Memaknai perjalanan batin dalam “The Monster: Chapter II Momentum”

Jakarta (ANTARA) – Seniman visual Julius Ariadhitya Pramuhendra mengajak pengunjung meniti dan menangkap makna perjalanan batin dan mengintrospeksi diri pada pameran “The Monster: Chapter II Momentum”.

Pada pameran yang digelar hingga 7 April 2019 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, ia menampilkan instalasi seni yang disebut pameran trilogi “seri monster”. Monster itu bukan dalam artian sebenarnya, melainkan pengunjung sendiri yang akan menemukannya dalam pameran itu.

Pengunjung yang memasuki lokasi utama instalasi seni akan disambut tembok hitam menjulang tinggi yang dinamakan “confenssion walls” atau tembok pengakuan.

Kemudian, pemandu berbaju karmel akan memberikan lilin kepada masing-masing pengunjung untuk dibawa masuk ke ruang pameran. Pemberian lilin tersebut bukan tanpa alasan, melainkan untuk menikmati karya-karya di dalam area utama.

Dalam sebuah instalasi seni visual, biasanya karya-karya yang dipamerkan tentu memiliki pencahayaan yang cukup. Namun tidak demikian dalam karya seniman yang akrab disapa Hendra itu.

Hendra menekankan emosi dan pengalaman pengunjung yang menyambangi karyanya dengan ruang gelap dan terang. Di ruang gelap, indera penglihatan berusaha menangkap pesan-pesan dalam suasana tentram dan syahdu dengan temaram cahaya lilin.

Terdapat lukisan yang menampilkan simbol-simbol gereja dalam instalasi “Let There be Light, Angles.” Gaya lukisannya terinsipirasi Carravagio dan Michael Angelo, serta perjalanan spiritual Hendra, sehingga ia dapat menyuguhkan lukisan bermedium arang hitam putih

fotorealis di atas kanvas.
  Salah satu instalasi pada pameran tunggal “The Monster: Chapter II Momentum” karya J. Ariadhitya Pramuhendra di Galeri Nasional Indonesia, Selasa (2/4/2019). (ANTARA News/Devi Nindy)

Uniknya, lukisan bermedium arang mesti dinikmati dengan cahaya minim melalui pendar cahaya lilin. Selain itu, sentuhan emas yang menempa lukisan itu membuat lukisan hitam putih yang dipajang seakan-akan tampak nyata, bagai timbul dalam media dua dimensi.

Arang merupakan media seni sederhana, seringkali dianggap remeh karena murah meriah, namun bisa disulap menjadi karya seni bernilai tinggi dan elegan.

Tiap berganti perjalanan, pemandu akan menyalakan bel untuk memanggil rombongan pengunjung menuju ruangan instalasi seni lainnya. Di ruang berikutnya, nyala lilin tak dipergunakan lagi.

Di ruang gelap berikutnya, pengunjung diajak merefleksikan diri sendiri pada instalasi “Dark Water Spell,” semacam danau kecil untuk perenungan dengan perwujudan burung putih dan lukisan arang kecil yang dinikmati dari jarak jauh.

Pemandu mengizinkan pengunjung satu per satu menikmati menikmati ruangan sunyi berair dengan sinaran cahaya. Pengunjung juga diizinkan melemparkan koin-koin ke dalam danau, dengan harapan doa-doa dapat terkabulkan dengan melakukan hal itu.

Selain sejumlah instalasi lukisan arang yang dipamerkan baik di ruangan gelap maupun terang, Hendra juga menyajikan karya tiga dimensi seperti terwujud sosok patung dari tanah liat yang dinamakan “A stone, Blood and Forgotten Place”. Ada juga visual abstrak dari hasil pengaratan plat besi, mahkota duri dan paku-paku yang mengingatkan pada simbol-simbol penyaliban kristiani.
  Julius Ariadhitya Pramuhendra (ANTARA News/Devi Nindy)

Perjalanan batin

Kepiawaian seniman lulusan Institut Teknologi Bandung itu dalam menyajikan seni visualnya tidak hanya sampai pengunjung selesai menikmati pameran.

Dia kembali mengusik rasa ingin tahu pengunjung yang telah berada di titik awal pameran, untuk menilik kembali instalasi ruang sempit, yang kebanyakan terlewatkan pengunjung.

Instalasi tersebut tampak seperti ruang sempit. Namun yang mengejutkan, tampak ada sosok manusia yang terbaring dan tertutup kain merah. Hendra seakan mengingatkan pengunjung dengan pesan perjalanan batin akan berakhir pada kematian.

Disadari atau tidak, keseluruhan instalasi seni Hendra tidak terdapat satupun tulisan yang menerangkann karya-karya yang dibuatnya.

Hendra sengaja membiarkan pengunjung menginterpretasikan sendiri karyanya dan meniti perjalan batin untuk bertemu “monster,” yang dia anggap sebagai kenangan masa lalu yang terus menghantui.

“Saya ingin mengajak semuanya merasakan pengalaman-pengalaman batinnya sendiri apapun itu. Kita tidak membicarakan agama, hanya ingin semuanya lebih terbuka lebih luas, karena yang saya sampaikan ini karya seni. Ada efek apa, ada tumbukan apa yang dirasakan disini,” ujar Hendra.

Baca juga: Menerjemahkan kenusantaraan, dari ngaben hingga Situ Bagendit

Baca juga: Malioboro tetap terbuka sebagai ruang seni instalasi
 

Pewarta: Peserta Susdape XIX/Devi Nindy
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019