Koleksi Spring Summer Anggia Handmade didominasi warna monokrom

Jakarta (ANTARA) – Perancang busana Anggia Mawardi melalui label Anggia Handmade mengeluarkan koleksi terbaru Spring Summer bertajuk “Revolution” di salah satu hotel kawasan Bandung, Kamis (21/3).

Dalam pagelaran Annual Show Anggia Handmade kali kedua setelah 2016 itu, sang perancang memamerkan sekitar 75 koleksi busana berwarna monokrom dan coral dan tak semata evening wear seperti koleksi biasanya.

Anggia memperkenalkan karyanya untuk daily wear, syar’i, batik hingga baju koko dan menargetkan semua segmen pasar. Perancang busana Anggia Mawardi usai menghadiri pagelaran busana koleksi Spring Summer 2019 Anggia Handmade di Bandung, Kamis (21/3/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Dia menyiapkan semua koleksinya selama setahun terakhir, di masa kehamilan ketiganya. Inspirasinya bermula dari ide menciptakan busana yang sederhana, dengan cutting yang clean.

Untuk daily wear, ada sekitar 20 koleksi busana yang rata-rata menggunakan simple cut, clean dan menonjolkan warna monokrom dominan putih dengan aksen motif kotak. Material yang digunakan 100 persen cotton.

Setiap busana terdiri dari satu hingga tiga item yang bisa dipadupadankan dan menyasar mereka yang berusia 20-50 tahunan.

“Main styling saja untuk busana ready to wear, bisa dipadu padan sendiri. Tidak main banyak warna, dominasi putih, biru, mocca dengan aksen kotak-kotak dan cutting tak biasa,” kata Anggia di Bandung.

“Target Anggi bukan hanya di Indonesia tetapi untuk penjualan di luar negeri, jadi cari warna-warna monokrom, yang orang Indonesia dan luar suka. Anggi cari yang wearable, bahannya nyaman dan bisa dipakai sehari-hari,” sambung dia. Koleksi busana daily wear Anggia Handmade yang dipamerkan di Bandung, Kamis (21/3/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa) Koleksi busana daily wear Anggia Handmade yang dipamerkan di Bandung, Kamis (21/3/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Dia juga mengeluarkan 10 koleksi busana wanita syar’i yang didominasi warna coral dan mocca. Semua koleksi ini merupakan gaun panjang dengan cutting A Line, dan detail lebih terfokus di bagian bawah berupa kombinasi bis dan kristal.

Busana bermaterial chiffon itu menurut Anggi ringan, sederhana dan tidak membentuk tubuh terlalu banyak.

“Bordir enggak full, simple. Bajunya bisa dipakai taklim atau umroh. Warnanya dominasi coral dan mocca. Untuk detail hanya bis dan kristal tetapi bukan Swarovski supaya harganya terjangkau. Lalu, Anggi menggunakan khimar,” tuturnya. Koleksi busana syar’i 2019 Anggia Handmade dalam pagelaran busana di Bandung, Kamis (21/3/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Selain itu, ada juga 10 koleksi busana batik menggunakan pewarna alam indigo berupa blouse dan outer dengan pallazo dan kain sarung yang dapat digunakan sebagai koleksi office wear atau acara resmi.

Untuk pria, Anggia berkolaborasi dengan label Intresse, menghadirkan baju muslim koko berwarna monokrom dan coral dengan aksen motif tenun kontemporer. Material cotton dan polyesther mendominasi koleksi koko ini.

“Baju koko, Anggi menambahkan unsur tenun karena Anggi banyak mengambil detail tradisional. Bordir campur tenun,” ujar Anggi yang berprofesi sebagai dokter gigi di Bandung. Koleksi busana koko 2019 Anggia Handmade yang dipamerkan dalam pagelaran busana di Bandung, Kamis (21/3/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Terakhir, ada juga koleksi luxurious yang masih menghadirkan detail bordir bermotif floral 3D berwarna pastel dengan aksen di bagian bawah. Koleksi ini menggunakan kombinasi warna coral dan mocca, dengan cutting A Line yang bisa dikenakan sebagai koleksi syar’i ataupun evening wear. Koleksi busana mewah Anggia Handmade (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

  Koleksi busana Anggia Handmade Luxurious yang diperlihatkan di Bandung, Kamis (21/3/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Baca juga: Ning Zulkarnain bawa 12 rancangan busana muslim ke ASC Fashion Week 2018
Baca juga: Alasan Dian Pelangi lebih senang fashion show di Timur Tengah

 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival Titik Kulminasi digelar di tugu khatulistiwa Muaro Sasak

Peristiwa titik kulminasi matahari terjadi setahun dua kali, pada 21-23 Maret dan 21-23 September

Sasak, Pasaman Barat (ANTARA) – Festival Titik Kulminasi untuk pertama kalinya digelar di dekat tugu khatulistiwa  di Pantai Muaro Sasak.di Pantai Muaro Sasak, Kecamatan Sasak Ranah Pasisia Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, Kamis, dalam rangka upaya mempromosikan wisata di daerah itu.

“Pasaman Barat merupakan salah satu daerah titik kulminasi di Sumbar selain Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Pasaman,” kata Camat Sasak Ranah Pasisia, Nur Fauziah Zein, di Pasaman Barat, Kamis.

Pada festival ini digelar beragam kegiatan, di antaranya penanaman pohon buah-buahan dan pohon pelindung sebanyak 2.200 batang di sepanjang tepi pantai Muaro Sasak.

Kemudian juga menampilkan berbagai kesenian berupa gondang tasa, festival layang-layang darek, lomba silat gelombang dan open turnamen bola voli pantai Bupati Cup se-Sumbar.

“Kita juga akan membuat konservasi penyu, cemara laut dan membangun home stay mendukung pariwisata,” ujarnya.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Padang Panjang, Dwi Prasetyo mengatakan titik kulminasi diadakan ketika matahari berada tepat di atas kepala yang terjadi dua kali dalam setahun.

Menurutnya titik kulminasi merupakan fenomena alam ketika matahari tepat berada di garis khatulistiwa.

Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi.

Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan menghilang beberapa detik saat diterpa sinar matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain di sekitar tugu.

“Peristiwa titik kulminasi matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September,” katanya.

Ia berharap dengan peringatan titik kulminasi untuk perdana kali di Pasaman Barat maka untuk selanjutnya bisa diteruskan sebagai upaya penarik wisatawan ke Pantai Sasak.

Sementara itu Bupati Pasaman Barat, Syahiran mengatakan beruntung sekali Pasaman Barat dilewati oleh khatulistiwa yang bisa diperingati setiap tahunnya.

Apalagi menurutnya Pantai Sasak merupakan destinasi wisata yang akan terus dikembangkan. “Dengan adanya peringatan titik kulminasi maka akan mendukung pengembangan wisata Pantai Sasak,” ujarnya.

Pihaknya juga akan terus membenahi sarana prasarana Pantai Sasak untuk pengembangan wisata. Ia mengharapkan peringatan ini terus dilanjutkan dan dikemas lebih baik ke depannya.

“Banyak yang harus dilengkapi. Untuk tugu titik kulminasi diharapkan Dinas Pariwisata nanti membuat anggarannya agar tugu yang ada saat ini dibangun lebih baik lagi,” ujarnya.

Selain itu juga nanti bisa dibangun areal bermain untuk anak-anak di sekitar tugu titik kulminasi.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar menjaga kebersihan daerah wisata. Kemudian juga mengatur tarif makanan dan parkir sehingga tidak membebani wisatawan yang berkunjung ke Pasaman Barat.

“Mudah-mudahan dengan adanya festival titik kulminasi dan agenda lainnya maka pariwisata Sasak akan mudah dikenal oleh masyarakat luas,” harapnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Camat Sasak Ranah Pasisia beserta Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) Pasaman Barat yang bisa melaksanakan turnamen bola voli pantai se-Sumbar yang diikuti oleh kabupaten/kota yang ada.

“Ini adalah ajang latihan bagi Pasaman Barat untuk menjadi tuan rumah Pekan Olah Raga Provinsi pada 2020 nanti,” katanya.

 
Baca juga: Presiden nilai Karnaval Khatulistiwa beri dampak besar bagi Kalbar
Baca juga: Pontianak siapkan dua teleskop luar angkasa amati kulminasi matahari

Pewarta: Altas Maulana
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengintip rahasia keunikan jam Gadang

324 Views

ANTARA-Berbeda dengan jam pada umumnya jam Gadang memiliki keunikan tersendiri yang hanya ada dua di dunia. Mesin pada jam Gadang dibuat secara eksklusif, satu digunakan pada jam Gadang dan satu lagi untuk jam besar Big ben di London Inggris.

Tuan Guru, tokoh besar penanda Indonesia di Afrika Selatan

London (ANTARA) – Peluncuran buku From the Spice Islands to Cape Town: The Life and Times of Tuan Guru oleh jurnalis Afrika Selatan Shafiq Morton mengingatkan bangsa Indonesia terhadap tokoh besar dari Tidore, Maluku Utara yang menjadi penanda hubungan antara Indonesia dan Afrika Selatan.

Hal itu disampaikan Dubes RI di Pretoria, Afrika Selatan, Salman Al Farisi dalam keterangannya, Selasa, terkait peluncuran buku tentang Tuan Guru yang bernama asli Imam Abdullah Qadhi Abdus Salam di Cape Town, Afsel, Minggu (17/3).

Dubes Salman menghadiri acara peluncuran buku itu atas undangan Lembaga Waqaf Afrika Selatan, Awqaf SA dan berharap buku ini semakin memperkaya ingatan publik atas keterkaitan sejarah yang kuat dan pentingnya hubungan antara Indonesia dan Afrika Selatan.

Penerbitan buku ini adalah bagian dari proyek the Awqaf’s Leaders and Legacies Project yang bertujuan merawat ingatan atas tokoh besar pemimpin umat.

Tuan Guru, sosok yang diabadikan dalam buku ini adalah ulama keturunan Indonesia yang mendakwahkan Islam di Afrika Selatan. Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam  lahir di Tidore pada tahun 1712, dan meninggal di Cape Town pada tahun 1807 pada usia 95 tahun.

Tuan Guru tiba di Cape Town dengan kapal VOC, Zeepard, pada tahun 1780 ketika berusia 68 tahun. Belanda mengirimnya ke Cape Town untuk menghalangi interaksinya dengan Inggris, musuh bebuyutan Belanda pada era kolonialisme.

Dalam pengasingan, Tuan Guru mendirikan madrasah pertama di Afsel pada tahun 1793, dan tidak lama setelah itu, membangun masjid pertama di Afrika Selatan, Masjid ul-Awwal. Tuan Guru yang Hafiz Quran, menuliskan kembali Al Quran dari hafalannya saat dipenjara di Pulau Robben selama dua kali.

Ulama besar ini juga menulis karya lain  Ma’rifat wal Iman wal Islam (Pengetahuan Iman dan Agama) setebal 613 halaman, yang menjadi panduan Muslim di Cape Town untuk belajar Islam. Tuan Guru sangat dihormati  di Afrika Selatan.

Pendatang Muslim telah menjadi bagian dari perjuangan nasional di Afrika Selatan terhadap belenggu kolonialisme. Nama tahanan politik kolonialisme seperti Tuan Guru, Syekh Yusuf, Hadjie Matarim, dan lainnya menjadi simbol perjuangan melawan kesewenangan Belanda dan Inggris.

Dubes Salman Al Farisi menyampaikan selamat kepada penulis buku yang telah secara artikulatif menyelami kembali hidup dan kontribusi Tuan Guru bagi Afrika Selatan. Dubes meyakini buku ini akan memperkaya pengetahuan kedua bangsa.

Penulis buku Shafiq Morton, jurnalis foto, editor, dan presenter radio/TV memiliki pengalaman puluhan tahun dan memenangkan berbagai penghargaan meliput berbagai topik seperti kampanye anti-apartheid, pembebasan Nelson Mandela, dan pemilihan umum Afsel 1994.

Tahun 2008, Morton memenangkan Penghargaan Vodacom National Award kategori media komunitas dan penghargaan regional pada tahun 2010.

Karya-karya penulis sebelumnya termasuk Notebooks from Makkah and Madinah (a Saudi Arabian travelogue), Surfing behind the Wall, My Palestinian Journey, dan A Mercy to All.

KBRI Pretoria dan KJRI Cape Town mendukung penuh pelaksanaan kegiatan peluncuran buku “From the Spice Islands to Cape Town: The Life and Times of Tuan Guru”. Acara peluncuran buku tersebut menyemarakkan rangkaian kegiatan peringatan 25 tahun hubungan diplomatik RI-Afrika Selatan sepanjang tahun 2019. 

Baca juga: KBRI perluas pasar produk Indonesia di Afrika Selatan
Baca juga: Din Syamsuddin: Indonesia – Afrika Selatan perlu kerja sama bidang keagamaan

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Arak-arakan pengantin Suku Osing

Warga Suku Osing mengarak pengantin dengan kesenian barong di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (18/3/2019). Arak-arakan pengantin yang melibatkan warga dengan berbagai kesenian khas seperti Barong, Macanan dan pitik-pitikan tersebut, merupakan tradisi Suku Osing Kemiren yang hingga saat ini masih dilestarikan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/wsj.

Museum di Bali diharapkan bisa kembali diminati masyarakat

Ini merupakan tantangan untuk Himpunan Pengurus Museum (Himusba) bagaimana menjadikan museum tempat yang menarik dikunjungi, jangan ada suasana suram. Tolong siapkan tempat agar masyarakat nyaman dan senang berkunjung ke museum

Denpasar (ANTARA) – Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra mengharapkan museum-museum di Pulau Dewata bisa kembali diminati masyarakat dan menarik untuk dikunjungi karena merupakan tempat koleksi yang mempunyai nilai cipta, karya dan karsa yang berharga dari para pendahulu.

“Ini merupakan tantangan untuk Himpunan Pengurus Museum (Himusba) bagaimana menjadikan museum tempat yang menarik dikunjungi, jangan ada suasana suram. Tolong siapkan tempat agar masyarakat nyaman dan senang berkunjung ke museum,” kata Dewa Indra pada pengukuhan anggota Himusba masa bakti 2018-2023, di Denpasar, Senin.

Menurut dia, museum bisa ditambah dengan fasilitas kekinian agar masyarakat betah di sana. “Mungkin bisa ditambah dengan spot foto yang menarik atau diisi kafetaria. Pokoknya buat pengunjung bahkan anak-anak senyaman mungkin,” katanya.

Selain itu, Dewa Indra juga menekankan tugas para pengurus yang baru dilantik adalah berupaya membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya arti museum.

“Museum tempat belajar sejarah yang paling bagus, karena ada nilai pelestarian budaya yang harus kita kenal dan jaga,” ujarnya.

Terkait keengganan masyarakat mengunjungi museum, tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka dan itu menjadi tugas Himusba.

“Perbaiki fasilitas museum serta edukasi masyarakat untuk terus belajar ke museum,” katanya.

Di samping itu, Dewa Indra mengharapkan museum diisi dengan SDM yang profesional dan memanfaatkan teknologi dan koleksi yang ditata secara modern sehingga kesan museum yang kuno, sunyi dan menyeramkan bisa hilang.

“Mari semua pihak untuk melakukan upaya kegiatan strategis menggeliatkan museum, seperti membangkitkan gerakan nasional cinta museum, atau mengajak siswa-siswi mengunjungi museum,” katanya.

Pada kesempatan tersebut para pengurus Himusba dikukuhkan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Bali Nomor: 455/04-A/AK/2019. Adapun nama-nama pengurus yang dikukuhkan yakni Penasihat Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Pembina Tjokorda Gde Sukawati (Museum Puri Luksian) dan JMK Pande Wayan Suteja Neka (Museum Neka).

Dewan Kurator dijabat oleh Dr I Wayan Adnyana ISI Denpasar. Untuk Ketua Umum dan Ketua 1 masing-masing dijabat oleh Anak Agung Gede Rai (Museum Arma) dan Tjokorda Bagus Astika (Museum Puri Lukisan).

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Debat cawapres diprediksi akan berjalan sejuk

Jakarta (ANTARA) – Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno adalah dua karakter yang berbeda. Namun, menurut pengamat sosial Vokasi Universitas Indonesia, Devie Rachmawati acara debat calon wakil presiden yang berlangsung malam nanti justru akan berjalan “sejuk”.

Devie menerangkan bahwa dalam sebuah debat biasanya menggunakan tiga pendekatan yakni klaim, menyerang dan bertahan. Namun dalam adat ketimuran, menurut Devie sangat jarang menggunakan klaim dan menyerang.

“Dalam konteks budaya timur, kita tidak akan banyak menggunakan pendekatan menyerang dan klaim. Klaim itu akan hati-hati karena akan dinilai sombong dan sebagainya. Kita lebih senang dengan suasana yang harmonis, saling menghormati kemudian, positif,” kata Devie saat dihubungi Antara, Minggu.

“Saya justru percaya para calon akan melakukan hal tersebut. Karena dari jejak digital keduanya, mereka sama-sama selalu menyampaikan hal yang positif juga optimis. Menurut saya nanti malam akan berjalan dengan sejuk,” lanjutnya.

Devie juga mengatakan bahwa Ma’ruf akan mewakili orang tua dan kaum agamais. Sedangkan Sandiaga adalah gambaran anak muda yang enerjik.

Kedua karakter ini bisa dibilang sudah memiliki targetnya masing-masing. Menurut Devie, pesan komunikasi yang ingin disampaikan oleh para pasangan calon presiden berjalan dengan sangat baik.

“Mereka sama-sama start dari titik yang sama, beda usia memungkinkan keduanya untuk bicara dengan dua target penonton yang berbeda. Artinya memang tidak ada yang salah, karena calon presidennya juga menarget dua pemilih yang berbeda,” jelas perempuan yang pernah belajar di Swansea, UK ini.

Devie menambahkan, “Jadi sebenarnya saya melihat ini sebagai strategi komunikasi yang baik. Mereka memang berbagi peran lah dalam komunikasi politiknya dengan debat nanti.”

Baca juga: Kontrasnya Ma’ruf Amin – Sandiaga Uno, dari sarung hingga media sosial

Baca juga: Ma’ruf Amin tampak santai hadapi Debat Capres ketiga

Baca juga: Debat cawapres menurut Garin Nugroho

Baca juga: Sandiaga memohon doa orangtuanya jelang debat

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Museum Gedung Sate sudah dikunjungi 148.143 orang

Bandung (ANTARA) – Museum Gedung Sate telah dikunjungi  sebanyak 148.143 orang meskipun baru diresmikan pada 8 Desember 2017,  kata Sekretaris Daerah Jawa Barat (Sekda Jabar) Iwa Karniwa.

Capaian ini adalah pengaruh dari konsep smart museum yang menyesuaikan konten museum sesuai dengan tuntutan zaman dan kebutuhan generasi muda dengan pendekatan kekinian, kata Sekda Iwa saat membuka Museum Festivities (Muvies) untuk merayakan hari jadi yang pertama museum tersebut  di area Gedung Sate Bandung, Jumat (15/3) malam.

Konsep ini tidak hanya memamerkan koleksi yang informatif, tetapi juga mengedepankan pemanfaatan kemajuan teknologi canggih.

“Tidak hanya memiliki koleksi informatif, tetapi juga kuat secara visual dan mengedepankan kemajuan teknologi. Di sini hadir pula perpustakaan dengan koleksi buku-buku sejarah serta galeri kopi Jawa Barat sebagai sebuah kesatuan,” kata dia.

“Syukur Alhamdulilah, dengan berbagai kebaruan ini Museum Gedung Sate telah dikunjungi lebih dari 140.000 pengunjung dalam tahun pertamanya,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Sekda Iwa berharap kehadiran museum dapat meningkatkan minat baca masyarakat.

Hal ini, katanya, mengingat hasil survei most littered nation in the world tahun 2016 lalu menunjukkan bahwa posisi Indonesia hampir terbelakang dalam minat baca, yakni posisi ke-60 dari 61 negara yang disurvei, di antara Thailand di posisi ke-59 dan Botswana di posisi bungsu ke-61.

“Secara khusus saya berpengharapan museum mampu menjadi salah satu sumber inspirasi bagi generasi muda untuk meningkatkan budaya baca. Hal ini penting mengingat tingkat minat membaca masyarakat kita sangatlah rendah,” kata Iwa.

Sekda Iwa menambahkan, untuk mendongkrak minat baca melalui museum, maka pemanfaatan teknologi terkini menjadi salah satu prasyarat utama yang perlu diperhatikan bagi seluruh pengelola museum. Dengan demikian, informasi dapat lebih mudah dipahami oleh generasi milenial saat ini.

“Dengan mengedepankan informasi yang bersifat visual, akan lebih menarik dan mudah dipahami di kalangan generasi muda, khususnya kalangan millenial dan generasi Z,” ujar Iwa.

 Muvies akan digelar selama dua hari, yakni tanggal 15-16 Maret 2019, dengan melibatkan 48 museum se-Jawa Barat untuk diperkenalkan kepada khalayak banyak.

Sebanyak 48 museum dari seluruh Jawa Barat juga bereksebisi di halaman belakang Gedung Sate. Turut hadir pada acara para kepala museum dari seluruh Jawa Barat.

Selain itu, pada dua hari gelarannya (15-16 Maret 2019) Muvies juga menggelar berbagai games dan lomba, seperti lomba mewarnai dan menggambar, serta live-action ludo dan yang menarik.

 Baca juga: Museum Gedung Sate dibuka pada 2017
Baca juga: Museum Tanah, alternatif wisata di Bogor

 

Pewarta: Ajat Sudrajat
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Peluncuran buku antologi puisi Amien Kamil

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid (kanan) berbincang dengan seniman Amien Kamil (kanan) saat meluncurkan buku dan cakram padat (cd) musik-puisi, Elegi Untuk Pramoedya Ananta Toer – Catastrophe 1965 – Antologi Puisi Amien Kamil, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (15/3/2019). Buku tersebut berisi kumpulan puisi karya Amien Kamil. ANTARA FOTO/Ismar Patrizki/pras.

Sail Nias 2019 peluang promosikan destinasi wisata kelas dunia

Nias (ANTARA) – Sail Nias yang akan digelar mulai Juli 2019 akan menjadi peluang bagi pemerintah daerah Kepuluan Nias, Sumatera Utara, untuk lebih memajukan sektor pariwisata dan mempromosikan destinasi wisatanya ke pelosok dunia.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Nias Selatan Anggreani Dachi, Jumat, mengatakan, Sail Nias 2019 secara resmi telah diluncurkan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani di Jakarta.

Sail Nias 2019 yang akan digelar Juli 2019 di Kepulauan Nias mengusung tema “Nias Menuju Gerbang Destinasi Wisata Dunia” yang menurut Puan Maharani akan memiliki efek besar bagi kemajuan pariwisata di Kepuluan Nias.

Sail Nias 2019 merupakan tonggak bagi pemerintah daerah di Kepulauan Nias untuk menggaet investor dalam membangun wilayahnya.

“Menko PMK kemarin memberitahu bahwa pelaksanaan Sail Nias 2019 bertujuan untuk mempercepat pembangunan, mempromosikan destinasi wisata dan mengembangkan rute pelayaran kapal di Indonesia, terutama Kepulauan Nias,” jelasnya.

Menko PMK juga tidak lupa mengingatkan bahwa Nias belum punya akomodasi yang representatif, sehingga yang telah dilakukan jangan sampai tidak berguna selanjutnya. Untuk itu perlu gotong royong antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam menarik investor.

Lebih lanjut Anggreani Dachi menyebutkan Kepulauan Nias punya potensi wisata bahari yang baik, ombaknya dikenal dunia sebagai spot selancar terbaik dan atraksi lompat batunya menjadi ciri khas tersendiri, sehingga Sail Nias kali ini mengangkat tema ‘Nias Menuju Gerbang Destinasi Wisata Bahari Dunia”.

“Sail Nias 2019 akan berlangsung di lima kabupaten dan kota yang ada di Kepulauan Nias selama 3 bulan, dan diisi dengan 18 rangkaian kegiatan,” terangnya.

Puncak acara Sail Nias 2019 digelar di Teluk Dalam, Nias Selatan, pada 14 September 2019 dan akan diramaikan kegiatan Wonderful Nias Expo 2019, kejuaraan surfing internasional WS:QS 1500, pagelaran budaya dan bhakti sosial oleh TNI AL.***1***

Pewarta: Juraidi dan Irwanto
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tim tari SMA Muhammadiyah Yogyakarta torehkan prestasi di Rusia

London (ANTARA) – Tim tari SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta menjuarai International Folklore Festival ke-5, setelah menyisihkan peserta dari berbagai negara, seperti Armenia, Malaysia, India, Iran, Uzbekistan, Kazakhstan, Turki dan Rusia, di Saint Petersburg, Rusia pada 10-13 Maret.

Sekretaris Pertama Fungsi Pensosbud KBRI Moskow, Enjay Diana kepada Antara London, Jumat menyebutkan bahwa festival bertema “Menjaga Tradisi” itu merupakan acara tahunan yang diadakan Yayasan Pelangi Utara Rusia.

Kompetisi dibagi dalam dua kategori, yaitu peserta internasional dari berbagai negara dan kategori lokal yang kontestannya berasal dari daerah atau region di Rusia.

Tim tari SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta menyabet penghargaan tim terbaik dan berhak memperoleh Grand Prix pada kategori peserta internasional.

Peserta dari Selangor, Malaysia mendapat penghargaan tim dengan kostum terbaik. Sementara itu, tim kesenian Slavyanochka memenangi kompetisi untuk kategori daerah Rusia.

Perjuangan tim tari Indonesia tidaklah mudah karena persiapan yang cukup singkat. Namun cuaca di St Petersburg yang dingin dan bersalju tidak menyurutkan hasrat siswa-siswi SMA itu untuk ikut serta pada festival tersebut.

Dengan keyakinan dan semangat yang besar, tidak hanya membawa nama sekolah, daerah, tetapi juga negara, tim itu berhasil melewati babak penyisihan dan masuk babak final hingga terpilih menjadi yang terbaik.

Tim tari Indonesia mempersembahkan Tari Saman. Keselarasan antara gerakan dan irama membuat penonton, termasuk dewan juri terkesima dan terpukau.

Tim tari Indonesia tidak hanya memenangi kompetisi, tetapi juga mendapat “standing ovation” yang riuh dari sekitar 700 orang penonton memenuhi Concert Hall, Hotel Saint Petersburg.

Pada acara puncak festival tersebut turut hadir Minister Counselor Ekonomi, Edi Suharto, yang mewakili Dubes RI untuk Rusia merangkap Belarusia.

Panitia penyelenggara memberikan apresiasi atas partisipasi Indonesia, dan berharap Indonesia dapat berpartisipasi dalam festival di Rusia agar keragaman seni dan budaya nusantara semakin dikenal.

Ketua Dewan Juri juga mengundang tim kesenian Indonesia untuk mengikuti International Festival di Batumi, Georgia pada Juni mendatang.

Manajer Tim Tari SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Tika Musfita mengatakan perjuangan dan latihan intensif selama dua bulan sebelum keberangkatan membuahkan hasil yang menjadi kebanggaan bersama.

“Kami ucapkan terima terima kasih kepada semua pihak yang mendukung Tim, termasuk KBRI Moskow”, ujar Tika Musfita.

Selama di St Petersburg, tim tari SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta tidak hanya mengikuti kompetisi, tetapi juga mengadakan master class tari Saman di St Petersburg Pedagogical College No 4.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M Wahid Supriyadi yang mendapat informasi keberhasilan Tim tari SMA Muhamadiyah 1 Yogyakarta tersebut, menyampaikan selamat dan apresiasi tinggi kepada Tim.

Menurut Dubes Wahid, keikutsertaan Indonesia pada festival ini merupakan bagian penting dari upaya kedua bangsa untuk lebih memajukan people to people contact dan cultural understanding yang pada gilirannya dapat lebih mendekatkan hubungan bilateral kedua negara.

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ayu Utami: “Anatomi Rasa” dan usaha memelihara Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Penulis Ayu Utami akan menerbitkan buku terbarunya “Anatomi Rasa” pada akhir bulan ini, bercerita tentang semangatnya untuk mempersatukan dan memelihara Bangsa Indonesia.

“Latar belakangnya panjang. Spiritulitas kebatinan Jawa punya konsep sangat kuat yaitu ‘rasa’. Kesadaran ini yang membuat bangsa Indonesia bisa mengolah perbedaan,” jelas Ayu Utami ketika ditemui Antara, Rabu (13/3) di Salihara, Jakarta.

Ayu mengatakan, berencana menuliskan konsep “Anatomi Rasa” sejak lama, namun pengerjaannya ditulis satu tahun lalu dengan melakukan beberapa penelusuran mengenai konsep rasa dan asal-usulnya.
Penelusuran yang dilakukan melalui pembacaan teks yang ditulis oleh penulis dan para pujangga atau spiritual Jawa.

“Saya melakukan beberapa penelusuran mengenai konsep rasa dan asal-usulnya sampai saya yakin inilah konsep atau struktur rasa yang selama ini membimbing bangsa ini,” katanya.

Ia menimpali, “dan kesadaran itu kalau enggak diingatkan atau dibahasakan ulang bisa terkikis dan kalau enggak terkikis, kita mungkin bisa menjadi bangsa yang dogmatis.”

“Anatomi Rasa” menurutnya adalah buku yang diceritakan oleh Parang Jati, tokoh dari novel Ayu “Bilangan Fu”. Dia menjelaskan buku baru itu menawarkan spiritualisme kritis yang sebelumnya sudah dikenalkan oleh Parang Jati.

“Waktu di ‘Bilangan Fu’ si tokoh menawarkan spiritualisme kritis dan itu satu cara yang dibutuhkan zaman ini. Waktu di ‘Bilangan Fu’ belum jelas betul konsepnya bagaimana. Setelah ‘Bilangan Fu’ saya melakukan riset bagaimana merepresentasikan spiritualisme yang lebih praktis dan gampang,” terangnya.


Modern dan Rasional

Seperti judulnya, “Anatomi Rasa” akan menawarkan bagian struktur rasa atau kesadaran yang diambil dari Nusantara tanpa mengaplikasikan teori kesadaran dari Barat.

“Anatomi Rasa menawarkan bagian struktur kesadaran yang diambil dari Bumi Nusantara sendiri, jadi enggak pakai teori barat sama sekali. Tapi isinya modern dan rasional,” katanya.

Menurut Ayu, buku itu bisa ditawakan sebagai salah satu alternatif teori psikologi pribumi yang menjelaskan struktur rasa yang ada.

Lebih lanjut, Ayu tidak setuju dengan paradigma tentang Jawa yang hanya dilihat sebagai mistik, klenik dan tidak rasional. Melalui bukunya, dia ingin membuktikan bahwa di balik sifat itu ada struktur yang rasional.

“Anatomi Rasa” tidak bisa dilepaskan dengan novel Ayu sebelumnya yakni “Bilangan Fu” yang lahir dengan membawa konsep yang sama yaitu memperkenalkan pemikiran modern dan rasional.

Menurut dia, saat ini di Indonesia banyak terjadi kekerasan berdasarkan agama, dan hal itu tidak bisa berdiri sendiri dengan hanya melihat dari sisi agama. Menurut dia, agama berbarengan dengan rasionalitas.

“Agama dan rasional itu sama. Dia mengategorikan dunia salah-benar, halal-haram, kita-mereka. Rasa itu bekerjanya enggak kaya gitu. Alih-alih mengategorikan seseuatu, rasa itu menyatukan, mencampurkan dan mencari bentuk kesatuan,” tuturnya.

Dengan ditulisnya “Anatomi Rasa”, Ayu menginginkan bangsa ini memelihara ruh Indonesia yang sudah ada sejak dulu, yakni satu persatuan di dalam perbedaan.

“Saya percaya betul bahwa ruh itu ada. Ruh itu kayak gimana? Ruh itu kayak DNA yaitu seperti sesuatu kode yang tersalin. Nah itu yg harus kita pelihara. Kalau enggak ya terus kita mau jadi apa? Jadi Jepang enggak bisa, China enggak bisa, India enggak bisa. Jadi Arab enggak bisa. Kita harus punya karakter kita sendiri,” ucapnya.

Dalam buku ini Ayu menawarkan struktur rasa yang melihat bahwa manusia mempunyai empat dorongan dasar atau napas. Dorongan dasar itu bisa saling menyeimbangkan dan menyelaraskan sehingga manusia bisa hidup damai dan bersatu dalam perbedaan.

Sebelumnya Ayu sudah menerbitkan beberapa buku fiksi dan nonfiksi. Di antaranya Saman (1998), Larung (2001), Si Parasit Lajang (2003), Bilangan Fu (2008), Pengakuan Eks Parasit Lajang (2013), dan Simple Miracles (2014).

“Anatomi Rasa” akan diluncurkan pada 26 Maret 2019, rencananya akan dibuka dengan pertunjukan wayang oleh putra dari sineas Nia Dinata, Gibran Nicholau sebagai dalangnya.

(Penulis: Peserta Susdape XIX/Shofi Ayudiana)

Baca juga: Ayu Utami : menulis adalah tumpahan “curhat”

Baca juga: Suka nonton TV (bukan) pertanda bodoh

Baca juga: Nestapa manusia modern ala ngaji filsafat

Pewarta: Peserta Susdape XIX/Shofi Ayudiana
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Museum MACAN siapkan pameran baru tahun ini

Jakarta (ANTARA) – Setelah berhasil mendatangkan 350.000 pengunjung pada tahun pertama, Museum MACAN yang berdedikasi pada seni modern dan kontemporer mengumumkan program pameran untuk 2019.

Program MACAN pada tahun kedua ini merefleksikan misi untuk mendukung talenta seni Indonesia dan menampilkan seni internasional yang signifikan di Indonesia, didukung oleh program edukasi yang menyeluruh.

“Program kami akan menampilkan sebuah pameran historis yang berfokus pada salah seorang perupa modern penting di Indonesia, sebuah pameran besar yang membahas pergeseran estetika seni yang terlihat dalam praktik karya beberapa perupa Indonesia berpengaruh pada era sebelum dan setelah Reformasi, dan sebuah pameran retrospektif Xu Bing, seorang perupa kontemporer asal Tiongkok yang diakui secara global,” kata Aaron Seeto, Direktur Museum MACAN, dalam siaran pers, Kamis.

Jeihan: Hari-hari di Cicadas
Pada Maret, Museum MACAN akan mempersembahkan “Jeihan: Hari-hari di Cicadas”, sebuah pameran historis yang intim, menampilkan karya-karya Jeihan Sukmantoro. Jeihan adalah seorang perupa dan penyair kelahiran 1938 yang berpengaruh dalam perkembangan seni modern di Indonesia.

Pameran ini menawarkan perspektif baru tentang era yang penting dalam kekaryaan Jeihan mulai 1960an hingga 1980an, ketika sang perupa tinggal di Cicadas. Cicadas, yang berada di bagian timur Bandung, dikenal sebagai area padat penduduk, juga lokasi prostitusi dan tindak kriminal ringan.

Jeihan dikenal dengan karya lukis ekspresionis dan figuratif sejak tahun 1960an.

Lukisan potret dalam pameran ini menampilkan sang perupa, anggota keluarga dan tetangga-tetangga Jeihan, ketika rumahnya berfungsi sebagai tempat komunal, ruang berkumpulnya warga yang ingin menonton TV. Rumah Jeihan kala itu adalah salah satu yang pertama memiliki TV.

Matter and Place
Pada April, MACAN menghadirkan Matter and Place, menampilkan enam karya dan instalasi oleh perupa Indonesia dan internasional.

Pameran ini menampilkan Elevation, sebuah karya arsitektur gagasan Andra Matin yang telah memenangi penghargaan saat pertama kali ditampilkan di Venice Architecture Biennale 2018; instalasi khas-tapak (site-specific installation) oleh perupa Malaysia Shooshie Sulaiman dan beberapa karya dari koleksi museum.

Dunia dalam Berita
Pada 1 Mei-21 Juli 2019, MACAN akan menampilkan pameran survei berskala besar bertajuk “Dunia dalam Berita” karya 10 perupa Indonesia yang merefleksikan pengaruh pergolakan politik sebelum dan sesudah Reformasi, antara dekade 1990an hingga awal 2000an.

Para perupa itu adalah  Mella Jaarsma, I GAK Murniasih, Nyoman Masriadi, FX Harsono, Tisna Sanjaya, Agus Suwage, Heri Dono, Krisna Murti, S. Teddy D., dan Taring Padi.

“Dunia dalam Berita” menghadirkan telaah atas dua perubahan penting dalam perkembangan seni kontemporer di Indonesia, yaitu dampak Reformasi pada kekaryaan sekelompok perupa Indonesia yang telah dikenal secara internasional, juga pengaruh kultur populer dalam konteks globalisasi di Indonesia.

Xu Bing: Thought and Method
Kemudian, pada kuartal terakhir 2019 dan menuju 2020, museum akan menampilkan “Xu Bing: Thought and Method”, pameran retrospektif solo Xu Bing, perupa kontemporer Tiongkok yang berpengaruh.

Xu dikenal akan karya instalasinya yang kuat, pendekatan konseptual terhadap teknik cetak, juga pemahaman yang mendalam tentang teks dan silang budaya di era aliran informasi dan manusia lintas negara.

Xu lahir di Chongqing, sebuah kota di barat daya Tiongkok, pada 1955 dan menempuh studi di Tiongkok dan Amerika Serikat

Pameran ini dihadirkan dalam kerja sama dengan UCCA Center for Contemporary Art, dan pertama kali ditampilkan di Beijing, Tiongkok pada 2018. Karya instalasi dari berbagai fase dalam karya Xu Bing ditampilkan di pameran ini.

Baca juga: Main Getah, kerja sama Museum MACAN dengan perupa Shooshie Sulaiman
Baca juga: Museum Macan punya kurator baru
Baca juga: Jelajahi dunia Yayoi Kusama di Museum Macan

 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dubes Tiongkok terkesan nuansa heritage Hotel Tugu Malang

“Dari dekorasi bangunan, ataupun pengaturan pernak-pernik yang ada, mempunyai ciri khas yang bisa menjadi warisan budaya,”

Malang (ANTARA) – Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia, Xiao Qian, menyatakan terkesan dengan nuansa heritage atau warisan budaya yang kental, di Hotel Tugu, Kota Malang, Jawa Timur.

“Saya menginap tidak jauh dari Balai Kota Malang, di Hotel Tugu. Hotel ini sangat mengesankan,” kata Qian saat menyampaikan sambutannya di Balai Kota Malang, Jawa Timur, Rabu.

Qian menambahkan, detil dekorasi yang ada di hotel tersebut, termasuk pengaturan pernak-pernik seperti lukisan, meja, kursi, dan ornamen lainnya, memiliki ciri khas yang bisa dijadikan warisan budaya.

Hotel Tugu Malang merupakan salah satu hotel tua di Kota Malang. Terletak di pusat kota, persis di depan Alun-Alun Tugu, dan bersebelahan dengan Balai Kota Malang, hotel tersebut menyajikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung yang datang.

Hotel tersebut bagaikan museum yang memamerkan barang antik dengan tema yang sangat unik. Ada beberapa ruang dengan tema tertentu yakni Ruang Raja, Bangsal Merah, Ruang Baba, Tirta Gangga, dan Ruang Soekarno.

Koleksi yang ada di Hotel Tugu Malang tersebut, berisikan barang antik dari pendiri Tugu Group, Anhar Sejadibrata, yang merupakan kerabat dekat dari Oey Tiong Ham, seorang pengusaha gula besar asal Semarang pada zamannya.

Koleksi yang ada merupakan benda warisan keluarga Oey, yang bernuansa peranakan China-Jawa.

“Dari dekorasi bangunan, ataupun pengaturan pernak-pernik yang ada, mempunyai ciri khas yang bisa menjadi warisan budaya,” kata Qian.

Qian menambahkan, meskipun dirinya baru pertama kali menginjakkan kaki di Kota Malang, nuansa wisata ditambah kebersihan kota, dan masyarakat yang ramah, menjadikan kunjungan kerja tersebut meninggalkan kesan yang sangat mendalam.

“Walaupun saya baru saja berada di Kota Malang, saya bisa merasakan bahwa kota ini bersih, rapi, stabil, makmur, dan masyarakatnya sangat ramah, semua ini meninggalkan kesan sangat indah bagi saya,” tutup Qian.

Pewarta: Vicki Febrianto
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua fotografer Indonesia raih penghargaan HIPA

Jakarta (ANTARA) – Dua fotografer Indonesia berhasil memenangi kompetisi fotografi internasional “Hamdan International Photography Award” (HIPA) musim ke-8 2018 – 2019 yang dipromosikan oleh Pangeran Dubai Sheikh Hamdan Bin Mohammed Bin Rashid Al Maktoum, dengan mengangkat tema Harapan atau “HOPE”.

Kedua fotografer tersebut adalah Fanny Octavianus jurnalis foto sekaligus editor foto di Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, sementara fotografer lainnya yakni Muhammad Fahrur Rasyid fotografer lepas dari Makassar. Fanny terpilih sebagai pemenang pertama sedangkan Fahrur berada di posisi kedua.

Hasil karya Fanny Octavianus merekam momen tentang seorang bocah laki-laki sedang bermain di jalan dalam keadaan banjir setelah hujan deras di jalan Sabang, Jakarta Pusat pada 1 Maret 2010.

Saat dihubungi di Jakarta pada Rabu, Fanny Octavianus menceritakan momen tersebut di mana proses pengambilan gambar dilakukan pada pukul 14.00 WIB saat hujan deras melanda kawasan Jakarta.

“Setelah satu jam berlalu tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti, saya putuskan untuk pergi memotret banjir di jalan Sabang,” kata Fanny.

Sampai di lokasi, Fanny mulai mengambil gambar sekelompok bocah yang tengah bermain, dan ia pun menemukan momentum yang tepat.

“Saya mengikuti seorang anak dari belakang, dan mulai menurunkan kamera kemudian men ‘zoom-out’ lensa. Saya mengkomposisikannya berada di tengah dan menutupi sorot langit. Saya katakan ‘ini dia!’” Kata Fanny.

Terkait dengan tema Harapan pada kompetisi HIPA, Fanny mengatakan, gambar tersebut merepresentasikan semangat untuk melawan perubahan iklim demi generasi muda selanjutnya.

Dalam perjalananya di dunia jurnalis foto, pria kelahiran Purwokerto tahun 1977 ini telah memenangkan beberapa penghargaan bergengsi fotografi tingkat nasional di antaranya Foto Terbaik Anugerah Adiwarta 2010, Foto Terbaik Anugerah Adiwarta 2011, juara Anugerah Adinegoro 2013.

“Memotret bukan hanya untuk bekerja, karena yang utama dalam berfotografi adalah untuk bersuara,” kata Fanny menutup pembicaraan.
  Foto karya Muhammad Fahrur Rasyid pemenang kedua Hamdan International Photography Award (HIPA) musim ke-8 2018 – 2019 katagori “Harapan”. (ANTARA News/Official HIPA)

Kemenangan Basarnas

Sedangkan Muhammad Fahrur Rasyid berhasil merekam secara ekspresif momentum dua anggota Basarnas yang berhasil mengevakuasi warga yang terjebak di reruntuhan usai bencana likuifaksi di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah pada 30 September 2018.

“Saya berangkat dari Makassar menuju Palu bersama tim Basarnas Sulsel, sampai disana dapat laporan ada warga yang terjebak reruntuhan,” Kata Fahrur saat dihubungi.

Foto yang diambil Fahrur pada pukul 03.00 WITa menceritakan proses evakuasi seorang warga benama Nurul (15) yang terjebak selama tiga hari dua malam akibat likuifaksi oleh dua anggota Basarnas.

“Saat mengikuti proses evakuasi tersebut lelah saya hilang pas diajak evakuasi korban sama Basarnas,” kata Fahrur.

Ia mengaku tidak menyangka dapat meraih penghargaan HIPA sebab ketika meliput ia hanya berpikir tentang membantu korban melalui fotografi.

Menurut dia tugas liputan saat bencana likuifaksi sangat berharga, pasalnya selain menjalankan tugas jurnalistik dia juga merasa sedang melakukan tugas kemanusiaan.

“Karena mau bantu korban dengan uang enggak punya, saya bantu dengan mempublikasikan keadaan lewat media. Saya rasa berpikir seperti itu untuk kemanusiaan pasti bisa,” kata Fahrur.

Kompetisi HIPA ini bukan yang pertama kalinya diikuti oleh Fahrur namun selalu gagal. Ia telah mengikuti perlombaan tersebut sejak 2014. Akhirnya usaha Fahrur terbayarkan dengan meraih juara kedua dalam penyelenggaraan HIPA tahun 2018-2019.

Untuk setiap pemenang I, II, III dalam katagori Hope masing-masing mendapat hadiah US$ 25.000 (sekira Rp356 juta), US$20.000 (sekira Rp285 juta), US$15.000 (sekira Rp213 juta), sedangkan untuk Grand Prize atau Pemenang Utama berhak meraih hadiah US$ 120.000 (sekira Rp1.7 milliar lebih). Hadiah tertinggi ini diraih oleh fotografer Malaysia, Edwin Ong Wee Kee.

Penulis: Peserta Susdape XIX/Galih Pradipta

Pewarta: Peserta Susdape XIX/Galih Pradipta
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Identitas, tema diskusi penulis Indonesia di London Book Fair 2019

Jakarta (ANTARA) – Kehadiran Indonesia sebagai Market Focus Country di ajang pasar buku internasional London Book Fair 2019, diisi dengan sejumlah acara, salah satunya panel diskusi di British Library yang menghadirkan Seno Gumira Ajidarma, Dewi Lestari, dan Agustinus Wibowo, Senin (11/3) waktu setempat.

Acara diskusi dengan judul “17.000 Islands of Imagination: Indonesian Literature Today” ini dipandu oleh Louise Doughty, penulis dan kritikus dari Inggris yang telah meraih sejumlah penghargaan atas karya-karyanya.

Salah satu bahasan dalam diskusi yang berlangsung hampir dua jam itu adalah mengenai identitas.

Seno Gumira Ajidarma menilai identitas adalah definisi yang tak bisa diisolasi kecuali dalam sebuah buku paspor. Bahkan ia menilai, pertanyaan-pertanyaan akan identitas sering kali membawa persoalan pada hidup.

Sementara Agustinus menilai bahwa identitas adalah sebuah persepsi, di mana pandangan ini ia peroleh dari pertanyaan dan pencariannya akan rumah yang membawanya melakukan perjalanan ke China, Afghanistan dan negara-negara lainnya.

Sedangkan Dewi Lestari menyampaikan bahwa identitas adalah pencarian akan tujuan hidup di mana ia mendapatkan pertanyaan-pertanyaan filosofis ini yang mempengaruhi di semua karya-karyanya.

Ketiganya juga menyampaikan betapa kebudayaan yang bercampur dalam kehidupan mereka, membentuk jawaban-jawaban atas pertanyaan tentang Indonesia.

Agustinus sebagai penulis berketurunan China, mencoba mencari identitasnya hingga memutuskan tinggal di negara China selama sembilan tahun.

“Tetap saja saat di sana, sebagai pemegang paspor Indonesia, saya merasa terasing,” kata Agustinus dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Rabu.

Sementara Seno yang lahir di Amerika Serikat, merasakan kehidupan sebagai manusia berdarah Jawa kembali ke Yogyakarta.

“Kemudian saya belajar bahasa Indonesia dan di bahasa ini saya menemukan pembebasan terutama dari bahasa Jawa yang penuh tata krama,” ujar Seno.

Adapun Dewi Lestari sebagai penulis berdarah Batak, justru merasa dirinya lebih memahami bahasa dan budaya Sunda karena lahir dan dibesarkan di Bandung, Jawa Barat.

“Namun saya tumbuh dengan membaca buku-buku Barat, seperti karya-karya Enid Blyton. Dan saya rasa sejak muda saya sudah terpapar oleh globalisasi,” ujar Dewi.

Selain berdiskusi, ketiganya juga membacakan cuplikan-cuplikan karya mereka masing-masing.

Agustinus membacakan sepotong tulisannya tentang Tana Toraja, Seno membacakan cuplikan karya Saksi Mata, dan Dewi Lestari membacakan serta menyanyikan bagian novel terbarunya Aroma Karsa.

Diskusi dan pembacaan karya ini menambah pemahaman menarik bagi publik Inggris yang memadati ruang Knowledge Centre di British Library, akan keberagaman budaya di Indonesia.

Di acara yang diselenggarakan bekerja sama antara Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, British Library, dan British Council ini, Ketua Harian Panitia Pelaksana Indonesia Market Focus Country untuk London Book Fair 2019, Laura Bangun Prinsloo menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung acara ini. “Kami mengharapkan kedatangan publik Inggris di 100 lebih acara yang telah kami susun untuk London Book Fair 2019,” ujar Laura.

Sementara Kepala Bekraf Triawan Munaf yang memberikan pidato penutup, turut menyampaikan harapannya akan kesuksesan acara ini mengingat industri penebitan memiliki potensi besar di industri kreatif Indonesia.

“Industri penerbitan memberikan kontribusi cukup besar bagi GDP, di mana penerbitan menempati urutan kelima,” ujar Triawan Munaf yang kemudian memperkenalkan penulis-penulis Indonesia lainnya yang akan tampil di acara-acara selanjutnya di ajang Indonesia Market Focus Country untuk London Book Fair 2019.

Selain acara diskusi, Panitia Pelaksana Indonesia Market Focus Country untuk London Book Fair telah menyelenggarakan sejumlah acara sejak 8 Maret 2019.

Di antaranya, pelajaran bahasa Indonesia dan pertunjukan musik kecapi suling di toko buku Foyles, pameran arsitektur di ruang-ruang publik dengan tema New Ways of Reading, The Indonesian Kebaya and Dressing with Cloth oleh Didiet Maulana di Kedutaan Inggris, dan Indonesian Board Games di Draughts Board Game Café di Waterloo, London.

The London Book Fair (LBF) adalah ranah pemasaran global bagi negosiasi hak cipta yang meliputi penjualan dan distribusi konten-konten intelektual dan kreatf meliputi bidang cetak, audio, TV, film, dan jaringan-jaringan digital.

LBF 2019, yang merupakan bursa ke-48, berlangsung di Olympia London pada 12-14 Maret 2019.

Baca juga: Kepala Bekraf ingin literatur Indonesia digemari dunia

Baca juga: Sastra Indonesia di LBF 2019

Baca juga: Triawan buka Paviliun Indonesia di London Book Fair 2019

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wariskan budaya sejak dini, Museum Siwalima gelar lomba busana daerah

Kita berharap ketika anak-anak ini besar, mereka mengetahui ada nilai yang terkandung dalam pakaian daerah, memiliki rasa bangga memakai pakaian daerah, serta bentuk menanamkan jati diri sebagi anak Maluku

Ambon (ANTARA) – Museum Siwalima Ambon di Provinsi Maluku mewariskan budaya kepada anak usia dini melalui lomba peragaan busana daerah Maluku, kata Kepala Museum Siwalima Ambon, Jean Saiya.

“Lomba ini fokus untuk pakaian daerah bagi anak-anak, sebagai bentuk pewarisan budaya bagi anak-anak, agar sejak dini mengenal akan kebudayaan,” katanya di Ambon, Selasa.

Lomba peragaan busana daerah Maluku difokuskan bagi anak usia dini tingkat Taman Kanak-Kanak, dengan tujuan untuk meningkatkan kreativitas anak.

Ia mengatakan, saat ini pengaruh modernisasi berkembang dengan cepat, sehingga tidak lagi mengenal pakaian daerah terutama bagi generasi milenial.

Selain itu dalam berpakaian, katanya, tidak lagi mengikuti aturan yang berlaku dan diwariskan oleh leluhur, sehingga kegiatan ini dilakukan untuk memperkenalkan nilai budaya terutama pakaian daerah kepada anak usia dini.

“Kita berharap ketika anak-anak ini besar, mereka mengetahui ada nilai yang terkandung dalam pakaian daerah, memiliki rasa bangga memakai pakaian daerah, serta bentuk menanamkan jati diri sebagi anak Maluku,” ujarnya.

Jean menjelaskan, peserta lomba peragaan busana daerah diikuti 37 taman kanak-kanak di Kota Ambon.

“Dari 74 jumlah TK di kota Ambon yang kami kirimkan surat pemberitahuan lomba, hanya 37 sekolah yang merespon,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Maluku, Mimi Hudjadani menyatakan, peran museum sesuai Peraturan Pemerintah (PP) nomor 66 tahun 2015 tentang museum dan Undang-Undang nomor 5 tahun 2017, bukan hanya terkait koleksi benda peninggalan budaya tetapi juga pendidikan karakter.

“Museum bukan hanya tempat koleksi benda peninggalan sejarah dan kebudayaan, tetapi mempunyai peran yang bersentuhan langusng dengan pendudikan karakter,” katanya.

Museum, katanya, memliki peran penting dalam pendidikan karakter yakni mengenalkan kebudayaan dan memberikan pembekalan bagi anak usia dini.

“Pembekalan bagi anak usia dini juga tidak terlepas dari peranan guru dan orang tua, dan museum menjadi mediasi bagi pengenalan kebudayaan,” demikian Mimi Hudjadani.

Baca juga: Mendikbud: jadikan Museum Siwalima tempat menyenangkan

Baca juga: Museum Siwalima pamerkan karya lukis siswa SD

Baca juga: Museum Siwalima Maluku gelar pameran keliling

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

SATU Indonesia Awards 2019 angkat tema “Ikon Inspirasi Negeri”

Jakarta (ANTARA) – Program SATU Indonesia Awards, ajang pemberian penghargaan untuk generasi muda Indonesia yang berkontribusi positif bagi masyarakat, kembali digelar tahun ini dengan mengangkat tema “Ikon Inspirasi Negeri”.

“Tahun ini di momentum satu dasawarsa melalui partner kami, kami bisa menggaungkan ikon yang menginspirasi negeri,” kata Head of Internal Relations Department PT Astra International Tbk, Karnanda Kurniardhi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

SATU Indonesia Awards adalah program yang diselenggarakan oleh PT Astra International Tbk.

Pendaftaran untuk calon penerima apresiasi resmi dibuka Senin (11/3) hingga 31 Juli 2019. Lebih lanjut, peserta yang telah terdaftar akan disaring berdasarkan kriteria penilaian yang sudah ditentukan seperti yang tercantum dalam laman www.satu-indonesia.com.

Para dewan juri yang terlibat tahun ini adalah Dosen Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Indonesia, Prof. Dr. Emil Salim dan Guru Besar Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Prof. DR. Fasli Jalal, juga dari kalangan selebiritas Dian Sastrowardoyo.

Lalu, Menteri Kesehatan Prof. Nila Moeloek, pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan Tri Mumpuni, pakar teknologi informasi Onno W. Purbo, Head of Corporate Communications PT Astra International Boy Kelana Soebroto dan Deputy Chief of Corporate Affairs PT Astra International Riza Deliansyah.

Para juri akan melakukan penjurian pertama untuk mendapatkan 24 calon penerima apresiasi.

“Kita memang harus mencari orang-orang yang kadang tidak merasa berjasa, mereka memacu gelombang kreativitas,” kata Fasli Djalal.

Sementara itu, Boy Kelana Soebroto berkisah, 10 tahun lalu jumlah pendaftar program penghargaan itu hanya 120 orang.

“Di tahun 2010 kami mencanangkan SATU Indonesia Awards pertama kali. Dulu pendaftar hanya 120 pendaftar. Agak ragu ada enggak ya anak muda tanah air sejalan dengan ASTRA. Tahun 2011, 2014, 2018, pendaftar sampai 5.961 pendaftar,” ujarnya.

Selama sembilan tahun terakhir, penghargaan sudah diberikan kepada 245 penerima, yang terdiri dari 53 penerima apresiasi tingkat nasional dan 192 penerima tingkat provinsi. Para anak muda berprestasi itu mewakili kategori bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, teknologi dan kelompok.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kebaya dipopulerkan di London

Kebaya dipopulerkan di London

Perancang busana Didiet Maulana memperkenalkan batik tradisional kepada publik di London dalam peragaan batik di Kedutaan Besar RI di London, Senin (11/3/2019). Batik adalah materi busana yang bisa dirancang untuk segala musim dengan rancangan kebaya berbagai model.(ANTARA Foto/ Mulyo Sunyoto)

Kalteng diwakili Kotawaringin Timur di ajang “Jember Fashion Carnaval”

Kotawaringin Timur dipilih karena memang sudah mampu membuktikan kualitas. Kami melihat sendiri saat “Sampit Ethnic Carnaval” 2018 lalu

Palangka Raya (ANTARA) – Kabupaten Kotawaringin Timur diberi kepercayaan besar mewakili Provinsi Kalimantan Tengah dalam ajang peragaan busana kelas dunia yaitu Jember Fashion Carnaval di Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur pada 30 Juli hingga 4 Agustus 2019.

Kotawaringin Timur dipilih karena memang sudah mampu membuktikan kualitas. Kami melihat sendiri saat Sampit Ethnic Carnaval 2018 lalu. Acaranya sukses dan hasil kreasinya sangat berkualitas,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah, Guntur Talajan di Sampit, Minggu.

Jember Fashion Festival merupakan ajang peragaan busana tahunan dengan cat walk terpanjang mencapai 3,6 kilometer. Kegiatan itu menjadi ajang unjuk kreasi budaya anak bangsa yang dituangkan dalam balutan busana.

Acara tahunan ini sudah mendunia sehingga selalu ditunggu wisatawan asing. Kerap kali perancang busana dari luar negeri juga tidak melewatkan event yang dinilai unik karena memadukan tren busana dan budaya.

Guntur sangat yakin Kotawaringin Timur akan mampu menampilkan karya berkualitas yang tidak kalah dengan peserta dari tuan rumah dan daerah lain. Apalagi, kebudayaan Suku Dayak memiliki keunikan tersendiri sehingga sangat menarik jika dituangkan dalam kreasi busana.

“Saya sangat bangga karena saat Sampit Ethnic Carnaval 2018 lalu, perancang busana dan modelnya semua merupakan putra dan putri daerah dan karyanya sangat bagus. Karena itulah pemerintah provinsi tidak ragu memberi kepercayaan kepada Kotawaringin Timur mewakili provinsi ini di Jember Fashion Carnaval 2019,” katanya.

Guntur menyarankan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat untuk mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari agar hasilnya maksimal. Pelaku seni dan budaya perlu dilibatkan untuk menghasilkan rancangan yang kreatif, menarik, berkualitas dan memiliki makna.

Sementara itu, Bupati Kotawaringin Timur H Supian Hadi menyambut gembira kabar tersebut. Dia menyebut ini sebagai kepercayaan dan amanah luar biasa bagi Kotawaringin Timur.

“Kami nyatakan, kami siap mewakili Kalimantan Tengah pada Jember Fashion Carnaval nanti. Kami segera mempersiapkan diri agar karya yang ditampilkan nanti mampu bersaing sehingga bisa mengharumkan nama Kalimantan Tengah,” katanya.

Menurut Supian, keikutsertaan pada Jember Fashion Carnaval bukan sekadar meramaikan acara. Ini menjadi kesempatan besar mengenalkan kebudayaan dan karya putra dan putri Kalimantan Tengah di event berkelas dunia.

Event ini juga menjadi momen bagi Kotawaringin Timur dan Kalimantan Tengah untuk mempromosikan potensi sumber daya alam dan pariwisata daerah. Pemerintah daerah akan memanfaatkan kesempatan ini dengan maksimal.

Baca juga: Pawai kemerdekaan jadi sarana harmonisasi masyarakat Kotim

Baca juga: Warga antusias siapkan kostum `Sampit Ethnic Carnival`

Pewarta: Rendhik Andika/Norjani
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival Budaya Desa Adat Kuta 2019 wujud komitmen menjaga adat-istiadat

Festival budaya ini merupakan ajang yang membuktikan bahwa masyarakat Kuta masih teguh dengan adat istiadatnya

Badung (ANTARA) – Desa adat Kuta, Badung, Bali, menyelenggarakan Festival Budaya Desa Adat Kuta 2019 sebagai wujud komitmen untuk tetap menjaga adat istiadat di tengah gempuran budaya modern.

“Festival budaya ini merupakan ajang yang membuktikan bahwa masyarakat Kuta masih teguh dengan adat istiadatnya dan sejalan dengan komitmen Pemkab Badung untuk melestarikan, adat, seni, budaya dan tradisi,” kata Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa, dalam pernyataan Humas Pemkab Badung yang diterima di Badung, Minggu.

Dalam penutupan kegiatan tersebut, kegiatan Festival Budaya Desa Adat Kuta 2019 dirangkaikan dengan puncak pemilihan Jegeg Bungan Desa (JBD) Kuta 2019 yang akan menjadi duta desa adat Kuta selama tahun 2019.

Sebelumnya, para peserta yang berasal dari 13 banjar di wilayah desa adat Kuta tersebut telah mengikuti sejumlah tahapan seleksi dari rangkaian festival bertema ”Kriya Wikrama Shantikara” atau artinya bekerja dan bekerja untuk mencapai kedamaian itu.

Pada malam puncak pemilihan Jegeg Bungan Desa Kuta 2019 tersebut, Ni Kadek Alisia Finlandia Daraputri perwakilan dari Banjar Anyar Kuta, berhasil menyisihkan peserta JBD dari 12 banjar lain adat di Kuta untuk menjadi Jegeg Bungan Desa Kuta 2019.

Sedangkan posisi “runner up” pertama diraih oleh Ni Nyoman Ayuning Pringgondani dari Banjar Pengabetan Kuta dan posisi “runner up” kedua diraih Wayan Windy Indah Sari dari Banjar Segara Kuta.

Bendesa Adat Kuta I Wayan Wastita mengatakan, selain pemilihan Jegeg Bungan Desa, rangkaian Festival Budaya Desa Adat Kuta selain parade Ogoh-Ogoh saat sehari sebelum Hari Raya Nyepi, juga digelar setelah Pasar Majelangu yang diselenggarakan sehari setalah Hari Raya Nyepi.

“Pasar Majelangu ini merupakan tempat berkumpul masyarakat desa yang dipusatkan di Pantai Kuta. Dalam Pasar Majelangu ini terdapat penjual makanan, minuman dan pakaian,” katanya.

Baca juga: Festival ogoh-ogoh dikerubuti ribuan orang

Baca juga: Kemacetan Kuta keluhan serius wisatawan

Pewarta: Naufal Fikri Yusuf
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tradisi pengantin sunat

Sejumlah anak pengantin sunat diarak menggunakan ‘sisingaan’ di jalan Curug-Kosambi, Karawang, Jawa Barat, Minggu (10/3/2019). Tradisi itu diadakan untuk merayakan pesta sunatan dan melestarikan khasanah budaya Nusantara. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/foc. 

“Cinta Tak Pernah Sederhana” akan berbeda dari deklamasi biasa

Jakarta (ANTARA) – Puisi – puisi cinta yang ditulis oleh para penyair Indonesia, mulai dari Chairil Anwar, Subagio Sastrowardoyo, WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, Wiji Thukul, Acep Zamzam Noor hingga Joko Pinurbo, akan dihidupkan dalam konser musikal “Cinta Tak Pernah Sederhana”.

Konser yang diselenggarakan oleh PT Balai Pustaka (Persero) bekerja sama dengan Titimangsa Foundation akan berlangsung pada 16 dan 17 Maret 2019 mendatang di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Happy Salma, pendiri Titimangsa Foundation, mengatakan pertunjukan itu akan berbeda dari deklamasi atau pembacaan puisi biasa.

“Dua tahun lalu saya membayangkan suatu kemungkinan pemanggungan puisi-puisi cinta karya para penyair Indonesia. Pentas yang berbeda dengan pembacaan puisi atau deklamasi,” kata Happy dalam keterangan pers, Sabtu.

Happy melanjutkan, “Dalam obrolan bersama Agus Noor, saya menyampaikan kemungkinan itu. Ia menyambut dan mengembangkannya ke dalam suatu konsep pertunjukan yang tidak terduga.”

Balai Pustaka menyambut baik adanya pementasan ini agar karya sastra klasik dan modern semakin dikenal masyarakat.

“Melalui pementasan ini, harapannya masyarakat Indonesia menjadi lebih mencintai karya-karya sastra Indonesia yang berperan dalam membangun karakter bangsa yang cerdas dan berbudaya,” kata Achmad Fachrodji, Direktur Utama PT. Balai Pustaka (Persero).

Sebanyak 25 puisi cinta akan dihadirkan ke panggung sebagai suatu alur kisah dalam percakapan dan nyanyian.

Para aktor yang terlibat ditantang untuk mengucapkan puisi secara wajar, sebagaimana mengucapkan dialog pada umumnya.

Drama musikal ini menggaet aktor terbaik Indonesia seperti Reza Rahadian, Marsha Timothy, Chelsea Islan, Atiqah Hasiholan, Sita Nursanti, Teuku Rifnu Wikana dan Butet Kartaredjasa serta aktor teater kawakan Wawan Sofwan dan Iswadi Pratama.

Tak hanya itu, penyanyi yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam genre nyanyian masing-masing juga terlibat, di antaranya Daniel Christianto, Sruti Respati, Heny Janawati, dan pemain harpa Maya Hasan.

Pementasan konser musikal ini merupakan kolaborasi antara Agus Noor sebagai sutradara dan penulis naskah, Happy Salma sebagai produser, Bintang Indrianto sebagai penata musik, Iskandar Loedin sebagai penata artistik, Josh Marcy sebagai koreografer, Aktris Handradjasa sebagai penata rias dan Hagai Pakan sebagai penata kostum.

Pemain dalam pementasan ini akan mengenakan busana yang khusus dibuat oleh designer Biyan dan menggunakan kain tenun Baron.

Baca juga: “Bunga Penutup Abad” pembuktian Marsha Timothy sebagai Nyai Ontosoroh

Baca juga: Tiara di pernikahan Maia Estianty buatan Happy Salma

Baca juga: Happy Salma PP Jakarta-Bali demi anak

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Barbie rayakan ulang tahun ke-60, hadirkan koleksi mutakhir

Jakarta (ANTARA) – Barbie, boneka fashion terpopuler di dunia, merayakan ulang tahun ke-60, Sabtu, dengan menampilkan koleksi baru sebagai penghormatan untuk para perempuan inspiratif dan profesi di mana perempuan kurang terwakili.

Dilansir Reuters, Sabtu, ini adalah bagian dari evolusi Barbie selama beberapa dekade sejak debut di New York Toy Fair pada 9 Maret 1959.

Untuk merayakan ulang tahun ini, Mattel yang memproduksi Barbie menciptakan 20 versi baru yang dibuat dari perempuan inspiratif, mulai dar petenis Jepang Naomi Osaka hingga model dan aktivis Inggris Adwoa Aboah.

Mattel juga mengeluarkan enam koleksi baru di mana Barbie berprofesi sebagai astronot, pilot, atlet, jurnalis, politisi dan pemadam kebakaran, semua bidang di mana perempuan kurang terwakili.

Barbie dibuat oleh Ruth Handler yang terinspirasi dari nama putrinya.

Boneka Barbie sudah memiliki banyak koleksi dengan lebih dari 200 karir, mulai dari dokter bedah hingga pengembang video game sejak debut di mana boneka itu mengenakan baju renang garis-garis hitam putih.

Setelah menuai kritikan bahwa bentuk tubuh Barbie memberikan citra tidak realistis untuk anak-anak perempuan, Mattel menghadirkan variasi baru, mulai dari warna kulit, bentuk tubuh, hingga ada juga boneka berkerudung dan dilengkapi peralatan sains agar boneka itu bisa lebih memberi edukasi.

Baca juga: Barbie luncurkan boneka berkerudung pertama

Baca juga: Margot Robbie bakal bintangi “Barbie”

Baca juga: Barbie luncurkan 17 boneka tokoh perempuan menginspirasi

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pementasan teater wayang Tavip

Para penonton dari murid SMK di Jakarta meninjau di panggung, usai pementasan Wayang Tavip, berjudul Beringin Setan, naskah dan dalang oleh Budi Ros, di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, Jumat (8/3/2019). Pementasan “Beringin Setan” merupakan pertunjukan yang ke 6 sejak tahun lalu di beberapa tempat, yang menceritakan lakon penebangan sebuah pohon beringin yang membuat heboh sebuah kampung. ANTARA FOTO/Dodo Karundeng/hp.

Warga gelar tradisi Mbed-Mbedan usai Hari Raya Nyepi

Warga saling tarik dalam tradisi Mbed-Mbedan atau tarik tambang tradisional di Desa Semate, Badung, Bali, Jumat (8/3/2019). Tradisi yang digelar pada hari Ngembak Geni atau sehari setelah Hari Raya Nyepi tersebut untuk memohon keharmonisan dan mengembalikan kebersamaan antar warga desa setempat. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/wsj.

Hello Kitty akan debut di Hollywood

Jakarta (ANTARA) – Untuk pertama kalinya dalam sejarah 45 tahuh sejak Hello Kitty muncul, karakter kucing paling dicintai sedunia itu akan debut di Hollywood.

Dilansir Kyodo, Warner Bros. Entertainment dan Sanrio mengatakan Hello Kitty akan debut di film yang diproduksi FlynnPictureCo dari Beau Flynn. Rincian tentang film tersebut, apakah dalam bentuk animasi atau live-action, serta kapan penayangannya, masih dirahasiakan.

“Hello Kitty sudah lama jadi simbol persahabatan dan kami berharap film ini akan memperluas lingkup persahabatan di dunia,” kata Shintaro Tsuji, pendiri, presiden dan CEO Sanrio.

Kerjasama antara Warner dan Sanrio ini terjalin setelah Flynn dan New Line Cinema, unit Warner Bros yang memproduksi trilogi The Lord of the Rings, selama lima tahun meminta izin untuk hak cipta atas ikon budaya populer Jepang itu.

“Hello Kitty dan teman-temannya telah jadi bagian dari budaya kami selama beberapa dekade, dan kami tak sabar mengeksplorasi ke mana dia akan berpetualang,” kata presiden New Line Cinema Richard Brener dan Carolyn Blackwood dalam pernyataan bersama.

Karakter populer Sanrio lainnya yang termasuk dalam kerjasama itu adalah Gudetama, si kuning telur pemalas dan melankolis, My Melody, gadis kelinci dengan penutup telinga pink atau merah yang ikonik, juga Little Twin Star, pasangan saudara serupa malaikat.

Hello Kitty debut pada 1974 dan punya penggemar di penjuru dunia dari berbagai generasi. Karakter itu bisa ditemui di 50.000 produk berbeda di 130 negara. Kucing dengan pita merah di kuping kirinya sudah membintangi film dan animasi Jepang, Hello Kitty juga punya serial animasi televisi buatan perusahaan AS, tapi belum pernah hadir di layar lebar global.

Dikutip dari Sanrio, Hello Kitty lahir di pinggiran kota London. Dia tinggal bersama orangtua dan saudari kembar sekaligus sahabatnya, Mimmy.

Hello Kitty punya hobi memanggang kue dan mendapatkan teman baru. Hello Kitty yang tingginya sama seperti lima buah apel itu selalu berkata, “tidak ada namanya punya terlalu banyak teman!”.

Baca juga: Hello Kitty akan melaju bersama kereta peluru Jepang

Baca juga: ANTAM jual emas “Hello Kitty” ke Jepang

Baca juga: Hello Kitty dibawa ke layar lebar

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gebyar Kebudayaan-Pariwisata Yogyakarta sasar delapan kota di China

Sekitar 14.000 wisatawan berhasil didatangkan ke Bali selama 2018 oleh agen pariwisata yang berkantor di Ibu Kota Provinsi Liaoning

Beijing (ANTARA) – Gebyar Kebudayaan dan Pariwisata Yogyakarta menyasar delapan kota besar di China selama bulan Maret 2019.

“Ini bagian dari promosi pariwisata Yogyakarta sebagai 10 destinasi wisata baru yang diprogramkan pemerintah,” kata Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun di Beijing, Kamis.

Pentas kebudayaan untuk mempromosikan pariwisata Yogyakarta itu dimulai di Shenyang, Provinsi Liaoning, Rabu (6/3).

Dilanjutkan di Jinan (Provinsi Shandong) pada Jumat (8/3), Zhengzhou (Provinsi Henan) pada Senin (11/03), Xi’an (Provinsi Shaanxi) pada Rabu (13/03), Taiyuan (Provinsi Shanxi) pada Jumat (15/03), Nanchang (Provinsi Jiangxi) pada Senin (18/03), Nanjing (Provinsi Jiangsu) pada Jumat (22/03), dan Guangzhou (Provinsi Guangdong) pada Rabu (27/03).

Menurut Dubes, sekitar 500 agen perjalanan wisata di Kota Shenyang turut menyaksikan sendratari dan paparan keindahan pariwisata Yogyakarta dalam acara tersebut.

Sekitar 14.000 wisatawan berhasil didatangkan ke Bali selama 2018 oleh agen pariwisata yang berkantor di Ibu Kota Provinsi Liaoning itu.

“Sampai bulan Maret 2019, jumlah wisatawan yang mengunjungi Indonesia dari daerah itu sudah mencapai 900 orang,” kata Dubes Djauhari.

Promosi pariwisata dalam bentuk pentas seni itu digelar oleh agen perjalanan pariwisata milik pengusaha asal Indonesia yang berkantor pusat di Guilin, Provinsi Guangxi.

Kegiatan tersebut didukung oleh Kedutaan Besar RI di Beijing, Konsul Jenderal RI di Guangzhou, dan Kementerian Pariwisata RI.

Baca juga: Panitia pemilu Guangzhou gunakan kotak suara keliling

Baca juga: Imigrasi KBRI Beijing menjangkau China tengah

Baca juga: Perusahaan onderdil Indonesia-China ekspor ke Amerika Serikat

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Karma, tema Ubud Writers & Readers Festival 2019

Jakarta (ANTARA) – “Karma” menjadi tema dari Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) ke-16 yang akan diselenggarakan pada tanggal 23–27 Oktober mendatang

Mulai dari penulis, seniman, pegiat, sutradara, cendekiawan dari seluruh dunia akan berkumpul di Ubud untuk berbagi cerita dan gagasan yang mengeksplorasi tema tahun yang terinspirasi dari filosofi Hindu, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Bagi masyarakat dunia karma sering diartikan sebagai hukum sebab akibat, sementara bagi orang Hindu Bali, Karma Phala adalah konsep spiritual yang menyatakan bahwa setiap tindakan akan memicu konsekuensi yang setara dalam kekuatan dan bentuk yang serupa.

“Karena tindakan dalam kehidupan mereka sebelumnya mempengaruhi masa kini, dan perbuatan yang dilakukan di masa kini akan mempengaruhi masa depan mereka. Orang Hindu Bali menyadari bahwa nasib ada di tangan mereka sendiri,” jelas Founder & Director UWRF Janet DeNeefe dalam siaran pers, Kamis.

Festival yang akan dilangsungkan selama lima hari berturut-turut ini akan mengupas dampak dari tindakan pribadi dan kolektif manusia pada lingkungan sosial.

Diskusi menarik yang dibawakan oleh sosok-sosok sastra, cendekiawan, hingga penulis emerging pun akan menyemarakkan Festival.

Bersamaan dengan pengumuman tema 2019, UWRF juga meluncurkan karya seni untuk tahun ke-16, yang telah diciptakan oleh seniman visual komunitas Samuel Indratma, salah satu pendiri dari seni publik kolektif Yogyakarta yang ternama, Apotik Komik.

“Selain menerjemahkan semangat Ubud Writers & Readers Festival, saya juga mencoba menerjemahkan seperti apa karma itu sendiri. Apakah manusia mengubah wajah mereka? Apakah manusia mengubah bentuk mereka? Inilah mengapa saya memilih simbol topeng. Saya membayangkan karma sebagai siklus manusia yang terus berputar, kemudian kembali lagi,” tutur Samuel.

Baca juga: Beberapa pengamat asing bicara tentang Indonesia kini

Baca juga: Intip secuplik daftar pembicara Ubud Writers & Readers Festival 2018

Baca juga: N.H. Dini, legenda sastra yang terus berkarya

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Walau hujan lebat, turis tumpah lihat ogoh-ogoh di Ubud

Gianyar, Bali (ANTARA) – Walau hujan lebat mulai Rabu siang hingga sore hari, namun hal itu tidak menyurutkan para turis asing dan domestik untuk melihat parade ogoh-ogoh di Ubud, kabupaten Gianyar.

Para turis mulai berdatangan sejak pukul 4 sore. Dengan menggunakan jas hujan, mereka berdatangan dan berdiri di pedestrian di jalan Ubud Raya dan jalan Monkey Forest, kata salah seorang polisi yang mengamankan arak-arakan ogoh-ogoh.

Ogoh-ogoh adalah simbol dari setan yang diwujudkan dalam berbagai bentuk rupa yang menyeramkan. Kemudian diarak-arak keliling oleh masyarakat Hindu Bali kemudian dibakar.

“Ogoh-ogoh ini bagian dari kegiatan ritual hari raya Nyepi yang jatuh Kamis, 7 Maret 2019,” kata kepala dinas pariwisata Gianyar Anak Agung Ari Brahmanta.

Para turis ada yang berjalan dari berbagai hotel dan penginapan. Banyak juga yang mengendarai sepeda motor.

Sejak sore, jalan-jalan utama di Ubud lengang. Hanya motor yang boleh lewat karena dikosongkan untuk kelancaran arak-arakan masyarakat menggotong ogoh-ogoh. Baik pemuda, remaja, bahkan anak-anak berpartisipasi menggotong ogoh-ogoh.

Richard, seorang warga Amerika, bersama istri dan anaknya menyaksikan ogoh-ogoh.

“Sangat kreatif pembuatan ogoh-ogoh. Ada ogoh-ogoh bercampur tubuh manusia dengan babi, ada yang perpaduan antara manusia dengan gajah, dan ada juga perpaduan antara manusia dengan ikan hiu. Sangat menarik dan membuat anak-anak saya senang,” katanya.

Ia menonton arak-arakan ogoh-ogoh sampil menyeruput kopi dan teh di sebuah kafe di Ubud.

Turis asal Denmark, Christin bersama teman-temannya tampak sibuk mengambil foto dan berfoto dengan latar belakang ogoh-ogoh.

“Kami datang ke Bali memang mau melihat kegiatan ritual yang dilakukan setahun sekali ini. Jadi walau hujan, kami tetap keluar dan berjalan menyaksikan acara ini,” katanya.

Karena hujan, ogoh-ogoh di Ubud yang biasanya berkumpul di lapangan sepak bola Ubud, tapi karena becek akhirnya ogoh-ogoh diparkir di tengah jalan. Ada yang di jalan Ubud Raya dan jalan Monkey Forest.

Beberapa pedagang diantaranya jualan bakso, sate dan jagung bakar, yang sudah berkumpul di lapangan terkena imbasnya penjualan menurun.

“Akibat hujan pembeli juga menurun dibandingkan tahun lalu. Begitu juga ogoh-ogoh yang kumpul di lapangan lebih sedikit dibandingkan tahun lalu,” kata Kadek, salah seorang penjual jagung rebus dan jagung bakar di Ubud.

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pawai ogoh-ogoh di Kupang diikuti berbagai keyakinan berbeda

Kupang (ANTARA) – Pawai ogoh-ogoh dalam rangkaian perayaan hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941 yang digelar umat Hindu di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu petang diikuti umat dari berbagai keyakinan di daerah ini.

Pawai ogoh-ogoh yang berlangsung di ibu kota provinsi NTT ini tampak semarak karena diikuti juga oleh kelompok etnis Tionghoa dengan mengelar Barong Sai serta kelompok etnis Jawa Timur dengan menampilkan seni budaya Reog Ponorogo.

Ratusan umat hindu serta warga Kota Kupang dari berbagai etnis dan beragam keyakinan sudah berkumpul di kawasan bundaran Patung Tirosa yang berada sebelah barat jembatan Liliba sejak pukul 14.00 Wita.

Ketua Parisada Hindu Dharma, Kota Kupang, Wayan Wire mengatakan, pawai ogoh-ogoh yang berlangsung di Kota Kupang bergerak dari kawasan bundaran patung Tirosa menyusuri jalan Frans Seda-Patung Kirap dan berakhir di kawasan jembatan Liliba untuk menggelar ritual penyucian (Buana Agung) sebagai simbol membakar berbagai bentuk kehajatan.

Ia mengatakan ada enam ogoh-ogoh yang ditampilkan dalam pawai menjelang perayaan hari Raya Nyepi di Kota Kupang.

“Kegiatan pawai ogoh-ogoh tahun 2019 untuk pertama kali digelar di lokasi yang memiliki perempatan jalan seperti dalam kepercayaan umat Hindu, sehingga kami sangat bersyukur atas dukungan pemerintah Kota Kupang yang telah memberikan kesempatan bagi umat Hindu untuk menggelar kegiatan ini yang berlangsung di kawasan bundaran Tirosa,” kata Wayan. 

Baca juga: Umat Hindu di Kupang gelar pawai ogoh-ogoh
Baca juga: Satpol PP Mataram siap amankan pawai ogoh-ogoh

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Umat Hindu di Kupang gelar pawai ogoh-ogoh

Kupang (ANTARA) – Ratusan umat Hindu di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu menggelar pawai ogoh-ogoh, untuk menyonsong Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941.

Dalam pawai yang dimulai dari Bundaran PU itu, umat Hindu membawa serta sembilan patung ogoh-ogoh, terdiri dari tiga berukuran besar, empat berukuran sedang dan sisanya berukuran kecil yang dipandu anak-anak.

Ogoh-ogoh merupakan karya seni patung manusia dengan wajah yang menyeramkan.

Wajah patung yang menyeramkan itu, merupakan simbol dari sifat-sifat buruk manusia. Usai dipawai Ogoh-ogoh tersebut akan dibakar sebagai tanda penyucian diri.

Pawai ogoh-ogoh yang dimulai dari dari Bundaran PU itu, melalui Jalan Frans Seda menuju Patung Kirab, Taman Nostalgia lalu kembali ke Bundaran PU untuk melakukan upacara pencaruan.

Pawai tersebut dilepas Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Koreh.
***3***
 

Pewarta:
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ribuan orang di Kolaka Timur Pawai Ogoh-Ogoh

163 Views

ANTARA-Ribuan pemeluk Hindu di  Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, menggelar pawai ogoh–ogoh, di Lapangan Loea, Kecamatan Loea, Kabupaten Kolaka Timur, Senin 4 Maret, dalam rangka menghadapi Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Caka 1941.

Jelang nyepi ribuan orang gelar prosesi Melasti

303 Views

ANTARA-Ribuan pemeluk Hindu, Selasa, menggelar upacara melasti di Pantai Petitenget, kabupaten Badung, Bali. Melasti adalah ritual pembersihan segala simbol suci keagamaan dan wilayah desa pekraman adat serangkaian dengan Hari Raya Nyepi.

Festival “Khanduri Laot” diharapkan tingkatkan kunjungan wisatawan

Sabang (ANTARA) – Pemerintah Kota (Pemkot) Sabang, Provinsi Aceh optimistis Festival Khanduri Laot atau kenduri laut yang akan berlangsung dari  30 Maret hingga 1 April 2019 akan berdampak pada kunjungan wisatawan ke daerah tersebut.

“Kita yakin, festival khanduri laot akan berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan,” kata Wali Kota Sabang, Nazaruddin saat berbincang dengan Kepala Biro Perum LKBN ANTARA Biro Aceh, Azhari di Sabang, Senin.

Menurut Nazaruddin, pihaknya  menetapkan Festival Khanduri Laot sebagai ajang tahunan memang untuk meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara ke Sabang.

“Jika kunjungan wisatawan meningkatkan maka ekonomi masyarakat pun akan tumbuh,” ujar politisi Partai Aceh yang lebih familiar disapa Tgk Agam itu.

Acara kenduri laut  yang mengangkat tema “Dari Sabang Untuk Indonesia”  tersebut akan menampilkan sejumlah atraksi seni budaya masyarakat pesisir kepulauan di antaranya, atraksi adat melaut, lomba masak kuah beulagoeng, dan lomba kayuh perahu naga.

Kemudian, pentas pesona budaya, khanduri untuk aulia 44 dan anak yatim, dialog budaya dan silaturahmi Panglima Laot se-Aceh,  dan pameran produk kreativitas daerah pesisir.

“Rangkaian itu semua diharapkan dapat menarik minat kunjungan wisatawan ke Sabang. Karena selain menikmati pesona bahari, para wistawan juga disuguhkan penampilan budaya masyarakat pesisir,” terangnya.

Pada kesempatan itu, ia juga berharap Perum LKBN ANTARA mendukung serta mempromosikan potensi industri pariwisata kepulauan paling barat Indonesia demi meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.  

Baca juga: 3 provinsi ikut festival “Khanduri Laot” di Sabang
 Baca juga: Sabang siapkan lahan untuk bangun bandara internasional

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kain jumputan 1,1 km disiapkan pecahkan rekor Muri

Palembang (ANTARA) – Direktorat Lalu Lintas Polda Sumatera Selatan menyiapkan kain jumputan 500 motif sepanjang 1,1 kilometer untuk memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) pada festival keselamatan berkendara kalangan milenial “South Sumatra Millenial Road Safety Festival” pada 9 Maret 2019.

“Kain khas kerajinan warga Palembang saat ini sudah siap dikerjakan oleh puluhan pengerajin dan akan dibentangkan menutupi jembatan Ampera ketika festival tersebut berlangsung,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Sumsel, Kombes Pol Dwie Asmoro di Palembang, Senin.

Melalui pemecahan rekor Muri tersebut diharapkan festival keselamatan berkendara yang menyasar kalangan anak muda/milenial mendapat perhatian masyarakat luas baik di dalam negeri maupun luar negeri karena masalah kecelakaan lalu lintas dengan korban sebagian besar kalangan milenial menjadi masalah dunia.

Dia menjelaskan, setiap tahun secara nasional terdapat 100 ribu korban kecelakaan lalu lintas dari jumlah itu sekitar 30 ribu di antaranya meninggal dunia dan 70 persen korbannya adalah kalangan milenial.

Sementara berdasarkan data PBB melalui WHO tercatat satu juta korban kecelakaan lalu lintas di dunia setiap tahunnya yang sebagian besar korbannya anak muda.

Melihat fakta tersebut, kasus kecelakaan lalu lintas dijadikan WHO sebagai pembunuh nomor lima di dunia dan menjadi perhatian untuk ditanggulangi secara bersama, katanya.

Melihat tingginya angka kasus dan korban kecelakaan lalu lintas yang menjadi permasalahan dunia, pihaknya berupaya menurunkan angka kasus kecelakaan lalu lintas dan meminimalkan jumlah korbannya, melalui berbagai kegiatan/gerakan sosial dan penegakan hukum, kata Dirlantas.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Palembang, Isnaini Madani menyatakan pihaknya mendukung kegiatan festival keselamatan berkendara dengan memanfaatkan kain jumputan untuk memecahkan rekor Muri.

Kegiatan pemecahan rekor Muri dengan membentangkan kain jumputan dari pangkal jembatan Ampera, Jalan Jenderal Sudirman hingga atas jembatan ikon Kota Palembang itu perlu didukung karena dapat mempromosikan potensi pariwisata di Bumi Srwijaya ini.

Dengan adanya pemecahan rekor Muri, kain jumputan khas Palembang dapat menarik perhatian masyarakat secara nasional maupun internasional.

Besarnya perhatian masyarakat kepada kota ini diharapkan dapat menjadikan Palembang lebih terkenal dan mendorong wisatawan nusantara dan mancanegara tertarik berkunjung menikmati berbagai objek wisata alam dan budaya, serta membeli cendera mata baik berupa makanan maupun kerajinan khas daerah seperti kain songket dan jumputan, kata Kadis Pariwisata.

Baca juga: Kain jumputan khas Palembang akan pecahkan rekor Muri

Baca juga: Kain jumputan Palembang dipamerkan di “Indonesian Fashion Week”
 

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gelaran Pawai Ogoh-Ogoh di Yogyakarta

ANTARA-Menjelang perayaan Nyepi, umat Hindu di Yogyakarta menggelar pawai budaya ogoh-ogoh di kawasan malioboro pada Sabtu sore lalu. Selain untuk menyambut Nyepi, pawai ogoh-ogoh digelar untuk melestarikan budaya, menghibur masyarakat, dan menjadi kegiatan untuk menarik wisatawan.

Pementasan teater karya Putu Wijaya

Seniman yang tergabung dalam Kelompok Teater Mandiri mementaskan lakon teatrikal karya Putu Wijaya di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (2/3/2019) malam. Sejumlah judul teater karya Putu Wijaya ditampilkan pada acara tersebut sebagai edukasi bagi generasi milenial untuk mampu melahirkan karya dan kreativitas. ANTARA FOTO/Novrian Arbi/foc.

Puisi romantis penyair Indonesia di musikal “Cinta Tak Pernah Sederhana”

Jakarta (ANTARA) – Konser musikal puisi-puisi cinta bertajuk “Cinta Tak Pernah Sederhana” akan diselenggarakan pada tanggal 16 dan 17 Maret 2019 mendatang di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

PT Balai Pustaka (Persero) bekerja sama dengan Titimangsa Foundation akan menghadirkan sajian yang menampilkan puisi – puisi cinta yang ditulis oleh para penyair Indonesia, mulai dari Chairil Anwar, Subagio Sastrowardoyo, WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, Wiji Thukul, Acep Zamzam Noor hingga Joko Pinurbo.

“Semoga lewat drama musikal yang kami sajikan dalam pertunjukan ini mampu menghadirkan alternatif tontonan yang bukan hanya menghibur tetapi juga diharapkan mampu menjadi pemicu untuk penikmat puisi untuk menggali lebih dalam mengenai karya sastra yang diangkat serta memberi ruang yang baik bagi penonton, karena pada akhirnya penonton pulalah yang menjadi bagian dari pertunjukan ini,” ujar Happy Salma, Founder Titimangsa Foundation, dalam keterangan pers, Minggu.

Baca juga: Drama musikal “Jejak Kirana Nusantara” pukau penonton

Drama musikal ini menggaet aktor terbaik Indonesia seperti Reza Rahadian, Marsha Timothy, Chelsea Islan, Atiqah Hasiholan, Sita Nursanti, Teuku Rifnu Wikana dan Butet Kartaredjasa serta aktor teater kawakan Wawan Sofwan dan Iswadi Pratama.

Tak hanya itu, penyanyi yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam genre nyanyian masing-masing juga terlibat, di antaranya Daniel Christianto, Sruti Respati, Heny Janawati, dan pemain harpa Maya Hasan.

Pementasan konser musikal ini merupakan kolaborasi antara Agus Noor sebagai sutradara dan penulis naskah, Happy Salma sebagai produser, Bintang Indrianto sebagai penata musik, Iskandar Loedin sebagai penata artistik, Josh Marcy sebagai koreografer, Aktris Handradjasa sebagai penata rias dan Hagai Pakan sebagai penata kostum.

Pemain dalam pementasan ini akan mengenakan busana yang khusus dibuat oleh designer Biyan dan menggunakan kain tenun Baron.

Tiket konser terbagi dalam 5 kelas dengan harga mulai dari Rp250.000 hingga Rp1,5 juta.

Baca juga: Drama musikal “Dongeng Pohon Impian” akan meriahkan Hari Ibu

Baca juga: Edward Akbar cuma latihan seminggu untuk drama musikal

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pameran Jelajah Seni Rupa Nusantara

Pengunjung melintas di depan karya instalasi pada pembukaan Pameran Jelajah Seni Rupa Nusantara, di Galeri Cipta II, Jakarta, Sabtu (2/3/2019). Pameran itu menampilkan karya dari 23 perupa pengajar perguruan tinggi di Jakarta dan Jawa Barat, dengan sinopsis pengenalan kembali identitas kebudayaan dan kesenian yang diwariskan oleh nenek moyang Indonesia, dan berlangsung 3-15 Maret 2019. ANTARA FOTO/Risky Andrianto/foc.

Yogyakarta sepakati data tunggal bangunan cagar budaya

Yogyakarta (ANTARA) – Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta sudah menyusun kesepakatan dengan beberapa pihak, terkait data tunggal untuk bangunan cagar budaya (BCB) dan bangunan warisan budaya (BWB) yang ada di kota tersebut.

“Data yang digunakan untuk BCB dan BWB sudah tunggal. Sudah ada kesepakatan dengan Dinas Kebudayaan DIY dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Eko Suryo Maharsono di Yogyakarta, Minggu.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, total jumlah BCB dan BWB yang ada di Kota Yogyakarta tercatat sebanyak 289 bangunan yang kini dimanfaatkan untuk beragam fungsi. Data tersebut juga akan dicatatkan dalam register Kota Yogyakarta dan bisa diakses umum.

Menurut Eko, kesepakatan terkait data tunggal BCB dan BWB tersebut akan memberikan keuntungan kepada masyarakat karena adanya kepastian terkait status sebuah bangunan kuno yaitu masuk sebagai cagar budaya, warisan budaya atau tidak masuk dalam kedua kategori tersebut.

Data terkait  BCB dan BWB di Kota Yogyakarta tersebut akan diserahkan ke tiap kecamatan. Data tidak hanya menyebutkan lokasi atau alamat bangunan saja tetapi juga dilengkapi dengan detail bangunan.

“Karena bisa saja yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya atau warisan budaya dari sebuah bangunan hanya bagian depan saja, sedangkan bagian rumah yang lain tidak masuk dalam kategori cagar budaya atau warisan budaya karena merupakan bangunan baru. Ada detail yang jelas tentang deliniasinya,” katanya.

Kepastian terkait data BCB dan BWB tersebut juga bisa menjadi dasar bagi masyarakat saat akan melakukan renovasi atau pengembangan bangunan sehingga tidak menyalahi aturan yang berlaku. Setiap renovasi bangunan cagar budaya atau warisan budaya perlu menyertakan rekomendasi dari tim ahli cagar budaya.

“Atau saat pemilik bangunan akan menjual bangunannya. Mereka akan memperoleh kepastian harga sehingga tidak dirugikan,” ujar Eko.

Guna memberikan kepastian terhadap status bangunan kuno, baik cagar budaya maupun warisan budaya, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta juga akan memberikan penanda terhadap bangunan tersebut.

“Ada yang sudah diberi tanda, tetapi ada juga yang belum. Kami akan melanjutkan lagi pada 2019,”kata Eko.

BWB ditetapkan berdasarkan keputusan Wali Kota, sedangkan BCB ditetapkan oleh Gubernur atau dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Jumlah bangunan warisan budaya di Kota Yogyakarta dimungkinkan akan terus bertambah karena kajian terhadap bangunan-bangunan kuno terus dilakukan. Diperkirakan hingga akhir 2019 akan bertambah menjadi 200 bangunan.

Baca juga: Yogyakarta masukkan 289 cagar budaya dalam register daerah
Baca juga: Drainase kawasan cagar budaya Malioboro direvitalisasi tahun depan

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Calon sineas Indonesia-Jepang saling bertukar ilmu

Jakarta (ANTARA) – The Japan Foundation Asia Center kembali mengadakan program “…and Action! Asia” yang melibatkan calon-calon sineas berbakat di Jepang dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Ini adalah program pertukaran ilmu dan kolaborasi dalam menciptakan sebuah karya film berlatar Asia, yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman serta melahirkan sineas-sineas muda berbakat dan mampu berkarya di dunia internasional. Program dimulai pada 2 hingga 13 Maret 2019.

Japan Foundation dalam keterangan resmi, Sabtu, mengatakan pada tahun kelima program ini Indonesia menjadi tuan rumah untuk …and Action! Asia #05 di mana Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sebagai tuan rumah.

“Kegiatan yang dilakukan antar sekolah-sekolah film di Asia ini menjadi sebuah program penting yang harus terus didukung guna memperkuat jalinan kerjasama serta menumbuhkan semangat perfilman di Asia yang pada tahun belakangan telah semakin berkembang pesat. Pertemuan antara mahasiswa ini diharapkan mampu menjadi momentum bagi mereka sebagai generasi yang aktif berkolaborasi antar negara di masa yang akan datang,” kata R.B Armantono, Dekan Fakultas Film dan Televisi IKJ yang menjadi tuan rumah …and Action! Asia #5.

Para peserta dan mentor dipilih melalui proses seleksi yang diadakan oleh Japan Foundation Asia Center.

Program dibuka dengan orientasi antara peserta dengan instruktur, untuk memperdalam ide yang sebenarnya telah dikembangkan via online sejak beberapa bulan sebelum pelaksanaan Workshop.

Selain itu, para peserta juga mendapatkan materi tentang film dokumenter dari sudut pandang produser, sutradara, dan direktur fotografi dengan menghadirkan narasumber yaitu Tri Widyastuti Setyaningsih (pemateri produksi film dokumenter), Yudi Datau (pemateri penyutradaraan film dokumenter), dan Esnadi Djoko Santoso (pemateri kamera film dokumenter).

Peserta juga mendapatkan sesi workshop kamera dan audio agar setelahnya bisa langsung turun ke lapangan untuk melakukan produksi. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok yang akan memproduksi 4 film dokumenter dengan tema besar yang menjadi benang merah dari seluruh film, yaitu Bertahan Hidup di Kota Besar. Kelompok-kelompok ini akan mengangkat isu tentang transgender, manusia gerobak, bertahan dalam kemacetan, dan meraup keuntungan dari kemacetan.

Seluruh film hasil kolaborasi para peserta akan ditayangkan pada 12 Maret 2019 di XXI Taman Ismail Marzuki di Cikini. Mahasiswa dan masyarakat umum dapat menonton tanpa dipungut biaya. Setelah pemutaran film, para penonton dapat berdiskusi langsung dengan para pembuat filmnya.

Para instruktur yang mewakili sekolah film dari beberapa negara Asia juga akan berdiskusi tentang rencana-rencana kerjasama dalam rangka pengembangan pendidikan film di Asia.

Baca juga: Pengamat: Perlu pedoman baku untuk ke festival film internasional

Baca juga: Rektor IKJ menilai film g30s/PKI menarik dipelajari sebagai kasus

Baca juga: Pekan Budaya Jepang 2019 suguhkan karuta hingga anime

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lomba balap perahu layar tradisional

Warga menyaksikan lomba balap perahu layar tradisional bertajuk “Surabaya Fisherman Sailing Competition (SFSC) 2019” di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/3/2019). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut merupakan bentuk pengabdian dan pemberdayaan terhadap nelayan sekaligus upaya penguatan wisata berbasis masyarakat. ANTARA FOTO/Moch Asim/pras.

Festival Tenun dan Musik NTT

Ketua Dewan Konsultatif Nasional Komisi Perlindungan Anak, Seto Mulyadi mengenakan pakaian adat dengan motif tenunan dari Kabupaten Rote Ndao menyapa sejumlah pelajar ketika menghadiri Festival Tenun dan Musik NTT di Kupang, NTT, Sabtu(2/3/2019). Festival ini dilaksanakan untuk mempromosikan berbagai macam tenun khas NTT serta berbagai alat musik tradisional kepada dunia. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/pras.

Festival Meurukon di Lhokseumawe

Sejumlah syaikh atau syaikhuna melantunkan radat (irama) seni Rukon pada Festival Budaya Seni Aceh Dalail Khairat dan Seni Meurukon di Lhokseumawe, Aceh, Jumat (1/3/2019) malam. Meurukon merupakan seni dan budaya Aceh untuk memperdalam ajaran Islam dengan teknik penyajian komunikasi dua hingga tiga kelompok kafilah terdiri dari lima hingga sepuluh orang terlatih yang di pimpin oleh syaikh dan berbalas pantun dengan syair-syair religius. ANTARA FOTO/Rahmad/pras.

Meniti sepi di Museum Seni Rupa dan Keramik

Jakarta (ANTARA) – Suasana hening Museum Seni Rupa dan Keramik sangat terasa di antara riuhnya masyarakat yang sedang berlibur di kompleks Kota Tua, Jakarta Barat.

Di antara besarnya bangunan yang berdiri gagah tersebut hanya segelintir orang yang terlihat sedang mengantre untuk melihat setiap sudut museum.

“Sekarang sudah jarang masyarakat yang ‘iseng’ datang ke sini,” kata Eki (35) selaku pengelola museum.

Menurut Eki, kategori pengunjung di Museum Seni Rupa dan Keramik sudah bergeser.

“Sekarang kalangannya lebih spesialis, orang yang benar-benar tahu dan ingin belajar seni original saja yang datang. Ada sih yang iseng datang buat lihat-lihat, tapi sedikit,” tambahnya.

Seperti Jumat (1/3) siang, beberapa suara kaki yang sedang menapak di lantai kayu tua museum dan seketika memecah keheningan di sebuah ruangan yang menyimpan puluhan patung peninggalan kerajaan Majapahit.

Belasan anak muda berdatangan dengan raut wajah yang ceria dan semangat ketika mereka membaca satu per satu tulisan di salah satu kotak yang menyimpan keramik tua. Mereka adalah rombongan mahasiswa dari Podomoro University, Jakarta.

“Saya mengajak mahasiswa prodi desain produk kami untuk membuka wawasan dan wacana mereka tentang sejarah dan filosofi sebelum mereka mendesain sesuatu,” kata dosen desain produk Podomoro University, Nurul Primayanti (50).

Baca juga: Bus tingkat tujuan Kota Tua jadi alternatif wisata Tahun Baru

Wanita berambut panjang pirang tersebut berpendapat bahwa berkunjung ke museum yang memiliki koleksi seni asli akan semakin membantu mahasiswanya untuk memahami karya yang akan mereka garap.

“Museum seperti ini akan sangat membantu mereka dalam menghadirkan sebuah konsep serta menghadirkan desain atau karya orisinal dan kuat,” katanya.

Menurutnya, mempelajari sebuah seni dari karya yang orisinal seperti yang ada di museum ini juga dianggap sebagai bagian dari proses pembentukan pribadi yang profesional.

“Selain itu mengajak mereka ke sini agar mereka menghindari plagiarisme dan supaya nantinya tidak terjerembab menjadi desainer plagiat,” jelasnya.

Ia menabahkan, karya orisinal yang dimiliki oleh museum tersebut menjadi senjata utama untuk dapat menciptakan suara-suara baru dari pengunjung.

“Kalau museum yang pada baru berdiri kebanyakan karya mereka sudah dicampur dengan unsur moderenisasi ya, saya sih sebagai lecturer pasti memilih seni yang orisinal,” kata wanita paruh baya tersebut.

Baca juga: Kota Tua buka hingga dini hari pada malam tahun baru

Di sudut lain Museum Seni Rupa dan Keramik, tepatnya di ruangan yang menyimpan berbagai lukisan karya pelukis legendaris Indonesia, juga tampak sepi, hanya suara angin kecil berhembus menembus lubang-lubang tempat lukisan diletakkan.

Tak lama, teriakan dari beberapa anak kecil seketika membuat seisi ruangan menjadi bergema penuh dengan riangan mereka bersama gurunya.

Terlihat puluhan anak kecil berseragam oranye sedang berbaris rapi dengan sangat antusias untuk tidak sabar melihat keunikan benda-benda di ruangan tersebut.

“Lagi pada belajar tentang kesenian kayak keramik dan lukisan,” kata seorang wanita yang berprofesi sebagai guru di Paud Melati 102 Tanah Abang, Mutia (36).

Pemilihan museum tua ini sebagai media belajar para siswa, lanjut Mutia, menjadikan museum ini memiliki nilai fungsi edukasi yang dominan.

“Mungkin gurunya punya pertimbangan khusus kali ya kenapa pilih sini, tapi menurut saya kalau mau lihat atau belajar karya seni ya harus ke yang sudah jelas seperti ini,” kata Dewi (32), seorang ibu yang sedang mengantar anaknya berwisata.

Perasaan senang mempelajari bentuk karya seni pun sudah bisa dirasakan oleh Akira (5), seorang bocah kecil berambut kepang dua dengan pita biru di kepalanya.

“Senang sekali. Serem tapi lucu bentuknya,” katanya.

Lain halnya dengan David dan Fina, sepasang sejoli yang serempak memakai pakaian warna senada ini memiliki alasan tersendiri dalam memilih museum ini sebagai destinasi wisata.

“Murah sih daripada yang baru, lagian lebih art yang ini lah ya. Kalau difoto soul-nya lebih dapat, klasik banget,” kata Fina (24) dengan sangat antusias.

Alih-alih untuk sekadar berlibur, para pengunjung museum legendaris ini memilih untuk belajar sebagai tujuan utama mereka untuk datang ke sini.

Sudut-sudut museum yang berbau lawas dan tidak jarang terdapat beberapa sarang laba-laba yang sedang bergantung justru membuat daya tarik tersendiri bagi sebagian orang yang hobi mencari hawa klasik.

“Jelas bangunannya, kalau benda yang dipajang jelas lah ya yang mengerti art pasti bilang museum ini nomer satu,” kata Shakira (22), wanita berkacamata dengan rambut digerai yang hobi fotografi ini.

Nilai yang berbeda

Menurutnya berbagai sudut tua di Museum Seni Rupa dan Keramik ini menjadi nilai yang eksklusif.

“Dia punya sesuatu yang enggak dipunya sama museum modern. Sama-sama punya pintu, tapi kalau yang tahu pasti mengerti lah kalau makna pintu di sini beda,” tambahnya.

Dosen Universitas Podomoro, Nurul, juga menambahkan adanya peran penting masyarakat sebagai kunci utama dalam membawa suara-suara keramaian dalam ke tempat wisata bersejarah seperti ini.

“Justru kita harus support museum seni rupa yang legal dari pemerintah. Hanya harus lebih ditingkatkan juga fasilitas dan interiornya agar dapat berkompetisi dengan muse commercial swasta,” katanya.

Menurutnya, museum legendaris seperti Museum Seni Rupa dan Keramik ini harus memiliki cara pendekatan yang lebih baik.

“Harus bisa berkomunikasi dengan para milenial agar mereka merasa hommy di museum seperti ini, sehingga mereka akan lebih banyak belajar,” tutupnya.

(Penulis: Peserta Susdape XIX/Astrid Faidlatul Habibah)

Baca juga: Revitalisasi Kota Tua Ampenan dan potensi wisata sejarah

Baca juga: Kelenteng Kota Tua Ampenan rayakan Imlek secara sederhana

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia tampilkan seni tradisional di kampus Hongaria

London, (ANTARA) – Kedutaan Besar Republik Indonesia di Budapest dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hongaria menampilkan seni budaya tradisional Indonesia di Festival Budaya di Universitas Sopron di Kota Sopron dan Universitas Teknologi dan Ekonomi Budapest di Kota Budapest.

Pelaksana Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya di KBRI Budapest, Titania Arimbi, kepada Antara London, Jumat, mengatakan, kegiatan itu dibungkus dalam program Indonesia Goes To Campus.

Seni budaya yang ditampilkan adalah pertunjukan angklung interaktif di Sopron dan Tarian Saman di Budapest.

“Kami bersama PPI memang lagi gencar-gencarnya mempromosikan Budaya Indonesia yang kaya dan beragam kepada para mahasiswa Internasional di Hongaria,” ujar Titania Arimbi.

Diharapkannya, minat untuk mempelajari budaya Indonesia tumbuh di kalangan muda Hongaria yang nantinya akan membuat mereka menjadi Indonesianis.

Tidak berhenti di situ, KBRI Budapest juga akan membuka kursus tari Indonesia bagi pelajar asing yang ingin belajar mengenai tarian Indonesia.

Melengkapi promosi Budaya, PPI Hongaria dan KBRI Budapest juga turut mempromosikan produk mi instan unggulan Indonesia yaitu Indomie kepada para pelajar.

KBRI dan PPI membagi sampel Indomie gratis dan membagikan Indomie matang kepada para pengunjung. Produk Indomie telah tersedia di supermarket di sekitar Hongaria mulai Februari 2019.

Ketua PPI Hongaria, Muhammad Putra Hutama, mengatakan para pelajar Indonesia di Hungaria selalu mendukung produk Indonesia di Hongaria.

“Walaupun dalam skala kecil, PPI Hongaria gembira bisa membantu produk Indonesia sukses di Hongaria,” ujarnya.

Dikatakannya Indomie sangat diminati para pengunjung yang datang di kedua acara baik di Universitas Sopron maupun Univeristas Teknologi dan Ekonomi Budapest.

Ia mengharapkan dengan pengenalan produk mi tersebut dapat turut meningkatkan kepedulian terhadap produk Indonesia. 

Baca juga: Gamelan mengalun di pinggir Danau Balaton Hongaria
Baca juga: PPI Hongaria juara di kontes ASEAN Voice Budapest

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Disbud Denpasar tetapkan 32 nominasi “Ogoh-ogoh” jelang Nyepi

Denpasar, (ANTARA) – Tim penilai Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Bali mengumumkan total 32 nominasi dari 163  Ogoh-Ogoh (boneka raksasa) yang dilombakan, setelah menuntaskan penilaian di empat kecamatan setempat, jelang Nyepi.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Dewa Gde Juli Artabrata, didampingi Kabid Kebudayaan sekaligus Ketua Panitia Lomba  Ogoh-Ogoh  Made Wedana di Denpasar, Jumat, menjelaskan bahwa seluruh tahapan mulai dari pendaftaran, penilaian hingga pengumuman hasil penilaian telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan.

“Disbud Kota Denpasar mengumumkan delapan nominasi di masing-masing kecamatan yang keseluruhannya berjumlah 32 `Ogoh-Ogoh”,” katanya.

Ia mengatakan, hasil penilaian dewan juri bersifat transparan serta tidak dapat diganggu-gugat. Boneka raksasa pemenang tersebut berhak atas uang pembinaan sebesar Rp10 juta.

Dewa Juli menjelaskan, dari sebanyak 163 “Ogoh-Ogoh” yang mengikuti seleksi, Banjar Dukuh Mertajati, Kelurahan Sidakarya dan Banjar Mertha Rauh Kaja Desa Dangin Puri Kaja mendapat nilai tertinggi.

Ia mengatakan “Ogoh-Ogoh” yang berbahan dasar ramah lingkungan ini nantinya akan diserahkan kembali ke desa pakraman masing-masing untuk mengatur jalannya perayaan malam  pangerupukan  atau sehari sebelum Nyepi.

“Dinas Kebudayaan Kota Denpasar hanya melakukan penilaian, selanjutnya nantinya setelah itu seluruh ogoh-ogoh akan dikembalikan ke desa pakraman setempat serangkaian malam `pengerupukan,” ujarnya.

Ia menyampaikan selamat kepada 32 nominasi ogoh-ogoh yang beruntung, sedangkan sisanya yang belum beruntung harus berbesar hati dan terus berusaha di tahun depan dengan karya-karya kreatif sebagai bentuk pelestarian seni dan budaya Bali.

Dalam kesempatan tersebut Dewa Juli turut mengimbau kepada peserta pawai “Ogoh-Ogoh” untuk tidak mengkonsumsi minuman keras sebelum atau saat mengarak boneka raksasa menyeramkan itu.

“Mari bersama-sama kita menghormati serangkaian pelaksanaan Hari Suci Nyepi dengan bersama-sama menjaga ketertiban serta tidak menggunakan pengeras suara agar terhindar dari permasalahan yang riskan terjadi pada saat pawai “Ogoh-Ogoh” saat malam `pengerupukan`,” katanya.

Baca juga: Festival ogoh-ogoh dikerubuti ribuan orang
Baca juga: Lomba “ogoh-ogoh” mengisi hari suci Nyepi

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019