Menyambangi Penjara S-21, melongok tengara masa kelam Kamboja

Phnom Penh (ANTARA News) – Syahdan pada 17 April 1975 pasukan tentara Khmer Merah, sebuah sayap angkatan bersenjata Partai Komunis Kamboja, berhasil memasuki ibu kota Phnom Penh untuk pertama kalinya.

Kedatangan mereka disambut penuh suka cita oleh warga ibu kota, yang kala itu sudah jengah dengan pemerintahan Republik Khmer di bawah kekuasaan Presiden Lon Nol, yang juga terbentuk lewat sebuah aksi kudeta militer terhadap Raja Norodom Sihanouk lima tahun sebelumnya.

Tak dinyana, suasana Phnom Penh yang meriah dalam penyambutan pasukan Khmer Merah akan berubah dalam sekejap menjadi penguasaan bertangan besi yang bakal membawa Kamboja memasuki salah satu eposide terkelam dalam sejarah mereka.

Catatan pendek bagaimana rakyat Phnom Penh menyambut kedatangan pasukan tentara Khmer Merah bisa anda temukan di Gedung B dari komplek Museum Pemunahan Tuol Sleng.

Museum tersebut merupakan bekas gedung kampus Sekolah Menengah Atas Tuol Svay Pray yang kemudian dialihfungsikan menjadi pusat interogasi, penyiksaan dan eksekusi oleh rezim Khmer Merah.

Diperkirakan ada 17.000 orang yang pernah dibawa masuk ke tempat yang juga dikenal sebagai Penjara S-21 itu, namun hanya tujuh tahanan yang tercatat selamat meninggalkan tempat itu hidup-hidup di pengujung kekuasaan Khmer Merah.
  Seorang wisatawan mengamati tiang penyiksaan yang bersinggungan dengan pemakaman tanpa nama di dalam komplek Museum Pemunahan Tuol Sleng yang merupakan bekas komplek Penjara S-21 di masa pemerintahan Khmer Merah. (ANTARA/Gilang Galiartha)

Berlokasi di Jalan Nomor 113, Boeung Keng Kang II, Distrik Chamkarmorn, tak sulit untuk mencapai Museum Pemunahan Tuol Sleng, yang hanya memakan waktu kurang dari 20 menit dari Stadion Nasional Phnom Penh.

Anda dikenai tiket masuk senilai 5 dolar AS (sekira Rp70 ribu) untuk orang dewasa dan 3 dolar AS (sekira Rp42 ribu) di loket yang terdapat di gerbang museum. Jika anda tertarik untuk mendapatkan penjelasan dalam 11 pilihan bahasa, termasuk Bahasa Inggris, anda bisa menambahkan 3 dolar AS per unit alat bantu audio yang disediakan. Papan yang memperlihatkan 10 peraturan bagi para tahanan Penjara S-21 di masa pemerintahan Khmer Merah yang kini bisa dikunjungi sebagai Museum Pemunahan Tuol Sleng. (ANTARA/Gilang Galiartha) (ANTARA/Gilang Galiartha)

Kehadiran alat bantu audio tersebut membuat Anda akan menemui banyak pengunjung yang duduk bersantai di bangku-bangku yang tersedia, di lapangan tengah komplek, mendengarkan dengan saksama 32 buah penjelasan yang disampaikan.

Di dalam komplek juga terdapat beberapa pemandu yang bisa menjelaskan kronik Penjara S-21 dalam bahasa Inggris maupun bahasa Khmer. Anda bisa mencuri dengar pejelasan mereka jika tak ingin membayar lebih untuk perangkat audio yang disediakan.

Tak ada senyum, hanya nanar

Begitu membayar tiket masuk dan meletakkanya di alat pemindai, sebuah papan informasi besar akan menyambut Anda dengan berbagai penjelasan singkat mengenai denah Museum Pemunahan Tuol Sleng.

Tepat di belakang papan informasi terdapat 14 kuburan tanpa nama yang menjadi penilasan jenazah korban kekejaman Penjara S-21 yang ditemukan ketika operasi pembebasan Kamboja dari rezim Khmer Merah berlangsung pada 7 Januari 1979.

Bersinggungan dengan pemakaman tanpa nama, terdapat sebuah tiang gantungan tempat para tentara Khmer Merah melakukan penyiksaan ketika menginterogasi tahanan.

Ada tiga kait yang di bawahnya terdapat gentong yang biasanya diisi air dan tahanan digantung dalam keadaan terbalik ketika diinterogasi.

Kepala mereka akan dibenamkan ke dalam air jika kondisi badan tahanan menyerah sehingga mereka kembali sadar dan kembali diinterogasi.

Di samping pemakaman, terdapat papan yang berisikan 10 aturan Penjara S-21 yang mengharuskan para tahanan untuk menjawab setiap pertanyaan penyidik Khmer Merah disertai berbagai siksaan yang dijanjikan jika jawaban tak sesuai dengan keinginan mereka.

Bahkan salah satu poin tertulis bahwa tahanan tidak boleh menyebutkan mengenai Kampuchea Krom, sebuah wilayah di delta Sungai Mekong di bagian selatan Vietnam yang sebelumnya merupakan wilayah kekuasaan Kamboja, untuk menyembunyikan jawaban mereka.
  Kondisi salah satu ruangan di Gedung A Museum Pemunahan Tuol Sleng yang semasa rezim Khmer Merah dipakai sebagai ruang interogasi Penjara S-21. (ANTARA/Gilang Galiartha)

Terdapat empat gedung dengan tiga lantai di dalam komplek Penjara S-21. Gedung A merupakan ruangan-ruangan interogasi yang didalamnya terdapat ranjang besi dengan pasung agar tahanan tak melarikan diri selama pemeriksaan.

Ironisnya dari banyaknya ranjang yang ada, hanya satu bantal usang tersisa. Satu-satunya hal lunak di antara kekejaman yang dihadirkan dalam saksi kekejaman Khmer Merah.

Sementara foto-foto hitam putih terpampang di tiap-tiap ruangan di Gedung A, yang memperlihatkan kondisi korban-korban tanpa nama yang kini dikuburkan di dalam kompleks museum.

Di Gedung A terdapat dua ruangan di lantai tiga dan satu, sedangkan ruangan di lantai dua kondisinya terkunci sehingga tidak diperkenankan untuk dikunjungi oleh pengunjung museum.

Memasuki Gedung B terdapat papan-papan informasi berisikan cerita mengenai betapa suka citanya rakyat Phnom Penh menyambut kedatangan pasukan Khmer Merah sebelum kemudian kehidupan mereka berubah 180 derajat di bawah pemerintahan rezim tersebut yang diwarnai banyaknya kerja-kerja paksa serta penghapusan kepemilikan pribadi. Pengunjung Museum Pemunahan Tuol Sleng di Phnom Penh, Kamboja, pada Sabtu (23/2/2019), menoleh ke Gedung C bekas Penjara S-21 rezim Khmer Merah yang dipagari kawat berduri untuk mencegah tahanan bunuh diri. (ANTARA/Gilang Galiartha)

Berbagai alat-alat penyiksaan yang dipakai oleh para petugas Penjara S-21 juga masih tersimpan di salah satu ruangan Gedung B, yang di bagian ujungnya berada empat patung kepala Pol Pot sang Sekretaris Jenderal Partai Komunis Kamboja.

Foto-foto para pemimpin Partai Komunis Kamboja yang menjadi dalang kekejaman rezim juga berada di Gedung B, termasuk salah satunya Kang Keck Iev yang merupakan Kepala Penjara S-21.

Di papan-papan lain yang lebih banyak terpampang para tahanan yang pernah masuk ke Penjara S-21. Tak jarang anda akan menemukan perempuan yang masih membawa anaknya yang masih balita bahkan menggendong bayinya ketika difoto masuk ke dalam Penjara S-21.

Kecuali di wajah para pemimpin Khmer Merah, tak ada senyum di antara foto-foto para tahanan. Yang tergambar hanyalah nanar yang mewakili betapa nahasnya nasib yang menghampiri hidup mereka.

Kawat-kawat berduri terlihat membungkus bagian balkon Gedung C, yang dipasang demi mencegah para tahanan untuk melakukan bunuh diri setelah mereka tak lagi sanggup menerima siksaan yang diberikan oleh para petugas penjara.

Gedung C, sebagaimana gedung-gedung lainnya yang merupakan bekas kelas SMA Svay Pray, dijadikan sel tahanan yang dibuat dengan sekat bata-bata menjadi ruang sempit berukuran tak lebih dari 1×2 meter.

Di antara sel-sel tahanan yang bisa dikunjungi, terdapat sel bekas salah seorang penyintas, Chum Mey, mendekam selama ia berada di Penjara S-21. Foto seorang wanita bersama bayinya saat menjadi tahanan Penjara S-21 rezim Khmer Merah terpampang di salah satu ruangan Gedung C Museum Pemunahan Tuol Sleng di Phnom Penh, Kamboja. (ANTARA/Gilang Galiartha)

Memasuki Gedung D, foto-foto nanar para korban Penjara S-21 kembali terpampang di papan-papan yang ada, disertai alat-alat yang digunakan petugas untuk mengidentifikasi tahanan seperti kursi tempat foto dan alat pengukur tinggi badan.

Sebagian besar tahanan Penjara S-21 adalah agen-agen CIA dan/atau KGB maupun mereka yang dicurigasi sebagai agen CIA ataupun KGB. Yang terbanyak tentu saja petugas-petugas ataupun tentara masa pemerintahan Lon Nol, yang ditangkap dan disiksa dengan tuduhan kontrarevolusioner.

Penjara S-21 menjadi saksi bisu dari kekejaman Republik Demokratik Kamboja, negara yang dibentuk oleh Khmer Merah setelah mereka naik berkuasa.

Buah tangan penyintas

Di hadapan Gedung C dan D terdapat sebuah monumen yang dibangun sebagai tengara pengingat tindakan keji rezim Khmer Merah.

“Kami tidak akan pernah melupakan tindakan kriminal yang dilakukan selama Rezim Republik Demokratik Kamboja,” demikian pernyataan yang tertulis dalam empat bahasa di tiap sisi tugu tersebut.

Sebagaimana museum-museum lainnya, terdapat tenda-tenda yang menjajakan berbagai pernak pernik kronik masa kekejaman Khmer Merah.

Di salah satu sudutnya, setiap hari duduk Bou Meng, seorang renta yang merupakan penyintas dari kekejaman Penjara S-21.
  Salah seorang penyintas Penjara S-21 rezim Khmer Merah, Bou Meng (kanan), duduk berjaga di lapak yang menyediakan buku-buku, cakram padat maupun foto kisah hidupnya di salah satu sudut Museum Pemuhanan Tuol Sleng, Phnom Penh, Kamboja, Sabtu (23/2/2019). (ANTARA/Gilang Galiartha)

Pria kelahiran 4 April 1941 itu sempat menjadi pegawai di masa-masa awal pemerintahan Khmer Merah berkat keahlian seninya, hal yang suatu saat nanti bakal menyelamatkan Bou Meng dari daftar tunggu eksekusi.

Pada 1977 dua orang agen pemerintah Khmer Merah mendatangi rumah Bou Meng dan mengatakan ia diminta untuk menjadi tenaga pengajar di Sekolah Seni pemerintah. Alih-alih menjadi guru, Bou Meng dan istrinya justru diboyong ke Penjara S-21, pada 21 Mei 1977.

Setelah beberapa hari ditahan tanpa perlakuan, Bou Meng mendapat gilian diinterogasi dengan pertanyaan paling standar yakni, “Kapan kamu bergabung dengan CIA-KGB? Siapa bosmu?”. Pertanyaan hanya bisa dijawab Bou Meng dengan jawaban yang tentunya menimbulkan kemarahan penyidik Penjara S-21.

Suatu hari, salah seorang petugas Penjara S-21 menanyakan siapa yang bisa menggambar di antara para tahanan. Tanpa ragu Bou Meng mengacungkan tangannya.

Tak dinyana ia disuruh melukis Kakak Pertama Pol Pot, sang pemimpin besar Khmer Merah. Beruntung berkat kelihaiannya melukis Duch sang kepala Penjara S-21 puas dengan hasil kerjanya, sesuatu yang menyelamatkan nyawanya. Sebab sebelum Bou Meng ada banyak tahanan yang sudah diminta melukis Pol Pot, dan nasibnya tak seberuntung Bou Meng.

Kini, Bou Meng duduk setia di kursi yang tersedia di lorong antara Gedung D dan Gedung A. Menghadapi meja yang berisikan buku-buku dan cakram padat berisikan pengalaman hidupnya yang bisa anda dapatkan setiap buahnya dengan harga 10 dolar AS (sekira Rp140 ribu).

Bahwa penyesalan Bou Meng akibat ketidakmampuannya menyelamatkan nyawa istrinya yang habis di tangan rezim Khmer Merah tentu tidak akan berakhir, namun kekejaman yang terjadi adalah pelajaran berharga tidak bisa dipungkiri.

Di setiap sudut belahan dunia, manusia dan kekejaman seolah mengancam untuk menunggu giliran mendapatkan panggung untuk unjuk kuasa. Namun Bou Meng setia melewatkan hari-hari tuanya sebagai manusia bebas. Tugu yang berada di dalam Museum Pemunahan Tuol Sleng bekas Penjara S-21 rezim Khmer Merah yang didirikan untuk memperingati kekejaman rezim yang sempat berkuasa di Kamboja pada 1975-1979 itu. (ANTARA/Gilang Galiartha)

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019