Disbud Denpasar tetapkan 32 nominasi “Ogoh-ogoh” jelang Nyepi

Denpasar, (ANTARA) – Tim penilai Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Bali mengumumkan total 32 nominasi dari 163  Ogoh-Ogoh (boneka raksasa) yang dilombakan, setelah menuntaskan penilaian di empat kecamatan setempat, jelang Nyepi.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Dewa Gde Juli Artabrata, didampingi Kabid Kebudayaan sekaligus Ketua Panitia Lomba  Ogoh-Ogoh  Made Wedana di Denpasar, Jumat, menjelaskan bahwa seluruh tahapan mulai dari pendaftaran, penilaian hingga pengumuman hasil penilaian telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan.

“Disbud Kota Denpasar mengumumkan delapan nominasi di masing-masing kecamatan yang keseluruhannya berjumlah 32 `Ogoh-Ogoh”,” katanya.

Ia mengatakan, hasil penilaian dewan juri bersifat transparan serta tidak dapat diganggu-gugat. Boneka raksasa pemenang tersebut berhak atas uang pembinaan sebesar Rp10 juta.

Dewa Juli menjelaskan, dari sebanyak 163 “Ogoh-Ogoh” yang mengikuti seleksi, Banjar Dukuh Mertajati, Kelurahan Sidakarya dan Banjar Mertha Rauh Kaja Desa Dangin Puri Kaja mendapat nilai tertinggi.

Ia mengatakan “Ogoh-Ogoh” yang berbahan dasar ramah lingkungan ini nantinya akan diserahkan kembali ke desa pakraman masing-masing untuk mengatur jalannya perayaan malam  pangerupukan  atau sehari sebelum Nyepi.

“Dinas Kebudayaan Kota Denpasar hanya melakukan penilaian, selanjutnya nantinya setelah itu seluruh ogoh-ogoh akan dikembalikan ke desa pakraman setempat serangkaian malam `pengerupukan,” ujarnya.

Ia menyampaikan selamat kepada 32 nominasi ogoh-ogoh yang beruntung, sedangkan sisanya yang belum beruntung harus berbesar hati dan terus berusaha di tahun depan dengan karya-karya kreatif sebagai bentuk pelestarian seni dan budaya Bali.

Dalam kesempatan tersebut Dewa Juli turut mengimbau kepada peserta pawai “Ogoh-Ogoh” untuk tidak mengkonsumsi minuman keras sebelum atau saat mengarak boneka raksasa menyeramkan itu.

“Mari bersama-sama kita menghormati serangkaian pelaksanaan Hari Suci Nyepi dengan bersama-sama menjaga ketertiban serta tidak menggunakan pengeras suara agar terhindar dari permasalahan yang riskan terjadi pada saat pawai “Ogoh-Ogoh” saat malam `pengerupukan`,” katanya.

Baca juga: Festival ogoh-ogoh dikerubuti ribuan orang
Baca juga: Lomba “ogoh-ogoh” mengisi hari suci Nyepi

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019