Putri Koster Ajak Generasi Muda Bangkitkan Seni Sakral

Amlapura (ANTARA) – Seniman sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Putri Suastini Koster mengajak generasi muda di daerah itu untuk membangkitkan kembali kesenian-kesenian sakral yang hampir punah.

“Marilah kita mulai peduli untuk membangkitkan dan melestarikan seni budaya yang kita miliki, terlebih yang hampir punah sehingga kelestarian tidak hanya diwujudkan dengan simbolis belaka melainkan menggali dan secara kontinyu melestarikannya,” kata Putri Koster di sela menghadiri ritual Karya Ngusaba Dalem, Ida Bhatara Dalem Memasar di Pura Pesamuhan Agung/Pasar Nongan, di Desa Nongan, Amlapura, Karangasem, Senin.

Dalam kesempatan itu, Putri Koster bahkan ikut menarikan tari Rejang Pala, yakni sebuah tarian sakral berumur ratusan tahun di Desa Nongan bersama sekitar 200 penari dari kalangan anak-anak, remaja maupun dewasa.

Sebagai salah seorang yang sering berkecimpung dalam dunia seni tari maupun seni panggung, dia memberikan apresiasi tinggi terhadap rekonstruksi tarian sakral tersebut.

“Membangkitkan kembali seni budaya yang hampir punah merupakan wujud nyata kepedulian terhadap warisan para leluhur. Di samping itu, melestarikan seni dan budaya juga merupakan cerminan dari visi misi Gubernur Bali yaitu Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” ucap istri Gubernur Bali itu.

Menurut dia, pelestarian tidak hanya dilakukan dari segi sekala (nyata atau fisik) semata melainkan juga dari segi niskala (spiritual/rohani).

Sementara itu, Wayan Arya Satyani, salah satu anggota tim rekonstruksi tari Rejang Pala mengatakan bahwa tarian tersebut berasal dari peninggalan Pura Pan Balang Tamak yang ada di Desa Nongan.

Pada awalnya, di kalangan masyarakat desa setempat hanya beredar cerita bahwa Rejang tersebut hanya berupa gelungan berisi buah-buahan dan dikeluarkan pada saat ada upacara namun tidak ditarikan karena masyarakat tidak mengetahui bagaimana cara menarikannya.

Untuk itu, ia beserta tim dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menelusuri sejarah dan melakukan rekonstruksi tari tersebut.

Tarian tersebut memiliki tujuan untuk memohon keselamatan, kesuburan yang gemah limpah loh jinawi terutama pada subak abian, karenanya para penari dihiasi dengan gelungan (hiasan kepala) yang berisi buah-buahan lokal.

“Saya berharap tarian ini dapat mewakili sejarah yang ada di desa ini khususnya di Pura Pan Balak Tamak sehingga sejarah yang ada dapat diketahui, dinikmati oleh generasi muda saat ini,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, selain dilakukan persembahyangan bersama juga dirangkaikan dengan peresmian komitmen masyarakat Desa Nongan terhadap pembatasan timbunan sampah plastik sekali pakai sesuai dengan Pergub Nomor 97 Tahun 2018, yang diresmikan oleh Bendesa Adat Nongan dan disaksikan oleh Putri Koster.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua Kartunis Pekanbaru pamerkan 102 karya satire Pemilu

Pekanbaru (ANTARA) – Dua kartunis dari Sindikat Kartunis Riau (SiKari) menggelar pameran kartun bertajuk “Pameran Kartun 0102” di Anjungan Kampar, kompleks Bandar Seni Raja Ali Haji, Kota Pekanbaru.

“Ada 102 kartun yang dipamerkan bertema satire terkait Pemilu dan Pilpres 2019,” kata salah satu seniman kartun, Eko “Fakartun” Faizin kepada Antara di Pekanbaru, Senin.

Berdasarkan pengamatan, kedua seniman mengangkat tema mengkritik atau satire seputar Pemilu 2019. Beberapa karya Furqon mengangkat ide maraknya berita hoaks terkait Pilpres dan juga kritik kepada petahana.

Sedangkan, Eko mengangkat ide dari ramainya warganet yang kerap “berkelahi” di jagad maya untuk membela jagonya di Pilpres. Ia juga mengangkat budaya pop generasi milenial yang sedang tren, seperti mengadopsi film Dilan untuk kartun yang memparodikan Joko Widodo dan Prabowo terlihat mesra berboncengan naik motor seperti Dilan dan Milea.

Eko mengatakan pameran kartun tersebut digelar selama sepekan, mulai 6 April sampai 13 April 2019.

Furqon berpartisipasi dengan memajang 70 buah karya dan Eko sebanyak 32 buah.

“Perbedaan karya adalah dalam prosesnya Furqon benar-benar karya asli dibuat dengan tangan, sedangkan saya pewarnaan secara digital dan dicetak,” katanya.

Mengenai tema pameran, Furqon menjelaskan tema terkait pemilihan umum tentang Pemilu mulai dari Pemilihan Presiden (Pilpres) hingga Pemilu Legislatif. Pemilihan angka 0102 bermakna juga nomor pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan dipilih rakyat Indonesia pada 17 April 2019 mendatang.

Selain itu, angka 01 dalam tema bisa berarti sebuah pameran kartun, sedangkan angka dua bermakna dua kartunis Riau yang bekerja sama dalam menyelenggarakan pameran yang digelar secara swadaya ini.

“Angka 102 itu jumlah kartun yang dipamerkan,” katanya.

Pewarta: FB Anggoro
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ribuan warga Batang perebutkan gunungan hasil bumi

Batang (ANTARA) – Ribuan warga memperebutkan gunungan hasil bumi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dalam rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-53 Kabupaten Batang, Senin sore.

Mereka tampak rela berdesak-desakan bahkan sampai terjatuh hanya sekadar memperoleh gunungan hasil bumi seperti tomat, kol, cabai, timun, terong, dan kacang panjang.

Kirab budaya  tersebut menyedot ribuan warga dimulai dari Jalan Veteran, Jalan Achmad Yani, Jalan Gajah Mada, Jalan Brigjen Katamso, dan berakhir di Pendopo Bupati Batang.  

Bupati Batang Wihaji  mengatakan bahwa tradisi gunungan hasil bumi tersebut sudah menjadi agenda setiap tahunnya saat penyelenggaraan HUT Kabupaten Batang.

“Tradisi gunungan hasil bumi ini memang menarik dan unik sehingga ditunggu masyarakat. Tradisi ini sekaligus sebagai bentuk wujud syukur warga dengan hasil bumi yang melimpah,” katanya.

Ia yang didampingi Wakil Bumi Suyono mengatakan pada rangkaian HUT Ke-53 Batang ini juga diselenggarakan berbagai kegiatan seperti kirab budaya dan lomba paralayang yang akan diikuti oleh sejumlah atlet nasional.

Ke depan, kata dia, pemkab berusaha  menyelenggarakan kegiatan kirab budaya yang lebih meriah, menarik, dan inovatif agar menjadi daya tarik masyarakat dan pengunjung.

“Kirab budaya yang diselenggarakan pada hari ini sudah ramai. Namun, kami ke depan dalam rangkaian HUT Batang berkeinginan bikin kegiatan ini lebih meriah dan inovatif,” katanya.

Baca juga: Kirab pusaka tombak Abirawa digelar sambut HUT Kabupaten Batang-Jateng
Baca juga: Kota Magelang gelar kirab budaya
 

Pewarta: Kutnadi
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perjuangan pentas ludruk bertahan di Surabaya

ANTARA, Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya memang telah lama dikenal sebagai pusat kesenian masyarakat. Sejumlah kelompok kesenian tradisional, seperti ludruk dan ketoprak pun berusaha untuk terus menghidupkan dunia seni pertunjukan di Kota Pahlawan tersebut. Mereka seolah berusaha melawan budaya masyarakat perkotaan yang kini lebih banyak diisi dengan hiburan instan melalui perangkat gawai.  (Nusantara Mulkan/AYM)

Prosesi adat labuhan gunung Merapi

Sejumlah abdi dalem Keraton Ngayogyakarta membawa uba rampe menuju Bangsal Sri Manganti, Gunung Merapi, saat prosesi Labuhan Gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta, Minggu (7/4/2019). Upacara adat tahunan Keraton Ngayogyakarta itu merupakan rangkaian peringatan Tingalan Dalem Jumenengan atau bertahtanya Sri Sultan HB X sebagai Raja Keraton Yogyakarta serta menjadi bentuk syukur kepada Tuhan atas segala kelimpahan dan keselamatan. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/pras.

Peringati naik tahta Sultan HB X Labuhan Merapi digelar keraton Yogya

Upacara tradisi yang digelar setiap bulan Ruwah (Kalender Jawa) tersebut diawali dari petilasan rumah Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan

Sleman (ANTARA) – Ratusan masyarakat dari berbagai daerah mengikut puncak ritual Labuhan Merapi yang digelar Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat dalam rangka memperingati naik tahta Sultan Hamengku Buwono (HB) X di lereng Gunung Merapi, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Minggu.

Upacara tradisi yang digelar setiap bulan Ruwah (Kalender Jawa) tersebut diawali dari petilasan rumah Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan.

Masyarakat bersama dengan para abdi dalem keraton mulai bergerak mendaki lereng Gunung Merapi menuju bangsal Srimanganti sekitar pukul 06.20 WIB.

Iring-iringan para abdi dalem keraton tiba di lokasi labuhan yaitu bangsal Sri Manganti yang terletak di Pos 1 jalur pendakian Merapi hampir memakan waktu dua jam.

Di lokasi itulah ubo rampe (sesaji) dilabuh setelah selama satu malam disemayamkan di Kinahrejo.

Ubo rampe tersebut berupa kain yang dinamai sinjang cangkring, sinjang kawung kemplang, semekan gadhung, semekan gadhung melati, semekan banguntulak, kampuh poleng ciut, dhestar daramuluk, paningset udaraga. Masing-masing satu lembar.

Satu per satu ubo rampe yang berada dalam peti berwarna merah dikeluarkan sembari disebutkan nama-nama ubo rampe itu.

Selanjutnya, dilakukan doa bersama yang dipimpin juru kunci Gunung Merapi, Masbekel Anom Suraksosihono atau yang akrab disapa Mas Asih.

Usai doa, para abdi dalem membagikan plastik kecil yang berisi nasi gurih dengan lauk suwiran daging ayam ingkung.

Para wisatawan, yang sekadar menonton ritual tersebut juga turut kebagian untuk ngalap berkah (mengharapkan berkah). Prosesi itulah yang disebut Labuhan Merapi.

“Saat labuhan ada semacam prosesi serah terima yaitu saat di bangsal Sri Manganti. Setelah disampaikan lalu dilorot lagi. Ini istilahnya lorotane. Jadi bukan dibuang di kawah. Tapi disajikan di situ (bangsal Sri Manganti). Setelah diterima, kemudian dibawa turun,” kata Mas Asih.

Mas Asih memiliki kewenangan sepenuhnya untuk membagikan ubo rampe tersebut kepada yang membutuhkan. Namun, Mas Asih menegaskan jika dirinyaa tidak pilih-pilih dalam memberikan ubo rampe tersebut. Semuanya dibagi secara adil.

Namun, untuk bisa mendapatkan harus rela inden atau memesan terlebih dahulu. Sebab, peminatnya sangat banyak. Tidak tanggung-tanggung, jangka waktu untuk bisa mendapatkan ubo rampe itu bisa sampai bertahun-tahun. Pasalnya, setiap tahun jumlah dan jenis ubo rampe-nya sama.

“Syaratnya memang harus sabar. Siapapun yang butuh pasti dikasih asal mau menunggu giliran,” katanya.

Menurut dia, setiap orang punya tujuan berbeda. Ada yang untuk cendera mata, ada pula yang untuk pegangan. Bahkan, ada yang untuk syarat lelaku tertentu.

“Semua dilihat barangnya. Kalau pas ada saya kasih. Kalau habis, ya, tunggu tahun depan. Untuk tahun ini sudah ada yang meminta dan sepertinya masih ada sisa,” katanya.

Labuhan Merapi tahun ini merupakan Labuhan Alit. Sebab, tidak bertepatan dengan Tahun Dal.

Dari sekian banyak ubo rampe, hanya kambil wacangan atau ubo rampe berupa pelana kuda yang tidak disertakan.

“Jenis ubo rampe itu hanya disertakan saat Labuhan Ageng setiap delapan tahun sekali,” katanya.

Sebelum erupsi Merapi 2010, labuhan digelar di pos II yang dikenal dengan sebutan pos rudal. Namun, akibat erupsi, jalur pendakian menuju pos tersebut rusak sehingga sulit dilalui.

Sejak saat itu, lokasi labuhan dipindah ke bangsal Sri Manganti yang berjarak sekitar tiga kilometer dari petilasan Mbah Marijan di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan.

Baca juga: Keraton Yogyakarta serahkan “ubo rampe” labuhan Merapi

Baca juga: Mbah Maridjan Pesan Labuhan Merapi “Diuri-uri”

Pewarta: Victorianus Sat Pranyoto
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival budaya daerah

Sejumlah duta besar negara sahabat Indonesia bermain angklung saat membuka Festival Budaya Daerah di area Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (7/4/2019). Festival Budaya Daerah yang menampilkan ragam kesenian dan helaran budaya dari 40 kecamatan se-Kabupaten Bogor dan lima ibukota provinsi di Indonesia tersebut selain sebagai upaya mengenalkan budaya Sunda di Kabupaten Bogor sekaligus untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/foc.

Busan National Gugak Center pentas perdana di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Korean Cultural Center (KCC) Indonesia mengundang Busan National Gugak Center untuk menampilkan pertunjukan perdana “The Land of Morning Calm – A Journey of Hundred Years” di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (6/4).

KCC Indonesia dalam keterangan pers, Minggu, mengatakan penampilan istimewa itu diadakan untuk memperingati 100 Tahun Pergerakan 1 Maret dan Pembentukan Pemerintahan Sementara Korea, juga mengenang semangat patriotisme dan pengorbanan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan.

Pertunjukan yang dihadiri duta besar berbagai negara, penonton Indonesia serta Korea itu, dirancang untuk memperkenalkan seni tradisional Negeri Ginseng ke dunia internasional.

Pada pertunjukan pembuka ditampilkan tarian istana Chunaengjon, merepresentasikan Burung Kepodang di musim semi.

Penonton kemudian menyaksikan Sanjo Ensemble, musik rakyat yang mengekspresikan berbagai aspek kehidupan dan kegembiraan. Setelah itu, penampil mempertunjukkan Tari Kipas serta lagu “Arirang” yang merupakan lagu perwakilan Korea.

Penonton pun merasakan relaksasi melalui penampilan Tari Sogo, serta pertunjukan ditutup dengan penampilan Pangut, Tarian Shaman Korea.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya, hingga lagu K-pop “I Will Go to You Like the First Snow” yang jadi lagu tema drama “Goblin” serta lagu daerah “Rasa Sayange” juga dibawakan dalam pertunjukan ini.

“Dari pertunjukan ini diharapkan dapat turut mendorong perkembangan hubungan Korea dan Indonesia di bidang seni dan budaya, menyusul kesuksesan Hallyu di Indonesia,” kata KCC Indonesia.

Baca juga: Kota Busan Korea peringati kerja sama “sister city” di Surabaya

Baca juga: MTV Asia akan siarkan Busan One Asia Festival 2018

Baca juga: Sutradara “The Conjuring” akan buat “Train to Busan” versi Hollywood

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sate dan rendang serta tari Bali di pesta rakyat Portugis

London (ANTARA) – Masyarakat kota Seixal di Portugal antusiasme memadati sajian kuliner khas Indonesia dalam pesta rakyat Portugis bertajuk Encontro Intercultural Saberes e Sabores , atau Pertemuan Budaya Rasa dan Pengetahuan, Indonesia selain menyajikan sate ayam, bakmi goreng, dan capcay serta rendang dan nasi bakar juga tari topeng Bali.

Pensosbud KBRI Lisabon, Andre Nurvily kepada Antara London, Minggu, mengatakan dalam pesta rakyat Portugis juga ditampilkan jajanan pasar seperti panada, onde-onde, bakwan, lumpia, dan wedang secang.

Dalam pesta yang dihadiri sekitar 1500 orang, para pengunjung ikut mengekspresikan kekaguman atas kuliner Indonesia.

Carlos Barbosa dari Portugal mengakui keunikan rasa seperti ini, makanan Indonesia perlu lebih dikenal masyarakat Portugis. Carlos, yang berprofesi sebagai arsitek, berpendapat bisnis restoran Indonesia memiliki potensi tinggi di Portugal karena belum adanya kompetitor bisnis tersebut.

Beda lagi dengan Roger Fernandes, musisi yang datang bersama keluarganya. “Lumpia dari Indonesia sangatlah berbeda dengan spring roll dari Thailand ataupun Tiongkok” ujar Roger. Antusiasme Roger terlihat dari lima belas lumpia yang dibeli untuk dinikmati anak-anaknya.

Digelar Pemerintah Kota Seixal untuk kedua belas kalinya, pesta rakyat ini diisi oleh sajian kuliner, pameran kerajian tangan, dan pertunjukan budaya dari berbagai negara. Indonesia sendiri menyajikan kuliner dan mempertunjukkan tarian Topeng Keras dari Bali yang menceritakan tentang karakter ksatria, berani, dan keras.

Dalam kesempatan ini, Wali Kota Seixal menyampaikan apresiasi khusus terhadap KBRI Lisabon atas penampilan ciamik budaya Indonesia. Dengan adanya promosi budaya ini, diharapkan dapat merangsang keingintahuan masyarakat Portugis terhadap Indonesia, dan meningkatkan citra positif Indonesia di Portugal. 

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Teater Gandrik tampil di Yogyakarta dan Jakarta

Jakarta (ANTARA) – Penampilan Teater Gandrik berjudul “Para Pensiunan 2049” karya Gregorius Djaduk Ferianto segera tampil di Yogyakarta dan Jakarta pada awal dan penghujung April.

“Pementasan ini digelar pada 8-9 April 2019 di Taman Budaya Yogyakarta dan 25-26 April 2019 di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta,” kata Pimpinan Produksi Pementasan “Para Pensiunan 2049”, Butet Kartaredjasa, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Dia mengatakan lakon teater bercerita tentang para pensiunan yang ingin menikmati masa tuanya dan menunggu akhir hidupnya dengan tenang. Mereka adalah pensiunan jenderal, pensiunan politisi, pensiunan hakim dan para pensiunan lainnya.

Lalu, kata dia, ada Undang-undang Pemberantasan Pelaku Korupsi yang secara konstitusional mengharuskan siapapun yang mati wajib memiliki Surat Keterangan Kematian yang Baik (SKKB). Hal itu memicu para pensiunan yang tidak memiliki SKKB resah karena terdapat jenazah yang terlunta tanpa surat keterangan tersebut.

“Para Pensiunan 2049 merupakan kisah masa depan jika upaya pemberantasan korupsi menemui jalan buntu, kehidupan akan semakin haru dan lucu. Kami menampilkannya dengan gaya yang sedikit horor tapi tentu saja akan tetap membuat penonton terpingkal-pingkal,” kata dia.

Dia mengatakan untuk mendapatkan SKKB bermacam cara dilakukan, mulai dari membujuk, menjebak hingga menyuap penjaga kubur. Sementara jenazah pensiunan yang sudah mati terus mendatangi kolega instansi yang berwenang agar nama baiknya dipulihkan dengan SKKB.

Butet mengatakan Teater Gandrik merupakan salah satu kelompok seni yang senantiasa memadukan semangat teater tradisional dan modern dalam setiap panggung pertunjukannya.

Kepiawaian dalam mengolah ide dan gagasan kreatif yang didukung kemampuan akting para pemainnya, Teater Gandrik selalu dapat menarik perhatian para penggemarnya.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian mengatakan pementasan Para Pensiunan 2049 hadir dengan guyonan khas Teater Gandrik.

“Diharapkan mampu memberikan pemahaman bagi generasi muda mengenai proses dan perkembangan kebudayaan sehingga mampu membangun jiwa yang penuh dengan semangat kebangsaan www.indonesiakaya.com,” kata dia.

Pewarta: Anom Prihantoro
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival of Light 2019

Pengunjung menikmati pertunjukan Water Screen dalam kegiatan ‘Festival of Light 2019’ di Pekanbaru, Riau, Jumat (5/4/2019) malam. Festival of Light 2019 yang baru pertama kali nya diadakan di Kota Pekanbaru ini berlangsung hingga 5 Mei mendatang dan menyuguhkan keindahan berbagai macam karakter lampion diantaranya Garden Light Decoration, Lantern, dan Spectacular Show Dancing Fountain. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/hp.

Masjid Sokambang,saksi bisu sejarah Kerajaan Sumenep

ANTARA, Masjid Sokambang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Kabupaten Sumenep ,Jawa Timur. Konon ,awalnya didirikan sebagai persinggahan bagi keluarga raja yang berziarah ke makam para luluhurnya  di asta tinggi, yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi masjid. ( Produser BEY/ Editor Fahrul Marwansyah ) 

Ratusan lukisan penyandang autisme dipamerkan

ANTARA, Ratusan karya seni lukis hasil imajinasi dan proses kreatif para penyandang autisme atau autistik dipamerkan di Kota Semarang Jawa Tengah selama 5 hari hingga 6 April. Tak sekadar pameran lukisan, kegiatan ini merupakan salah satu sarana bagi para autistik untuk mampu terhubung dengan dunia di luar lingkungannya. (Produser Sizuka/Editor Fahrul Marwansyah)

“Sabha Yowana” dikukuhkan wali kota untuk pelestarian budaya Bali

kami dukung generasi muda agar berkumpul dalam “Sabha Yowana” ini. Nanti dalam organisasi tersebut mereka akan bertukar pikiran dan membangun kreativitas serta melestarikan seni dan budaya Bali

Denpasar (ANTARA) – Wali Kota Denpasar, Bali Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra melakukan pengukuhan kepada Sabha Yowana (kelompok pemuda) Udiyana Graha Santhi, Desa Pakraman Renon sebagai upaya mendukung pelestarian seni, budaya dan tradisi Bali.

“Ini sudah menjadi kewajiban kita bersama, karena itu kami dukung generasi muda agar berkumpul dalam ‘Sabha Yowana‘ ini. Nanti dalam organisasi tersebut mereka akan bertukar pikiran dan membangun kreativitas serta melestarikan seni dan budaya Bali,” kata Rai Mantra di Denpasar, Kamis.

Wali Kota Rai Mantra menyambut baik adanya Sabha Yowana dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat ) di Desa Renon. Keberadaan generasi muda sangat erat kaitannya dengan kemajuan Desa Pakraman. Namun demikian kemajuan ini hendaknya memberikan dampak positif terhadap perkembangan tradisi dan kearifan lokal di Bali.

“Generasi muda ini adalah generasi milenial yang sangat mudah dan cepat menerima informasi, dan di sinilah peran Desa Pakraman, Klian Adat serta masyarakat untuk mengarahkan agar generasi muda tidak terjebak dalam hal-hal yang negatif,” ujarnya.

Ke depan, Rai Mantra berharap adanya Sabha Yowana  ini mampu menjembatani seluruh STT (sekaa teruna-teruni) se-Desa Renon serta mendukung pembangunan yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman. Dengan demikian Desa Pakraman dapat terus maju dan menjadi sektor penting kemajuan kebudayaan di Bali.

Terkait dengan PHBS, Rai Mantra juga turut memberikan apresiasi. Hal ini lantaran masih banyaknya umat Hindu yang belum paham etika ke pura. Dengan adanya PHBS ini walaupun diimplementasikan dengan tempat suci tangan dapat memberikan edukasi dan pemahaman bagi masyarakat untuk membersihkan diri mulai dari pikiran, perkataan dan perbuatan serta menghindari pura dari cemer atau cuntaka (kotor secara spiritual).

“Dengan demikian maka setiap umat Hindu yang hendak ngaturang bhakti dapat selalu fokus serta memiliki manah suci ning nirmala,” katanya sembari mengajak semua pihak untuk mengurangi penggunaan plastik di area suci.

Dalam kesempatan tersebut juga turut dilaksanakan “Karya Pemelaspasan Gedong Ratu Ayu serta peresmian Genah Mewajik” sebagai implementasi dari PHBS di kawasan tempat suci tersebut.

Bendesa (Ketua Adat) Pakraman Renon, I Made Sutama mengatakan bahwa peran serta generasi muda saat ini sangat signifikan dalam pelestarian dan pengembangan seni, budaya dan tradisi Bali. Sehingga ke depannya melalui wadah Sabha Yowana  ini generasi muda memiliki ruang untuk berekspresi, khususnya di tingkat Desa Pakraman.

“Kami berkomitmen untuk menjaga tradisi dan kearifan lokal Bali bersama generasi muda agar tidak mudah terpengaruh hal-hal yang negatif,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, keberadaan Desa Pakraman Renon yang mewilayahi lima banjar dapat digolongkan sebagai wilayah yang luas. Sehingga diperlukan sinergitas antar semua lini terasuk generasi muda untuk menjaga tradisi dan kearifan lokal Bali.

Selain itu, kata Sutama, pihaknya bahwa saat ini telah terjadi penurunan pemahaman tentang tata krama dalam bersembahyang ke pura.

“Dengan adanya PHBS ini masyarakat dan umat Hindu dapat memahami etika dalam bersembahyang ke pura, termasuk pantangan dan cara bersembahyang yang benar,” ujarnya.

Sementara, Ketua Sabha Yowana Desa Pakraman Renon, Kadek Indrawan mengaku senang menjadi angkatan pertama pada Sabha Yowana di Desa Pakraman Renon. Ke depannya memohon bimbingan kepada semua pihak untuk dapat mengabdi kepada Desa Renon, Kota Denpasar hingga Provinsi Bali.

“Kami mengajak seluruh generasi muda di Desa Renon untuk bersatu padu mendukung kemajuan desa serta menjaga kelestarian tradisi dan kearifan lokal kita bersama,” katanya.

Baca juga: Gubernur Bali: Desa pakraman ujung tombak pelestari budaya

Baca juga: Sembilan tari Bali jadi warisan budaya dunia

Pewarta: I Komang Suparta
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pandeglang Culture Fest, acara tahunan yang dinanti

ANTARA, Di hari jadinya yang ke-145 tahun, warga Kabupaten Pandeglang kembali dimanjakan dengan berbagai hiburan, salah satunya gelaran seni budaya yang dikemas dalam Pandeglang Culture Festival.  Pawai budaya yang dimeriahkan oleh berbagai provinsi di Indonesia ini selalu dinanti masyarakat. (Gracia Simanjuntak/DY)

Menikmati laut surut di Tanah Lot

(ANTARA) – Pulau Bali, tetap menjadi destinasi favorit para wisatawan, baik mancanegara ataupun domestik. Salah satu objek wisata yang sering dikunjungi wisatawan adalah Tanah Lot, di Tabanan, Bali. Di hari libur Isra Miraj yang jatuh pada Rabu, 3 April, para wisatawan tampak menikmati pemandangan alam, sembari menyusuri pantai yang sedang surut. (Prod: Feny/ VE : Alvioni) 

Memaknai perjalanan batin dalam “The Monster: Chapter II Momentum”

Jakarta (ANTARA) – Seniman visual Julius Ariadhitya Pramuhendra mengajak pengunjung meniti dan menangkap makna perjalanan batin dan mengintrospeksi diri pada pameran “The Monster: Chapter II Momentum”.

Pada pameran yang digelar hingga 7 April 2019 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, ia menampilkan instalasi seni yang disebut pameran trilogi “seri monster”. Monster itu bukan dalam artian sebenarnya, melainkan pengunjung sendiri yang akan menemukannya dalam pameran itu.

Pengunjung yang memasuki lokasi utama instalasi seni akan disambut tembok hitam menjulang tinggi yang dinamakan “confenssion walls” atau tembok pengakuan.

Kemudian, pemandu berbaju karmel akan memberikan lilin kepada masing-masing pengunjung untuk dibawa masuk ke ruang pameran. Pemberian lilin tersebut bukan tanpa alasan, melainkan untuk menikmati karya-karya di dalam area utama.

Dalam sebuah instalasi seni visual, biasanya karya-karya yang dipamerkan tentu memiliki pencahayaan yang cukup. Namun tidak demikian dalam karya seniman yang akrab disapa Hendra itu.

Hendra menekankan emosi dan pengalaman pengunjung yang menyambangi karyanya dengan ruang gelap dan terang. Di ruang gelap, indera penglihatan berusaha menangkap pesan-pesan dalam suasana tentram dan syahdu dengan temaram cahaya lilin.

Terdapat lukisan yang menampilkan simbol-simbol gereja dalam instalasi “Let There be Light, Angles.” Gaya lukisannya terinsipirasi Carravagio dan Michael Angelo, serta perjalanan spiritual Hendra, sehingga ia dapat menyuguhkan lukisan bermedium arang hitam putih

fotorealis di atas kanvas.
  Salah satu instalasi pada pameran tunggal “The Monster: Chapter II Momentum” karya J. Ariadhitya Pramuhendra di Galeri Nasional Indonesia, Selasa (2/4/2019). (ANTARA News/Devi Nindy)

Uniknya, lukisan bermedium arang mesti dinikmati dengan cahaya minim melalui pendar cahaya lilin. Selain itu, sentuhan emas yang menempa lukisan itu membuat lukisan hitam putih yang dipajang seakan-akan tampak nyata, bagai timbul dalam media dua dimensi.

Arang merupakan media seni sederhana, seringkali dianggap remeh karena murah meriah, namun bisa disulap menjadi karya seni bernilai tinggi dan elegan.

Tiap berganti perjalanan, pemandu akan menyalakan bel untuk memanggil rombongan pengunjung menuju ruangan instalasi seni lainnya. Di ruang berikutnya, nyala lilin tak dipergunakan lagi.

Di ruang gelap berikutnya, pengunjung diajak merefleksikan diri sendiri pada instalasi “Dark Water Spell,” semacam danau kecil untuk perenungan dengan perwujudan burung putih dan lukisan arang kecil yang dinikmati dari jarak jauh.

Pemandu mengizinkan pengunjung satu per satu menikmati menikmati ruangan sunyi berair dengan sinaran cahaya. Pengunjung juga diizinkan melemparkan koin-koin ke dalam danau, dengan harapan doa-doa dapat terkabulkan dengan melakukan hal itu.

Selain sejumlah instalasi lukisan arang yang dipamerkan baik di ruangan gelap maupun terang, Hendra juga menyajikan karya tiga dimensi seperti terwujud sosok patung dari tanah liat yang dinamakan “A stone, Blood and Forgotten Place”. Ada juga visual abstrak dari hasil pengaratan plat besi, mahkota duri dan paku-paku yang mengingatkan pada simbol-simbol penyaliban kristiani.
  Julius Ariadhitya Pramuhendra (ANTARA News/Devi Nindy)

Perjalanan batin

Kepiawaian seniman lulusan Institut Teknologi Bandung itu dalam menyajikan seni visualnya tidak hanya sampai pengunjung selesai menikmati pameran.

Dia kembali mengusik rasa ingin tahu pengunjung yang telah berada di titik awal pameran, untuk menilik kembali instalasi ruang sempit, yang kebanyakan terlewatkan pengunjung.

Instalasi tersebut tampak seperti ruang sempit. Namun yang mengejutkan, tampak ada sosok manusia yang terbaring dan tertutup kain merah. Hendra seakan mengingatkan pengunjung dengan pesan perjalanan batin akan berakhir pada kematian.

Disadari atau tidak, keseluruhan instalasi seni Hendra tidak terdapat satupun tulisan yang menerangkann karya-karya yang dibuatnya.

Hendra sengaja membiarkan pengunjung menginterpretasikan sendiri karyanya dan meniti perjalan batin untuk bertemu “monster,” yang dia anggap sebagai kenangan masa lalu yang terus menghantui.

“Saya ingin mengajak semuanya merasakan pengalaman-pengalaman batinnya sendiri apapun itu. Kita tidak membicarakan agama, hanya ingin semuanya lebih terbuka lebih luas, karena yang saya sampaikan ini karya seni. Ada efek apa, ada tumbukan apa yang dirasakan disini,” ujar Hendra.

Baca juga: Menerjemahkan kenusantaraan, dari ngaben hingga Situ Bagendit

Baca juga: Malioboro tetap terbuka sebagai ruang seni instalasi
 

Pewarta: Peserta Susdape XIX/Devi Nindy
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Masih terjadi salah kaprah soal pemotongan tumpeng

Jakarta (ANTARA) – Presiden dari Indonesia Gastronomy Association  (IGA) Ria Musiawan mengatakan saat ini masih terjadi salah kaprah mengenai tumpeng terutama pemotongan puncak tumpeng.

“Kebiasaan memotong tumpeng harus diperbaiki, karena berpotensi merusak nilai filosofis dalam tradisi tumpengan,” ujar Iga di Jakarta, Selasa.

Tumpeng, kata dia, merupakan simbol atau lambang permohonan makhluk hidup kepada Tuhan Yang Maha Esa dan dapat juga diartikan dengan simbol hubungan antara pemimpin dengan rakyatnya.

Dengan memotong tumpeng dapat diartikan memotong hubungan tersebut. Jadi seharusnya, tumpeng tersebut tidak dipotong akan tetapi dikeruk, ujarnya.

Filosofi dan falsafah tumpeng adalah lambang gunungan yang bersifat awal dan akhir. Tumpeng juga mencerminkan manifestasi simbol sifat alam dan manusia yang berawal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan, katanya.

Dia juga menjelaskan bahwa tumpeng yang menjulang ke atas itu menggambarkan tangan manusia merapat dan menyatu menyembah Tuhan. Tumpeng juga menyimpan harapan agar kesejahteraan maupun kesuksesan semakin meningkat.

“Jadi kalau dipotong, maka seolah-olah itu memotong hubungan kita dengan Tuhan, karena puncak tumpeng itu melambangkan tempat bersemayam Sang Pencipta,” kata dia lagi.

Pengerukan tumpeng, urainya, hanya boleh dikeruk sisi samping dari bawah, kemudian orang yang mengeruk tersebut mengucapkan doa dalam hati.

Pada zaman dahulu, para tokoh yang memimpin doa akan menjelaskan dulu makna tumpeng sebelum disantap, ujarnya.

Bagi para gastronom, makanan yang disajikan merupakan hasil dari adaptasi manusia terhadap lingkungan, agama, adat, kebiasaan, dan tingkat pendidikan.

Baca juga: Jokowi terima potongan tumpeng pertama dari Megawati
Baca juga: 170 tumpeng ramaikan gerebek suran di Wonosobo

 

Pewarta: Indriani
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pameran lukisan seniman ngahiji

Pengunjung melihat pameran lukisan Optimis: Tong Hariwang di Yayasan Pusat Kebudayaan, Bandung, Jawa Barat, Senin (1/4/2019). Pameran lukisan yang digelar Seniman Ngahiji tersebut menampilkan 150 karya dan berlangsung 1-5 April 2019. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras.