Ayu Utami: “Anatomi Rasa” dan usaha memelihara Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Penulis Ayu Utami akan menerbitkan buku terbarunya “Anatomi Rasa” pada akhir bulan ini, bercerita tentang semangatnya untuk mempersatukan dan memelihara Bangsa Indonesia.

“Latar belakangnya panjang. Spiritulitas kebatinan Jawa punya konsep sangat kuat yaitu ‘rasa’. Kesadaran ini yang membuat bangsa Indonesia bisa mengolah perbedaan,” jelas Ayu Utami ketika ditemui Antara, Rabu (13/3) di Salihara, Jakarta.

Ayu mengatakan, berencana menuliskan konsep “Anatomi Rasa” sejak lama, namun pengerjaannya ditulis satu tahun lalu dengan melakukan beberapa penelusuran mengenai konsep rasa dan asal-usulnya.
Penelusuran yang dilakukan melalui pembacaan teks yang ditulis oleh penulis dan para pujangga atau spiritual Jawa.

“Saya melakukan beberapa penelusuran mengenai konsep rasa dan asal-usulnya sampai saya yakin inilah konsep atau struktur rasa yang selama ini membimbing bangsa ini,” katanya.

Ia menimpali, “dan kesadaran itu kalau enggak diingatkan atau dibahasakan ulang bisa terkikis dan kalau enggak terkikis, kita mungkin bisa menjadi bangsa yang dogmatis.”

“Anatomi Rasa” menurutnya adalah buku yang diceritakan oleh Parang Jati, tokoh dari novel Ayu “Bilangan Fu”. Dia menjelaskan buku baru itu menawarkan spiritualisme kritis yang sebelumnya sudah dikenalkan oleh Parang Jati.

“Waktu di ‘Bilangan Fu’ si tokoh menawarkan spiritualisme kritis dan itu satu cara yang dibutuhkan zaman ini. Waktu di ‘Bilangan Fu’ belum jelas betul konsepnya bagaimana. Setelah ‘Bilangan Fu’ saya melakukan riset bagaimana merepresentasikan spiritualisme yang lebih praktis dan gampang,” terangnya.


Modern dan Rasional

Seperti judulnya, “Anatomi Rasa” akan menawarkan bagian struktur rasa atau kesadaran yang diambil dari Nusantara tanpa mengaplikasikan teori kesadaran dari Barat.

“Anatomi Rasa menawarkan bagian struktur kesadaran yang diambil dari Bumi Nusantara sendiri, jadi enggak pakai teori barat sama sekali. Tapi isinya modern dan rasional,” katanya.

Menurut Ayu, buku itu bisa ditawakan sebagai salah satu alternatif teori psikologi pribumi yang menjelaskan struktur rasa yang ada.

Lebih lanjut, Ayu tidak setuju dengan paradigma tentang Jawa yang hanya dilihat sebagai mistik, klenik dan tidak rasional. Melalui bukunya, dia ingin membuktikan bahwa di balik sifat itu ada struktur yang rasional.

“Anatomi Rasa” tidak bisa dilepaskan dengan novel Ayu sebelumnya yakni “Bilangan Fu” yang lahir dengan membawa konsep yang sama yaitu memperkenalkan pemikiran modern dan rasional.

Menurut dia, saat ini di Indonesia banyak terjadi kekerasan berdasarkan agama, dan hal itu tidak bisa berdiri sendiri dengan hanya melihat dari sisi agama. Menurut dia, agama berbarengan dengan rasionalitas.

“Agama dan rasional itu sama. Dia mengategorikan dunia salah-benar, halal-haram, kita-mereka. Rasa itu bekerjanya enggak kaya gitu. Alih-alih mengategorikan seseuatu, rasa itu menyatukan, mencampurkan dan mencari bentuk kesatuan,” tuturnya.

Dengan ditulisnya “Anatomi Rasa”, Ayu menginginkan bangsa ini memelihara ruh Indonesia yang sudah ada sejak dulu, yakni satu persatuan di dalam perbedaan.

“Saya percaya betul bahwa ruh itu ada. Ruh itu kayak gimana? Ruh itu kayak DNA yaitu seperti sesuatu kode yang tersalin. Nah itu yg harus kita pelihara. Kalau enggak ya terus kita mau jadi apa? Jadi Jepang enggak bisa, China enggak bisa, India enggak bisa. Jadi Arab enggak bisa. Kita harus punya karakter kita sendiri,” ucapnya.

Dalam buku ini Ayu menawarkan struktur rasa yang melihat bahwa manusia mempunyai empat dorongan dasar atau napas. Dorongan dasar itu bisa saling menyeimbangkan dan menyelaraskan sehingga manusia bisa hidup damai dan bersatu dalam perbedaan.

Sebelumnya Ayu sudah menerbitkan beberapa buku fiksi dan nonfiksi. Di antaranya Saman (1998), Larung (2001), Si Parasit Lajang (2003), Bilangan Fu (2008), Pengakuan Eks Parasit Lajang (2013), dan Simple Miracles (2014).

“Anatomi Rasa” akan diluncurkan pada 26 Maret 2019, rencananya akan dibuka dengan pertunjukan wayang oleh putra dari sineas Nia Dinata, Gibran Nicholau sebagai dalangnya.

(Penulis: Peserta Susdape XIX/Shofi Ayudiana)

Baca juga: Ayu Utami : menulis adalah tumpahan “curhat”

Baca juga: Suka nonton TV (bukan) pertanda bodoh

Baca juga: Nestapa manusia modern ala ngaji filsafat

Pewarta: Peserta Susdape XIX/Shofi Ayudiana
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019