tari SE akan mengembangkan semua aspek tubuh siswa untuk membentuk postur tubuh yang anggun, sehingga meningkatkan kualitas seni pertunjukan tari yang ditampilkan.

 Diharapkan setelah mempelajari seni tari ini, siswa akan menjadi lebih percaya diri, lebih disiplin dan fokus, sekaligus membangun moralitas dan perilaku yang lebih baik.

“Para siswa pun akan mengikuti ujian yang diadakan di dalam negeri maupun luar negeri,” katanya.

Sanggar ini  membuka cabang di Indonesia dengan nama Sanggar Dunia Tari SE yang berlokasi di  Scientia Square Park, Summarecon Serpong, Tangerang.  

Baca juga: 999 santri tampilkan tari sufi di GBK
Baca juga: Diaspora Indonesia tampilkan tari tradisional di Qatar
 
 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menyambangi Penjara S-21, melongok tengara masa kelam Kamboja

Phnom Penh (ANTARA News) – Syahdan pada 17 April 1975 pasukan tentara Khmer Merah, sebuah sayap angkatan bersenjata Partai Komunis Kamboja, berhasil memasuki ibu kota Phnom Penh untuk pertama kalinya.

Kedatangan mereka disambut penuh suka cita oleh warga ibu kota, yang kala itu sudah jengah dengan pemerintahan Republik Khmer di bawah kekuasaan Presiden Lon Nol, yang juga terbentuk lewat sebuah aksi kudeta militer terhadap Raja Norodom Sihanouk lima tahun sebelumnya.

Tak dinyana, suasana Phnom Penh yang meriah dalam penyambutan pasukan Khmer Merah akan berubah dalam sekejap menjadi penguasaan bertangan besi yang bakal membawa Kamboja memasuki salah satu eposide terkelam dalam sejarah mereka.

Catatan pendek bagaimana rakyat Phnom Penh menyambut kedatangan pasukan tentara Khmer Merah bisa anda temukan di Gedung B dari komplek Museum Pemunahan Tuol Sleng.

Museum tersebut merupakan bekas gedung kampus Sekolah Menengah Atas Tuol Svay Pray yang kemudian dialihfungsikan menjadi pusat interogasi, penyiksaan dan eksekusi oleh rezim Khmer Merah.

Diperkirakan ada 17.000 orang yang pernah dibawa masuk ke tempat yang juga dikenal sebagai Penjara S-21 itu, namun hanya tujuh tahanan yang tercatat selamat meninggalkan tempat itu hidup-hidup di pengujung kekuasaan Khmer Merah.
  Seorang wisatawan mengamati tiang penyiksaan yang bersinggungan dengan pemakaman tanpa nama di dalam komplek Museum Pemunahan Tuol Sleng yang merupakan bekas komplek Penjara S-21 di masa pemerintahan Khmer Merah. (ANTARA/Gilang Galiartha)

Berlokasi di Jalan Nomor 113, Boeung Keng Kang II, Distrik Chamkarmorn, tak sulit untuk mencapai Museum Pemunahan Tuol Sleng, yang hanya memakan waktu kurang dari 20 menit dari Stadion Nasional Phnom Penh.

Anda dikenai tiket masuk senilai 5 dolar AS (sekira Rp70 ribu) untuk orang dewasa dan 3 dolar AS (sekira Rp42 ribu) di loket yang terdapat di gerbang museum. Jika anda tertarik untuk mendapatkan penjelasan dalam 11 pilihan bahasa, termasuk Bahasa Inggris, anda bisa menambahkan 3 dolar AS per unit alat bantu audio yang disediakan. Papan yang memperlihatkan 10 peraturan bagi para tahanan Penjara S-21 di masa pemerintahan Khmer Merah yang kini bisa dikunjungi sebagai Museum Pemunahan Tuol Sleng. (ANTARA/Gilang Galiartha) (ANTARA/Gilang Galiartha)

Kehadiran alat bantu audio tersebut membuat Anda akan menemui banyak pengunjung yang duduk bersantai di bangku-bangku yang tersedia, di lapangan tengah komplek, mendengarkan dengan saksama 32 buah penjelasan yang disampaikan.

Di dalam komplek juga terdapat beberapa pemandu yang bisa menjelaskan kronik Penjara S-21 dalam bahasa Inggris maupun bahasa Khmer. Anda bisa mencuri dengar pejelasan mereka jika tak ingin membayar lebih untuk perangkat audio yang disediakan.

Tak ada senyum, hanya nanar

Begitu membayar tiket masuk dan meletakkanya di alat pemindai, sebuah papan informasi besar akan menyambut Anda dengan berbagai penjelasan singkat mengenai denah Museum Pemunahan Tuol Sleng.

Tepat di belakang papan informasi terdapat 14 kuburan tanpa nama yang menjadi penilasan jenazah korban kekejaman Penjara S-21 yang ditemukan ketika operasi pembebasan Kamboja dari rezim Khmer Merah berlangsung pada 7 Januari 1979.

Bersinggungan dengan pemakaman tanpa nama, terdapat sebuah tiang gantungan tempat para tentara Khmer Merah melakukan penyiksaan ketika menginterogasi tahanan.

Ada tiga kait yang di bawahnya terdapat gentong yang biasanya diisi air dan tahanan digantung dalam keadaan terbalik ketika diinterogasi.

Kepala mereka akan dibenamkan ke dalam air jika kondisi badan tahanan menyerah sehingga mereka kembali sadar dan kembali diinterogasi.

Di samping pemakaman, terdapat papan yang berisikan 10 aturan Penjara S-21 yang mengharuskan para tahanan untuk menjawab setiap pertanyaan penyidik Khmer Merah disertai berbagai siksaan yang dijanjikan jika jawaban tak sesuai dengan keinginan mereka.

Bahkan salah satu poin tertulis bahwa tahanan tidak boleh menyebutkan mengenai Kampuchea Krom, sebuah wilayah di delta Sungai Mekong di bagian selatan Vietnam yang sebelumnya merupakan wilayah kekuasaan Kamboja, untuk menyembunyikan jawaban mereka.
  Kondisi salah satu ruangan di Gedung A Museum Pemunahan Tuol Sleng yang semasa rezim Khmer Merah dipakai sebagai ruang interogasi Penjara S-21. (ANTARA/Gilang Galiartha)

Terdapat empat gedung dengan tiga lantai di dalam komplek Penjara S-21. Gedung A merupakan ruangan-ruangan interogasi yang didalamnya terdapat ranjang besi dengan pasung agar tahanan tak melarikan diri selama pemeriksaan.

Ironisnya dari banyaknya ranjang yang ada, hanya satu bantal usang tersisa. Satu-satunya hal lunak di antara kekejaman yang dihadirkan dalam saksi kekejaman Khmer Merah.

Sementara foto-foto hitam putih terpampang di tiap-tiap ruangan di Gedung A, yang memperlihatkan kondisi korban-korban tanpa nama yang kini dikuburkan di dalam kompleks museum.

Di Gedung A terdapat dua ruangan di lantai tiga dan satu, sedangkan ruangan di lantai dua kondisinya terkunci sehingga tidak diperkenankan untuk dikunjungi oleh pengunjung museum.

Memasuki Gedung B terdapat papan-papan informasi berisikan cerita mengenai betapa suka citanya rakyat Phnom Penh menyambut kedatangan pasukan Khmer Merah sebelum kemudian kehidupan mereka berubah 180 derajat di bawah pemerintahan rezim tersebut yang diwarnai banyaknya kerja-kerja paksa serta penghapusan kepemilikan pribadi. Pengunjung Museum Pemunahan Tuol Sleng di Phnom Penh, Kamboja, pada Sabtu (23/2/2019), menoleh ke Gedung C bekas Penjara S-21 rezim Khmer Merah yang dipagari kawat berduri untuk mencegah tahanan bunuh diri. (ANTARA/Gilang Galiartha)

Berbagai alat-alat penyiksaan yang dipakai oleh para petugas Penjara S-21 juga masih tersimpan di salah satu ruangan Gedung B, yang di bagian ujungnya berada empat patung kepala Pol Pot sang Sekretaris Jenderal Partai Komunis Kamboja.

Foto-foto para pemimpin Partai Komunis Kamboja yang menjadi dalang kekejaman rezim juga berada di Gedung B, termasuk salah satunya Kang Keck Iev yang merupakan Kepala Penjara S-21.

Di papan-papan lain yang lebih banyak terpampang para tahanan yang pernah masuk ke Penjara S-21. Tak jarang anda akan menemukan perempuan yang masih membawa anaknya yang masih balita bahkan menggendong bayinya ketika difoto masuk ke dalam Penjara S-21.

Kecuali di wajah para pemimpin Khmer Merah, tak ada senyum di antara foto-foto para tahanan. Yang tergambar hanyalah nanar yang mewakili betapa nahasnya nasib yang menghampiri hidup mereka.

Kawat-kawat berduri terlihat membungkus bagian balkon Gedung C, yang dipasang demi mencegah para tahanan untuk melakukan bunuh diri setelah mereka tak lagi sanggup menerima siksaan yang diberikan oleh para petugas penjara.

Gedung C, sebagaimana gedung-gedung lainnya yang merupakan bekas kelas SMA Svay Pray, dijadikan sel tahanan yang dibuat dengan sekat bata-bata menjadi ruang sempit berukuran tak lebih dari 1×2 meter.

Di antara sel-sel tahanan yang bisa dikunjungi, terdapat sel bekas salah seorang penyintas, Chum Mey, mendekam selama ia berada di Penjara S-21. Foto seorang wanita bersama bayinya saat menjadi tahanan Penjara S-21 rezim Khmer Merah terpampang di salah satu ruangan Gedung C Museum Pemunahan Tuol Sleng di Phnom Penh, Kamboja. (ANTARA/Gilang Galiartha)

Memasuki Gedung D, foto-foto nanar para korban Penjara S-21 kembali terpampang di papan-papan yang ada, disertai alat-alat yang digunakan petugas untuk mengidentifikasi tahanan seperti kursi tempat foto dan alat pengukur tinggi badan.

Sebagian besar tahanan Penjara S-21 adalah agen-agen CIA dan/atau KGB maupun mereka yang dicurigasi sebagai agen CIA ataupun KGB. Yang terbanyak tentu saja petugas-petugas ataupun tentara masa pemerintahan Lon Nol, yang ditangkap dan disiksa dengan tuduhan kontrarevolusioner.

Penjara S-21 menjadi saksi bisu dari kekejaman Republik Demokratik Kamboja, negara yang dibentuk oleh Khmer Merah setelah mereka naik berkuasa.

Buah tangan penyintas

Di hadapan Gedung C dan D terdapat sebuah monumen yang dibangun sebagai tengara pengingat tindakan keji rezim Khmer Merah.

“Kami tidak akan pernah melupakan tindakan kriminal yang dilakukan selama Rezim Republik Demokratik Kamboja,” demikian pernyataan yang tertulis dalam empat bahasa di tiap sisi tugu tersebut.

Sebagaimana museum-museum lainnya, terdapat tenda-tenda yang menjajakan berbagai pernak pernik kronik masa kekejaman Khmer Merah.

Di salah satu sudutnya, setiap hari duduk Bou Meng, seorang renta yang merupakan penyintas dari kekejaman Penjara S-21.
  Salah seorang penyintas Penjara S-21 rezim Khmer Merah, Bou Meng (kanan), duduk berjaga di lapak yang menyediakan buku-buku, cakram padat maupun foto kisah hidupnya di salah satu sudut Museum Pemuhanan Tuol Sleng, Phnom Penh, Kamboja, Sabtu (23/2/2019). (ANTARA/Gilang Galiartha)

Pria kelahiran 4 April 1941 itu sempat menjadi pegawai di masa-masa awal pemerintahan Khmer Merah berkat keahlian seninya, hal yang suatu saat nanti bakal menyelamatkan Bou Meng dari daftar tunggu eksekusi.

Pada 1977 dua orang agen pemerintah Khmer Merah mendatangi rumah Bou Meng dan mengatakan ia diminta untuk menjadi tenaga pengajar di Sekolah Seni pemerintah. Alih-alih menjadi guru, Bou Meng dan istrinya justru diboyong ke Penjara S-21, pada 21 Mei 1977.

Setelah beberapa hari ditahan tanpa perlakuan, Bou Meng mendapat gilian diinterogasi dengan pertanyaan paling standar yakni, “Kapan kamu bergabung dengan CIA-KGB? Siapa bosmu?”. Pertanyaan hanya bisa dijawab Bou Meng dengan jawaban yang tentunya menimbulkan kemarahan penyidik Penjara S-21.

Suatu hari, salah seorang petugas Penjara S-21 menanyakan siapa yang bisa menggambar di antara para tahanan. Tanpa ragu Bou Meng mengacungkan tangannya.

Tak dinyana ia disuruh melukis Kakak Pertama Pol Pot, sang pemimpin besar Khmer Merah. Beruntung berkat kelihaiannya melukis Duch sang kepala Penjara S-21 puas dengan hasil kerjanya, sesuatu yang menyelamatkan nyawanya. Sebab sebelum Bou Meng ada banyak tahanan yang sudah diminta melukis Pol Pot, dan nasibnya tak seberuntung Bou Meng.

Kini, Bou Meng duduk setia di kursi yang tersedia di lorong antara Gedung D dan Gedung A. Menghadapi meja yang berisikan buku-buku dan cakram padat berisikan pengalaman hidupnya yang bisa anda dapatkan setiap buahnya dengan harga 10 dolar AS (sekira Rp140 ribu).

Bahwa penyesalan Bou Meng akibat ketidakmampuannya menyelamatkan nyawa istrinya yang habis di tangan rezim Khmer Merah tentu tidak akan berakhir, namun kekejaman yang terjadi adalah pelajaran berharga tidak bisa dipungkiri.

Di setiap sudut belahan dunia, manusia dan kekejaman seolah mengancam untuk menunggu giliran mendapatkan panggung untuk unjuk kuasa. Namun Bou Meng setia melewatkan hari-hari tuanya sebagai manusia bebas. Tugu yang berada di dalam Museum Pemunahan Tuol Sleng bekas Penjara S-21 rezim Khmer Merah yang didirikan untuk memperingati kekejaman rezim yang sempat berkuasa di Kamboja pada 1975-1979 itu. (ANTARA/Gilang Galiartha)

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kubu Gadang gelar peragaan busana tradisional di pematang sawah

Padang Panjang (ANTARA News) – Desa Wisata Kubu Gadang di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, mengadakan peragaan busana tradisional perempuan Minangkabau dan menggunakan pematang sawah sebagai “catwalk”.

Inisiator Desa Wisata Kubu Gadang, Yuliza Zen di Padang Panjang, Minggu, mengatakan kegiatan itu diberi nama Festival Baju Saisuak. Saisuak berarti sudah lama sekali atau tempo dulu.

Peragaan busana diikuti oleh ibu-ibu dan remaja perempuan dari kelurahan setempat. Para peserta berjalan di pematang sawah mengenakan pakaian tradisional sesuai usia.

Yuliza menerangkan peragaan busana “saisuak” tersebut digelar untuk mengingatkan kembali masyarakat bagaimana perempuan Minang berpakaian di lingkungannya.

“Pakaian perempuan Minang ini salah satu bentuk kearifan lokal yang harus dipertahankan. Karena ingin nuansanya setradisional mungkin, kami cukup memakai pematang sawah sebagai catwalk. Hal ini yang menjadi daya tarik di acara ini,” katanya.

Festival tersebut, ujarnya sekaligus sebagai suguhan selingan bagi pengunjung di samping suguhan tetap yang dihadirkan setiap Minggu berupa pasar kuliner tradisional di desa wisata tersebut.

Panitia Festival Baju Saisuak, Yeni menambahkan acara itu dapat menjadi sarana menyampaikan pesan mengenai kesopanan wanita Minang dalam berpakaian, misalnya saat mengenakan baju kurung.

“Saat ini baju kurung masih tetap dipakai namun sayangnya tidak dibuat seperti baju kurung tempo dulu yang betul-betul longgar. Masa sekarang baju kurung dibuat cenderung pas di badan,” ujarnya.

Baju-baju yang diperagakan para peserta, selain baju kurung juga ada baju kebaya dalam, kebaya incim dan baju kurung basiba.

Pakaian tersebut memiliki waktu tersendiri untuk penggunaannya. “Misalnya kebaya untuk pesta, baju kurung untuk alek nagari, acara turun mandi anak dan lainnya. Anak-anak sekarang terutama perempuan harus tahu dan ikut mempertahankan kearifan lokal ini,” katanya.

Baca juga: Menlu: orang Minang miliki DNA diplomat

Baca juga: Ketika raja-raja nusantara menjajak Bumi Minang

Baca juga: Ini masakan Minang favorit Hannah Al Rashid

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pawai budaya meriahkan hari jadi Kota Takengon

 Banda Aceh (ANTARA News) – Pawai budaya yang diikuti ribuan pelajar tingkat SD, SMP dan SMA sederajat di Kabupaten Aceh Tengah memeriahkan peringatan hari jadi Kota Takengon ke-442.

 Pawai budaya yang diikuti ribuan pelajar dari berbagai tingkat pendidikan di Kabupaten Aceh Tengah tersebut dilepas langsung oleh Bupati setempat Shabela Abubakar di depan kantornya, di Takengon, Sabtu.

 Peserta yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan tersebut terlihat antusias mengikuti pawai budaya yang menampilkan beragam pakaian adat-istiadat dan profesi yang dikenakan oleh masing-masing peserta pawai budaya.

 “Karnaval budaya ini merupakan salah satu kegiatan yang disukai para pelajar dan melalui kegiatan ini juga memperkenalkan beragam pakaian adat yang ada di seluruh Tanah Air,” kata Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tengah, Uswatuddin.

Ia menjelaskan para peserta pawai budaya yang digelar dalam rangkai HUT Kota Takengon tersebut menyusuri sejumlah ruas jalan protokol yang telah ditetapkan oleh panitia penyelenggara.

 Ada pun pakaian adat yang dikenakan oleh peserta di antaranya pakaian adat kerawang Gayo, pakaian adat Aceh, Jawa, Minang dan pakaian adat dari provinsi lainnya yang ada di Indonesia.

 Ia menambahkan selain pawai budaya, kegiatan tersebut juga ikut menampilkan sejumlah atraksi yang ikut menyedot perhatian pengunjung seperti tari munalo dan marching band.

Baca juga: Pawai Budaya Keberagaman puncaki Lampung Krakatau Festival 2018
Baca juga: Forum Silaturahmi Keraton Nusantara gelar pawai budaya

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Parade Pesona Bau Nyale

Sejumlah peserta menggunakan kostum bertemakan Putri Mandalika saat mengikuti Parade Budaya Festival Pesona Bau Nyale 2019 di Praya, Lombok Tengah, NTB, Sabtu (23/2/2019). Parade budaya yang menampilkan kesenian serta atraksi budaya dari Kabupaten dan Kota se NTB tersebut merupakan rangkaian Festival Pesona Bau Nyale 2019. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.

UNY kerja sama pengkajian manuskrip Keraton Yogyakarta

Yogyakarta  (ANTARA News) – Keraton Yogyakarta sepakat menjalin kerja sama dengan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta dalam program magang mahasiswa serta digitalisasi dan pengkajian naskah kuno atau manuskrip milik keraton.

“Untuk membangun kemitraan dengan akademisi, kami sepakat untuk bekerja sama dengan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY),” kata perwakilan dari Keraton Yogyakarta KPH Notonegoro di Yogyakarta, Jumat.

Saat berkunjung ke FBS UNY dalam rangka sosialisasi kegiatan jumeneng 30 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X, Notonegoro mengatakan kerja sama dengan akademisi mampu mendorong pelestarian budaya, mengingat sumberdaya manusia di Keraton Yogyakarta terbatas.

“Dalam program magang mahasiswa, misalnya, mahasiswa bisa membantu proses digitalisasi dan pengkajian manuskrip milik keraton. Oleh karena itu, Keraton Yogyakarta membuka kesempatan mahasiswa untuk magang di keraton,” kata Notonegoro.

Kerabat Keraton Yogyakarta RM Marrel Suryokusumo mengatakan dalam rangka Mangayubagya 30 Tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X Bertahta, keraton menyelenggarakan beberapa kegiatan, di antaranya Simposium International on Javanese Studies and Manuscripts of Keraton Yogyakarta pada 5-6 Maret 2019.

“Selain itu, Keraton Yogyakarta juga mengadakan pameran bertajuk `Merangkai Jejak Peradaban Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat` pada 7 Maret hingga 7 April 2019. Pameran diadakan di Pagelaran Keraton Yogyakarta,” kata Marrel.

Sementara itu, Dekan FBS UNY Prof Dr Endang Nurhayati mengatakan kesepakatan itu akan dituangkan dalam Memorandum of Agreement (MoA).

Program magang bagi mahasiswa, menurut dia, bisa diikuti oleh mahasiswa baik dari program studi seni maupun bahasa sehingga mereka akan memperoleh sesuatu yang baru, yang jarang diketahui khalayak.

“Kami juga menawarkan diri untuk ikut membedah naskah yang dipamerkan seperti alih aksara manuskrip dan mendiskusikannya dari berbagai sudut pandang agar orang lain juga mengetahui dan memahami,” kata Endang.

Baca juga: 30 tahun Sultan HB X bertahta disiapkan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Baca juga: Keraton Yogyakarta siapkan perpustakaan digital khusus naskah kuno

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cerita Hasmi “Gundala” dedikasikan hidup untuk komik

Jakarta (ANTARA News) – “Gundala”, salah satu karya terkemuka dari Hasmi akan diadaptasi ke layar lebar pada tahun ini. Pria bernama lengkap Harya Suraminata ini pertama kali menciptakan karakter tersebut pada 1969 dalam komik edisi pertama “Gundala Putera Petir”.

Dikutip dari siaran pers Screenplay Films, Hasmi mulai menggeluti komik sejak berkuliah di Fakultas Desain Grafis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) pada 1967. 

Kuliahnya ini tak bertahan lama karena dia memutuskan fokus menulis “Gundala”. Sejak diperkenalkan, ketenaran Gundala tak terbendung karena anak-anak muda menyukai konsep jagoan yang dibuat olehnya. 

Baca juga: Berkenalan dengan Gundala, jagoan Indonesia

Sejak 1969 hingga 1982, ia menerbitkan 23 judul komik Gundala.
 
Hasmi tidak cuma membuat komik Gundala. Ia juga menciptakan banyak tokoh seperti Maza, Pangeran Mlaar, Sembrani, Merpati, Jin Kartubi, Kalong, Pengkor, Ghazul dan Ki Wilawuk. 

Sampai akhir hayatnya, Hasmi sudah menerbitkan 50 judul dan dua ratus episode komik dalam hidupnya, paling banyak dari artis komik jagoan lainnya di Indonesia.

Baca juga: Komikus “Gundala Putra Petir” Hasmi tutup usia
 
Pada 2003, Hasmi menjadi salah satu pendiri PT Bumilangit dengan bercita-cita untuk membangkitkan kembali industry kreatif komik Indonesia. 

Sebagai Creative Director, Hasmi meletakkan dasar-dasar pengembangan dan pembaharuan karakter-karakter yang dikelola oleh Bumilangit, termasuk Gundala.
 
Selain berkarier sebagai komikus, Hasmi sempat berkecimpung sebagai penulis skenario film juga teater dan tampil dalam beberapa judul sinetron maupun film. 

Gundala pun sebelumnya sudah muncul dalam film “Gundala” yang dirilis tahun 1981 dan di teater dalam judul “Gundala Gawat” pada tahun 2013.
 
Pada 2016, Hasmi berpulang dalam usia 69 tahun. Hidupnya telah menjadi inspirasi bagi dunia komik dan berkesenian Indonesia. 

Kini hak terbit Gundala dipegang oleh Bumilangit. Tahun ini, Screenplay Pictures dan Bumilangit Studios bersama Legacy Pictures akan menghidupkan kembali Gundala dengan aktor Abimana Aryasatya dan disutradarai juga ditulis naskahnya oleh Joko Anwar.

Baca juga: Ini Alasan Abimana Aryasatya dipilih perankan Gundala
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kalimantan Crossborder Festival 2019 tampilkan beragam tarian perbatasan

Pontianak  (ANTARA News) – Kalimantan Crossborder  Festival 2019 yang digelar 23-24 Februari 2019 di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat akan menampilkan berbagai tarian  antara lain  senam Kopi Pancong dari Komunitas Rancak Alun Rumah Melayu.

“Alhamdulillah kita dilibatkan dan bisa berpartisipasi di Kalimantan Crossborder  Festival 2019. Nanti kita sebagai instruktur Senam Kopi Pancong, dilanjutkan Senam Poco-Poco” ucap Ketua Komunitas Rancak Alun Rumah Melayu  Sri, di Pontianak, Kamis.

Kalimantan Crossborder Festival 2019 edisi Aruk itu juga akan menampilkan beragam tarian Sambas. Misalnya tarian khas Melayu Sambas hingga Dayak dan juga Tari Jepin. Untuk tarian khas Melayu Sambas yang akan disajikan di antaranya Tandak Sambas.  

Sambas juga kaya akan lagu daerah, seperti Alok Galing, Cik Cik Periuk, atau Kapal Belon yang akan juga ditampilkan.

Kalimantan Crossborder  Festival 2019 yang digelar Kementerian Pariwisata RI tersebut disebutnya akan menjadi galeri seni budaya terbaik Sambas.

Pada ajang tersebut beragam khasanah Melayu Sambas dan Dayak akan disandingkan dengan nuansa modern. Karena itu Pesta diperkirakan akan meriah dengan peran aktif dan kolaborasi bersama masyarakat perbatasan.

Sambas juga akan memajang beragam kulinernya, seperti Bubbor Paddas (bubur pedas) yang khas karena memakai daun kesum. Untuk kerajinan tangannya akan dipamerkan  di antaranya Kain Sambas (Kaing Lunggi) atau dikenal sebagai Kain Songket Sambas.

Selanjutnya di ajang tersebut telah disiapkan lokasi wisata belanja dengan gerai-gerai pameran yang menyuguhkan beragam produk lokal seperti dari ibu-ibu PKK hingga produk kerajinan Dekranasda. Termasuk gerai produk pertanian  

Bagi warga Serawak, Malaysia, menurut dia, bisa menyeberang hanya berbekal Identity Card (IC) dan bahkan  dengan `wild card Majelis Keselamatan Serawak. Bahkan bus  dari Serawak juga bisa masuk di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Sanggau, Kalbar.

Baca juga: Kemenhan gelar bakti sosial di lima desa perbatas
Baca juga: Belasan ribu umat Muslim hadiri Sambas Berzikiran

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wisata sejarah benteng Fort Willem I

Wisatawan mengunjungi Benteng Fort Willem I di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (20/2/2019). Benteng yang didirikan pada 1834 dan digunakan sebagai barak KNIL (tentara Hindia Belanda) hingga 1927 tersebut selain sebagian bangunannya saat ini digunakan sebagai Lembaga Pemasyarakatan Ambarawa, juga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah favorit wisatawan dalam maupun luar Kabupaten Semarang. ANTARA FOTO/Aji Styawan/pras.

Pameran seni rupa Hari Budiono

Sebuah karya seni instalasi terpajang pada pameran karya perupa Hari Budiono yang bertajuk “Dedemit Sawah” di Bentara Budaya, Jakarta, Rabu (20/2/2019). Pameran perupa Hari Budiono dari Solo, Jawa Tengah yang menggambarkan rasa ketakutan namun penuh humor ini akan berlangsung hingga 23 Februari 2019 dan akan berlanjut di beberapa kota di pulau Jawa dan Bali. ANTARA FOTO/Dodo Karundeng/wsj.

Kompleks Setda Banyumas diusulkan jadi cagar budaya

Pendopo Sipanji diperkirakan dibangun sekitar tahun 1706

Purwokerto (ANTARA News) – Kompleks perkantoran di lingkungan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, diusulkan sebagai benda cagar budaya, kata Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Asis Kusumandani.

“Kompleks perkantoran Setda Banyumas di Purwokerto telah diusulkan sebagai benda cagar budaya oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banyumas,” katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Rabu.

Menurut dia, beberapa bangunan di kompleks Setda Banyumas yang masih dipertahankan keasliannya, antara lain Pendopo Sipanji, pagar belakang kompleks Setda Banyumas, dan beberapa gedung perkantoran.

Berdasarkan catatan sejarah, Pendopo Sipanji diperkirakan dibangun sekitar tahun 1706 oleh Bupati Ke-7 Banyumas Tumenggung Yudanegara II setelah memindahkan pusat pemerintahan dari Kejawar ke Banyumas.

Selanjutnya pada 1937 atau semasa pemerintahan Bupati Ke-20 Banyumas, Adipati Aryo Sujiman Gandasubrata Pendapa Sipanji dipindahkan dari Banyumas ke Purwokerto.

Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, Carlan mengatakan bangunan pagar belakang Pendopo Si Panji yang masih terjaga keasliannya itu belum diketahui secara pasti kapan dibangun.

“Biasanya yang namanya pagar (pembangunannya) sesuai dengan bangunan (yang ada di dalamnya). Pendopo Sipanji dipindah dari Banyumas ke Purwokerto pada tahun 1937 dan sebelum itu sudah ada bangunan Pendopo Kadipaten Purwokerto,” jelasnya.

Ia mengemukakan jika dilihat dari sisi tahun pembangunannya maupun keunikan bangunannya, minimal sudah ada dua unsur yang memenuhi syarat benda cagar budaya.

“Usia bangunannya sudah lebih dari 50 tahun sehingga sudah memenuhi syarat benda cagar budaya,” lanjutnya.

Sementara untuk pagar depan Pendopo Sipanji, katanya bukan termasuk benda cagar budaya karena merupakan bangunan baru.

Ia mengakui Pemerintah Kabupaten Banyumas berencana merenovasi pintu gerbang pagar belakang Pendopo Sipanji demi kelancaran kendaraan yang masuk dan keluar dari kompleks perkantoran tersebut.

“Kami akan merapatkan rencana tersebut dengan melibatkan TACB serta dinas dan instansi terkait,” sebutnya.

Baca juga: Gedung Puskesmas Banyumas jadi cagar budaya
Baca juga: Yogyakarta masukkan 289 cagar budaya dalam register daerah

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ribuan warga saksikan atraksi naga berkilau di Pontianak

Pontianak  (ANTARA News) – Ribuan warga Pontianak, baik tua ataupun muda tumpah ruah menyaksikan atraksi naga berkilau atau replika naga yang dihiasi lampu warna warni pada malam puncak perayaan Cap Go Meh di Kota Pontianak.

“Belasan ekor naga berkilau kami suguhkan pada malam ini  yang setiap tahunnya selalu dinantikan masyarakat,” ujar Ketua panitia Cap Go Meh Pontianak, Tjhai Leonardi di Pontianak, Selasa Malam.

Ia menjelaskan suguhan menarik ini ditujukan untuk menghibur warga Pontianak dan para wisatawan, baik lokal, nasional dan mancanegara yang ingin menyaksikan naga berkilau.

  “Atraksi naga tersebut diselenggarakan dalam melestarikan budaya bangsa dan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar dia.

Atraksi naga bekilau memanjakan mata pengunjung seolah replika naga tersebut tampak hidup dengan warna dan bentuk yang sedemikian rupa tersebut.

Puluhan ribu warga membanjiri di sepanjang jalan Patimura sampai ke jalan Gajah Mada atau kawasan pencinaan untuk menyaksikan agenda tahunan tersebut.

“Kami sangat senang bisa menyaksikan perayaan Cap Go Meh khususnya pada pawai atraksi naga berkilau di malam hari selain naganya lebih menarik dilihat juga cuaca tidak panas untuk menyaksikannya,” jelas salah seorang pengunjung, Merry.

Dalam atraksi naga berkilau tak hanya menyaksikan tetapi juga banyak warga yang mengabadikan momen tersebut dengan berfoto dan bervideo dengan ponsel mereka.

Selain atraksi naga berkilau pengunjung juga beramai memadati lokasi gerai kuliner yang disedikan panitia penyelenggara, terlihat pengunjung berbondong bondong membeli  Dragon Snack.

Dragon Snack menjadi jenis kuliner yang populer diminati warga dengan alasan keunikan dari jajanan tersebut dan jarang ditemui di Kota Pontianak.

“Dengan digelarnya event tersebut yang tadinya saya hanya melihat sensasi memakan Dragon Snack di TV dan di media sosial, hari ini saya bisa merasakan sensasi tersebut, ujar satu di antara pembeli, Yuni.

Atraksi Naga merupakan satu di antara beberapa rangkaian kegiatan Festival Cap Go Meh Pontianak yang berlangsung sejak 14 hingga 20 Februari 2019.

Perhelatan tahunan tersebut semakin semarak dan mendapat sambutan dari masyarakat baik Kota Pontianak maupun luar kota terutama dengan adanya pekan promosi dan kuliner.

Puluhan gerai promosi yang menyajikan beragam kuliner khas Pontianak selalu padat dikunjungi masyarakat. 

Rangkaian  festival sebelumnya sudah ada  karnaval budaya dan barongsai, ritual naga buka mata, dan  atraksi naga bersinar. Setelah itu akan disusul ritual naga tutup mata dan ritual pembakaran naga.

Baca juga: 26 replika naga ikuti cap go meh di Pontianak
 Baca juga: 12 naga pontianak ritual “buka mata”

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bogor Street Festival dibuka di Bogor

Bogor  (ANTARA News) – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil membuka perayaan Bogor Street Festival (BSF), yang menghadirkan enam tokoh pemuka agama yang masing-masing mewakili agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.

“Saya sangat bahagia. Kehadiran saya di sini untuk memenuhi undangan dari Wali Kota Bogor Bima Arya untuk memberikan dukungan atas keberagaman di Indonesia,” kata Ridwan Kamil di Bogor, Selasa.

Menurut mantan Wali Kota Bandung ini, Bogor Street Festival atau Cap Go Meh  2019 merupakan cerminan keberagaman di Tanah Air dan wujud Pancasila serta mempertunjukkan kebersamaan sebagai karakter warga Jawa Barat dan Indonesia.

“Inilah Pancasila yang sebenarnya. Diperlihatkan secara inspiratif di Kota Bogor,” kata Ridwan Kamil. 

Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan acara Bogor Street Festival ini merupakan ajang pemersatu bangsa di tengah keberagaman.

Ia mengatakan puncak perayaan Bogor Street Festival atau  Cap Go Meh di Kota Bogor dikemas dalam pesta budaya. Selain itu juga acara BSF momen ajang komitmen saling menghormati dan menghargai.

“Bogor Street Festival bukan hanya peristiwa budaya, ini persembahan dari Bogor untuk Indonesia,” ucap Bima. 

Ketua Pelaksana Cap Go Meh Arifin Himawan menjelaskan, event ini merupakan penegasan atas nilai persatuan bangsa yang selalu dijaga oleh Kota Bogor.

Arifin menegaskan, Kota Bogor secara konsisten ingin memperlihatkan semangat toleransi dan pluralisme yang selalu dipelihara sebagai bagian dari masyarakat  di Indonesia.

“Ini menjadi bukti bahwa semangat pluralisme, nilai toleransi dan kekayaan budaya. Ini juga sebuah fakta betapa masyarakat kita sangat dewasa menjaga kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Baca juga: Bogor Street Festival digelar 19 Februari
Baca juga: Kemenpar target jaring 200.000 wisman Tiongkok saat Imlek

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kain jumputan khas Palembang akan pecahkan rekor Muri

Palembang  (ANTARA News) – Kain jumputan khas Kota Palembang, Sumatera Selatan yang dibuat dengan panjang 1.100 meter akan memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai kain jumputan terpanjang di dunia.

Kepala Dinas Pariwisata Palembang, Isnaini Madani di Palembang, Senin, mengatakan, Dinas Pariwisata Kota Palembang mendukung pemecahan rekor tersebut.

Kegiatan pemecahan rekor Muri dengan membentangkan kain jumputan dari Jalan Jenderal Sudirman hingga atas Jembatan Ampera itu perlu didukung karena dapat mempromosikan potensi pariwisata di Bumi Srwijaya ini, katanya.

Pemecahan rekor Muri tersebut dilakukan bersamaan dengan gerakan sosial peningkatan disiplin dan ketertiban berlalu lintas  South Sumatra Millenial Road Safety Festival pada 10 Maret 2019.

Dengan adanya pemecahan rekor Muri, kain jumputan khas Palembang dapat menarik perhatian masyarakat secara nasional maupun internasional, ujarnya.

Kunjungan wisatawan khususnya mancanegara ke kota ini dalam beberapa tahun terakhir cukup tinggi sekitar 40.000 orang/tahun.

Dengan gencarnya promosi potensi pariwisata melalui berbagai acara yang dapat menarik perhatian masyarakat secara luas, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Palembang terus meningkat sehingga dapat menambah pendapatan asli daerah dan menyumbang devisa negara, ujar Isnaini.

Sementara Ketua PHRI Sumsel Herlan Aspiudin menambahkan kegiatan yang digagas Direktorat Lalu Lintas Polda Sumsel itu merupakan kegiatan yang dapat mendukung promosi pariwisata dan menarik perhatian  kelompok milenial.

Dengan perhatian besar terhadap acara tersebut, tidak hanya pesan untuk meningkatkan kedisiplinan dan tertib berlalu lintas kelompok milenial yang bisa tersebar luas tetapi bisa mendukung bisnis sektor pariwisata yang kini dalam kondisi lesu akibat dampak tingginya tarif tiket pesawat sejak dua bulan terakhir, kata Herlan.

Baca juga: Kain jumputan Palembang dipamerkan di “Indonesian Fashion Week”
Baca juga: Kain tenun jadi seragam ASN

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemendikbud ingin anugerah seni bangkitkan dimensi spiritual kultural

Setiap bangsa jelas memerlukan cerita agar menjadi sebuah bangsa yang kokoh dan berkarakter.

Jakarta (ANTARA News) – Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Hilmar Farid menyebutkan anugerah seni Basoeki Abdullah ketiga yang mengambil tema Re-Mitologisasi  ditujukan untuk membangkitkan kembali dimensi spiritual kultural di tengah dunia yang semakin modern ini.

Dalam konferensi pers yang digelar di FX Senayan, Jakarta,Senin, Hilmar mengatakan hal ini juga menjadi napak tilas pelukis Basoeki Abdullah yang memang kerap mengangkat tema-tema mitologi dalam karyanya.

“Tema ini tepat waktu di zaman revolusi industri 4.0 menyambut masyarakat 5.0, karena untuk membangun dimensi yang sifatnya spiritual, sebuah naratif sangat penting,” kata Hilmar.

Hilmar menyebut, setiap bangsa jelas memerlukan cerita agar menjadi sebuah bangsa yang kokoh dan berkarakter.

Cerita ini juga digunakan untuk mengikat bangsa yang di dalamnya hidup beragam anak bangsa dengan berbagai bahasa daerah dan etnisitas.

“Dan kontribusi kesenian dalam mengankat narasi ini sangat luar biasa. Seringkali yang ditampilkan untuk menguatkan adalah mitologi,” ucap dia.

Hilmar lantas mengutip pernyataan sosilog Jerman Max Webber yang menyebut ketika dunia modern berkembang, ikatan manusia dengan macam-macam narasi yang sifatnya mitologis ini cenderung merendah. 

Dia tak menampik kalau untuk perkembangan tertentu masyarakat yang semakin rasional tentu menjadi fenomena yang baik, namun justru kering ketika nilai spiritual dan kultural itu hilang sama sekali.

“Kalau kemudian dilihat di zaman modern, segi spiritual ini yang lemah. Peran agama sangat merosot, nilai tradisi juga sama. Orang jadi sangat rasional, masyarakat kering, maju tapi kehilangan dimensi yang sangat penting yang punya narasi cerita sama,” ucap dia.

Hilmar pun menghubungkan penguatan kembali nilai mitologis ini dengan peran pelukis Basoeki Abdullah yang dia sebut sangat romantis ketika mengguratkan kuasnya di kanvas dan melukis karya-karya yang bersumber dari mitos bangsa.

“Belia melukis sangat mempesona dan kena dalam membangun narasi tentang bangsa. Untuk apa jadi sebegitu maju kalau dimensi spiritual kultural hilang? Jadi melihat segi spiritual, mitologis yang mengikat kebersamaan kita, dan sekarang menjadi sangat penting,” ucap dia.

Dia pun berharap lewat kegiatan ini bisa mengajak para perupa berusia 17 sampai 30 tahun untuk merespons situasi ini.

“Karena mereka yang disebut millenial dan bisa merespons dengan cara pandang yang berbeda. Banyak dimensi lain yang selama ini enggak tergarap dan diharapkan mereka berkontribusi pada menyongsong revolusi 4.0 yang lebih bermakna,” ucap dia.

Baca juga: Anugerah Seni Basoeki Abdullah angkat tema Re-mitologisasi

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

28.000 jenang gratis demi 274 Tahun Solo

289 Views

(Antara)-Ribuan Warga Kota Solo dan wisatawan berbagai kota memadati plasa sriwedari dalam jenang sala 2019. mereka bebas memilih tujuh belas jenis jenang dalam 28 ribu takir untuk dimakan tanpa dipungut biaya.

Pentas teater Ratu Peri dan Sang Keledai

Dua orang pemain teater dari grup Teater IKJ melakonkan adegan Ratu Peri dan sang Keledai dalam teater komedi berjudul “A Midsummer Night’s Dream”, naskah karya William Shakespeare yang disutradarai oleh Bedjo Soelaktono dan Hestu Wreda di Graha Bhakti Budaya, TIM, Minggu (17/2/2019) malam. Pementasan ini diselenggarakan oleh Prodi Seni Teater Fakultas Seni Pertunjukan IKJ dan Indonesia Teater Foundation. ANTARA FOTO/Dodo Karundeng/aww.

Opera kolosal kisah berdirinya kota Solo

Penari tampil dalam pertunjukan opera kolosal “Boyong Kedhaton, Sala Gumregah” di Balai kota Solo, Jawa Tengah, Minggu (17/2/2019) malam. Pertunjukan opera yang menceritakan sejarah berdirinya Kota Solo tersebut melibatkan 250 seniman tari untuk memperingati Hari Jadi ke-274 Kota Solo. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/aww.