Cerita Hasmi “Gundala” dedikasikan hidup untuk komik

Jakarta (ANTARA News) – “Gundala”, salah satu karya terkemuka dari Hasmi akan diadaptasi ke layar lebar pada tahun ini. Pria bernama lengkap Harya Suraminata ini pertama kali menciptakan karakter tersebut pada 1969 dalam komik edisi pertama “Gundala Putera Petir”.

Dikutip dari siaran pers Screenplay Films, Hasmi mulai menggeluti komik sejak berkuliah di Fakultas Desain Grafis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) pada 1967. 

Kuliahnya ini tak bertahan lama karena dia memutuskan fokus menulis “Gundala”. Sejak diperkenalkan, ketenaran Gundala tak terbendung karena anak-anak muda menyukai konsep jagoan yang dibuat olehnya. 

Baca juga: Berkenalan dengan Gundala, jagoan Indonesia

Sejak 1969 hingga 1982, ia menerbitkan 23 judul komik Gundala.
 
Hasmi tidak cuma membuat komik Gundala. Ia juga menciptakan banyak tokoh seperti Maza, Pangeran Mlaar, Sembrani, Merpati, Jin Kartubi, Kalong, Pengkor, Ghazul dan Ki Wilawuk. 

Sampai akhir hayatnya, Hasmi sudah menerbitkan 50 judul dan dua ratus episode komik dalam hidupnya, paling banyak dari artis komik jagoan lainnya di Indonesia.

Baca juga: Komikus “Gundala Putra Petir” Hasmi tutup usia
 
Pada 2003, Hasmi menjadi salah satu pendiri PT Bumilangit dengan bercita-cita untuk membangkitkan kembali industry kreatif komik Indonesia. 

Sebagai Creative Director, Hasmi meletakkan dasar-dasar pengembangan dan pembaharuan karakter-karakter yang dikelola oleh Bumilangit, termasuk Gundala.
 
Selain berkarier sebagai komikus, Hasmi sempat berkecimpung sebagai penulis skenario film juga teater dan tampil dalam beberapa judul sinetron maupun film. 

Gundala pun sebelumnya sudah muncul dalam film “Gundala” yang dirilis tahun 1981 dan di teater dalam judul “Gundala Gawat” pada tahun 2013.
 
Pada 2016, Hasmi berpulang dalam usia 69 tahun. Hidupnya telah menjadi inspirasi bagi dunia komik dan berkesenian Indonesia. 

Kini hak terbit Gundala dipegang oleh Bumilangit. Tahun ini, Screenplay Pictures dan Bumilangit Studios bersama Legacy Pictures akan menghidupkan kembali Gundala dengan aktor Abimana Aryasatya dan disutradarai juga ditulis naskahnya oleh Joko Anwar.

Baca juga: Ini Alasan Abimana Aryasatya dipilih perankan Gundala
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kalimantan Crossborder Festival 2019 tampilkan beragam tarian perbatasan

Pontianak  (ANTARA News) – Kalimantan Crossborder  Festival 2019 yang digelar 23-24 Februari 2019 di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat akan menampilkan berbagai tarian  antara lain  senam Kopi Pancong dari Komunitas Rancak Alun Rumah Melayu.

“Alhamdulillah kita dilibatkan dan bisa berpartisipasi di Kalimantan Crossborder  Festival 2019. Nanti kita sebagai instruktur Senam Kopi Pancong, dilanjutkan Senam Poco-Poco” ucap Ketua Komunitas Rancak Alun Rumah Melayu  Sri, di Pontianak, Kamis.

Kalimantan Crossborder Festival 2019 edisi Aruk itu juga akan menampilkan beragam tarian Sambas. Misalnya tarian khas Melayu Sambas hingga Dayak dan juga Tari Jepin. Untuk tarian khas Melayu Sambas yang akan disajikan di antaranya Tandak Sambas.  

Sambas juga kaya akan lagu daerah, seperti Alok Galing, Cik Cik Periuk, atau Kapal Belon yang akan juga ditampilkan.

Kalimantan Crossborder  Festival 2019 yang digelar Kementerian Pariwisata RI tersebut disebutnya akan menjadi galeri seni budaya terbaik Sambas.

Pada ajang tersebut beragam khasanah Melayu Sambas dan Dayak akan disandingkan dengan nuansa modern. Karena itu Pesta diperkirakan akan meriah dengan peran aktif dan kolaborasi bersama masyarakat perbatasan.

Sambas juga akan memajang beragam kulinernya, seperti Bubbor Paddas (bubur pedas) yang khas karena memakai daun kesum. Untuk kerajinan tangannya akan dipamerkan  di antaranya Kain Sambas (Kaing Lunggi) atau dikenal sebagai Kain Songket Sambas.

Selanjutnya di ajang tersebut telah disiapkan lokasi wisata belanja dengan gerai-gerai pameran yang menyuguhkan beragam produk lokal seperti dari ibu-ibu PKK hingga produk kerajinan Dekranasda. Termasuk gerai produk pertanian  

Bagi warga Serawak, Malaysia, menurut dia, bisa menyeberang hanya berbekal Identity Card (IC) dan bahkan  dengan `wild card Majelis Keselamatan Serawak. Bahkan bus  dari Serawak juga bisa masuk di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Sanggau, Kalbar.

Baca juga: Kemenhan gelar bakti sosial di lima desa perbatas
Baca juga: Belasan ribu umat Muslim hadiri Sambas Berzikiran

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wisata sejarah benteng Fort Willem I

Wisatawan mengunjungi Benteng Fort Willem I di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (20/2/2019). Benteng yang didirikan pada 1834 dan digunakan sebagai barak KNIL (tentara Hindia Belanda) hingga 1927 tersebut selain sebagian bangunannya saat ini digunakan sebagai Lembaga Pemasyarakatan Ambarawa, juga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah favorit wisatawan dalam maupun luar Kabupaten Semarang. ANTARA FOTO/Aji Styawan/pras.

Pameran seni rupa Hari Budiono

Sebuah karya seni instalasi terpajang pada pameran karya perupa Hari Budiono yang bertajuk “Dedemit Sawah” di Bentara Budaya, Jakarta, Rabu (20/2/2019). Pameran perupa Hari Budiono dari Solo, Jawa Tengah yang menggambarkan rasa ketakutan namun penuh humor ini akan berlangsung hingga 23 Februari 2019 dan akan berlanjut di beberapa kota di pulau Jawa dan Bali. ANTARA FOTO/Dodo Karundeng/wsj.

Kompleks Setda Banyumas diusulkan jadi cagar budaya

Pendopo Sipanji diperkirakan dibangun sekitar tahun 1706

Purwokerto (ANTARA News) – Kompleks perkantoran di lingkungan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, diusulkan sebagai benda cagar budaya, kata Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Asis Kusumandani.

“Kompleks perkantoran Setda Banyumas di Purwokerto telah diusulkan sebagai benda cagar budaya oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banyumas,” katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Rabu.

Menurut dia, beberapa bangunan di kompleks Setda Banyumas yang masih dipertahankan keasliannya, antara lain Pendopo Sipanji, pagar belakang kompleks Setda Banyumas, dan beberapa gedung perkantoran.

Berdasarkan catatan sejarah, Pendopo Sipanji diperkirakan dibangun sekitar tahun 1706 oleh Bupati Ke-7 Banyumas Tumenggung Yudanegara II setelah memindahkan pusat pemerintahan dari Kejawar ke Banyumas.

Selanjutnya pada 1937 atau semasa pemerintahan Bupati Ke-20 Banyumas, Adipati Aryo Sujiman Gandasubrata Pendapa Sipanji dipindahkan dari Banyumas ke Purwokerto.

Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, Carlan mengatakan bangunan pagar belakang Pendopo Si Panji yang masih terjaga keasliannya itu belum diketahui secara pasti kapan dibangun.

“Biasanya yang namanya pagar (pembangunannya) sesuai dengan bangunan (yang ada di dalamnya). Pendopo Sipanji dipindah dari Banyumas ke Purwokerto pada tahun 1937 dan sebelum itu sudah ada bangunan Pendopo Kadipaten Purwokerto,” jelasnya.

Ia mengemukakan jika dilihat dari sisi tahun pembangunannya maupun keunikan bangunannya, minimal sudah ada dua unsur yang memenuhi syarat benda cagar budaya.

“Usia bangunannya sudah lebih dari 50 tahun sehingga sudah memenuhi syarat benda cagar budaya,” lanjutnya.

Sementara untuk pagar depan Pendopo Sipanji, katanya bukan termasuk benda cagar budaya karena merupakan bangunan baru.

Ia mengakui Pemerintah Kabupaten Banyumas berencana merenovasi pintu gerbang pagar belakang Pendopo Sipanji demi kelancaran kendaraan yang masuk dan keluar dari kompleks perkantoran tersebut.

“Kami akan merapatkan rencana tersebut dengan melibatkan TACB serta dinas dan instansi terkait,” sebutnya.

Baca juga: Gedung Puskesmas Banyumas jadi cagar budaya
Baca juga: Yogyakarta masukkan 289 cagar budaya dalam register daerah

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ribuan warga saksikan atraksi naga berkilau di Pontianak

Pontianak  (ANTARA News) – Ribuan warga Pontianak, baik tua ataupun muda tumpah ruah menyaksikan atraksi naga berkilau atau replika naga yang dihiasi lampu warna warni pada malam puncak perayaan Cap Go Meh di Kota Pontianak.

“Belasan ekor naga berkilau kami suguhkan pada malam ini  yang setiap tahunnya selalu dinantikan masyarakat,” ujar Ketua panitia Cap Go Meh Pontianak, Tjhai Leonardi di Pontianak, Selasa Malam.

Ia menjelaskan suguhan menarik ini ditujukan untuk menghibur warga Pontianak dan para wisatawan, baik lokal, nasional dan mancanegara yang ingin menyaksikan naga berkilau.

  “Atraksi naga tersebut diselenggarakan dalam melestarikan budaya bangsa dan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar dia.

Atraksi naga bekilau memanjakan mata pengunjung seolah replika naga tersebut tampak hidup dengan warna dan bentuk yang sedemikian rupa tersebut.

Puluhan ribu warga membanjiri di sepanjang jalan Patimura sampai ke jalan Gajah Mada atau kawasan pencinaan untuk menyaksikan agenda tahunan tersebut.

“Kami sangat senang bisa menyaksikan perayaan Cap Go Meh khususnya pada pawai atraksi naga berkilau di malam hari selain naganya lebih menarik dilihat juga cuaca tidak panas untuk menyaksikannya,” jelas salah seorang pengunjung, Merry.

Dalam atraksi naga berkilau tak hanya menyaksikan tetapi juga banyak warga yang mengabadikan momen tersebut dengan berfoto dan bervideo dengan ponsel mereka.

Selain atraksi naga berkilau pengunjung juga beramai memadati lokasi gerai kuliner yang disedikan panitia penyelenggara, terlihat pengunjung berbondong bondong membeli  Dragon Snack.

Dragon Snack menjadi jenis kuliner yang populer diminati warga dengan alasan keunikan dari jajanan tersebut dan jarang ditemui di Kota Pontianak.

“Dengan digelarnya event tersebut yang tadinya saya hanya melihat sensasi memakan Dragon Snack di TV dan di media sosial, hari ini saya bisa merasakan sensasi tersebut, ujar satu di antara pembeli, Yuni.

Atraksi Naga merupakan satu di antara beberapa rangkaian kegiatan Festival Cap Go Meh Pontianak yang berlangsung sejak 14 hingga 20 Februari 2019.

Perhelatan tahunan tersebut semakin semarak dan mendapat sambutan dari masyarakat baik Kota Pontianak maupun luar kota terutama dengan adanya pekan promosi dan kuliner.

Puluhan gerai promosi yang menyajikan beragam kuliner khas Pontianak selalu padat dikunjungi masyarakat. 

Rangkaian  festival sebelumnya sudah ada  karnaval budaya dan barongsai, ritual naga buka mata, dan  atraksi naga bersinar. Setelah itu akan disusul ritual naga tutup mata dan ritual pembakaran naga.

Baca juga: 26 replika naga ikuti cap go meh di Pontianak
 Baca juga: 12 naga pontianak ritual “buka mata”

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bogor Street Festival dibuka di Bogor

Bogor  (ANTARA News) – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil membuka perayaan Bogor Street Festival (BSF), yang menghadirkan enam tokoh pemuka agama yang masing-masing mewakili agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.

“Saya sangat bahagia. Kehadiran saya di sini untuk memenuhi undangan dari Wali Kota Bogor Bima Arya untuk memberikan dukungan atas keberagaman di Indonesia,” kata Ridwan Kamil di Bogor, Selasa.

Menurut mantan Wali Kota Bandung ini, Bogor Street Festival atau Cap Go Meh  2019 merupakan cerminan keberagaman di Tanah Air dan wujud Pancasila serta mempertunjukkan kebersamaan sebagai karakter warga Jawa Barat dan Indonesia.

“Inilah Pancasila yang sebenarnya. Diperlihatkan secara inspiratif di Kota Bogor,” kata Ridwan Kamil. 

Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan acara Bogor Street Festival ini merupakan ajang pemersatu bangsa di tengah keberagaman.

Ia mengatakan puncak perayaan Bogor Street Festival atau  Cap Go Meh di Kota Bogor dikemas dalam pesta budaya. Selain itu juga acara BSF momen ajang komitmen saling menghormati dan menghargai.

“Bogor Street Festival bukan hanya peristiwa budaya, ini persembahan dari Bogor untuk Indonesia,” ucap Bima. 

Ketua Pelaksana Cap Go Meh Arifin Himawan menjelaskan, event ini merupakan penegasan atas nilai persatuan bangsa yang selalu dijaga oleh Kota Bogor.

Arifin menegaskan, Kota Bogor secara konsisten ingin memperlihatkan semangat toleransi dan pluralisme yang selalu dipelihara sebagai bagian dari masyarakat  di Indonesia.

“Ini menjadi bukti bahwa semangat pluralisme, nilai toleransi dan kekayaan budaya. Ini juga sebuah fakta betapa masyarakat kita sangat dewasa menjaga kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Baca juga: Bogor Street Festival digelar 19 Februari
Baca juga: Kemenpar target jaring 200.000 wisman Tiongkok saat Imlek

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kain jumputan khas Palembang akan pecahkan rekor Muri

Palembang  (ANTARA News) – Kain jumputan khas Kota Palembang, Sumatera Selatan yang dibuat dengan panjang 1.100 meter akan memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai kain jumputan terpanjang di dunia.

Kepala Dinas Pariwisata Palembang, Isnaini Madani di Palembang, Senin, mengatakan, Dinas Pariwisata Kota Palembang mendukung pemecahan rekor tersebut.

Kegiatan pemecahan rekor Muri dengan membentangkan kain jumputan dari Jalan Jenderal Sudirman hingga atas Jembatan Ampera itu perlu didukung karena dapat mempromosikan potensi pariwisata di Bumi Srwijaya ini, katanya.

Pemecahan rekor Muri tersebut dilakukan bersamaan dengan gerakan sosial peningkatan disiplin dan ketertiban berlalu lintas  South Sumatra Millenial Road Safety Festival pada 10 Maret 2019.

Dengan adanya pemecahan rekor Muri, kain jumputan khas Palembang dapat menarik perhatian masyarakat secara nasional maupun internasional, ujarnya.

Kunjungan wisatawan khususnya mancanegara ke kota ini dalam beberapa tahun terakhir cukup tinggi sekitar 40.000 orang/tahun.

Dengan gencarnya promosi potensi pariwisata melalui berbagai acara yang dapat menarik perhatian masyarakat secara luas, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Palembang terus meningkat sehingga dapat menambah pendapatan asli daerah dan menyumbang devisa negara, ujar Isnaini.

Sementara Ketua PHRI Sumsel Herlan Aspiudin menambahkan kegiatan yang digagas Direktorat Lalu Lintas Polda Sumsel itu merupakan kegiatan yang dapat mendukung promosi pariwisata dan menarik perhatian  kelompok milenial.

Dengan perhatian besar terhadap acara tersebut, tidak hanya pesan untuk meningkatkan kedisiplinan dan tertib berlalu lintas kelompok milenial yang bisa tersebar luas tetapi bisa mendukung bisnis sektor pariwisata yang kini dalam kondisi lesu akibat dampak tingginya tarif tiket pesawat sejak dua bulan terakhir, kata Herlan.

Baca juga: Kain jumputan Palembang dipamerkan di “Indonesian Fashion Week”
Baca juga: Kain tenun jadi seragam ASN

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemendikbud ingin anugerah seni bangkitkan dimensi spiritual kultural

Setiap bangsa jelas memerlukan cerita agar menjadi sebuah bangsa yang kokoh dan berkarakter.

Jakarta (ANTARA News) – Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Hilmar Farid menyebutkan anugerah seni Basoeki Abdullah ketiga yang mengambil tema Re-Mitologisasi  ditujukan untuk membangkitkan kembali dimensi spiritual kultural di tengah dunia yang semakin modern ini.

Dalam konferensi pers yang digelar di FX Senayan, Jakarta,Senin, Hilmar mengatakan hal ini juga menjadi napak tilas pelukis Basoeki Abdullah yang memang kerap mengangkat tema-tema mitologi dalam karyanya.

“Tema ini tepat waktu di zaman revolusi industri 4.0 menyambut masyarakat 5.0, karena untuk membangun dimensi yang sifatnya spiritual, sebuah naratif sangat penting,” kata Hilmar.

Hilmar menyebut, setiap bangsa jelas memerlukan cerita agar menjadi sebuah bangsa yang kokoh dan berkarakter.

Cerita ini juga digunakan untuk mengikat bangsa yang di dalamnya hidup beragam anak bangsa dengan berbagai bahasa daerah dan etnisitas.

“Dan kontribusi kesenian dalam mengankat narasi ini sangat luar biasa. Seringkali yang ditampilkan untuk menguatkan adalah mitologi,” ucap dia.

Hilmar lantas mengutip pernyataan sosilog Jerman Max Webber yang menyebut ketika dunia modern berkembang, ikatan manusia dengan macam-macam narasi yang sifatnya mitologis ini cenderung merendah. 

Dia tak menampik kalau untuk perkembangan tertentu masyarakat yang semakin rasional tentu menjadi fenomena yang baik, namun justru kering ketika nilai spiritual dan kultural itu hilang sama sekali.

“Kalau kemudian dilihat di zaman modern, segi spiritual ini yang lemah. Peran agama sangat merosot, nilai tradisi juga sama. Orang jadi sangat rasional, masyarakat kering, maju tapi kehilangan dimensi yang sangat penting yang punya narasi cerita sama,” ucap dia.

Hilmar pun menghubungkan penguatan kembali nilai mitologis ini dengan peran pelukis Basoeki Abdullah yang dia sebut sangat romantis ketika mengguratkan kuasnya di kanvas dan melukis karya-karya yang bersumber dari mitos bangsa.

“Belia melukis sangat mempesona dan kena dalam membangun narasi tentang bangsa. Untuk apa jadi sebegitu maju kalau dimensi spiritual kultural hilang? Jadi melihat segi spiritual, mitologis yang mengikat kebersamaan kita, dan sekarang menjadi sangat penting,” ucap dia.

Dia pun berharap lewat kegiatan ini bisa mengajak para perupa berusia 17 sampai 30 tahun untuk merespons situasi ini.

“Karena mereka yang disebut millenial dan bisa merespons dengan cara pandang yang berbeda. Banyak dimensi lain yang selama ini enggak tergarap dan diharapkan mereka berkontribusi pada menyongsong revolusi 4.0 yang lebih bermakna,” ucap dia.

Baca juga: Anugerah Seni Basoeki Abdullah angkat tema Re-mitologisasi

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

28.000 jenang gratis demi 274 Tahun Solo

289 Views

(Antara)-Ribuan Warga Kota Solo dan wisatawan berbagai kota memadati plasa sriwedari dalam jenang sala 2019. mereka bebas memilih tujuh belas jenis jenang dalam 28 ribu takir untuk dimakan tanpa dipungut biaya.

Pentas teater Ratu Peri dan Sang Keledai

Dua orang pemain teater dari grup Teater IKJ melakonkan adegan Ratu Peri dan sang Keledai dalam teater komedi berjudul “A Midsummer Night’s Dream”, naskah karya William Shakespeare yang disutradarai oleh Bedjo Soelaktono dan Hestu Wreda di Graha Bhakti Budaya, TIM, Minggu (17/2/2019) malam. Pementasan ini diselenggarakan oleh Prodi Seni Teater Fakultas Seni Pertunjukan IKJ dan Indonesia Teater Foundation. ANTARA FOTO/Dodo Karundeng/aww.

Opera kolosal kisah berdirinya kota Solo

Penari tampil dalam pertunjukan opera kolosal “Boyong Kedhaton, Sala Gumregah” di Balai kota Solo, Jawa Tengah, Minggu (17/2/2019) malam. Pertunjukan opera yang menceritakan sejarah berdirinya Kota Solo tersebut melibatkan 250 seniman tari untuk memperingati Hari Jadi ke-274 Kota Solo. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/aww.

Kemegahan Kerajaan Sriwijaya di ajang London Fashion Week

London (ANTARA News) – Kemegahan koleksi kejayaan Kerajaan Sriwijaya karya disainer Nila Baharuddin yang berjudul Jewel of Sriwijaya Kingdom, berhasil memikat para pengamat mode di Inggris dalam ajang Fashion Scout London Fashion Week Autumn/Winter 2019 yang digelar di Freemasons` Hall London pada akhir pekan.

Pensosbud KBRI London, Okky Diane Palma kepada Antara London, Senin mengatakan sebanyak empat disainer yang tergabung dalam Indonesian Fashion Showcase tampil dalam ajang Fashion Scout London Fashion Week Autumn/Winter 2019 itu.

Kehadiran para disainer di panggung London Fashion Week diharapkan mampu mengembangkan jaringan mereka hingga produk dapat mencapai pasar internasional yang lebih luas, ujarnya.

Duta Besar Indonesia untuk Inggris Raya, Irlandia, dan Organisasi Maritim Internasional, Dr. Rizal Sukma, mengatakan Indonesia memiliki banyak desainer yang inovatif dimana mereka mampu menggunakan kain tradisional dan mengkolaborasikannya ke dalam desain kontemporer yang sesuai dengan selera pasar internasional.

Dubes Rizal Sukma mengakui bakat kreatif para desainer Indonesia tersebut menambah nilai bagi produk Indonesia sehingga pergerakan ekonomi dari hulu ke hilir semakin meningkat.

Dalam ajang Fashion Scout London Fashion Week Autumn/Winter 2019 itu, keempat desainer Indonesia selain Nila Baharuddin, juga tampil desainer Maharani Setyawan dengan brand Prasojobyrani, Michelle Tjokrosaputro (bateeq), Putri Katianda dan Kara Nugroho (PVRA) yang menampilkan karya di ajang internasional.

Nila Baharuddin, dengan Jewel of Sriwijaya Kingdom menampilkan gaun couture bernuansa warna merah muda, coklat, dan biru dengan aksen Jacobean ruff dan lengan kembung. Koleksi ini merupakan perpaduan sempurna antara nilai-nilai kerajaan dan kemuliaan.

Selain itu terpancar kemegahan Kerajaan Sriwijaya jaman dahulu kala dari berbagai aksesoris dan perhiasan khas Palembang, Sumatera Selatan.

Sementara desainer Putri Katianda dan Kara Nugroho dari brand alas kaki PVRA menampilkan desain yang bertema puteri dari nusantara.

Para model berjalan di panggung mengenakan sandal dan sepatu berhias permata yang dikerjakan para pengrajin Indonesia. Perhatian penonton selama koleksi didukung dengan dikenakannya sunting sebagai hiasan kepala layaknya dewi cantik dari tanah Sumatera.

Desainer Michelle Tjokrosaputro dari bateeq menampilkan koleksi terbaru berjudul `Arung’.

Koleksi anyar ini menawarkan produk serba guna yang dapat dipakai di berbagai kesempatan, berkualitas tinggi, inovatif dan didorong oleh perhatian terhadap detail.

Kemeja sutra bermotif bunga melaju di catwalk bersama jumper, rok dan gaun selutut. Dalam karyanya ia menampilkan serangkaian gradasi warna biru dan cokelat tua.

Maharani Setyawan dari Prasojobyrani tidak hanya menampilkan koleksi desainnya dengan bahan kain lurik di panggung internasional yang futuristik, tetapi juga tas dan aksesoris yang serasi.

Koleksi ini diproduksi dengan menggunakan benang dengan kualitas tertinggi dengan warna kuning mustard dan cokelat. Koleksi yang tercipta tidak hanya berkualitas tinggi melainkan juga beragam dengan adanya syal, blazer, dan sebagainya.

 Indonesian Fashion Showcase Fashion Scout London Fashion Week Autumn/Winter 2019 diselenggarakan Jera Creative Agency dan Fashion Scout London dengan didukung Kedutaan Besar Republik Indonesia di London. Turut mensponsori kegiatan adalah Mayor of London, Toni&Guy, Propress, L.K.Bennett, dan Martha Tilaar Indonesia.

Tahun 2019 menandai perayaan 70 tahun hubungan bilateral Indonesia dan Inggris Raya. KBRI London bekerja sama dengan Pemerintah setempat, sektor bisnis, akademisi, masyarakat dan diaspora Indonesia akan mengadakan berbagai kegiatan sepanjang tahun.

Acara peringatan ini akan berlangsung di London dan beberapa kota besar lainnya di Inggris Raya.

Baca juga: Desainer Indonesia ikut London Fashion Week
Baca juga: IFW 2019 angkat kekayaan budaya Kalimantan

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

2.062 penari Jathil pecahkan rekor MURI

Penari menampilkan Tari Jathilan saat Gebyar 2019 Jathil di Ponorogo, Jawa Timur, Minggu (17/2/2019). Gebyar dalam rangka menuju Tahun Wisata 2019 tersebut melibatkan 2.062 penari Jathil yang memecahkan rekor MURI dengan jumlah penari Jathil terbanyak. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/pras.

Belajar bahasa asing lebih mudah dengan seni

 Jakarta  (ANTARA News) – Pengawas Sekolah Global Sevilla Michael Tia mengatakan belajar bahasa asing menjadi lebih mudah dengan seni.

 “Mengajarkan bahasa asing seperti bahasa Inggris melalui seni lebih mudah dibandingkan pembelajaran tatap muka biasa,” ujar Michael di Jakarta, Minggu.

 Menurut dia, dengan seni, program bahasa Inggris ke anak-anak lebih cepat terserap. Anak-anak lebih menikmati menyanyi, menari bersamaan dengan dialog dalam bahasa Inggris.

 Selain mempermudah mempelajari bahasa asing, melalui seni anak juga mendapatkan pelajaran mengenai pendidikan karakter.

 “Kami berharap semua siswa dapat berkonsentrasi dan dapat bertanggung jawab dengan pilihan yang diambilnya,” kata dia lagi.

 Metode konsentrasi penuh atau  mindfulness  memberikan pengalaman kepada siswa dan guru agar fokus terhadap apa yang dikerjakan. Salah satunya, siswa harus belajar dan mempersiapkan pertunjukan seni.

 “Dengan berlatih seni seperti drama, siswa belajar berbagai macam sifat dan karakter dari tokoh yang dimainkan, di samping mengembangkan potensi nonakademik masing-masing anak,” jelas dia.

  Kepala Sekolah SD Global Sevilla, Maya Kriplani, mengatakan pertunjukkan seni merupakan sarana memperkuat bahasa Inggris siswa. Pelajaran bahasa Inggris yang selama ini dipelajari, bisa dipraktikkan langsung melalui drama.

   Sebelumnya, SD Global Sevilla menampilkan pertunjukkan drama Aladdin di Taman Ismail Marzuki. Cerita mengenai Aladdin diambil untuk mengajarkan anak agar lebih percaya diri menjadi dirinya sendiri.

Maya menyebut untuk pertunjukkan itu, dibutuhkan persiapan selama dua bulan. Pertunjukkan itu dilakukan oleh siswa kelas satu hingga kelas enam SD.

Baca juga: “English for Indonesia” tingkatkan kemampuan pekerja berbahasa Inggris
Baca juga: Memopulerkan wayang kulit dengan Bahasa Inggris

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Babad Diponegoro dalam torehan kuas

(Antara)-Sebanyak 51 pelukis dari berbagai aliran menerjemahkan perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro, dalam torehan karya lukis. Karya lukis yang dinukil dari Babad Diponegoro itu dipamerkan kepada masyarakat, di Jogja Gallery, Kota Yogyakarta, 1 hingga 24 Februari 2019.

Mengembalikan nama baik Sate Padang lewat festival

Padang  (ANTARA News) – Mendung bergelayut di atas langit Kota Padang, pada Sabtu (16/2) sekitar pukul 16.00 WIB.  Tak lama berselang hujan segera datang dari arah laut ibu kota Sumatera Barat (Sumbar) itu.

Kendati demikian ada suasana yang berbeda pada sore itu di  Jalan Permindo, Kawasan Pasar Raya Padang, kepulan asap membubung bebas ke udara. Asapnya wangi, beraroma bawang dan menggugah selera.

Asap beroma daging yang dibakar  tersebut  berasal dari puluhan tenda yang didirikan di sepanjang jalan Permindo  dalam rangka pelaksanaan  Festival Sate Padang. 

Ratusan orang berkerumun sambil melipir dari satu tenda ke tenda lain. Setidaknya ada 22 pedagang sate yang berpartisipasi.

“Ini kesempatan menikmati sate yang lezat dengan harga murah,” kata seorang pengunjung Yuni (42).

Memang sate Padang di lokasi festival itu bisa didapatkan dengan harga terjangkau. Tak perlu merogoh kocek terlalu dalam, dengan uang Rp10 ribu sudah bisa menikmati seporsi sate.

Ada berbagai jenis dan merek sate, mulai dari daging, lokan, usus, lidah, sate labu, sate taichan, danguang-danguang, dan banyak lainnya.

Selain rendang, Sate Padang juga merupakan kuliner andalan di Ranah Minang. Jika berkunjung ke Kota Padang, atau daerah lain di Sumbar, tak sulit menemukan pedagang sate. 

Apalagi  penganan dengan ketupat serta kuah yang khas dan gurih ini cukup populer di tengah masyarakat. 

Di  tengah lokasi gelaran Festival Sate, ada dua baris meja panjang serta kursi yang disediakan panitia. 

Meja itu menjadi tempat “eksekusi” ratusan tusuk  sate oleh pengunjung yang datang bersama keluarga, kerabat, teman, atau pasangan.

Tepat di pojokan meja, orang nomor satu di Kota Padang yaitu Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah ikut berpartisipasi.

Ia tampak ditemani Penasehat Kesatuan Pedagang Jalan Permindo (KPJP) Miko Kamal, Kepala Dinas Perdagangan Endrizal, dan pejabat lain, termasuk dari provinsi.

Festival sate diinisiasi oleh Kesatuan Pedagang Jalan Permindo, bersama Dinas Perdagangan Padang.

Menurut Miko Kamal tujuan festival itu yang utama untuk merekatkan silaturahim antar pedagang dengan pedagang, kemudian dengan pemerintah, serta masyarakat.

Festival tersebut mendapat sambutan yang positif dari pengunjung, terutama pecinta kuliner.

“Semoga kegiatan festival kuliner seperti ini sering digelar, kalau perlu tidak hanya sate, tapi juga kuliner tradisional lain,” kata seorang pengunjung, Lina (35).

Baca juga: Tangkal sate babi, Pemkot Padang gelar festival sate
Baca juga: Presiden cicipi sate Padang Panjang

Hilangkan Kekhawatiran

Seperti peribahasa “Sekali mendayung dua tiga pulau terlampui”, festival itu juga bertujuan menghilangkan kekhawatiran yang muncul di sebagian masyarakat terhadap kuliner Sate.

Kekhawatiran itu  dampak terungkapnya kasus pedagang Sate Padang yang diduga menggunakan daging babi.

Kasus itu terungkap saat petugas gabungan dari Dinas Perdagangan Padang dan instansi terkait mengungkap penjualan sate diduga dari daging babi di kawasan Simpang Haru, dengan merek usaha Sate KMSB, pada Selasa (29/1).

Penindakan lapangan itu berbekal uji sampel yang sudah diambil instansi terkait sebelumnya, karena mendapatkan laporan masyarakat.

Pedagang sate Devi sebelumnya mengklaim kalau ia tidak tahu bahwa daging yang ia beli dari Kusti Gani adalah daging babi.

Saat ini proses kasusnya ditangani pihak Kepolisian Resor Kota Padang, sejak diserahkan oleh Dinas Perdagangan.

Namun begitu, meski telah ditangani secara hukum, kasus itu rupanya menyisakan kecemasan tersendiri di sebahagian masyarakat. 

Peristiwa menghebohkan tersebut mempengaruhi psikologi penikmat sate, meski yang bermasalah hanya satu pedagang saja. 

Hingga saat ini pihak Polresta Padang masih melanjutkan proses hukum terkait temuan kasus sate diduga dari daging babi.

Kepala Satuan Reskrim AKP edryan Wiguna, mengatakan pihaknya menunggu uji sampel terhadap daging sate yang dijual pedagang.

“Sekarang masih menunggu uji sampel, setelah keluar akan dilakukan gelar perkara,” katanya.

Hingga saat ini polisi sudah memintai keterangan belasan saksi, namun belum menetapkan status tersangka.

Polisi juga sudah mengirimkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) ke pihak Kejaksaan Negeri Padang.

Kepala Dinas Perdagangan Endrizal, tidak menampik kekhawatiran masyarakat soal kuliner sate ini. Sejak peristiwa tersebut ia kerap menerima keluhan dari pedagang sate karena menurunnya omzet penjualan.

Karena persoalan itu festival sate digelar sekaligus memberitahukan kepada masyarakat banyak kalau yang bermasalah itu hanya satu pedagang saja. Hal ini juga diserukan Mahyeldi di hadapan khalayak ramai.

“Jangan terpengaruh dengan kasus itu, karena yang bermasalah cuma satu. Sementara masih banyak pedagang yang baik dan jujur,” serunya.

Pedagang yang bermasalah itupun, lanjutnya, juga sudah diserahkan ke polisi untuk diproses secara hukum.

Pemerintah juga menyatakan komitmennya untuk terus meningkatkan mutu produk sate. Diperkirakan jumlah pedagang sate di Padang mencapai jumlah seribuan.

Pada gelaran festival itu, juga sempat tercetus aspirasi yang disampaikan Miko Kamal, akan perlunya perhatian pemerintah memfasilitasi sertifikasi halal untuk pedagang sate di Padang. 

Karena mengurus sertifikasi itu pedagang kecil akan terkendala pada biaya. Aspirasi itu langsung diterima dan jadi perhatian Mahyeldi.

Terlepas dari berbagai persoalan, sate Padang sangat layak menjadi primadona para penyantap kuliner, dan memperkaya ragam kuliner nusantara.

Para pengunjung Festival Sate masih terus berdatangan silih berganti. Mereka masih asyik mengitari kawasan Permindo.

Jika ada pepatah karena satu setusuk rusak rendang sebelanga, setidaknya dengan Festival Makan Sate, kepercayaan masyarakat terhadap kuliner sate kembali tumbuh.

Baca juga: Polisi periksa 12 saksi terkait sate padang daging babi
Baca juga: Pedagang sate babi di Padang diancam 5 tahun penjara

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Peninggalan Kerajaan Linge dipamerkan di Milenial Gayo Festival

Banda Aceh (ANTARA News) – Benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan Aceh kuno, Reje Linge yang diperkirakan telah berumur antara 300 bahkan 1.000 tahun ikut dipamerkan dalam  pameran Milenial Gayo Festival di Takengon, Provinsi Aceh.

“Milenial Gayo Festival yang digelar ini juga merupakan bagian dari rangkaian HUT ke-442 Takengon dan Pemerintah daerah sangat komit melestarikan dan mempertahankan seni dan budaya Gayo,” kata Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar di Takengon, Sabtu.

Di sela-sela membuka Milenial Gayo Festival di lapangan Musara Alun, ia mengatakan, setidaknya ada 480 jenis benda bersejarah yang dipamerkan kepada masyarakat setempat. 

“Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah akan memberikan dukungan terhadap beragam kegiatan seni dan budaya yang akan diselenggarakan di daerah ini,” katanya.

 Ia menjelaskan kegiatan pegelaran seni dan budaya  ini juga akan diisi dengan hiburan musik yang ikut menghadirkan artis lokal seperti Arvan Ceh Kul, Sakdiah dan Naura dan Nabila yang merupakan duta asal Aceh di liga dangdut Indonesia.

“Kita ingin seni dan budaya Gayo yang ada di daerah ini tidak hanya dinikmati oleh masyarakat kita saja, tapi juga masyarakat luar, sehingga punya nilai jual untuk menghadirkan wisatawan ke daerah ini,” katanya.

Kabupaten Aceh Tengah yang merupakan salah satu kabupaten penghasil kopi Arabica terbaik memiliki potensi wisata yang besar dan dapat mendatangkan banyak wisatawan ke daerah setempat.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir di antaranya anggota DPR Tagore Abubakar, Wakil Bupati Aceh Tengah  Firdaus, Ketua TP PKK Puan Ratna dan Wakil Ketua TP PKK Nurmaini.

 Ia menambahkan generasi muda di daerah itu  memiliki perhatian terhadap pelestarian seni dan budaya Gayo yang terlihat dengan berbagai kegiatan yang digelar kawula muda.

 “Kami melihat sudah ada kepedulian terhadap seni dan budaya Gayo, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa, baik yang ada di luar daerah maupun di Aceh Tengah. Ini juga bagian menjaga khazanah budaya yang ada tetap terjaga dan tidak tergerus zaman,” kata Shabela.

Baca juga: Tari saman resmi diakui UNESCO
Baca juga: Pacuan kuda tradisional meriahkan HUT RI

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Upaya Menghapus Citra Negatif Pasar Kembang

(Antara)-Berbagai seni budaya dan hasil kreasi masyarakat ditampilkan dalam festival pasar kembang atau sarkemfest pertama di Kota Yogyakarta. Festival digelar sebagai upaya menghapus citra negatif kawasan pasar kembang yang selama ini dikenal sebagai kawasan hitam di kota budaya tersebut.

Nyadran Kali, Tradisi Yang Angkat Potensi Wisata Desa

(Antara)-Warga Desa Kandri Kecamatan Gunungpati Kota Semarang Jawa Tengah memiliki tradisi unik dalam mengungkapkan rasa syukur atas limpahan hasil panen pertanian, yakni dengan menggelar tradisi makan bersama yang dikenal dengan istilah Nyadran Kali. Selain sebagai ungkapan syukur, tradisi itu pun terkandung makna untuk merekatkan tali silaturahmi antar warga.

Bogor Street Festival digelar 19 Februari

Bogor  (ANTARA News) – Bogor Street Festival (BSF) 2019 yang akan digelar pada 19 Febuari 2019 merupakan ajang kegiatan budaya yang merupakan warisan bangsa Indonesia, kata Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto.

“Kegiatan Bogor Street Festival yang juga memperingati Cap Go Meh bukan acara keagamaan, tapi kegiatan budaya,” kata  Bima Arya Sugiarto, di Bogor, Kamis.

Ia mengatakan, acara tahunan yang memiliki slogan `Ajang Budaya Pemersatu Bangsa` itu ditambahkan dia menjadi `Ajang Budaya Pemersatu Bangsa dari Bogor untuk Indonesia`.

Alasannya Bima menjelaskan, bangsa ini tengah diuji dalam konteks kebersamaan dalam keberagamaan.

Ia mengatakan, banyak kelompok yang tidak berani menyuarakan keberagamaan dengan hitung-hitungan politik.

“Padahal warisan dari bangsa kita turun-temurun kebersamaan dan keberagaman. Kalau tidak tegas dan kalau dikuasai oleh kelompok intoleran, mau dibawa ke mana Kota Bogor kita, dan negara kita, apa lagi dibawa ke politik,” tegas Bima Arya.

Untuk itu ia menegaskan lagi kegiatan Bogor Street Festival 2019 bebas dari keagamaan dan tidak bicara politik, tapi berbicara tentang keberagamaan.

“Secara keseluruhan budaya warisan bangsa perlu kita jaga. Buktinya kita kawal bersama-sama. Bahkan acara ini akan dihadiri Pak Gubernur Jawa Barat Ridwal Kamil, Pangdam, dan Kapolda Jawa Barat,” tutur dia.

Ketua Pelaksana Bogor Street Festival Pesta Rakyat CGM 2019, Arifin Himawan mengatakan acara tahunan ini selalu dinantikan ribuan warga Kota Bogor yang berlangsung di sepanjang Jalan Suryakencana.

“Acara ini kita mengambil tema kemasan `Katumbiri`  yang mengandung nilai keindahan dalam keberagaman,” jelas Arifin Himawan.

Dijelaskanya Katumbiri dari bahasa Sunda yang berarti pelangi, diharapkan dapat menjadi semangat bersama warga Bogor untuk Indonesia dalam merawat keberagaman.

“Berbeda dari tahun lalu, aksi budaya yang menampilkan berbagai bentuk seni budaya yang unik disuguhkan pada malam hari,” ujarnya.

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sarkem Fest 2019

Peserta mengikuti kirab saat acara Sarkem Fest 2019 di Jalan Pasar Kembang, Yogyakarta, Kamis (14/2/2019). Acara yang dihadiri oleh ribuan warga dan menampilkan berbagai kesenian mulai dari barongsai hingga topeng ireng itu menjadi rangkaian perhelatan Jogja Heboh 2019. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/hp.

Pameran seni rupa Sasya Tranggono

Pelukis Sasya Tranggono di depan karya lukisannya “Perjamuan Terakhir”, pada acara pembukaan pameran seni rupanya bertajuk ” Cinta untuk Indonesia” di Galeri Nasional, Gedung D, Jakarta, Kamis (14/2/2019). Pameran Sasya Tranggono, 57, lahir di Jakarta ini, akan berlangsung hingga 10 Maret 2019. ANTARA FOTO/Dodo Karundeng/hp.

Sultan HB X buka Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta

Yogyakarta (ANTARA News) – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan HB X membuka Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ke-14 yang digelar di Kampung Ketandan, Rabu malam.

Sebagai tanda dibukanya acara puncak perayaan Imlek 2019 tersebut, Sultan menabuh tambur di panggung utama didampingi Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti serta Ketua Panitia PBTY Tri Kirana Muslidatun.

“Pekan Budaya ini dapat menjadi peristirahatan sejenak untuk merenung kembali bagaimana membangun semangat Keindonesiaan yang kini sedang terlanda oleh hawa panas perpolitikan nasional yang bisa berpotensi menjadi disintegrasi sosial,” kata Sultan dalam sambutannya.

Raja Keraton Yogyakarta ini berpesan agar suasana guyub rukun yang muncul dalam pekan budaya itu terus dilestarikan, khususnya untuk menghadapi momentum Pilpres 2019 yang rentan gesekan sosial.

“Pilpres 2019 tinggal 60-an hari lagi. Menghadapi suhu panasnya perpolitikan ini kita harus berhati-hati dalam perkataan dan tindakan agar tidak disalah artikan,” kata dia.

Ia berharap masyarakat Tionghoa Yogyakarta dapat menjadikan PBTY sebagai wujud integrasi sosial, ekonomi, dan budaya menuju Indonesia baru yang lebih menyatu.

Pekan budaya yang digelar setiap tahun itu, kata Sultan, dapat menjadi sarana untuk menguatkan integrasi sosial dan budaya di tengah-tengah masyarakat.

“Acara ini berpeluang menciptakan kedamaian guna memperkokoh persatuan dan kesatuan. Kebinekaan adalah kekayaan bangsa Indonesia dan bukan untuk dipertentangkan,” kata Sultan.

Humas PBTY ke-14 Gautama Fatoni mengatakan pekan budaya yang mengusung tema “Harmony in Diversity” itu digelar di Kampung Ketandan selama tujuh hari 13-19 Februari 2019. Lebih lama dari PBTY 2018 yang hanya berlangsung selama lima hari.

“Tentunya dengan acara ini kit tunjukkan wujud akulturasi budaya yang ada di Nusantara sekaligus kami ingin menunjukkan kebersamaan, “City of Tolerance” di Yogyakarta ternyata bisa diterima,” kata dia.

Menurut Fatoni, selama sepekan pengunjung PBTY dapat menikmati berbagai macam kuliner yang tersedia di sepanjang gang Kampung Ketandan.

Mereka juga dapat menyaksikan beragam penampilan pentas seni dan budaya di tujuh titik panggung di kawasan itu.

Baca juga: Sultan resmikan Akademi Komunitas Negeri Seni Budaya Yogyakarta 
Baca juga: Sultan HB X resmikan Stadion Mandala Krida Baru
 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wayang hibur pengunjung Pekan Budaya Tiongkok di Yogyakarta

Yogyakarta (ANTARA News) – Pertunjukan Wayang Potehi yang merupakan kesenian warisan leluhur Tiongkok menghibur para pengunjung Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ke-14 di Kampung Ketandan, Kota Yogyakarta, Rabu malam.

Para pengunjung tampak antusias menyaksikan wayang potehi yang dipentaskan dalang dari bilik kecil berwarna merah menyala yang penuh dengan ornamen budaya Tiongkok.

“Wayang potehi ini kami hadirkan karena memang sudah langka sekali,” kata Humas PBTY ke-14 Gutama Fatoni di sela pembukaan acara puncak perayaan Imlek 2019 di Yogyakarta itu.

 Menurutnya,  warisan budaya dari Tiongkok yang telah berusia ribuan tahun itu sangat jarang dipentaskan di Indonesia.

“Di Indonesia khususnya di Jawa ini yang paling berkembang di desa Gudo, 10 kilometer sebelum Jombang. Di sana memang masyarakatnya senang sekali memainkan wayang potehi,” ujar dia.

Oleh sebab itu, menurut Fatoni untuk ikut melestarikan budaya itu wayang potehi selalu berusaha dihadirkan setahun sekali di Yogyakarta dalam rangkaian PBTY di Kampung Ketandan.

Para pengunjung bisa menyaksikan wayang potehi selama penyelenggaraan PBTY pada 13 sampai 19 Februari 2019. Wayang itu dihadirkan di salah satu panggung dari tujuh panggung pertunjukan seni dan budaya yang dihadirkan di PBTY mulai pukul 18.00 hingga 23.00 WIB.

 “Wayang potehi ini sebenarnya hampir sama dengan wayang golek. Ini satu tradisi yang menceritakan sejarah yang kalau di sini seperti wayang kulit,” kata dia.

 Seorang pengunjung PBTY Fatoni (40) mengaku senang dengan adanya pementasan wayang potehi.

Meski tidak paham dengan jalan ceritanya, warga Ketandan ini memanfaatkannya sebagai sarana mengenalkan budaya Tionghoa kepada anak-anaknya.

“Ceritanya memang saya tidak tahu karena berisi sejarah dari China dan intonasinya kurang jelas, berbeda dengan wayang kulit yang ada di Jawa. Tapi ini bagus untuk dikenalkan ke anak-anak,” kata Fatoni yang datang bersama anaknya.

Baca juga: Sultan HB X buka Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta
Baca juga: Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta diusulkan jadi agenda pariwisata nasional

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sembahyang Thien Kung

Umat Tridharma (Buddha, Konghucu dan Tao) melakukan sembahyang “Thien Kung” di Klenteng Thian Hou Kiong atau Tempat Ibadah Tridharma Tulus Harapan Kita di Kota Gorontalo, Gorontalo, Selasa (12/2/2019) malam. Sembahyang tersebut dilakukan untuk meminta ketenteraman, kemakmuran, kesuburan, hasil pertanian, dan perikanan yang melimpah serta kelancaran perayaan Cap Go Meh. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/foc.

Persiapan naga Cap Go Meh

Seorang anggota pemadam kebakaran memasang hiasan Naga Bersinar di Posko Damkar Panca Bhakti, Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (12/2/2019). Naga Bersinar sepanjang 68 meter tersebut akan dimainkan oleh 105 anggota Damkar Panca Bhakti saat perayaan Cap Go Meh 2019 pada 19 Februari mendatang. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/foc.

6 Hari berbasah-basah dalam perang air

(Antara)-Festival perang air atau yang dikenal dengan cian cui oleh masyarakat tionghoa, merupakan tradisi unik di kota selat panjang kabupaten kepulauan meranti. Tradisi yang digelar bersamaan dengan imlek itu diikuti oleh semua lapisan masyarakat. Festival perang air berlangsung  selama 6 hari berturut-turut dan berhasil memikat wisatawan dalam dan luar negeri.

Kisah babad diponegoro dalam torehan kuas

(Antara)-Sebanyak 51 pelukis dari berbagai aliran menerjemahkan perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro, dalam torehan karya lukis. Karya lukis yang dinukil dari  babad diponegoro itu dipamerkan kepada masyarakat, di Jogja Gallery Kota Yogyakarta, 1 hingga 24 Februari.

Drama teatrikal perebutan gedung Kempetai

Warga menyaksikan komunitas pecinta sejarah Roodeburg Soerabaia mementaskan drama bertajuk Perebutan Gedung Kempetai, di Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (10/2/2019). Drama teatrikal sebagai media pembelajaran sejarah kepada masyarakat itu menceritakan perjuangan masyarakat kota Surabaya mengusir penjajah Jepang saat merebut kemerdekaan. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/pras.

Indonesia promosikan budaya Melayu di Thailand

Jakarta (ANTARA News) – Indonesia bersama sejumlah negara di Asia Tenggara menjadi peserta Melayu Day Of Yala ke-6, sebuah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Yala, Thailand, untuk mempromosikan budaya Melayu di masing-masing negara.

Pemerintah Kota Yala berkerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Songkhla, seperti disebut siaran pers Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) di Jakarta, Minggu, menyediakan gerai pameran bagi semua Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).

PTM diberi kesempatan untuk mempromosikan kampusnya masing-masing serta memberikan kesempatan mahasiswanya untuk unjuk kebolehan dalam hal seni melayu.

Pada festival yang diselenggarakan di Taman Gajah Putih Yala, Thailand pada  8-10 Februari itu, Uhamka ikut berpartisipasi dalam rangka mempromosikan pendidikan di Indonesia dan mempererat kerja sama dengan pemerintah serta perguruan tinggi di Malaysia dan Thailand Selatan. 

Festival tahunan yang telah digelar sejak 2014 ini merupakan tempat berkumpulnya para seniman melayu dari Thailand, Indonesia, Malaysia dan Brunei Darusalam, termasuk di dalamnya berbagai universitas serumpun Melayu yang memiliki ciri khas daerah lokalnya masing-masing.

“Hakikatnya budaya menjadi salah satu pemersatu bagi siapapun, budaya mampu mengomunikasikan apapun dan dapat ditujukan kepada siapapun,” kata Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) Uhamka Purnama Syaepurohman, Ph.D yang mendampingi para peserta.

Dengan festival ini, Indonesia dapat mempromosikan khususnya kreativitas budaya Melayu ke tengah komunitas internasional bersama negara serumpun karena budaya Melayu sudah dianggap menjadi bagian dari budaya dunia, ujarnya.

Dalam acara Melayu Day ke-6 ini Uhamka mengirimkan dua orang mahasiswa yaitu Fendriano Mafrandana (mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi) yang membawakan lagu Sudahlah, tari Zapin Melayu juga tarian Nandhak Betawi, dan Bymie Islamiati (mahasiswi Prodi Farmasi) yang menyanyikan lagu Ijuk dan Laksmana Raja di Laut.

Dalam kegiatan Melayu Day ke-6 Yala 2019 ini, ujar dia, diharapkan Uhamka dapat lebih meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan dengan Thailand dan negara serumpun lainnya, sehingga akan lebih banyak mahasiswa internasional merasakan pendidikan di Uhamka dan menebarkan dakwah persyarikatan Muhammadiyah.  
 

Pewarta: Dewanti Lestari
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pameran lukisan kopi

Kartunis Jan Praba di samping karya lukisannya berjudul “Bima” pada acara pembukaan lukisan bertajuk “Coffe in Culture Heritage”, di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, Sabtu (9/2/2019). Pameran yang diikuti oleh 12 perupa Jakarta dan sekitarnya ini menampilkan lukisan dengan media kopi, akan berlangsung hingga 16 Februar 2019. ANTARA FOTO/Dodo Karundeng/hp.

Perkembangan tari Jaran Goyang

Penari menampilkan tarian tradisional Jaran Goyang saat menghibur wisatawan di Banyuwangi,Jawa Timur, Jumat (8/2/2019). Tari Jaran Goyang merupakan tarian asli dari Kabupaten Banyuwangi yang menceritakan tentang kisah pergaulan asmara pemuda-pemudi yang tidak terbalas, sehingga memunculkan niat buruk untuk menggunakan aji Jaran Goyang (pelet). Saat ini perkembangan tarian tersebut tidak hanya ditarikan pada acara hajatan dan hari kemerdekaan saja, namun sudah berkembang sebagai tarian hiburan untuk wisatawan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/hp.

Pekan Budaya Jepang 2019 suguhkan karuta hingga anime

Jakarta (ANTARA News) – Japan Foundation menyelenggarakan Pekan Budaya Jepang 2019 (Japan Cultural Weeks 2019) untuk memberikan pengalaman kebudayaan Negeri Sakura pada masyarakat Indonesia.

Acara yang berlangsung selama 12 hari, pada 12-23 Februari 2019 di Hall The Japan Foundation, itu berisi belasan kegiatan bervariasi.

“Diskusi, workshop, demonstrasi, talkshow, dan pemutaran film yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan informasi tentang Jepang lebih mendalam serta menjadi ajang pertukaran pengetahuan antara Indonesia dan Jepang,” kata Japan Foundation dalam keterangan pers, Sabtu.

Beberapa kegiatan yang digelar di antaranya adalah pengenalan Kyogi Karuta dari Ogura Karuta Club, pemutaran film “Pop In Q”, pengenalan Yosakoi dari Yosakoi Naruko Odori “Hyakka Ryouran”, juga public lecture “An Introduction to Islam via Personal Experience: Basic Knowledge for Peaceful Co-Existence with Muslims” dalam bahasa Jepang.

Pengunjung juga bisa belajar lebih banyak tentang igo alias catur Jepang, ikebana, kaligrafi Shodo, kuliner onigiri dan makimono, mengetahui upacara minum teh (Sadou) dari Chado Urasenke Tankokai Indonesia hingga berbincang mengenai film “5 Centimeters per Second” yang disutradarai Shinkai Makoto.
 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jemparingan Bentuk Karakter Siswa Lebih Fokus

(Antara)-Sekolah Dasar Muhammadiyah Miliran Kota Yogyakarta membuat terobosan dengan memasukkan cabang olah raga memanah gaya Yogyakarta ke muatan lokal atau ekstra kulikuler. Mulog jemparingan gaya mataraman itu diikuti oleh anak didik yang duduk di kelas empat hingga enam, untuk membentuk karakter anak agar lebih fokus.

“Nyai Roro Kidul” lukisan Basoeki Abdullah paling favorit

Jakarta, (ANTARA News) – Maestro seni lukis Basoeki Abdullah dikenal sebagai salah satu seniman yang banyak menghasilkan lukisan bernilai adikarya, salah satunya berjudul “Nyai Roro Kidul”.
    
Menurut kurator pameran seni Istana Kepresidenan di Galeri Nasional, Watie Moerany di Jakarta, Kamis, “Nyai Roro Kidul” yang menggambarkan sosok perempuan penguasa laut selatan itu merupakan lukisan Basoeki Abdullah yang paling favorit di masyarakat.

“Para pengunjung yang melihat lukisan tersebut bisa berdiri di depan lukisan selama 20-30 menit untuk mengamati,” katanya ketika menjadi pembicara pada seminar bertajuk “Basoeki Abdullah dan Lukisan Mitosnya” di Museum Basoeki Abdullah.

Mantan Kepala Biro Pengelola Istana Kepresidenan Bogor itu menyatakan, dari lukisan-lukisan yang dipajang di Istana Bogor, yang terbanyak merupakan karya Basoeki Abdullah.
 
Dikatakannya, penggemar lukisan cucu pahlawan nasional Wahidin Soedirohoesodo itu sangat luar biasa dan hingga saat ini karya-karya Basoeki Abdullah yang ada di Istana Kepresidenan Bogor masih terawat dengan baik.
  
Legenda, mitologi atau cerita yang mempunyai latar belakang sejarah dan dipercaya masyarakat, banyak menjadi tema lukisan Basoeki Abdullah, seperti “Nyai Roro Kidul” yang dibuat pada 1955, “Joko Tarub (1959), “Jika Tuhan Murka” (1950), “Sembodro Larung” (1967) dan “Perkelahian Rahwana dan Jatayu”.

Koleksi lukisan Basoeki Abdullah yang bertema mitologi di Istana Kepresidenan berjumlah tujuh terdiri dari lima buah di Istana Bogor, satu di Yogyakarta, dan satu lukisan di Jakarta.

Sementara itu Kepala Museum Basoeki Abdullah, Maeva Salmah mengatatakan, pelukis kelahiran Surakarta itu selama hidupnya telah menghasilkan sekitar 5000 karya lukis.

Namun, lanjutnya, dari jumlah tersebut yang ada di Museum Basoeki Abdullah hanya 112 lukisan, selebihnya tersebar baik di koleksi Istana, galeri, ataupun perorangan.

“Yang sangat disayangkan kita tidak memiliki lukisan Basoeki Abdullah yang tergolong masterpiece seperti ‘Nyai Roro Kidul’,” katanya.

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Agus Aris Munandar menyatakan, lukisan Basoeki Abdullah dengan tema mitos, legenda dan dongeng dapat menjadi mitos baru.

“Buktinya lukisan dengan tema tersebut diapresiasi dan dihargai secara luar biasa oleh masyarakat pengagumnya,” katanya.***3***
   
Baca juga: Istana Kepresidenan konservasi lukisan Basoeki Abdullah
Baca juga: Lukisan Basoeki Abdullah paling banyak dikoleksi Soekarno

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Saat Mahasiswa Asing Belajar Membatik

(Antara)-Program pertukaran mahasiswa kerap diadakan di berbagai kampus, termasuk di IKIP Budi Utomo atau IBU Malang, Jawa Timur. Di kampus ini, selain pelajaran Bahasa Indonesia,  mahasiswa asing peserta program diperkenakan kepada sejumlah budaya lokal, seperti membatik dan tari topeng. Pengenalan  budaya lokal ini, antar lain bertujuan untuk mempererat hubungan Indonesia dengan negara asal para mahasiswa.

Pameran Tenun Sikka digelar pada 15-17 Februari

Jakarta (ANTARA News) – Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Tenun Ikat Sikka bersama dengan Yayasan Sahabat Cipta menyelenggarakan pameran, lelang dan penjualan Tenun Ikat Sikka pada tanggal 15-17 Februari 2019 di Atlet Century Park Hotel, Jakarta, untuk mempromosikan Tenun Ikat Sikka.

Selain untuk promosi, acara yang bertajuk “Tenun Ikat Sikka Auction & Marketplace 2019” ini bertujuan untuk menghimpun dana guna menguatkan MPIG Tenun Ikat Sikka agar dapat memberikan pelayanan kepada para penenun dan pelaku kreatif sehingga bisa memastikan keberlanjutan usaha, pelestarian, dan regenerasi penenun.

“Acara ini akan diisi dengan lelang kain Tenun Ikat Sikka bernilai tinggi, demo pembuatan tenun, pameran kain berusia tua, flashmob Goyang Maumere, penjualan kain dan selendang Tenun Ikat Sikka dengan motif yang dilindungi yang sebagian besar menggunakan pewarna alam, serta pameran dan penjualan produk fashion yang terbuat dari bahan Tenun Sikka,” ujar Dollaris Riauaty, Ketua Penyelenggara dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis. 

Acara tersebut akan dihadiri oleh 10 orang penenun dan pelaku kreatif tenun dari kabupaten Sikka. Selain itu, ada juga produk fashion dari delapan rumah desain seperti Batik Tenun Njonjah Poenja, LeVico, Noesa, Niora, Indhe Indonesia Bag, Oriep Indonesia, Racheli dan Ita Selaras.

Baca juga: Tenun ikat Sumba Timur produk andalan Kemendes PDTT

Baca juga: Kisah tenun Watubo di Paviliun Indonesia

Selama tiga hari, pencinta, kolektor, dan penggiat wastra tenun Indonesia serta masyarakat luas berkesempatan untuk mendapatkan kain dan produk fashion Tenun Ikat Sikka dengan beragam motif yang cantik dengan cerita dan filosofi yang terkandung di dalamnya.  

“Tenun Ikat Sikka Auction & Marketplace 2019” didukung oleh Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Pemerintah Provinsi NTT, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pariwisata, Pemerintah Swiss melalui Proyek Indonesian-Swiss Intellectual Property (ISIP), dan Ford Foundation. Acara ini juga merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan World Intellectual Property Day yang diadakan setiap tahun pada tanggal 26 April. 

Tenun Ikat Sikka sendiri merupakan karya seni budaya kain tradisional Indonesia yang bernilai tinggi yang berasal dari wilayah kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tenun ini merupakan tenun ikat pertama di Indonesia yang memperoleh perlindungan hukum kekayaan intelektual melalui Indikasi Geografis dengan sertifikat ID G 000000056.

Baca juga: Sumba memikat dengan tenun ikat

Baca juga: Tenun ikat Kediri tampil di Jakarta Fashion Week

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wihara tertua di Bandung terbakar saat Imlek

(Antara)-Ibadah umat Tridharma saat Imlek di Wihara Samudra Bhakti, Kota Bandung, pada Selasa (5/2) harus terhenti setelah melalap tempat ibadah bersejarah tersebut.  Polisi menduga, api berasal dari ruangan tempat daur ulang lilin yang berada tepat dibelakang vihara tertua di Kota Bandung itu.

Tradisi Serak Gulo

Sejumlah warga berebut bungkusan gula pasir saat digelar tradisi ‘Serak Gulo’ di halaman Masjid Muhamadan, Padang, Sumatera Barat, Selasa (5/2/2019). Sebanyak delapan ton gula pasir dibagikan pada tradisi “Serak Gulo” atau menebarkan gula pasir dalam rangka menyambut Maulud Syekh Sahul Hamid yang secara turun temurun diperingati di India dan sudah digelar di Padang oleh warga muslim keturunan India sejak 200 tahun lalu. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.

Gelar budaya harian di Banyuwangi

Jaranan Buto tampil pada gelaran “Banyuwangi Culture Everyday” di Taman Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (5/2/2019). Pertunjukan berbagai kesenian Banyuwangi yang digelar setiap hari itu, selain sebagai wadah kreatifitas para seniman lokal, juga menjadi salah satu atraksi pertunjukan yang ditawarkan untuk wisatawan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/foc.

Parade Reog Ponorogo

Penari reog menghibur penonton saat Gebyar Budaya Parade Reog Ponorogo di Lapangan Nambangan Kidul, Kota Madiun, Jawa Timur, Selasa (5/2/2019). Kegiatan tersebut untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi antarseniman reog, sekaligus menghibur masyarakat. ANTARA FOTO/Siswowidodo/foc.

Keunikan Menhir Mahat di Lima Puluh Kota

(Antara)-Sumatera Barat memiliki peninggalan sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya ada di Nagari Mahat di Kabupaten Lima Puluh Kota, yang tersebar ribuan peninggalan kepurbakalaan berupa menhir. Peninggalan budaya megalitik itu baru 20 persen yang tergali dan masih banyak tersebar menhir di Mahat yang belum terekspos.

Merasakan keriaan Imlek lewat wisata Glodok

Jakarta (ANTARA News) – Perayaan tahun baru China alias Imlek betul-betul terasa di kawasan Pecinan Glodok, Jakarta, Selasa.

Antara bersama rombongan dari Wisata Kreatif Jakarta berjalan kaki selama empat jam untuk menelusuri kawasan Glodok sembari merasakan keriaan Imlek yang membuat suasana lebih meriah.

Tempat-tempat di bawah ini bisa jadi inspirasi buat Anda yang ingin menjelajahi pecinan tertua di Jakarta, melewati gang-gang kecil yang dipenuhi gerobak makanan menggiurkan hingga kelenteng yang disesaki manusia. 
  Pantjoran Tea House, Glodok, Jakarta (ANTARA News/ Nanien Yuniar)

Pantjoran Tea House
Gedung ini berada di Pintu Gerbang Selatan kota Batavia menuju Pecinan sejak tahun 1900. 

Dulunya gedung ini adalah toko “Winkel The Lun Tai” (Toko Pojok milik The Lun Tai) yang berubah jadi Toko Obat Chung Hwa. Hingga saat ini area sekitar Pantjoran Tea House memang dipenuhi oleh toko-toko obat tradisional China.

Gedung ini akhirnya terbengkalai selama puluhan tahun hingga akhirnya direnovasi pada 2015, bagian dari revitalisasi Kota Tua.
 
Bangunan apotek ini beralih fungsi jadi rumah teh yang juga menyajikan masakan China.

Tak sulit mencari rumah teh ini. Selain berada di pinggir jalan, di bagian depannya ada meja berisi delapan teko teh yang bisa disesap oleh orang yang lewat secara cuma-cuma.

“Dulu Pancoran ini namanya jalan Patekoan,” kata Ira Lathief, pemandu sekaligus pendiri tur Wisata Kreatif Jakarta.
 

  Teko-teko berisi teh yang bisa diminum gratis di depan Pantjoran Tea House, Glodok, Jakarta. (ANTARA News/ Arindra Meodia)

Patekoan artinya delapan teko (Pa adalah delapan, tekoan artinya teko), jumlah teko yang disediakan di depan rumah teh tersebut. Itu merupakan tradisi lama yang dimulai oleh Kapitan Gan Djie pada tahun 1600-an. 

Dia menyediakan delapan teko untuk melegakan dahaga para pejalan kaki yang melewati tempat itu. 

Seperti teh-teh China dan Jepang pada umumnya, teh yang disajikan dalam delapan teko itu tidak manis, tapi ada gula pasir yang tersedia untuk pejalan yang lebih suka menikmati teh manis.

Bicara soal teh manis, Ira mengatakan minuman yang dinikmati banyak orang di Indonesia itu hadir dari kebiasaan budak-budak zaman penjajahan Jepang.

“Romusha kerja rodi, tapi jarang dikasih makan. Agar tetap punya energi dan stamina, mereka dikasih teh  dengan gula. Di tempat aslinya, Jepang dan China, teh diminum tanpa gula karena (tanpa gula) memang yang berkhasiat,” jelas dia.

  Angpau yang dijual di Glodok, Jakarta (ANTARA News/ Nanien Yuniar)

Toko-toko obat

Tak jauh dari Pantjoran Tea House berjejer toko-toko obat tradisional di Jalan Pancoran yang kebetulan tutup saat Imlek. 

Meski demikian, masih ada pedagang yang menggelar lapak di sana, menawarkan obat-obat tradisional seperti daun jati Cina yang dipercaya dapat menguruskan badan hingga tongkat ali sebagai obat kejantanan pria.

Jalan Pancoran juga diramaikan oleh pedagang rokok dan cerutu dari berbagai merek hingga amplop angpau untuk Imlek.
  Toko manisan di Jalan Pancoran, Glodok, Jakarta. (ANTARA News/ Nanien Yuniar)

Toko manisan, permen dan kacang
Tak jauh dari toko-toko obat, Anda bisa membeli ragam manisan, permen dan kacang yang bervariasi. Banyak diantaranya merupakan manisan dari negeri Jiran bahkan dari Hong Kong. Ada kacang, cokelat-cokelat yang dibalut dengan kemasan menarik, permen aneka rasa hingga permen jahe.
  Bakmi Amoy di Gang Gloria, Glodok, Jakarta (ANTARA News/ Nanien Yuniar)

Gang Gloria
Gang kecil nan sempit ini dipenuhi dengan beragam pedagang makanan sekaligus “surga” untuk penikmat daging babi. 

Di gang ini berdiri kedai kopi tertua di Batavia, Kopi Es Tak Kie, yang dibuka sejak 1930-an. 

Tak jauh dari situ, ada juga Ko Tang Barber Shop, tempat pangkas rambut legendaris yang sudah berdiri hampir 90 tahun.

“Tiap ada kampanye, entah pemilihan kepala daerah atau presiden, pasti tempat itu didatangi kandidat yang mau minta ‘restu’,” kata Ira.

Jangan meleng bila ingin menemukan penjual chi cong fan yang mangkal di pinggir jalan dengan sepeda modifikasi berisi uyen (talas goreng), somay dan lumpia. Seporsi gorengan lengkap dengan potongan ci chong fan yang mirip kwetiau dapat dinikmati dengan harga Rp10.000. 

Di sekitar situ juga ada gang yang dipakai untuk membersihkan hewan-hewan untuk dimakan, seperti belut dan kodok.
  Seorang jemaah melepaskan burung di Wihara Dharma Bakti, Glodok, Jakarta, Selasa (5/2/2019). (ANTARA News/ Nanien Yuniar)

Wihara Dharma Bakti alias Kelenteng Jin De Yuan

Di luar wihara, berjejer kandang berisi ratusan burung kecil. Kandang-kandang berisi burung ini nantinya dibeli oleh orang yang bersembahyang, kemudian kadang itu akan dibuka agar hewan-hewan di dalamnya bisa terbang bebas.

Ira menjelaskan tradisi melepaskan burung dianggap dapat membawa karma baik.

Alat-alat untuk sembahyang juga dijual di sebuah toko yang letaknya hanya puluhan langkah dari pintu masuk wihara. Toko ini menjual uang, sepatu hingga baju dari kertas yang akan “dikirim” pada leluhur dengan cara dibakar.

Wihara yang sudah berdiri selama 4 abad itu dipenuhi orang yang bersembahyang saat Imlek. Bukan cuma itu, berjejer pula antrean pengemis yang mengharap lembaran uang dari orang-orang yang ingin berbagi rezeki pada Tahun Baru.

Ira menjelaskan, wihara ini sudah beberapa kali terbakar, tapi bisa bertahan hingga saat ini. Pada kebakaran 2015, patung Dewi Kasih Sayang Kwan Im berhasil selamat dari api yang berkobar, membuat orang-orang menganggapnya sebagai patung keramat.

Di Indonesia, umat yang berdoa di kelenteng dan wihara kerap bercampur baur. Ini adalah sebuah keunikan, ujar Ira, karena di luar negeri kelenteng dan wihara tampak berbeda satu sama lain. 

Di wihara-wihara Indonesia, ada beragam simbol yang ada di kelenteng. Tidak demikian halnya dengan wihara di luar Indonesia.

Ini tak lepas dari kebijakan politik Orde Baru yang menciptakan diskriminasi bagi orang-orang keturunan China di Indonesia, salah satunya soal kebebasan beribadah. 

Penganut konghucu harus memeluk agama yang saat itu diakui, kebanyakan memilih agama Budha, kristen protestan atau katolik.

Kelenteng Jin De Yuan pun berganti nama jadi Wihara Dharma Bakti. 

Semenjak pemerintahan Gus Dur, pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa kembali diakui. 

  Gereja Katolik Santa Maria De Fatima di Glodok, Jakarta. (ANTARA News/ Nanien Yuniar)

Gereja Katolik Santa Maria De Fatima

Gereja Katolik yang sudah berdiri sejak 1950-an ini unik karena arsitekturnya bergaya bangunan Tiongkok Selatan atau Fukien.

“Hanya ada dua gereja berasitektur China di Indonesia, satu lagi di Manado,” kata Ira.

Gereja dengan gaya arsitektur Tionghoa yang dihiasi sepasang patung singa batu itu dulunya merupakan rumah orang China yang menganut agama Katolik. Di gereja ini, misa diadakan dalam bahasa Mandarin. 

Baca juga: Laura Basuki tak rayakan Imlek tahun ini

Baca juga: Ketimbang bepergian, warga Tionghoa Kendari pilih kumpul keluarga saat Imlek

Baca juga: Imlek, aktor Dion Wiyoko doakan pilpres damai

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pameran Gambar Babad Diponegoro

Pengunjung mengamati karya saat pameran sastra rupa “Gambar Babad Diponegoro” di Jogja Gallery, DI Yogyakarta, Selasa (5/2/2019). Pameran sastra rupa dari naskah “Babad Diponegoro” yang ditulis langsung oleh Diponegoro saat diasingkan di Manado itu sebagai media mengenalkan tokoh Pangeran Diponegoro melalui imajinasi para seniman. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/foc.

Pentas Dulmuluk merihkan Imlek di Tanjung Ular Bangka-Belitung

Muntok, Babel (ANTARA News) – Pentas sandiwara tradisional Dulmuluk yang dibawakan Bobong Project  memeriahkan malam Tahun Baru Imlek 2570 di Tanjung Ular, Muntok, Provinsi Kepualan Bangka Belitung (Babel). 

“Kami berharap pementasan ini bisa memberikan kemeriahan bagi warga Tanjung Ular yang sedang menyambut tahun baru,” kata pengurus Bobongproject Nurkholis Dwianto di Muntok, Babel,  Senin (4/2). 

Menurut dia, pementasan sandiwara tradisional dulmuluk atau sandiwara sejenis lenong berbahasa lokal Bangka yang mengambil cerita ngidam tampil cukup menghibur.

Cerita dengan tokoh utama Pak Udak, tokoh legendaris dalam berbagai cerita rakyat lokal mampu diterima dengan baik oleh penikmat yang hadir dalam acara itu.

Cerita yang disampaikan mengalir dengan baik dan sesekali dihiasi dengan lawakan mampu menghibur sekitar 300 warga yang hadir di pelataran Kelenteng Nam Hoi Kong Miau.

Selain penampilan Bobong Project, pementasan malam itu juga menampilkan sejumlah pegiat seni dan sastra lokal, antara lain Dea, siswa SMP Negeri 5 Muntok yang menampilkan puisi berjudul Di Pinggir Sungai  Chi, Seno Bambang menampilkan musikalisasi kisah Kepada laut.

Musikalisasi puisi bersama Seno diakhiri dengan penampilan Leo yang membawakan tiga lagu dengan iringan seruling China.

Warna pertunjukan semakin beragam dengan penampilan barongsai dan atraksi wushu yang dibawakan Melvano.

“Kami berharap penampilan sejumlah seniman dan beragam atraksi ini bisa menambah kemeriahan sekaligus memberi nuansa baru dalam berkesenian di Tanjung Ular,” kata Yudhi, tokoh pemuda Tanjung Ular. 

Baca juga: Warga buka pintu rumah sambut Imlek

Baca juga: Ribuan warga Tionghoa di Aceh rayakan Imlek

Baca juga: Jabodetabek diprediksi hujan saat Imlek 2019
 

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Musik Tanjidor di malam Imlek

Grup musik Sinar Pusaka Jaya dari Tajurhalang, Kabupaten Bogor memainkan kesenian Tanjidor di Vihara Dhanagun, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/2/2019) dini hari. Musik Tanjidor yang merupakan hasil perpaduan budaya Eropa, Cina, Melayu dan Arab itu dimainkan untuk menghibur dan memeriahkan malam Tahun Baru Imlek 2570 di vihara tersebut. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/foc.

Yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat Imlek

Jakarta (ANTARA News) – Tahun baru Imlek diharapkan membawa berkah, kemakmuran dan rezeki sepanjang tahun. 

Agar keberuntungan tetap berada dalam genggaman, ada beberapa aktivitas terlarang, tetapi ada pula aktivitas yang dianjurkan saat Imlek. 

Dilarang menyapu
Menyapu atau bersih-bersih saat Imlek tidak dianjurkan sama sekali. Selvie Anggrainy, warga Jakarta yang merayakan Imlek, mengatakan aktivitas harian itu dianggap bisa menyapu keberuntungan seseorang.

Dilarang potong rambut
Memotong rambut dianggap sama seperti menyapu, yakni bisa membuang keberuntungan. Jika memang ingin punya penampilan baru yang segar saat tahun baru Imlek, lakukanlah tiga hari atau setidaknya sepekan sebelum Imlek.

Serba merah
Pakailah busana bernuansa merah, atau setidaknya aksesoris berwarna merah saat berkumpul dengan keluarga tercinta. Ini juga berlaku saat malam imlek. Warna merah dipercaya bisa mengundang keberuntungan untuk masa mendatang.

Angpau
Berbagi angpau jadi tradisi yang tidak terlewatkan saat Imlek. Biasanya yang boleh memberikan angpau adalah mereka yang sudah menikah. Para lajang tak perlu ikut berbagi amplop, cukup menunggu giliran menerima angpau.

Namun para lajang yang sudah bekerja dianggap tidak perlu lagi diberi angpau, meski sebenarnya sah-sah saja bila memang diberi angpau.
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Anne Avantie perkenalkan busana batik di AEON BSD

Tangerang (ANTARA News) – Anne Avantie perancang busana kebaya dan batik nasional menggelar peragaan busana  menyambut perayaan Imlek bertempat di AEON Mall BSD City, Kabupaten Tangerang  bertemakan “Pasar Tiban 23 – Kampoeng Peranakan” yang diadakan dari tanggal 31 Januari sampai dengan 13 Februari 2019.

“Kami menjalin kerja sama dengan manajemen mal untuk memperkenalkan busana batik yang dapat dipadu padankan untuk berbagai kesempatan,” kata Anne ditengah-tengah gelaran di AEON Mall BSD City Kabupaten Tangerang, Senin.

Peragaan busana dimeriahkan model catwalk serta artis kenamaan nasional seperti Indra Bekti, Chika Jessica, Mona Ratuliu, Novita Angie, Meisya Siregar, Ersa Mayori dan para Putri Indonesia.

Sesuai tema Pasar Tiban 23 pihak pengelola menyulap suasana mal menjadi  kampung peranakan tempo dulu lengkap dengan dekorasi khas Imlek seperti lampion dan gerbang yang terinspirasi dari suasana Pasar Semawis di Semarang yang merupakan salah satu Pasar Pecinan yang tidak pernah sepi dari pengunjung. 

Senior Operation Manager PT AEON Mall Sinar Mas Land Indonesia (AMSL), Juanita Rustandi mengatakan untuk mengulang kesuksesan acara Pasar Tiban ‘Toejeoh Belasan’ di 2017, pada periode Imlek 2019 ini, kami kembali bekerja sama dengan Anne Avantie mengadakan Pasar Tiban ‘Kampoeng Peranakan’. 

“Kami percaya ‘Kampoeng Peranakan’ ini akan menyuguhkan rangkaian acara menarik perpaduan budaya lokal dan Tionghoa. Dan acara ini juga merupakan salah satu bentuk dukungan kami terhadap para pelaku industri kreatif dan Usaha Kecil Menengah (UKM) melalui Anne Avantie untuk dapat memperkenalkan produk unggulan mereka kepada customer,” ujar Juanita.

Sesuai dengan tema, Pasar Tiban menghadirkan berbagai rangkaian acara untuk memeriahkan Tahun Baru Imlek seperti tradisi Yusheng, Tari Kipas dan pertunjukan Barongsai yang selalu dinanti tiap tahun. 

Pasar Tiban juga menyelenggarakan acara yang bersifat edukatif seputar fashion melalui bermacam talk show yang dipandu langsung oleh Anne Avantie seperti padu padan kebaya bordir, seni melilit kain, sarung emak bersama Dewi Motik, dan masih banyak lagi.

Pasar Tiban juga menyuguhkan bermacam kuliner tradisional Indonesia yang bisa dinikmati di area Kampoeng Djajanan seperti pecel, rujak, es dawet dan aneka bubur. 

Selain itu, Pasar Tiban juga mengajak keluarga dan anak-anak untuk meninggalkan gadget mereka sejenak agar dapat bermain bersama serta mengenal berbagai permainan tradisional yang ada di Kampoeng Dolanan.

Juanita mengatakan “Dalam acara Pasar Tiban ‘Kampoeng Peranakan’ ini terdapat berbagai kain batik, baju batik dan kebaya ready to wear yang sudah dikurasi dengan baik oleh tim dari Anne Avantie.

“Kami juga memberikan berbagai program belanja yang menarik seperti Fortune Lucky Angpao, dengan minimum pembelanjaan senilai Rp500.000,- pengunjung berkesempatan mengambil satu kali Lucky Angpao,” ujar dia.

Baca juga: Para siswa Temanggung peragaan busana berbahan barang bekas

Pewarta: Ganet Dirgantara
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bakti Budaya Djarum Foundation beri kesempatan seniman muda ke New York

Jakarta (ANTARA News) – Bakti Budaya Djarum Foundation beri kesempatan seniman muda ke New York melalui program “Indonesia Menuju Broadway”. Program ini bekerjasama dengan Passport to Broadway, New York, yang merupakan beasiswa pelatihan bagi seniman muda guna mendapatkan ilmu panggung dengan stadar broadway di Indonesia.

“Setelah sebelumnya program ruang kreatif ditujukan bagi komunitas seni dan manjemen produksi seni pertunjukan, kali ini ruang kreatif ditujukan untuk seniman muda Indonesia yang menekuni genre musikal yang banyak diminati saat ini,” kata Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian di Balai Resital Kartanegara, Jakarta, Senin.

Diharapakan, melalui program ini, para aktor dan aktris seni pertunjukan Indonesia dapat meraskaan pelatihan ala Broadway secara langsung di Amerika Serikat.

“Dengan mengikuti pelatihan ini diharapkan para seniman muda Indonesia dapat membawa harum nama Indonesia di kancah internasional,” katanya.

Para seniman yang akan dikirim ke New York harus melewati tiga tahapan yang akan dinilai oleh para juri yang sudah berpengalaman disetiap bidangnya seperti Ari Tulang, Garin Nugroho, Andrea Miranda dan Ufa Sofura. 

“Selama dua hari ini kami sudah banyak sekali melihat aksi dari seniman muda yang memiliki bakat tari, menyanyi dan akting seperti syarat untuk tiga tahapan yang akan kita nilai,” kata Garin Nugroho.

Dalam kesempatan yang sama Garin menambahkan dengan adanya program ini akan menjadi bagian dari ajang penemuan dan pertumbuhan sumber daya manusia untuk menemukan bakat dari seni.

“Tanpa sumber daya manusia yang cukup dan mengikuti standar nasional. Maka tidak mungkin musikal akan tumbuh di negara ini,” katanya.

Program ini diikuti oleh 672 orang yang sudah mendaftar melalui website www.indonesiakaya.com, hingga kini sudah terpilih sekitar 243 peserta yang sedang mengikuti proses audisi yang nantinya akan tepilih hanya 10 orang yang akan berangkat ke New York.

Baca juga: Berkonsep broadway, Calum Scott akan hibur publik Tanah Air pada 2 Desember

Baca juga: Drama musikal Michael Jackson akan hadir di Broadway
 

Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia Cosplay Grand Prix 2019

“Cosplayer” beraksi saat kegiatan Indonesia Cosplay Grand Prix 2019 di kawasan Kuta, Bali, Minggu (3/2/2019). Kegiatan yang digelar di lima kota di Indonesia tersebut menyeleksi para “cosplayer” untuk menjadi perwakilan Indonesia pada ajang World Cosplay Summit 2019. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/aww.

Nyanyi Sunyi Revolusi

Aktor Lukman Sardi (kiri) dan Sri Qadariatin memerankan Amir Hamzah dan Ilik Sundari dalam pentas teater “Nyanyi Sunyi Revolusi” di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta, Jumat (1/2/2019). Pementasan tersebut merupakan gelaran ke-29 Titimangsa Foundation yang mengangkat kisah hidup seorang penyair besar Indonesia Amir Hamzah dengan sutradara Iswadi Pratama. ANTARA FOTO/Dede Rizky Permana/foc.

Live show Doraemon di Yogyakarta

Tokoh kartun Doraemon & Friends beraksi saat acara Live Show “Doraemon Blooming Prosperity” di Plaza Ambarrukmo, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (1/2/2019). Penampilan karakter kartun Doraemon & Friends yang berlisensi resmi dari Jepang itu menjadi rangkaian perayaan Imlek 2019. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/hp

1.000 siswa Bali ikuti Festival Nyurat Lontar Massal

 Denpasar (ANTARA News) – Sekitar 1.000 siswa-siswi SMP, SMA, dan mahasiswa dari berbagai daerah di Pulau Dewata mengikuti Festival Nyurat Lontar Massal yang merupakan rangkaian agenda kegiatan Pembukaan Bulan Bahasa Bali 2019.

“Setelah pembukaan  ini akan dilanjutkan dengan sejumlah kegiatan lomba di kabupaten/kota seperti mesatua Bali, nyurat aksara Bali, postingan berbahasa Bali dan sebagainya,” kata Plt Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Putu Astawa di sela-sela Pembukaan Bulan Bahasa Bali 2019, di Denpasar, Jumat.

 Para siswa, mahasiswa, dan perwakilan penyuluh bahasa Bali yang nyurat  lontar itu, menuliskan guratan aksara Bali di atas daun lontar yang sudah disediakan panitia dengan menggunakan pisau khusus yang disebut dengan pengrupak.

Para peserta juga kompak nyurat lontar dengan mengenakan pakaian adat Bali, mereka duduk berjejer dengan rapi di lantai bawah Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar.

 Menurut Astawa, sengaja dipilih kegiatan nyurat lontar dalam Pembukaan Bulan Bahasa Bali 2019 karena keaslian sastra Bali sesungguhnya  berasal dari lontar-lontar sehingga pihaknya ingin kembali merevitalisasi keberadaannya.

 “Banyak sekali kearifan lokal yang bisa diperoleh dari lontar, sehingga jangan sampai hal itu punah dan generasi muda pun harus tahu warisan budayanya,” ujar Putu Astawa yang juga Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Bali itu.

 Di sisi lain, terkait pelaksanaan Bulan Bahasa Bali 2019 ini, pihaknya sangat berharap agar masyarakat Bali betul-betul memiliki ciri ke-Bali-annya yang akarnya dari budaya. Budaya sendiri mencakup tradisi, adat, termasuk bahasa, aksara dan sastra Bali.

 “Kami tidak ingin anak-anak muda sekarang bahasanya `hallo bro, ngapain lu, gue ini`. Ini kan menjauh dari akar budaya sesungguhnya,” seloroh Astawa.

 Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali sekaligus merupakan amanat dari Pergub Bali No 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali dan turunan Perda No 1 Tahun 2018 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali.

 Hal tersebut, tambah dia, sejalan dengan komitmen Gubernur Bali Wayan Koster yang fokus memperhatikan alam, manusia dan budaya Bali selama masa kepemimpinannya.

“Jadi, mulai sekarang membangun Bali era baru, di tengah derasnya arus globalisasi,” kata Astawa.

 Astawa mengatakan terkait dengan lomba-lomba serangkaian Bulan Bahasa Bali yang dilaksanakan di tingkat kabupaten/kota, nanti para juaranya akan maju ke lomba tingkat provinsi pada 24-28 Februari mendatang.

Saat itu juga akan diadakan pameran dan penyerahan hadiah lomba.

Baca juga: Festival dan lomba semarakkan Bulan Bahasa Bali
Baca juga: Ribuan peserta terlibat Festival Pasraman Indonesia 2018

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tradisi Umbul Mantram

Warga berjalan keliling kampung membawa sesaji saat mengikuti Tradisi Umbul Mantram di Kampung Sudiroprajan, Solo, Jawa Tengah, Kamis (31/1/2019). Tradisi Umbul Mantram merupakan ungkapan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan keselamatan yang telah diberikan kepada seluruh warga kampung Sudiroprajan.ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/wsj.

2 Lukisan karya Raden Saleh direstorasi

(Antara)-Akibat tidak dirawat dengan semestinya, kondisi sejumlah lukisan karya pelukis besar, Raden Saleh, di Kraton Yogyakarta, belakangan ini, semakin memprihatinkan. Guna menyelamatkan lukisan-lukisan yang juga menjadi pusaka kraton tersebut, Kraton Yogyakarta, saat ini, mulai melakukan upaya restorasi dengan melibatkan seorang restorator karya seni dari Italia.