Meniti sepi di Museum Seni Rupa dan Keramik

Jakarta (ANTARA) – Suasana hening Museum Seni Rupa dan Keramik sangat terasa di antara riuhnya masyarakat yang sedang berlibur di kompleks Kota Tua, Jakarta Barat.

Di antara besarnya bangunan yang berdiri gagah tersebut hanya segelintir orang yang terlihat sedang mengantre untuk melihat setiap sudut museum.

“Sekarang sudah jarang masyarakat yang ‘iseng’ datang ke sini,” kata Eki (35) selaku pengelola museum.

Menurut Eki, kategori pengunjung di Museum Seni Rupa dan Keramik sudah bergeser.

“Sekarang kalangannya lebih spesialis, orang yang benar-benar tahu dan ingin belajar seni original saja yang datang. Ada sih yang iseng datang buat lihat-lihat, tapi sedikit,” tambahnya.

Seperti Jumat (1/3) siang, beberapa suara kaki yang sedang menapak di lantai kayu tua museum dan seketika memecah keheningan di sebuah ruangan yang menyimpan puluhan patung peninggalan kerajaan Majapahit.

Belasan anak muda berdatangan dengan raut wajah yang ceria dan semangat ketika mereka membaca satu per satu tulisan di salah satu kotak yang menyimpan keramik tua. Mereka adalah rombongan mahasiswa dari Podomoro University, Jakarta.

“Saya mengajak mahasiswa prodi desain produk kami untuk membuka wawasan dan wacana mereka tentang sejarah dan filosofi sebelum mereka mendesain sesuatu,” kata dosen desain produk Podomoro University, Nurul Primayanti (50).

Baca juga: Bus tingkat tujuan Kota Tua jadi alternatif wisata Tahun Baru

Wanita berambut panjang pirang tersebut berpendapat bahwa berkunjung ke museum yang memiliki koleksi seni asli akan semakin membantu mahasiswanya untuk memahami karya yang akan mereka garap.

“Museum seperti ini akan sangat membantu mereka dalam menghadirkan sebuah konsep serta menghadirkan desain atau karya orisinal dan kuat,” katanya.

Menurutnya, mempelajari sebuah seni dari karya yang orisinal seperti yang ada di museum ini juga dianggap sebagai bagian dari proses pembentukan pribadi yang profesional.

“Selain itu mengajak mereka ke sini agar mereka menghindari plagiarisme dan supaya nantinya tidak terjerembab menjadi desainer plagiat,” jelasnya.

Ia menabahkan, karya orisinal yang dimiliki oleh museum tersebut menjadi senjata utama untuk dapat menciptakan suara-suara baru dari pengunjung.

“Kalau museum yang pada baru berdiri kebanyakan karya mereka sudah dicampur dengan unsur moderenisasi ya, saya sih sebagai lecturer pasti memilih seni yang orisinal,” kata wanita paruh baya tersebut.

Baca juga: Kota Tua buka hingga dini hari pada malam tahun baru

Di sudut lain Museum Seni Rupa dan Keramik, tepatnya di ruangan yang menyimpan berbagai lukisan karya pelukis legendaris Indonesia, juga tampak sepi, hanya suara angin kecil berhembus menembus lubang-lubang tempat lukisan diletakkan.

Tak lama, teriakan dari beberapa anak kecil seketika membuat seisi ruangan menjadi bergema penuh dengan riangan mereka bersama gurunya.

Terlihat puluhan anak kecil berseragam oranye sedang berbaris rapi dengan sangat antusias untuk tidak sabar melihat keunikan benda-benda di ruangan tersebut.

“Lagi pada belajar tentang kesenian kayak keramik dan lukisan,” kata seorang wanita yang berprofesi sebagai guru di Paud Melati 102 Tanah Abang, Mutia (36).

Pemilihan museum tua ini sebagai media belajar para siswa, lanjut Mutia, menjadikan museum ini memiliki nilai fungsi edukasi yang dominan.

“Mungkin gurunya punya pertimbangan khusus kali ya kenapa pilih sini, tapi menurut saya kalau mau lihat atau belajar karya seni ya harus ke yang sudah jelas seperti ini,” kata Dewi (32), seorang ibu yang sedang mengantar anaknya berwisata.

Perasaan senang mempelajari bentuk karya seni pun sudah bisa dirasakan oleh Akira (5), seorang bocah kecil berambut kepang dua dengan pita biru di kepalanya.

“Senang sekali. Serem tapi lucu bentuknya,” katanya.

Lain halnya dengan David dan Fina, sepasang sejoli yang serempak memakai pakaian warna senada ini memiliki alasan tersendiri dalam memilih museum ini sebagai destinasi wisata.

“Murah sih daripada yang baru, lagian lebih art yang ini lah ya. Kalau difoto soul-nya lebih dapat, klasik banget,” kata Fina (24) dengan sangat antusias.

Alih-alih untuk sekadar berlibur, para pengunjung museum legendaris ini memilih untuk belajar sebagai tujuan utama mereka untuk datang ke sini.

Sudut-sudut museum yang berbau lawas dan tidak jarang terdapat beberapa sarang laba-laba yang sedang bergantung justru membuat daya tarik tersendiri bagi sebagian orang yang hobi mencari hawa klasik.

“Jelas bangunannya, kalau benda yang dipajang jelas lah ya yang mengerti art pasti bilang museum ini nomer satu,” kata Shakira (22), wanita berkacamata dengan rambut digerai yang hobi fotografi ini.

Nilai yang berbeda

Menurutnya berbagai sudut tua di Museum Seni Rupa dan Keramik ini menjadi nilai yang eksklusif.

“Dia punya sesuatu yang enggak dipunya sama museum modern. Sama-sama punya pintu, tapi kalau yang tahu pasti mengerti lah kalau makna pintu di sini beda,” tambahnya.

Dosen Universitas Podomoro, Nurul, juga menambahkan adanya peran penting masyarakat sebagai kunci utama dalam membawa suara-suara keramaian dalam ke tempat wisata bersejarah seperti ini.

“Justru kita harus support museum seni rupa yang legal dari pemerintah. Hanya harus lebih ditingkatkan juga fasilitas dan interiornya agar dapat berkompetisi dengan muse commercial swasta,” katanya.

Menurutnya, museum legendaris seperti Museum Seni Rupa dan Keramik ini harus memiliki cara pendekatan yang lebih baik.

“Harus bisa berkomunikasi dengan para milenial agar mereka merasa hommy di museum seperti ini, sehingga mereka akan lebih banyak belajar,” tutupnya.

(Penulis: Peserta Susdape XIX/Astrid Faidlatul Habibah)

Baca juga: Revitalisasi Kota Tua Ampenan dan potensi wisata sejarah

Baca juga: Kelenteng Kota Tua Ampenan rayakan Imlek secara sederhana

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019