Putri Koster Ajak Generasi Muda Bangkitkan Seni Sakral

Amlapura (ANTARA) – Seniman sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Putri Suastini Koster mengajak generasi muda di daerah itu untuk membangkitkan kembali kesenian-kesenian sakral yang hampir punah.

“Marilah kita mulai peduli untuk membangkitkan dan melestarikan seni budaya yang kita miliki, terlebih yang hampir punah sehingga kelestarian tidak hanya diwujudkan dengan simbolis belaka melainkan menggali dan secara kontinyu melestarikannya,” kata Putri Koster di sela menghadiri ritual Karya Ngusaba Dalem, Ida Bhatara Dalem Memasar di Pura Pesamuhan Agung/Pasar Nongan, di Desa Nongan, Amlapura, Karangasem, Senin.

Dalam kesempatan itu, Putri Koster bahkan ikut menarikan tari Rejang Pala, yakni sebuah tarian sakral berumur ratusan tahun di Desa Nongan bersama sekitar 200 penari dari kalangan anak-anak, remaja maupun dewasa.

Sebagai salah seorang yang sering berkecimpung dalam dunia seni tari maupun seni panggung, dia memberikan apresiasi tinggi terhadap rekonstruksi tarian sakral tersebut.

“Membangkitkan kembali seni budaya yang hampir punah merupakan wujud nyata kepedulian terhadap warisan para leluhur. Di samping itu, melestarikan seni dan budaya juga merupakan cerminan dari visi misi Gubernur Bali yaitu Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” ucap istri Gubernur Bali itu.

Menurut dia, pelestarian tidak hanya dilakukan dari segi sekala (nyata atau fisik) semata melainkan juga dari segi niskala (spiritual/rohani).

Sementara itu, Wayan Arya Satyani, salah satu anggota tim rekonstruksi tari Rejang Pala mengatakan bahwa tarian tersebut berasal dari peninggalan Pura Pan Balang Tamak yang ada di Desa Nongan.

Pada awalnya, di kalangan masyarakat desa setempat hanya beredar cerita bahwa Rejang tersebut hanya berupa gelungan berisi buah-buahan dan dikeluarkan pada saat ada upacara namun tidak ditarikan karena masyarakat tidak mengetahui bagaimana cara menarikannya.

Untuk itu, ia beserta tim dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menelusuri sejarah dan melakukan rekonstruksi tari tersebut.

Tarian tersebut memiliki tujuan untuk memohon keselamatan, kesuburan yang gemah limpah loh jinawi terutama pada subak abian, karenanya para penari dihiasi dengan gelungan (hiasan kepala) yang berisi buah-buahan lokal.

“Saya berharap tarian ini dapat mewakili sejarah yang ada di desa ini khususnya di Pura Pan Balak Tamak sehingga sejarah yang ada dapat diketahui, dinikmati oleh generasi muda saat ini,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, selain dilakukan persembahyangan bersama juga dirangkaikan dengan peresmian komitmen masyarakat Desa Nongan terhadap pembatasan timbunan sampah plastik sekali pakai sesuai dengan Pergub Nomor 97 Tahun 2018, yang diresmikan oleh Bendesa Adat Nongan dan disaksikan oleh Putri Koster.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua Kartunis Pekanbaru pamerkan 102 karya satire Pemilu

Pekanbaru (ANTARA) – Dua kartunis dari Sindikat Kartunis Riau (SiKari) menggelar pameran kartun bertajuk “Pameran Kartun 0102” di Anjungan Kampar, kompleks Bandar Seni Raja Ali Haji, Kota Pekanbaru.

“Ada 102 kartun yang dipamerkan bertema satire terkait Pemilu dan Pilpres 2019,” kata salah satu seniman kartun, Eko “Fakartun” Faizin kepada Antara di Pekanbaru, Senin.

Berdasarkan pengamatan, kedua seniman mengangkat tema mengkritik atau satire seputar Pemilu 2019. Beberapa karya Furqon mengangkat ide maraknya berita hoaks terkait Pilpres dan juga kritik kepada petahana.

Sedangkan, Eko mengangkat ide dari ramainya warganet yang kerap “berkelahi” di jagad maya untuk membela jagonya di Pilpres. Ia juga mengangkat budaya pop generasi milenial yang sedang tren, seperti mengadopsi film Dilan untuk kartun yang memparodikan Joko Widodo dan Prabowo terlihat mesra berboncengan naik motor seperti Dilan dan Milea.

Eko mengatakan pameran kartun tersebut digelar selama sepekan, mulai 6 April sampai 13 April 2019.

Furqon berpartisipasi dengan memajang 70 buah karya dan Eko sebanyak 32 buah.

“Perbedaan karya adalah dalam prosesnya Furqon benar-benar karya asli dibuat dengan tangan, sedangkan saya pewarnaan secara digital dan dicetak,” katanya.

Mengenai tema pameran, Furqon menjelaskan tema terkait pemilihan umum tentang Pemilu mulai dari Pemilihan Presiden (Pilpres) hingga Pemilu Legislatif. Pemilihan angka 0102 bermakna juga nomor pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan dipilih rakyat Indonesia pada 17 April 2019 mendatang.

Selain itu, angka 01 dalam tema bisa berarti sebuah pameran kartun, sedangkan angka dua bermakna dua kartunis Riau yang bekerja sama dalam menyelenggarakan pameran yang digelar secara swadaya ini.

“Angka 102 itu jumlah kartun yang dipamerkan,” katanya.

Pewarta: FB Anggoro
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ribuan warga Batang perebutkan gunungan hasil bumi

Batang (ANTARA) – Ribuan warga memperebutkan gunungan hasil bumi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dalam rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-53 Kabupaten Batang, Senin sore.

Mereka tampak rela berdesak-desakan bahkan sampai terjatuh hanya sekadar memperoleh gunungan hasil bumi seperti tomat, kol, cabai, timun, terong, dan kacang panjang.

Kirab budaya  tersebut menyedot ribuan warga dimulai dari Jalan Veteran, Jalan Achmad Yani, Jalan Gajah Mada, Jalan Brigjen Katamso, dan berakhir di Pendopo Bupati Batang.  

Bupati Batang Wihaji  mengatakan bahwa tradisi gunungan hasil bumi tersebut sudah menjadi agenda setiap tahunnya saat penyelenggaraan HUT Kabupaten Batang.

“Tradisi gunungan hasil bumi ini memang menarik dan unik sehingga ditunggu masyarakat. Tradisi ini sekaligus sebagai bentuk wujud syukur warga dengan hasil bumi yang melimpah,” katanya.

Ia yang didampingi Wakil Bumi Suyono mengatakan pada rangkaian HUT Ke-53 Batang ini juga diselenggarakan berbagai kegiatan seperti kirab budaya dan lomba paralayang yang akan diikuti oleh sejumlah atlet nasional.

Ke depan, kata dia, pemkab berusaha  menyelenggarakan kegiatan kirab budaya yang lebih meriah, menarik, dan inovatif agar menjadi daya tarik masyarakat dan pengunjung.

“Kirab budaya yang diselenggarakan pada hari ini sudah ramai. Namun, kami ke depan dalam rangkaian HUT Batang berkeinginan bikin kegiatan ini lebih meriah dan inovatif,” katanya.

Baca juga: Kirab pusaka tombak Abirawa digelar sambut HUT Kabupaten Batang-Jateng
Baca juga: Kota Magelang gelar kirab budaya
 

Pewarta: Kutnadi
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perjuangan pentas ludruk bertahan di Surabaya

ANTARA, Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya memang telah lama dikenal sebagai pusat kesenian masyarakat. Sejumlah kelompok kesenian tradisional, seperti ludruk dan ketoprak pun berusaha untuk terus menghidupkan dunia seni pertunjukan di Kota Pahlawan tersebut. Mereka seolah berusaha melawan budaya masyarakat perkotaan yang kini lebih banyak diisi dengan hiburan instan melalui perangkat gawai.  (Nusantara Mulkan/AYM)

Prosesi adat labuhan gunung Merapi

Sejumlah abdi dalem Keraton Ngayogyakarta membawa uba rampe menuju Bangsal Sri Manganti, Gunung Merapi, saat prosesi Labuhan Gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta, Minggu (7/4/2019). Upacara adat tahunan Keraton Ngayogyakarta itu merupakan rangkaian peringatan Tingalan Dalem Jumenengan atau bertahtanya Sri Sultan HB X sebagai Raja Keraton Yogyakarta serta menjadi bentuk syukur kepada Tuhan atas segala kelimpahan dan keselamatan. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/pras.

Peringati naik tahta Sultan HB X Labuhan Merapi digelar keraton Yogya

Upacara tradisi yang digelar setiap bulan Ruwah (Kalender Jawa) tersebut diawali dari petilasan rumah Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan

Sleman (ANTARA) – Ratusan masyarakat dari berbagai daerah mengikut puncak ritual Labuhan Merapi yang digelar Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat dalam rangka memperingati naik tahta Sultan Hamengku Buwono (HB) X di lereng Gunung Merapi, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Minggu.

Upacara tradisi yang digelar setiap bulan Ruwah (Kalender Jawa) tersebut diawali dari petilasan rumah Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan.

Masyarakat bersama dengan para abdi dalem keraton mulai bergerak mendaki lereng Gunung Merapi menuju bangsal Srimanganti sekitar pukul 06.20 WIB.

Iring-iringan para abdi dalem keraton tiba di lokasi labuhan yaitu bangsal Sri Manganti yang terletak di Pos 1 jalur pendakian Merapi hampir memakan waktu dua jam.

Di lokasi itulah ubo rampe (sesaji) dilabuh setelah selama satu malam disemayamkan di Kinahrejo.

Ubo rampe tersebut berupa kain yang dinamai sinjang cangkring, sinjang kawung kemplang, semekan gadhung, semekan gadhung melati, semekan banguntulak, kampuh poleng ciut, dhestar daramuluk, paningset udaraga. Masing-masing satu lembar.

Satu per satu ubo rampe yang berada dalam peti berwarna merah dikeluarkan sembari disebutkan nama-nama ubo rampe itu.

Selanjutnya, dilakukan doa bersama yang dipimpin juru kunci Gunung Merapi, Masbekel Anom Suraksosihono atau yang akrab disapa Mas Asih.

Usai doa, para abdi dalem membagikan plastik kecil yang berisi nasi gurih dengan lauk suwiran daging ayam ingkung.

Para wisatawan, yang sekadar menonton ritual tersebut juga turut kebagian untuk ngalap berkah (mengharapkan berkah). Prosesi itulah yang disebut Labuhan Merapi.

“Saat labuhan ada semacam prosesi serah terima yaitu saat di bangsal Sri Manganti. Setelah disampaikan lalu dilorot lagi. Ini istilahnya lorotane. Jadi bukan dibuang di kawah. Tapi disajikan di situ (bangsal Sri Manganti). Setelah diterima, kemudian dibawa turun,” kata Mas Asih.

Mas Asih memiliki kewenangan sepenuhnya untuk membagikan ubo rampe tersebut kepada yang membutuhkan. Namun, Mas Asih menegaskan jika dirinyaa tidak pilih-pilih dalam memberikan ubo rampe tersebut. Semuanya dibagi secara adil.

Namun, untuk bisa mendapatkan harus rela inden atau memesan terlebih dahulu. Sebab, peminatnya sangat banyak. Tidak tanggung-tanggung, jangka waktu untuk bisa mendapatkan ubo rampe itu bisa sampai bertahun-tahun. Pasalnya, setiap tahun jumlah dan jenis ubo rampe-nya sama.

“Syaratnya memang harus sabar. Siapapun yang butuh pasti dikasih asal mau menunggu giliran,” katanya.

Menurut dia, setiap orang punya tujuan berbeda. Ada yang untuk cendera mata, ada pula yang untuk pegangan. Bahkan, ada yang untuk syarat lelaku tertentu.

“Semua dilihat barangnya. Kalau pas ada saya kasih. Kalau habis, ya, tunggu tahun depan. Untuk tahun ini sudah ada yang meminta dan sepertinya masih ada sisa,” katanya.

Labuhan Merapi tahun ini merupakan Labuhan Alit. Sebab, tidak bertepatan dengan Tahun Dal.

Dari sekian banyak ubo rampe, hanya kambil wacangan atau ubo rampe berupa pelana kuda yang tidak disertakan.

“Jenis ubo rampe itu hanya disertakan saat Labuhan Ageng setiap delapan tahun sekali,” katanya.

Sebelum erupsi Merapi 2010, labuhan digelar di pos II yang dikenal dengan sebutan pos rudal. Namun, akibat erupsi, jalur pendakian menuju pos tersebut rusak sehingga sulit dilalui.

Sejak saat itu, lokasi labuhan dipindah ke bangsal Sri Manganti yang berjarak sekitar tiga kilometer dari petilasan Mbah Marijan di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan.

Baca juga: Keraton Yogyakarta serahkan “ubo rampe” labuhan Merapi

Baca juga: Mbah Maridjan Pesan Labuhan Merapi “Diuri-uri”

Pewarta: Victorianus Sat Pranyoto
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival budaya daerah

Sejumlah duta besar negara sahabat Indonesia bermain angklung saat membuka Festival Budaya Daerah di area Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (7/4/2019). Festival Budaya Daerah yang menampilkan ragam kesenian dan helaran budaya dari 40 kecamatan se-Kabupaten Bogor dan lima ibukota provinsi di Indonesia tersebut selain sebagai upaya mengenalkan budaya Sunda di Kabupaten Bogor sekaligus untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/foc.

Busan National Gugak Center pentas perdana di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Korean Cultural Center (KCC) Indonesia mengundang Busan National Gugak Center untuk menampilkan pertunjukan perdana “The Land of Morning Calm – A Journey of Hundred Years” di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (6/4).

KCC Indonesia dalam keterangan pers, Minggu, mengatakan penampilan istimewa itu diadakan untuk memperingati 100 Tahun Pergerakan 1 Maret dan Pembentukan Pemerintahan Sementara Korea, juga mengenang semangat patriotisme dan pengorbanan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan.

Pertunjukan yang dihadiri duta besar berbagai negara, penonton Indonesia serta Korea itu, dirancang untuk memperkenalkan seni tradisional Negeri Ginseng ke dunia internasional.

Pada pertunjukan pembuka ditampilkan tarian istana Chunaengjon, merepresentasikan Burung Kepodang di musim semi.

Penonton kemudian menyaksikan Sanjo Ensemble, musik rakyat yang mengekspresikan berbagai aspek kehidupan dan kegembiraan. Setelah itu, penampil mempertunjukkan Tari Kipas serta lagu “Arirang” yang merupakan lagu perwakilan Korea.

Penonton pun merasakan relaksasi melalui penampilan Tari Sogo, serta pertunjukan ditutup dengan penampilan Pangut, Tarian Shaman Korea.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya, hingga lagu K-pop “I Will Go to You Like the First Snow” yang jadi lagu tema drama “Goblin” serta lagu daerah “Rasa Sayange” juga dibawakan dalam pertunjukan ini.

“Dari pertunjukan ini diharapkan dapat turut mendorong perkembangan hubungan Korea dan Indonesia di bidang seni dan budaya, menyusul kesuksesan Hallyu di Indonesia,” kata KCC Indonesia.

Baca juga: Kota Busan Korea peringati kerja sama “sister city” di Surabaya

Baca juga: MTV Asia akan siarkan Busan One Asia Festival 2018

Baca juga: Sutradara “The Conjuring” akan buat “Train to Busan” versi Hollywood

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sate dan rendang serta tari Bali di pesta rakyat Portugis

London (ANTARA) – Masyarakat kota Seixal di Portugal antusiasme memadati sajian kuliner khas Indonesia dalam pesta rakyat Portugis bertajuk Encontro Intercultural Saberes e Sabores , atau Pertemuan Budaya Rasa dan Pengetahuan, Indonesia selain menyajikan sate ayam, bakmi goreng, dan capcay serta rendang dan nasi bakar juga tari topeng Bali.

Pensosbud KBRI Lisabon, Andre Nurvily kepada Antara London, Minggu, mengatakan dalam pesta rakyat Portugis juga ditampilkan jajanan pasar seperti panada, onde-onde, bakwan, lumpia, dan wedang secang.

Dalam pesta yang dihadiri sekitar 1500 orang, para pengunjung ikut mengekspresikan kekaguman atas kuliner Indonesia.

Carlos Barbosa dari Portugal mengakui keunikan rasa seperti ini, makanan Indonesia perlu lebih dikenal masyarakat Portugis. Carlos, yang berprofesi sebagai arsitek, berpendapat bisnis restoran Indonesia memiliki potensi tinggi di Portugal karena belum adanya kompetitor bisnis tersebut.

Beda lagi dengan Roger Fernandes, musisi yang datang bersama keluarganya. “Lumpia dari Indonesia sangatlah berbeda dengan spring roll dari Thailand ataupun Tiongkok” ujar Roger. Antusiasme Roger terlihat dari lima belas lumpia yang dibeli untuk dinikmati anak-anaknya.

Digelar Pemerintah Kota Seixal untuk kedua belas kalinya, pesta rakyat ini diisi oleh sajian kuliner, pameran kerajian tangan, dan pertunjukan budaya dari berbagai negara. Indonesia sendiri menyajikan kuliner dan mempertunjukkan tarian Topeng Keras dari Bali yang menceritakan tentang karakter ksatria, berani, dan keras.

Dalam kesempatan ini, Wali Kota Seixal menyampaikan apresiasi khusus terhadap KBRI Lisabon atas penampilan ciamik budaya Indonesia. Dengan adanya promosi budaya ini, diharapkan dapat merangsang keingintahuan masyarakat Portugis terhadap Indonesia, dan meningkatkan citra positif Indonesia di Portugal. 

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Teater Gandrik tampil di Yogyakarta dan Jakarta

Jakarta (ANTARA) – Penampilan Teater Gandrik berjudul “Para Pensiunan 2049” karya Gregorius Djaduk Ferianto segera tampil di Yogyakarta dan Jakarta pada awal dan penghujung April.

“Pementasan ini digelar pada 8-9 April 2019 di Taman Budaya Yogyakarta dan 25-26 April 2019 di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta,” kata Pimpinan Produksi Pementasan “Para Pensiunan 2049”, Butet Kartaredjasa, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Dia mengatakan lakon teater bercerita tentang para pensiunan yang ingin menikmati masa tuanya dan menunggu akhir hidupnya dengan tenang. Mereka adalah pensiunan jenderal, pensiunan politisi, pensiunan hakim dan para pensiunan lainnya.

Lalu, kata dia, ada Undang-undang Pemberantasan Pelaku Korupsi yang secara konstitusional mengharuskan siapapun yang mati wajib memiliki Surat Keterangan Kematian yang Baik (SKKB). Hal itu memicu para pensiunan yang tidak memiliki SKKB resah karena terdapat jenazah yang terlunta tanpa surat keterangan tersebut.

“Para Pensiunan 2049 merupakan kisah masa depan jika upaya pemberantasan korupsi menemui jalan buntu, kehidupan akan semakin haru dan lucu. Kami menampilkannya dengan gaya yang sedikit horor tapi tentu saja akan tetap membuat penonton terpingkal-pingkal,” kata dia.

Dia mengatakan untuk mendapatkan SKKB bermacam cara dilakukan, mulai dari membujuk, menjebak hingga menyuap penjaga kubur. Sementara jenazah pensiunan yang sudah mati terus mendatangi kolega instansi yang berwenang agar nama baiknya dipulihkan dengan SKKB.

Butet mengatakan Teater Gandrik merupakan salah satu kelompok seni yang senantiasa memadukan semangat teater tradisional dan modern dalam setiap panggung pertunjukannya.

Kepiawaian dalam mengolah ide dan gagasan kreatif yang didukung kemampuan akting para pemainnya, Teater Gandrik selalu dapat menarik perhatian para penggemarnya.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian mengatakan pementasan Para Pensiunan 2049 hadir dengan guyonan khas Teater Gandrik.

“Diharapkan mampu memberikan pemahaman bagi generasi muda mengenai proses dan perkembangan kebudayaan sehingga mampu membangun jiwa yang penuh dengan semangat kebangsaan www.indonesiakaya.com,” kata dia.

Pewarta: Anom Prihantoro
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival of Light 2019

Pengunjung menikmati pertunjukan Water Screen dalam kegiatan ‘Festival of Light 2019’ di Pekanbaru, Riau, Jumat (5/4/2019) malam. Festival of Light 2019 yang baru pertama kali nya diadakan di Kota Pekanbaru ini berlangsung hingga 5 Mei mendatang dan menyuguhkan keindahan berbagai macam karakter lampion diantaranya Garden Light Decoration, Lantern, dan Spectacular Show Dancing Fountain. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/hp.

Masjid Sokambang,saksi bisu sejarah Kerajaan Sumenep

ANTARA, Masjid Sokambang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Kabupaten Sumenep ,Jawa Timur. Konon ,awalnya didirikan sebagai persinggahan bagi keluarga raja yang berziarah ke makam para luluhurnya  di asta tinggi, yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi masjid. ( Produser BEY/ Editor Fahrul Marwansyah ) 

Ratusan lukisan penyandang autisme dipamerkan

ANTARA, Ratusan karya seni lukis hasil imajinasi dan proses kreatif para penyandang autisme atau autistik dipamerkan di Kota Semarang Jawa Tengah selama 5 hari hingga 6 April. Tak sekadar pameran lukisan, kegiatan ini merupakan salah satu sarana bagi para autistik untuk mampu terhubung dengan dunia di luar lingkungannya. (Produser Sizuka/Editor Fahrul Marwansyah)

“Sabha Yowana” dikukuhkan wali kota untuk pelestarian budaya Bali

kami dukung generasi muda agar berkumpul dalam “Sabha Yowana” ini. Nanti dalam organisasi tersebut mereka akan bertukar pikiran dan membangun kreativitas serta melestarikan seni dan budaya Bali

Denpasar (ANTARA) – Wali Kota Denpasar, Bali Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra melakukan pengukuhan kepada Sabha Yowana (kelompok pemuda) Udiyana Graha Santhi, Desa Pakraman Renon sebagai upaya mendukung pelestarian seni, budaya dan tradisi Bali.

“Ini sudah menjadi kewajiban kita bersama, karena itu kami dukung generasi muda agar berkumpul dalam ‘Sabha Yowana‘ ini. Nanti dalam organisasi tersebut mereka akan bertukar pikiran dan membangun kreativitas serta melestarikan seni dan budaya Bali,” kata Rai Mantra di Denpasar, Kamis.

Wali Kota Rai Mantra menyambut baik adanya Sabha Yowana dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat ) di Desa Renon. Keberadaan generasi muda sangat erat kaitannya dengan kemajuan Desa Pakraman. Namun demikian kemajuan ini hendaknya memberikan dampak positif terhadap perkembangan tradisi dan kearifan lokal di Bali.

“Generasi muda ini adalah generasi milenial yang sangat mudah dan cepat menerima informasi, dan di sinilah peran Desa Pakraman, Klian Adat serta masyarakat untuk mengarahkan agar generasi muda tidak terjebak dalam hal-hal yang negatif,” ujarnya.

Ke depan, Rai Mantra berharap adanya Sabha Yowana  ini mampu menjembatani seluruh STT (sekaa teruna-teruni) se-Desa Renon serta mendukung pembangunan yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman. Dengan demikian Desa Pakraman dapat terus maju dan menjadi sektor penting kemajuan kebudayaan di Bali.

Terkait dengan PHBS, Rai Mantra juga turut memberikan apresiasi. Hal ini lantaran masih banyaknya umat Hindu yang belum paham etika ke pura. Dengan adanya PHBS ini walaupun diimplementasikan dengan tempat suci tangan dapat memberikan edukasi dan pemahaman bagi masyarakat untuk membersihkan diri mulai dari pikiran, perkataan dan perbuatan serta menghindari pura dari cemer atau cuntaka (kotor secara spiritual).

“Dengan demikian maka setiap umat Hindu yang hendak ngaturang bhakti dapat selalu fokus serta memiliki manah suci ning nirmala,” katanya sembari mengajak semua pihak untuk mengurangi penggunaan plastik di area suci.

Dalam kesempatan tersebut juga turut dilaksanakan “Karya Pemelaspasan Gedong Ratu Ayu serta peresmian Genah Mewajik” sebagai implementasi dari PHBS di kawasan tempat suci tersebut.

Bendesa (Ketua Adat) Pakraman Renon, I Made Sutama mengatakan bahwa peran serta generasi muda saat ini sangat signifikan dalam pelestarian dan pengembangan seni, budaya dan tradisi Bali. Sehingga ke depannya melalui wadah Sabha Yowana  ini generasi muda memiliki ruang untuk berekspresi, khususnya di tingkat Desa Pakraman.

“Kami berkomitmen untuk menjaga tradisi dan kearifan lokal Bali bersama generasi muda agar tidak mudah terpengaruh hal-hal yang negatif,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, keberadaan Desa Pakraman Renon yang mewilayahi lima banjar dapat digolongkan sebagai wilayah yang luas. Sehingga diperlukan sinergitas antar semua lini terasuk generasi muda untuk menjaga tradisi dan kearifan lokal Bali.

Selain itu, kata Sutama, pihaknya bahwa saat ini telah terjadi penurunan pemahaman tentang tata krama dalam bersembahyang ke pura.

“Dengan adanya PHBS ini masyarakat dan umat Hindu dapat memahami etika dalam bersembahyang ke pura, termasuk pantangan dan cara bersembahyang yang benar,” ujarnya.

Sementara, Ketua Sabha Yowana Desa Pakraman Renon, Kadek Indrawan mengaku senang menjadi angkatan pertama pada Sabha Yowana di Desa Pakraman Renon. Ke depannya memohon bimbingan kepada semua pihak untuk dapat mengabdi kepada Desa Renon, Kota Denpasar hingga Provinsi Bali.

“Kami mengajak seluruh generasi muda di Desa Renon untuk bersatu padu mendukung kemajuan desa serta menjaga kelestarian tradisi dan kearifan lokal kita bersama,” katanya.

Baca juga: Gubernur Bali: Desa pakraman ujung tombak pelestari budaya

Baca juga: Sembilan tari Bali jadi warisan budaya dunia

Pewarta: I Komang Suparta
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pandeglang Culture Fest, acara tahunan yang dinanti

ANTARA, Di hari jadinya yang ke-145 tahun, warga Kabupaten Pandeglang kembali dimanjakan dengan berbagai hiburan, salah satunya gelaran seni budaya yang dikemas dalam Pandeglang Culture Festival.  Pawai budaya yang dimeriahkan oleh berbagai provinsi di Indonesia ini selalu dinanti masyarakat. (Gracia Simanjuntak/DY)

Menikmati laut surut di Tanah Lot

(ANTARA) – Pulau Bali, tetap menjadi destinasi favorit para wisatawan, baik mancanegara ataupun domestik. Salah satu objek wisata yang sering dikunjungi wisatawan adalah Tanah Lot, di Tabanan, Bali. Di hari libur Isra Miraj yang jatuh pada Rabu, 3 April, para wisatawan tampak menikmati pemandangan alam, sembari menyusuri pantai yang sedang surut. (Prod: Feny/ VE : Alvioni) 

Memaknai perjalanan batin dalam “The Monster: Chapter II Momentum”

Jakarta (ANTARA) – Seniman visual Julius Ariadhitya Pramuhendra mengajak pengunjung meniti dan menangkap makna perjalanan batin dan mengintrospeksi diri pada pameran “The Monster: Chapter II Momentum”.

Pada pameran yang digelar hingga 7 April 2019 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, ia menampilkan instalasi seni yang disebut pameran trilogi “seri monster”. Monster itu bukan dalam artian sebenarnya, melainkan pengunjung sendiri yang akan menemukannya dalam pameran itu.

Pengunjung yang memasuki lokasi utama instalasi seni akan disambut tembok hitam menjulang tinggi yang dinamakan “confenssion walls” atau tembok pengakuan.

Kemudian, pemandu berbaju karmel akan memberikan lilin kepada masing-masing pengunjung untuk dibawa masuk ke ruang pameran. Pemberian lilin tersebut bukan tanpa alasan, melainkan untuk menikmati karya-karya di dalam area utama.

Dalam sebuah instalasi seni visual, biasanya karya-karya yang dipamerkan tentu memiliki pencahayaan yang cukup. Namun tidak demikian dalam karya seniman yang akrab disapa Hendra itu.

Hendra menekankan emosi dan pengalaman pengunjung yang menyambangi karyanya dengan ruang gelap dan terang. Di ruang gelap, indera penglihatan berusaha menangkap pesan-pesan dalam suasana tentram dan syahdu dengan temaram cahaya lilin.

Terdapat lukisan yang menampilkan simbol-simbol gereja dalam instalasi “Let There be Light, Angles.” Gaya lukisannya terinsipirasi Carravagio dan Michael Angelo, serta perjalanan spiritual Hendra, sehingga ia dapat menyuguhkan lukisan bermedium arang hitam putih

fotorealis di atas kanvas.
  Salah satu instalasi pada pameran tunggal “The Monster: Chapter II Momentum” karya J. Ariadhitya Pramuhendra di Galeri Nasional Indonesia, Selasa (2/4/2019). (ANTARA News/Devi Nindy)

Uniknya, lukisan bermedium arang mesti dinikmati dengan cahaya minim melalui pendar cahaya lilin. Selain itu, sentuhan emas yang menempa lukisan itu membuat lukisan hitam putih yang dipajang seakan-akan tampak nyata, bagai timbul dalam media dua dimensi.

Arang merupakan media seni sederhana, seringkali dianggap remeh karena murah meriah, namun bisa disulap menjadi karya seni bernilai tinggi dan elegan.

Tiap berganti perjalanan, pemandu akan menyalakan bel untuk memanggil rombongan pengunjung menuju ruangan instalasi seni lainnya. Di ruang berikutnya, nyala lilin tak dipergunakan lagi.

Di ruang gelap berikutnya, pengunjung diajak merefleksikan diri sendiri pada instalasi “Dark Water Spell,” semacam danau kecil untuk perenungan dengan perwujudan burung putih dan lukisan arang kecil yang dinikmati dari jarak jauh.

Pemandu mengizinkan pengunjung satu per satu menikmati menikmati ruangan sunyi berair dengan sinaran cahaya. Pengunjung juga diizinkan melemparkan koin-koin ke dalam danau, dengan harapan doa-doa dapat terkabulkan dengan melakukan hal itu.

Selain sejumlah instalasi lukisan arang yang dipamerkan baik di ruangan gelap maupun terang, Hendra juga menyajikan karya tiga dimensi seperti terwujud sosok patung dari tanah liat yang dinamakan “A stone, Blood and Forgotten Place”. Ada juga visual abstrak dari hasil pengaratan plat besi, mahkota duri dan paku-paku yang mengingatkan pada simbol-simbol penyaliban kristiani.
  Julius Ariadhitya Pramuhendra (ANTARA News/Devi Nindy)

Perjalanan batin

Kepiawaian seniman lulusan Institut Teknologi Bandung itu dalam menyajikan seni visualnya tidak hanya sampai pengunjung selesai menikmati pameran.

Dia kembali mengusik rasa ingin tahu pengunjung yang telah berada di titik awal pameran, untuk menilik kembali instalasi ruang sempit, yang kebanyakan terlewatkan pengunjung.

Instalasi tersebut tampak seperti ruang sempit. Namun yang mengejutkan, tampak ada sosok manusia yang terbaring dan tertutup kain merah. Hendra seakan mengingatkan pengunjung dengan pesan perjalanan batin akan berakhir pada kematian.

Disadari atau tidak, keseluruhan instalasi seni Hendra tidak terdapat satupun tulisan yang menerangkann karya-karya yang dibuatnya.

Hendra sengaja membiarkan pengunjung menginterpretasikan sendiri karyanya dan meniti perjalan batin untuk bertemu “monster,” yang dia anggap sebagai kenangan masa lalu yang terus menghantui.

“Saya ingin mengajak semuanya merasakan pengalaman-pengalaman batinnya sendiri apapun itu. Kita tidak membicarakan agama, hanya ingin semuanya lebih terbuka lebih luas, karena yang saya sampaikan ini karya seni. Ada efek apa, ada tumbukan apa yang dirasakan disini,” ujar Hendra.

Baca juga: Menerjemahkan kenusantaraan, dari ngaben hingga Situ Bagendit

Baca juga: Malioboro tetap terbuka sebagai ruang seni instalasi
 

Pewarta: Peserta Susdape XIX/Devi Nindy
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Masih terjadi salah kaprah soal pemotongan tumpeng

Jakarta (ANTARA) – Presiden dari Indonesia Gastronomy Association  (IGA) Ria Musiawan mengatakan saat ini masih terjadi salah kaprah mengenai tumpeng terutama pemotongan puncak tumpeng.

“Kebiasaan memotong tumpeng harus diperbaiki, karena berpotensi merusak nilai filosofis dalam tradisi tumpengan,” ujar Iga di Jakarta, Selasa.

Tumpeng, kata dia, merupakan simbol atau lambang permohonan makhluk hidup kepada Tuhan Yang Maha Esa dan dapat juga diartikan dengan simbol hubungan antara pemimpin dengan rakyatnya.

Dengan memotong tumpeng dapat diartikan memotong hubungan tersebut. Jadi seharusnya, tumpeng tersebut tidak dipotong akan tetapi dikeruk, ujarnya.

Filosofi dan falsafah tumpeng adalah lambang gunungan yang bersifat awal dan akhir. Tumpeng juga mencerminkan manifestasi simbol sifat alam dan manusia yang berawal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan, katanya.

Dia juga menjelaskan bahwa tumpeng yang menjulang ke atas itu menggambarkan tangan manusia merapat dan menyatu menyembah Tuhan. Tumpeng juga menyimpan harapan agar kesejahteraan maupun kesuksesan semakin meningkat.

“Jadi kalau dipotong, maka seolah-olah itu memotong hubungan kita dengan Tuhan, karena puncak tumpeng itu melambangkan tempat bersemayam Sang Pencipta,” kata dia lagi.

Pengerukan tumpeng, urainya, hanya boleh dikeruk sisi samping dari bawah, kemudian orang yang mengeruk tersebut mengucapkan doa dalam hati.

Pada zaman dahulu, para tokoh yang memimpin doa akan menjelaskan dulu makna tumpeng sebelum disantap, ujarnya.

Bagi para gastronom, makanan yang disajikan merupakan hasil dari adaptasi manusia terhadap lingkungan, agama, adat, kebiasaan, dan tingkat pendidikan.

Baca juga: Jokowi terima potongan tumpeng pertama dari Megawati
Baca juga: 170 tumpeng ramaikan gerebek suran di Wonosobo

 

Pewarta: Indriani
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pameran lukisan seniman ngahiji

Pengunjung melihat pameran lukisan Optimis: Tong Hariwang di Yayasan Pusat Kebudayaan, Bandung, Jawa Barat, Senin (1/4/2019). Pameran lukisan yang digelar Seniman Ngahiji tersebut menampilkan 150 karya dan berlangsung 1-5 April 2019. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras.

Kirab pusaka tombak Abirawa digelar sambut HUT Kabupaten Batang-Jateng

Ritual boyongan dan kirab pusaka ini lebih pada seni budaya Jawa yang harus kita hormati asal usul sejarah para pejuang yang melahirkan Batang

Batang (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dalam rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 Kabupaten Batang melakukan kirab pusaka tombak Abirawa sepanjang jalan Kelurahan Kauman, Jalan Ahmad Yani, Jalan Kartini, hingga pendopo Bupati Batang, Sabtu sore.

Bupati Batang, Wihaji di Batang, Sabtu, mengatakan bahwa sebelum pusaka tombak abirawa dikirab, pada Jumat (29/3) malam dilakukan penjamasan pusaka lain yaitu 8 tombak dan dua keris.

“Ritual boyongan dan kirab pusaka ini lebih pada seni budaya Jawa yang harus kita hormati asal usul sejarah para pejuang yang melahirkan Batang. Hari ini kita boyong salah satu senjata pusaka tombak Abirawa,” katanya.

Menurut dia, sejarah pusaka tombak Abirawa merupakan senjata untuk membabat alas mulai dari Pasuruan, Lamongan Jawa Timur, dan Batang.

“Oleh karenaitu pemkab sangat menghormati sejarah para pendahulu pendiri daerah ini. Sebagai wujud syukur, bukan masalah tombaknya, namun merupakan simbol pada zamannya yang memiliki sejarah panjang dan harus kita ‘uri-uri; (lestarikan),” katanya.

Bupati uga menyampaikan rasa terima kasih kepada ahli waris yang secara sukarela dan iklas telah menyerahkan senjata pusaka tombak itu pada pemerintah daerah.

“Ini ritual boyongan dari ahli waris keluarga ke Pemkab Batang. Untuk selanjutnya setiap 8 April akan kita kirab,” katanya.

Ahli waris pusaka tombak Abirawa, Saifullah mengatakan bahwa sebenarnya tombak ini sudah menjadi senjata kebesaran Kabupaten Batang.

“Pihak keturunan ahli waris merasa sudah selayaknya senjata pusaka ini menjadi kebesaran Kabupaten Batang dan layak ditempatkan di pendopo kabupaten,” katanya.

Baca juga: Seniman Jateng siap meriahkan Batang Art Festival
 

Pewarta: Kutnadi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival Selawang Segantang upaya Bangka Tengah lestarikan budaya

Kegiatan ini sudah menjadi agenda tahunan sebagai ajang menyalurkan bakat seni anak daerah, sekaligus melestarikan kesenian dan budaya daerah

Koba, Babel, (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berupaya melestarikan budaya dan kesenian daerah melalui “Festival Selawang Segantang”.

“Kegiatan ini sudah menjadi agenda tahunan sebagai ajang menyalurkan bakat seni anak daerah, sekaligus melestarikan kesenian dan budaya daerah,” kata Bupati Bangka Tengah, Ibnu Saleh usai membuka Festival Selawang Segantang di Koba, Sabtu.

Ia menjelaskan, budaya dan kesenian daerah adalah kekayaan daerah yang harus tetap dilesterikan dan ditumbuhkembangkan, di antaranya melalui kegiatan festival.

“Kegiatan ini tidak hanya melestarikan kesenian daerah saja, tetapi lebih dari itu adalah bagian dari instrumen untuk memajukan sektor kepariwisataan” ujarnya.

Menurut dia, banyak cara untuk meningkatkan mutu dan memperkuat karakter suatu daerah di antaranya melalui kesenian daerah.

“Justru itu, perlu pengembangan bakat generasi muda terhadap seni dan pengembangan sumber daya manusia yang berbudaya,” ujarnya.

Ia mengatakan, melestarikan kesenian dan budaya daerah menjadi bagian dari program unggulan sehingga perlu ditumbuh kembangkan semangat berbudaya di tengah generasi muda.

“Budaya dan kesenian daerah itu merupakan ciri khas serta karakter daerah, maka harus dilestarikan sehingga daerah tidak kehilangan karakter,” demikian Ibnu Saleh.

Baca juga: Menebar benih kesenian Dambus di hati muda-mudi Bangka Belitung

Baca juga: Bupati Bangka Tengah minta “ruwah kubur” masuk agenda wisata

Pewarta: Ahmadi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pameran Kartun Ber(b)isik

Pengunjung mengamati karya yang dipajang dalam pameran kartun bertajuk “Ber(b)isik” di Bentara Budaya Bali, Gianyar, Bali, Jumat (29/3/2019). Pameran tersebut menampilkan permasalahan aktual di dalam negeri dengan sentilan lelucon beserta kritik yang disampaikan melalui karya kartun. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/wsj.

Tradisi Wiwitan Nandur Pari

Kepala Desa Mijen Sutrisno menuangkan air kendi yang diambil dari sumur leluhur ke benih padi dalam tradisi ‘Wiwitan Nandur Pari’ di lahan pertanian desa tersebut di Kebonagung, Demak, Jawa Tengah, Sabtu (30/3/2019). Tradisi turun temurun setiap musim tanam padi dengan berdoa dan mempersembahkan sesaji kepada sedulur sikep atau bumi sebagai saudara manusia itu untuk menghormati bumi dan Tuhan YME yang telah memberi limpahan rezeki. ANTARA FOTO/Aji Styawan/wsj.

Meruwat air melalui gerebek lepen tlogo bambu

(ANTARA)-Warga di kabupaten Temanggung, menggelar gerebek lepen tlogo bambu di sendang kahuripan, jumat pagi. Tradisi ini merupakan wujud syukur masyarakat atas air yang melimpah. Karena sejak zaman dulu, air dari sendang kahuripan menghidupi seluruh masyarakat desa, meski pada musim kemarau sekalipun air tetap ada.

Suku Tengger doakan agar Gunung Bromo dan Pemilu Damai

 ( ANTARA )-Kauman adalah tradisi warisan leluhur suku tengger, yang dilaksanakan setiap tahun, di pure, di Kawasan Gunung Bromo. TRADISI ini merupakan wujud syukur kepada yang maha kuasa. Pada upacara kali ini, warga suku tengger, di Kabupaten Probolinggo,  mendoakan agar, Gunung Bromo tidak kembali menyemburkan abu vulkanik, saat perhelatan pesta demokrasi, April mendatang,  sehingga pemilu serentak berjalan aman dan damai.

Pemkot Denpasar laksanakan “Bakti Penganyar” Pura Agung Besakih

Denpasar (ANTARA) – Pemkot Denpasar, Bali bersama seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), Sabtu, melaksanakan “Bhakti Penganyar” di Pura Agung Besakih bertepatan dengan Budha Manis Prangbakat.

Sejak pagi hari umat Hindu dari berbagai daerah di Bali turut hadir melaksanakan “Bhakti Penganyar” di Pura Agung Besakih. Turut berbaur dengan masyarakat, Wakil Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara bersama pimpinan OPD serta pemedek lainnya bersembahyang di pura terbesar di Bali.

Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara dalam kesempatan tersebut turut “ngayah megambel” bersama Sekaa Gong Banjar Ujung Kesiman diiringi oleh penari Rejang dan Sekaa Topeng dari Banjar Ujung Kesiman. “Bhakti Penganyar” diakhiri dengan persembahyangan bersama yang dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Ngurah Telaga dari Griya Telaga Tegal Denpasar.

Rangkaian upacara Panca Wali Krama Pura Agung Besakih Tahun 2019 dimulai pada 22 Januari 2019 dengan ngatur piuning, lalu Jumat (1/2) nunas tirta panglukatan dan pamarisudha, Rabu (6 /2) Nuasen Karya, Jumat (15/2) Nyukat Genah, Rabu (27/2) Nuwur Tirta,Selasa (5/3) Mapepada Tawur Panca Wali Krama, dan Puncak Karya Tawur Agung Panca Wali Krama dilaksanakan pada Rabu, 6 Maret 2019.

Wakil Wali Kota Denpasar Jaya Negara didampingi Kabag Kesra Setda Kota Denpasar Raka Purwantara mengatakan bahwa “Bhakti Penganyar” ini merupakan wujud bakti umat ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Semoga pelaksanaan “yadnya” ini dapat dimanfaatkan seluruh umat Hindu sebagai ajang “mulatsarira” serta meningkatkan “sradha dan bhakti” umat dalam hal ini Pemerintah Kota Denpasar dalam menjalankan swadharma pembangunan daerah.

“Rasa persatuan (menyama braya) umat Hindu harus kita pupuk, sehingga yadnya sebagai wujud syukur dapat terus kita laksanakan guna meningkatkan sradha dan bhakti umat sesuai dengan swadarma menuju keseimbangan alam semesta, serta dapat memancarkan energi Dharma yang dapat memberikan hal positif bagi jagat Bali untuk membersihkan menetralisir hal-hal negatif yang tidak diinginkan demi terciptanya keseimbangan jagat beserta isinya,” kata Jaya Negara.

Baca juga: Gubernur Bali hadiri puncak “Panca Wali Krama”
Baca juga: Ribuan Umat Hindu ikuti proses Melasti Pura Besakih
Baca juga: Ratusan umat Hindu ikuti Mepepada di Besakih

 

Pewarta: I Komang Suparta
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemkot Solo gelar Festival Dalang Cilik

(Antara)- Puluhan dalang cilik secara bergantian unjuk kebolehan menampilkan pertunjukkan wayang di Pendapi Ageng Balaikota Surakarta, Jawa Tengah. Dengan membawakan cerita atau lakon pewayangan yang berbeda-beda,  mereka mengenakan pakaian tradisional Jawa tampil dihadapan penonton.

Persiapan pentas Solo Menari

Siswa dari sejumlah SD Negeri di Solo berlatih seni tari jaranan di halaman SD Negeri Wonosaren, Solo Jawa Tengah, Kamis (28/3/2019). Kegiatan tersebut digelar sebagai persiapan pentas Lima Ribu Jaranan pada rangkaian Solo Menari 2019. ANTARA FOTO/Maulana Surya/ama.

Film Buya HAMKA disambut baik MUI Kota Medan

Film sosok Buya Hamka ini perlu ditonton para pelajar dan generasi muda, sebagai calon-calon pemimpin nasional.”

Medan (ANTARA) – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan Prof Dr Muhammad Hatta menyambut baik dan mendukung sepenuhnya pembuatan film perjuangan tokoh ulama besar Indonesia, Prof Dr  Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang dikenal dengan Buya HAMKA.

“Kami mengapresiasi pembuatan film kisah hidup Buya HAMKA yang nantinya akan ditayangkan di layar perak di seluruh bioskop di Tanah Air,” kata Muhammad Hatta, di Medan, Selasa.

Film sosok Buya HAMKA, menurut dia, perlu ditonton para pelajar dan generasi muda, sebagai calon-calon pemimpin nasional.

“Karena, dalam film tersebut menceritakan bagaimana perjuangan ulama besar itu pada zaman penjajahan kolonial Belanda dan begitu juga zaman Kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Hatta.

Ia mengatakan, film Buya HAMKA juga sangat bermanfaat bagi masyarakat karena akan memberikan pencerahan, pendidikan dan juga berbagai pengalaman hidup seorang ulama.

“Jadi, film Buya HAMKA ini jangan sampai dilewatkan, dan harus ditonton oleh warga Medan,” katanya.

Sebelumnya, dua perusahaan film Indonesia, Starvision dan Falcon Pictures, bekerja sama menggarap film yang mengangkat kisah hidup ulama besar Buya HAMKA.

“Ini kolaborasi Falcon, Starvision, dan MUI. Tentu semua mengenal ketokohan Buya HAMKA. Semoga nanti film ini bisa menjadi pencerahan inspiratif buat kita semua, penonton film di Indonesia dan seluruh dunia,” kata produser rumah produksi Starvision, Chan Parwez, di Jakarta, Senin (25/3)

Film itu pun mendapat dukungan penuh dari MUI Pusat.

Chan menjelaskan ide pembuatan film Buya HAMKA itu terjadi pada 2014 ketika dia bertemu dengan mantan Ketua MUI Din Syamsuddin.

Penulisan naskah film pun kerap mengalami perubahan dan memakan waktu lama.

“Semenjak saya ketemu Pak Din pada 2014. Cukup lama tapi itu proses yang mesti dijalani. Karya ini bukan karya ringan, tapi karya besar,” katanya.

Film itu akan mulai syuting pada awal April 2019 di Maninjau, Sumatera Barat, dan akan ditayangkan di bioskop pada tahun depan.

Baca juga: MUI harap film Buya Hamka lebih laris dari film Dilan

Pewarta: Munawar Mandailing
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lestarikan budaya, dialek lokal digalakkan di Pekalongan, Jateng

Lomba menulis anekdot ini sebagai langkah membangkitkan kembali dialek Pekalongan agar tidak terhapus oleh perkembangan zaman

Pekalongan (ANTARA) – Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, ingin menggalakkan penggunaan dialek lokal sebagai upaya melestarikan budaya asli daerah setempat yang kini mulai tergerus dengan budaya asing.

Wali Kota Pekalongan, Saelany Machfudz di Pekalongan, Rabu, mengatakan bahwa melalui rangkaian Hari Ulang Tahun ke-113 Kota Pekalongan, pemkot menyelenggarakan lomba menulis anekdot dialek lokal.

“Lomba menulis anekdot ini sebagai langkah membangkitkan kembali dialek Pekalongan agar tidak terhapus oleh perkembangan zaman,” katanya.

Ia menceritakan dirinya saat masa kecilnya yang sangat erat dengan budaya dan bahasa khas Pekalongan seperti sakpore (hebat) dan po’o yang artinya hanya atau saja.

Kendati demikian, kata dia, ciri atau khas dialek daerah ini, kini hampir tidak terdengar lagi karena tergerus dengan bahasa prokem akibat perkembangan zaman dengan teknologi informasi yang makin maju.

“Terus terang saya sangat merindukan penggunaan dialek Pekalongan karena kini hampir tidak terdengar lagi dalam percakapan di masyarakat maupun di pemkot,” katanya.

Menurut dia, dialek Pekalongan termasuk dialek bahasa Jawa yang sederhana namun komunikatif.

“Meski ada di Jawa Tengah, dialek Pekalongan berbeda dengan daerah pesisir Jawa lainnya karena terkesan maknanya kasar. Memang terkesan kasar tetapi dialek bagian dari budaya yang harus dilestarikan penggunaannya,” katanya.

Pemerhati Kebudayaan Pekalongan Zainal Muhibin mengaku ingin mengangkat kembali dialek asli Pekalongan yang kini sudah mulai dilupakan.

“Saya dan rekan pemerhati kebudayaan lainnya ingin melestarikan dan melindungi kebudayaan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Oleh karena, kami mengajak masyarakat mulai memanfaatkan dialek Pekalongan untuk sarana berkomunikasi,” katanya.

Baca juga: Pekalongan daftarkan bangunan cagar budaya pada UNESCO

Baca juga: Karnaval Budaya Batik Pekalongan diikuti 104 peserta

Baca juga: Pekalongan kesulitan rawat benda cagar budaya

Pewarta: Kutnadi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lomba bercerita gairahkan budaya minat baca siswa

Lomba bercerita ini, sangat dibutuhkan untuk memicu anak agar minat membacanya meningkat

Boyolali (ANTARA) – Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah,  M. Qodri mengatakan pihaknya menggelar lomba bercerita tingkat SD/MI untuk menggairahkan budaya minat membaca bagi para siswa.

“Kami mengadakan Lomba Bercerita SD/MI Tingkat Kabupaten Boyolali ini, untuk menumbuhkembangkan minat baca siswa,” kata M. Qodri disela acara Lomba Bercerita Tingkat SD/MI Boyolali 2019, di Pendopo Kromosukartan Pulisen Boyolali, Rabu.

Menurut M. Qodri lomba bercerita yang diikuti 19 siswa SD perwakilan dari 19 kecamatan tersebut bertujuan untuk menumbuhkembangkan budaya gemar membaca.

Pelaksanaan lomba bercerita tingkat Kabupaten Boyolali, kata dia, dilakukankan secara berjenjang dimulai dari tingkat kecamatan untuk menentukan perwakilan yang maju tingkat kabupaten.

“Para siswa yang berhasil maju di tingkat kabupaten ini, merupakan yang terbaik dari perwakilan daerah kecamatannya,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, para siswa pada lomba bercerita tersebut juga mendapat manfaat sebagai media menanamkan cinta kebudayaan bangsa, membangun pendidikan karakter, meningkatkan kecerdasan, inovasi serta daya kompetitif bangsa.

“Para siswa yang berhasil merebut juara 1, nanti berhak mewakili Kabupaten Boyolali maju ke tingkat Provinsi Jawa Tengah. Dan, jika berhasil menjadi juara 1, maka akan maju ke tingkat nasional,” katanya.

Pada kegiatan lomba bercerita tingkat kabupaten, siswa yang berhasil meraih juara pertama yakni Korynna Kusumaningrum asal SD Negeri 1 Sambi Boyolali, dan kedua Lina Rohmatul Maulana dari SD Tempuran Boyolali.

Korynna Kusumaningrum dalam lomba bercerita dengan membawakan judul cerita Rawa Pening, sedangkan Lina Rohmatul, membawakan cerita rakyat Roro Jonggrang.

Endang Purwaningsih salah guru pendamping SDN 1 Simo mengatakan pihaknya mengapresiasi perlombaan semacam tersebut, karena sangat bermanfaat bagi anak didiknya.

“Lomba bercerita ini, sangat dibutuhkan untuk memicu anak agar minat membacanya meningkat,” kata Endang. 

Pewarta: Bambang Dwi Marwoto
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival Khanduri Laot sediakan 15 ribu nasi bungkus untuk wisatawan

Banda Aceh (ANTARA) – Festival khanduri laot atau kenduri laut yang digelar pada 30 Maret hingga 1 April 2019 di Sabang, Provinsi Aceh akan menyediakan 15 ribu nasi bungkus gratis untuk warga dan para wisatawan yang sedang berlibur di daerah setempat.

“Festival khanduri laot akan diikuti 74 peserta lomba memasak kuah beulangong (kuali besi) dan panitia menyediakan 15 ribu nasi bungkus dari daun pisang pada, 31 Maret. Nasi tersebut digratiskan untuk warga dan wisatawan,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Sabang, Faisal  di Sabang, Rabu.

Lebih lanjut Ia menjelaskan, lomba memasak kuah beulangong tersebut dipusatkan di sepanjang jalan Diponegoro di depan Pendapa Wali Kota Sabang)  hingga ke arah kawasan Taman Ria, Gampong (desa) Kuta Ateuh, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang.

Sebanyak 74 peserta lomba memasak kuah beulangong katanya, terbagi dalam dua kelompok masing-masing, kelompok pertama diperlombakan untuk katagori lokal yang diikuti 58 peserta.

Selanjutnya, kelompok ke dua peserta lomba katagori umum dan diikuti 16 peserta dari sejumlah rumah makan ternama yang ada di Kota Sabang dan Kota Aceh.

“Jadi, 16 peserta lomba kategori umum sudah berpengalaman. Masakan mereka sudah terkenal di kalangan masyarakat Aceh maupun wisatawan yang berlibur ke Banda Aceh dan Sabang,” paparnya.

Peserta lomba masak kuah beulangong kategori umum berasal dari rumah makan ternama di Banda Aceh dan Aceh Besar yakni, dari rumah makan Lem Bakrie, Hasan, Bak Trieng, Dek Gun, Ayam Pramugari dan Dek Gam 2.

Ada pun jumlah hadiah uang tunai yang disediakan panitia untuk peserta lomba masak kuah beulangong  yakni Rp72.500.000. Kategori pertama terbuka untuk umum, juara 1 Rp25 juta, juara 2 Rp15 juta dan juara 3 Rp10 juta.

Kemudian, untuk lomba katagori lokal, juara 1 Rp10 juta, juara 2 Rp7,5 juta, dan juara 3 Rp5 juta, rinci Kadispadbud Kota Sabang.

Festifal Khanduri Laot di Kota Sabang merupakan agenda tahunan pemerintah setempat yang bertujuan untuk mempromosikan industri wisata bahari kepulauan paling barat Indonesia guna meningkatkan kunjungan wisatawan.

“Ajang ini sebagai upaya melestarikan masakan tradisional Aceh serta memperkenalkan masakan kuah beulangong kepada wisatawan domestik maupun internasional,” imbuh Kadispadbud.

Festival tersebut akan menampilkan sejumlah atraksi seni budaya masyarakat pesisir kepulauan paling barat Indonesia di antaranya, atraksi adat melaut, lomba memancing tradisional, dan lomba kayuh perahu naga.

Kemudian, pentas pesona budaya, khanduri untuk aulia 44 dan anak yatim, dialog budaya dan silaturahmi Panglima Laot se-Aceh,  dan pameran produk kreativitas daerah pesisir.  

Baca juga: 3 provinsi ikut festival “Khanduri Laot” di Sabang
Baca juga: Festival “Khanduri Laot” diharapkan tingkatkan kunjungan wisatawan

Pewarta: Irman Yusuf
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film Buya Hamka disambut baik MUI

Film sosok Buya Hamka ini perlu ditonton para pelajar dan generasi muda, sebagai calon-calon pemimpin nasional

Medan (ANTARA) – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan Prof Dr Muhammad Hatta menyambut baik dan mendukung sepenuhnya pembuatan film perjuangan tokoh ulama besar Indonesia, Prof Dr  H Abdul Malik Karim Amrullah yang dikenal dengan Buya Hamka.

“Kami mengapresiasi pembuatan film kisah hidup Buya Hamka yang nantinya akan ditayangkan di layar perak di seluruh bioskop di Tanah Air,” kata Muhammad Hatta, di Medan, Selasa.

Film sosok Buya Hamka ini, menurut dia, perlu ditonton para pelajar dan generasi muda, sebagai calon-calon pemimpin nasional.

“Karena dalam film tersebut, menceritakan bagaimana perjuangan ulama besar itu pada zaman penjajahan kolonial Belanda dan begitu juga zaman Kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Hatta.

Ia mengatakan, film Buya Hamka ini, juga sangat bermanfaat bagi masyarakat karena akan memberikan pencerahan, pendidikan dan juga berbagai pengalaman hidup seorang ulama.

“Jadi, film Buya Hamka ini jangan sampai dilewatkan, dan harus ditonton oleh warga Medan,” katanya.

Sebelumnya, dua perusahaan film Indonesia, Starvision dan Falcon Pictures, bekerja sama menggarap film yang mengangkat kisah hidup ulama besar Buya Hamka.

“Ini kolaborasi Falcon, Starvision, dan MUI. Tentu semua mengenal ketokohan Buya Hamka. Semoga nanti film ini bisa menjadi pencerahan inspiratif buat kita semua, penonton film di Indonesia dan seluruh dunia,” kata produser rumah produksi Starvision, Chan Parwez, di Jakarta, Senin (25/3)

Film itu pun mendapat dukungan penuh dari Majelis Ulama Indonesia pusat.

Chan menjelaskan ide pembuatan film Buya Hamka itu terjadi pada 2014 ketika dia bertemu dengan mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin.

Penulisan naskah film pun kerap mengalami perubahan dan memakan waktu lama.

“Semenjak saya ketemu Pak Din pada 2014. Cukup lama tapi itu proses yang mesti dijalani. Karya ini bukan karya ringan tapi karya besar,” katanya.

Film itu akan mulai syuting pada awal April 2019 di Maninjau, Sumatera Barat, dan akan ditayangkan di bioskop pada tahun depan.

Baca juga: MUI harap film Buya Hamka lebih laris dari film Dilan

Pewarta: Munawar Mandailing
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Monolog musikal Srintil, Tri Utami perankan tujuh karakter

Jakarta (ANTARA) – Novel trilogi “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari akan dipentaskan dalam bentuk monolog musikal pada 27-28 April 2019 di teater Salihara dan artis Trie Utami didapuk sebagai pemain utama.

Dalam pentas monolog musikal bertajuk “Srintil: Tembang Duka Seorang Ronggeng” yang mengangkat kehidupan seorang penari ronggeng di Banyumas, Jawa Tengah tersebut Trie Utami akan memerankan tujuh karakter sekaligus.

Tujuh karakter tersebut yakni tokoh utama Srintil kecil, remaja dan tua, kemudian bapaknya srintil (Santayib), emaknya Srintil, kakeknya Srintil, dan pacarnya Srintil (Rasus).

“Saya harus perankan sedikitnya tujuh karakter. Sensasinya bagimana saya diajari untuk perankan banyak karakter, seperti apa karakter itu harus dibangun, itu menarik banget,” kata Trie Utami usai media preview Monolog Musikal Srintil di Galeri Indonesia Kaya Jakarta, Selasa.

Menurut adik musisi Purwacaraka itu, meskipun dunia peran dan pentas bukan hal baru baginya namun monolog Srintil yang diproduseri Dian HP tersebut merupakan yang pertama baginya.

“Saya dipertemukan dengan orang-orang berkompeten di bidangnya, terutama penyutradaraan. Yang saya minta kesabaran pelatih, karena basic saya bukan teater,” ujarnya.

Selain Tri Utami sebagai pemeran utama, monolog Srintil tersebut akan melibatkan Iswadi Pratama sebagai sutradara, Eko Supriyanto (penata tari), Ava Victoria (penata musik) dan Sitok Srengenge (penulis naskah).

Tak hanya menuturkan cerita dalam bentuk narasi serta nyanyian, dalam monolog tersebut Tri Utami juga akan menari seperti ronggeng.

“Ronggeng saat ini dianggap sudah tidak ada, tapi kalau kita masuk ke titik-titik di lapangan masih akan didapati, meskipun berkembang jadi lengger, ledhek dan sebagainya,” katanya.

Berbeda dengan novelnya, Monolog Srintil: Tembang Duka Seorang Ronggeng, menurut Trie Utami tidak bercerita secara utuh tentang ronggeng Dukuh Paruk namun memotret Srintil sebagai seorang perempuan yang tidak bisa lepas dari garis hidupnya.

“Secara psikologi, saya lihat kompleksitas perempuan, naskah ini sebenarnya ingin menceritakan dari sisi seorang ronggeng ada yang harus dilihat juga oleh semua orang, ada konflik (batin perempuan),” katanya. Trie Utami beraksi dalam pentas Monolog Musikal Srintil: Tembang Duka Seorang Ronggeng” di Jakarta, Selasa (26/3/2019). (Subagyo)

Sutradara Iswadi Pratama menyatakan, monolog Srintil ingin menyuarakan kepada masyarakat bahwa seorang penari ronggeng itu harus dihormati, dihargai marwahnya, martabatnya.

“Sudah cukup stigma negatif (pada ronggeng) itu tak perlu diperbarui terus menerus. Ekspresi-ekspresi seni yang diwujud masyarakat kita harus diberi ruang dan kita hormati sesuai tempatnya,” ujarnya.

Pemilihan monolog sebagai karya pentasnya kali ini, Iswadi menyatakan melalui monolog ruang sunyi, ruang batin Srintil sebagai penari ronggeng akan bisa diselami, kesendiriannya bisa lebih mengemuka.

Sedangkan terkait pemilihan Tri Utami untuk menjadi pemeran utama dalam monolog itu, menurut dia, Tri Utami bukan sekedar sosok selebritis namun merupakan seniman multi talenta, yang bisa menyanyi, menari, akting dan teater.
 

Pewarta: Subagyo
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Desa adat di Denpasar mendapat bantuan Pemkab Badung Rp3 miliar

Bantuan dana hibah ini merupakan wujud nyata program Kabupaten BadungAngelus Bhuwanayang artinya dari Badung untuk Bali

Badung (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Badung, Provinsi Bali, menyerahkan bantuan dana hibah sebesar Rp3 miliar kepada Desa Adat Poh Gading, Ubung Kaja, Kota Denpasar.

“Bantuan dana hibah ini merupakan wujud nyata program Kabupaten Badung Angelus Bhuwana yang artinya dari Badung untuk Bali,” kata Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta dalam pernyataan yang diterima di Mangupura, Bali, Senin.

Dana hibah tersebut, diserahkan untuk bantuan dana hibah kepada Tagtag Peguyangan Tengah sebesar Rp1 miliar, Pura Pasek Ubung Rp200 juta, Pura Dalem Penataran Rp100 juta, Pura Dalem Singasari Rp1,5 miliar, Pura Taman Magendra Rp100 juta dan Beji apas Harum sebesar Rp100 juta.

Bupati Badung menjelaskan, kehadirannya di tengah masyarakat adalah murni untuk meringankan beban mereka.

Salah satu contohnya dengan membangun pura, bale banjar dan wantilan, termasuk membantu Sekeha Taruna atau kelompok pemuda.

“Inilah wujud konkret yang kami lakukan sebagai implementasi dari program Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PPNSB) yaitu, semesta menyeluruh, dan berencana terpola,” katanya.

Pihaknya juga berkomitmen untuk membantu meringankan beban pribadi maupun beban komunal masyarakat yang ada di Pulau Dewata.

“Kami harap program ini dapat meringankan beban masyarakat dan ke depan kami tidak berhenti sampai di sini. Sepanjang aspek regulasi memungkinkan dan kemampuan keuangan daerah yang ada di Badung, kami akan terus lakukan ini sampai akhir dari masa jabatan saya sebagai Bupati Badung,” ujar Giri Prasta.

Bendesa Adat Poh Gading, AA Ngurah Ketut Suparta menyampaikan terima kasih kepada Bupati Badung atas kehadirannya di tengah- tengah masyarakat Desa Adat Poh Gading.

“Kami semua menyambut baik dan sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Badung yang telah memberian bantuan dana hibah bagi warga kami ini,” katanya. 

Baca juga: 3.000 peserta meriahkan Badung Festival Bahari

Baca juga: Dinas Kebudayaan Badung konservasi 302 naskah kuno

Pewarta: Naufal Fikri Yusuf
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Puluhan mata air Kudus dikirab

Kudus (ANTARA) – Puluhan sumber mata air yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dikirab dari Alun-alun Kudus, Jawa Tengah, menuju Masjid Menara Kudus, Senin, yang merupakan ajang memperkenalkan kekayaan sumber mata air yang ada di Kabupaten Kudus.

Kirab puluhan sumber mata air tidak hanya diikuti masyarakat umum, melainkan pengelola sumber mata air, Bupati Kudus Muhammad Tamzil dan Wakilnya Hartopo serta Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) juga ikut dalam rombongan kirab dengan naik kuda.

Setelah sampai di kompleks Masjid Menara Kudus, selanjutnya air yang dikirab dimasukkan ke dalam tiga gentong yang sudah disediakan oleh panitia kirab.

Penyatuan berbagai mata air diiringi khataman Alquran kolosal 19 kali dan didoakan oleh ulama setempat setelah sebelumnya dibagikan kepada masyarakat luas.

“Angka 19 merupakan angka keramat yang menandai berdirinya Masjid Al Aqsha dan Negeri Kudus pada 19 Rajab 956 Hijriah,” kata Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus Muhammad Nadjib Hassan.

Terkait dengan kirab puluhan mata air, kata dia, awalnya memang ditargetkan dari 50 sumber mata air, namun karena keterbatasan anggaran akhirnya tidak bisa mengakomodir semua sumber mata air sehingga hanya sebagian dari 50-an sumber mata air.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Kudus bisa memfasilitasi dan ikut sengkuyung sehingga acara kirab puluhan mata air akhirnya menjadi milik masyarakat Kudus.

Sementara itu, Bupati Kudus Muhammad Tamzil didampingi Wakilnya Hartopo menyambut positif digelarnya kirab “banyu penguripan” atau air penghidupan.

“Kami tentunya akan ikut membantu agar nantinya menjadi agenda rutin tahunan, selain juga ada tradisi dandangan dan Hari Ulang Tahun Kota Kudus,” ujarnya.

Air dari berbagai sumber mata air, kemudian dikembalikan kepada masing-masing gentong yang menjadi peserta kirab untuk dibagikan kepada masyarakat luas.

Masyarakat dari berbagai daerah yang kebetulan berziarah ke Makam Sunan Kudus juga ikut berebut mendapatkan air yang berasal dari berbagai sumber mata air itu.

Sembari mencari berkah air, masyarakat juga diajak menikmati kuliner masa lampau yang menjadi khasanah kota suci ini, termasuk yang biasa disajikan untuk selamatan, bancakan, tirakatan dan hajatan lainnya dalam resepsi ta’sis Masjid Al Aqsha Menara Kudus.  

Baca juga: Cagar budaya “Sekolah Rakyat” di Kudus akan dipercantik
Baca juga: Kirab Budaya di Kudus diminati masyarakat
 

Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengenal wayang gemblung karya seniman bantul

ANTARA-Meskipun dinamakan wayang namun wayang buatan Sutung Riyadi warga kabupaten Bantul ini beda dengan wayang pada umumnya. Wayang buatannya menggambarkan tokoh kekinian, sehingga bisa dipentaskan dalam lakon yang menceritakan kehidupan sehari-hari

Tari Cerita Panji di Kabupaten Kediri-Jatim dimeriahkan ribuan penari

Tarian tradisional yang diperagakan antara lain tari “Topeng Panji Gagahan”, “Alus, Panji Laras”, hingga “Sarinjingku”

Kediri (ANTARA) – Sebanyak 1.215 orang penari, baik tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, ikut serta dalam atraksi tari massal Cerita Panji yang diselenggarakan dalam rangkaian Hari Jadi Ke-1215 kabupaten ini.

Bupati Kediri Haryanti Sutrisno mengatakan, kegiatan ini sengaja dilakukan untuk melestarikan kesenian daerah sehingga masyarakat menjadi terhibur dengan berbagai kegiatan dalam rangkain hari jadi di Kabupaten Kediri ini.

“Ini untuk masyarakat Kabupaten Kediri, jadi sekarang sudah tahu banyak kegiatan hari jadi. Harapan saya tahun depan dapat dirayakan lebih meriah lagi,” katanya setelah kegiatan tari massal di area Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri di Kediri, Senin.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kediri Krisna Setiawan mengatakan dalam kegiatan tari massal itu melibatkan 1.215 penari. Mereka semua adalah pelajar baik tingkat SD, SMP dan SMA di Kabupaten Kediri.

“Ini persiapannya sudah agak lama, sekitar satu bulan. Semua pelajar dari sekolah di Kabupaten Kediri dari SD sampai SMA,” kata dia.

Dalam atraksi tari massal itu, para penari menari tentang Cerita Panji. Tarian tradisional yang diperagakan antara lain tari Topeng Panji Gagahan Alus, Panji Laras, hingga Sarinjingku.

Penata tari dalam atraksi itu adalah Putri Jania Setyowati, Lucy Oktavia, M Yahya, Agmarila May Rizqi, hingga Putri Jania Setyowati. Selain itu, guru-guru seni budaya di Kabupaten Kediri yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya SMP Kabupaten Kediri juga ikut serta dalam mengatur seni tari tersebut.

Kegiatan tarian tersebut dimulai dengan hastungkara atau doa dilanjutkan dengan menari massal. Setiap kelompok penari memeragakan tari dengan berbagai cerita yang diperagakannya. Acara dikemas dengan menarik.

Masyarakat juga sangat antusias ingin melihat atraksi tarian massal itu. Sepanjang lokasi di jalan areal SLG Kabupaten Kediri dipenuhi warga yang ingin menonton. Mereka juga mengabadikan di kamera telepon seluler yang dimiliki.

Krisna berharap, dalam kegiatan ini bisa saling meningkatkan tari persaudaraan, terlebih lagi mendekati Pemilu 2019. Pihaknya berharap, agar pemilu berjalan dengan aman dan lancar.

“Diharapkan Kabupaten Kediri yang sebelumnya kondusif dalam penyelenggaraan pemilu, tahun ini dapat berjalan aman, lancar dan tanpa masalah,” kata Krisna.

Krisna menambahkan, rangkaian hari jadi ini sudah dimulai sejak awal Maret 2019. Beberapa kegiatan yang diselenggarakan misalnya pameran UMKM, berbagai macam lomba, dan beberapa kegiatan lainnya. Rangkaian acara tersebut rencananya sudah selesai awal April 2019.

Baca juga: 1.500 pelajar mendongkrak budaya Kediri
 

Pewarta: Asmaul Chusna
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Alif Stone Park, pesona pantai berbatu di Natuna

Jakarta (ANTARA) – Berkunjung ke salah satu kepulauan terluar di Indonesia, tidak lengkap jika tidak menikmati keindahan pantainya.

Berburu destinasi wisata di Natuna, Alif Stone Park menjadi salah satu rekomendasi pilihan para pelancong karena letaknya tidak jauh dari pusat kota Ranai. Wisatawan hanya perlu berkendara dengan mobil, di sana tidak ada bus umum atau taksi, sekitar 20 menit menuju Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Jika tidak cermat, wisatawan mungkin akan melewati begitu saja papan penunjuk bertulisan “Alif Stone Park”, dari luar, petunjuk nama tersebut terkesan seperti penginapan biasa di tepi pantai.

Begitu memasuki kompleks taman batu tersebut, keindahannya mulai terasa, pengunjung disambut pemandangan ke pantai yang dihiasi bebatuan granit berukuran besar.

Kompleks wisata berkonsep taman batu di pantai itu sebenarnya menawarkan paket lengkap, menginap sambil menikmati keindahan perairan Natuna yang mengarah ke Laut China Selatan, atau kini Laut Natuna Utara.

Tapi, jika pengunjung tidak ingin menginap, mereka bisa masuk ke taman wisata ini dengan memberi donasi sekitar Rp5.000. Taman batu ini dikelola oleh pasangan Ferdizeano dan Rina Sudargo sejak beberapa tahun belakangan.

  Pemandangan di Alif Stone Park, Natuna, Kepulauan Riau. (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)

Alif Stone Park bermula dari sang ayah yang membeli sejumlah lahan di kawasan tersebut pada 2006, lalu empat tahun belakangan mereka menambahkan penginapan alias homestay yang kini total memiliki enam kamar.

Masuk ke kawasan Alif Stone Park sedikit mengingatkan pada serial televisi anak-anak 90an, Flinstone, yang berasal dari zaman batu. Jika menuju tempat liburan biasanya disodori bangunan penginapan yang unik di tepi pantai, untuk masuk ke penginapan maupun pantai Alif Stone Park, pengunjung harus melewati gang kecil yang hanya muat satu orang, diantara bebatuan besar.

Jalan sempit itu menunjukkan arah ke homestay dan ke pantai. Untuk menuju pantai, pengunjung akan melewati homestay.

Sambil melewati jembatan kecil yang dibangun untuk menyambungkan bebatuan, pengunjung dimanjakan sinar matahari sekaligus pemandangan ke laut lepas yang dihiasi bebatuan besar.
  Pemandangan di Alif Stone Park, Natuna, Kepulauan Riau. (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)

Bahkan untuk menuju beberapa tempat, pengunjung harus mau berbasah-basah menyeberangi perairan dangkal untuk dapat melihat bebatuan lainnya, termasuk untuk menuju batu yang berdiri tegak menyerupai huruf hijaiyah Alif, yang menjadi inspirasi nama taman batu tersebut.

Jika tidak ingin berpetualang di antara bebatuan, pengunjung bisa menikmati suara ombak laut dengan duduk-duduk di tempat duduk yang dipasang di batu terbesar, atau, tentu saja berfoto-foto dengan latar Laut Natuna Utara.

Alif Stone Park ini sesuai untuk para wisatawan yang ingin menikmati laut, namun tidak ingin tempat yang terlalu ramai.

Rina Sudargo mengakui memang wisatawan yang secara khusus datang ke tempat mereka untuk berlibur tidak terlalu banyak, kebanyakan pengunjung dalam perjalanan bisnis yang ingin sekaligus berjalan-jalan.

“Biasanya, yang ke sini sedang dinas sekalian liburan,” kata dia.

Kamar penginapan Alif Stone Park dirancang untuk menyatu dengan pantai, bahkan salah satu kamar dibangun menyatu dengan bebatuan besar sehingga terkesan alami.

Kamar-kamar tersebut dibangun di rumah panggung, dibangun di atas pasir pantai sehingga terkesan seperti terapung dalam kolam besar jika air pasang.

Untuk menginap di Alif Stone Park, pengunjung perlu merogoh kocek hingga Rp750.000 per malam.
  Pemandangan di Alif Stone Park, Natuna, Kepulauan Riau. (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)

Baru-baru ini, Alif Stone Park menambah fasilitas Wi-Fi di penginapan mereka. Meski pun terdengar sepele bagi wisatawan asal kota besar, Rina mengaku kondisi ini baru terjadi beberapa bulan belakangan. Pertengahan 2018, menurut dia bahkan sinyal internet belum masuk ke sana.

Kabupaten Natuna bisa ditempuh sekitar 1 jam 10 menit dengan pesawat dari Batam atau sekirar 30 jam dengan kapal dari ibukota Tanjung Pinang.

Video
 

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pameran seni rupa Momentum

Perupa Ariadhitya Pramuhendra di samping sebuah karya lukisannya pada acara pembukaan pameran seni rupa tunggalnya yang bertajuk “The Monster: Chapter II Momentum”, di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (22/3/2019). Pameran Ariadhitya Pramuhendra yang merupakan lulusan seni grafis di ITB Bandung ini, akan berlangsung hingga 7 April 2019. ANTARA FOTO/Dodo Karundeng/foc.

Pameran seni Elipsis

Pengunjung mengamati karya seni instalasi di Dago Tea House, Bandung, Jawa Barat, Jumat (22/3/2019). Pameran seni lukis dan instalasi dengan tema “Elipsis” yang menampilkan 16 karya seni dari 16 seniman tersebut memberikan pesan bagi pengunjung untuk menjaga keselarasan alam dari pengaruh globalisasi. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc.

Koleksi Spring Summer Anggia Handmade didominasi warna monokrom

Jakarta (ANTARA) – Perancang busana Anggia Mawardi melalui label Anggia Handmade mengeluarkan koleksi terbaru Spring Summer bertajuk “Revolution” di salah satu hotel kawasan Bandung, Kamis (21/3).

Dalam pagelaran Annual Show Anggia Handmade kali kedua setelah 2016 itu, sang perancang memamerkan sekitar 75 koleksi busana berwarna monokrom dan coral dan tak semata evening wear seperti koleksi biasanya.

Anggia memperkenalkan karyanya untuk daily wear, syar’i, batik hingga baju koko dan menargetkan semua segmen pasar. Perancang busana Anggia Mawardi usai menghadiri pagelaran busana koleksi Spring Summer 2019 Anggia Handmade di Bandung, Kamis (21/3/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Dia menyiapkan semua koleksinya selama setahun terakhir, di masa kehamilan ketiganya. Inspirasinya bermula dari ide menciptakan busana yang sederhana, dengan cutting yang clean.

Untuk daily wear, ada sekitar 20 koleksi busana yang rata-rata menggunakan simple cut, clean dan menonjolkan warna monokrom dominan putih dengan aksen motif kotak. Material yang digunakan 100 persen cotton.

Setiap busana terdiri dari satu hingga tiga item yang bisa dipadupadankan dan menyasar mereka yang berusia 20-50 tahunan.

“Main styling saja untuk busana ready to wear, bisa dipadu padan sendiri. Tidak main banyak warna, dominasi putih, biru, mocca dengan aksen kotak-kotak dan cutting tak biasa,” kata Anggia di Bandung.

“Target Anggi bukan hanya di Indonesia tetapi untuk penjualan di luar negeri, jadi cari warna-warna monokrom, yang orang Indonesia dan luar suka. Anggi cari yang wearable, bahannya nyaman dan bisa dipakai sehari-hari,” sambung dia. Koleksi busana daily wear Anggia Handmade yang dipamerkan di Bandung, Kamis (21/3/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa) Koleksi busana daily wear Anggia Handmade yang dipamerkan di Bandung, Kamis (21/3/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Dia juga mengeluarkan 10 koleksi busana wanita syar’i yang didominasi warna coral dan mocca. Semua koleksi ini merupakan gaun panjang dengan cutting A Line, dan detail lebih terfokus di bagian bawah berupa kombinasi bis dan kristal.

Busana bermaterial chiffon itu menurut Anggi ringan, sederhana dan tidak membentuk tubuh terlalu banyak.

“Bordir enggak full, simple. Bajunya bisa dipakai taklim atau umroh. Warnanya dominasi coral dan mocca. Untuk detail hanya bis dan kristal tetapi bukan Swarovski supaya harganya terjangkau. Lalu, Anggi menggunakan khimar,” tuturnya. Koleksi busana syar’i 2019 Anggia Handmade dalam pagelaran busana di Bandung, Kamis (21/3/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Selain itu, ada juga 10 koleksi busana batik menggunakan pewarna alam indigo berupa blouse dan outer dengan pallazo dan kain sarung yang dapat digunakan sebagai koleksi office wear atau acara resmi.

Untuk pria, Anggia berkolaborasi dengan label Intresse, menghadirkan baju muslim koko berwarna monokrom dan coral dengan aksen motif tenun kontemporer. Material cotton dan polyesther mendominasi koleksi koko ini.

“Baju koko, Anggi menambahkan unsur tenun karena Anggi banyak mengambil detail tradisional. Bordir campur tenun,” ujar Anggi yang berprofesi sebagai dokter gigi di Bandung. Koleksi busana koko 2019 Anggia Handmade yang dipamerkan dalam pagelaran busana di Bandung, Kamis (21/3/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Terakhir, ada juga koleksi luxurious yang masih menghadirkan detail bordir bermotif floral 3D berwarna pastel dengan aksen di bagian bawah. Koleksi ini menggunakan kombinasi warna coral dan mocca, dengan cutting A Line yang bisa dikenakan sebagai koleksi syar’i ataupun evening wear. Koleksi busana mewah Anggia Handmade (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

  Koleksi busana Anggia Handmade Luxurious yang diperlihatkan di Bandung, Kamis (21/3/2019). (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Baca juga: Ning Zulkarnain bawa 12 rancangan busana muslim ke ASC Fashion Week 2018
Baca juga: Alasan Dian Pelangi lebih senang fashion show di Timur Tengah

 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival Titik Kulminasi digelar di tugu khatulistiwa Muaro Sasak

Peristiwa titik kulminasi matahari terjadi setahun dua kali, pada 21-23 Maret dan 21-23 September

Sasak, Pasaman Barat (ANTARA) – Festival Titik Kulminasi untuk pertama kalinya digelar di dekat tugu khatulistiwa  di Pantai Muaro Sasak.di Pantai Muaro Sasak, Kecamatan Sasak Ranah Pasisia Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, Kamis, dalam rangka upaya mempromosikan wisata di daerah itu.

“Pasaman Barat merupakan salah satu daerah titik kulminasi di Sumbar selain Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Pasaman,” kata Camat Sasak Ranah Pasisia, Nur Fauziah Zein, di Pasaman Barat, Kamis.

Pada festival ini digelar beragam kegiatan, di antaranya penanaman pohon buah-buahan dan pohon pelindung sebanyak 2.200 batang di sepanjang tepi pantai Muaro Sasak.

Kemudian juga menampilkan berbagai kesenian berupa gondang tasa, festival layang-layang darek, lomba silat gelombang dan open turnamen bola voli pantai Bupati Cup se-Sumbar.

“Kita juga akan membuat konservasi penyu, cemara laut dan membangun home stay mendukung pariwisata,” ujarnya.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Padang Panjang, Dwi Prasetyo mengatakan titik kulminasi diadakan ketika matahari berada tepat di atas kepala yang terjadi dua kali dalam setahun.

Menurutnya titik kulminasi merupakan fenomena alam ketika matahari tepat berada di garis khatulistiwa.

Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi.

Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan menghilang beberapa detik saat diterpa sinar matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain di sekitar tugu.

“Peristiwa titik kulminasi matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September,” katanya.

Ia berharap dengan peringatan titik kulminasi untuk perdana kali di Pasaman Barat maka untuk selanjutnya bisa diteruskan sebagai upaya penarik wisatawan ke Pantai Sasak.

Sementara itu Bupati Pasaman Barat, Syahiran mengatakan beruntung sekali Pasaman Barat dilewati oleh khatulistiwa yang bisa diperingati setiap tahunnya.

Apalagi menurutnya Pantai Sasak merupakan destinasi wisata yang akan terus dikembangkan. “Dengan adanya peringatan titik kulminasi maka akan mendukung pengembangan wisata Pantai Sasak,” ujarnya.

Pihaknya juga akan terus membenahi sarana prasarana Pantai Sasak untuk pengembangan wisata. Ia mengharapkan peringatan ini terus dilanjutkan dan dikemas lebih baik ke depannya.

“Banyak yang harus dilengkapi. Untuk tugu titik kulminasi diharapkan Dinas Pariwisata nanti membuat anggarannya agar tugu yang ada saat ini dibangun lebih baik lagi,” ujarnya.

Selain itu juga nanti bisa dibangun areal bermain untuk anak-anak di sekitar tugu titik kulminasi.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar menjaga kebersihan daerah wisata. Kemudian juga mengatur tarif makanan dan parkir sehingga tidak membebani wisatawan yang berkunjung ke Pasaman Barat.

“Mudah-mudahan dengan adanya festival titik kulminasi dan agenda lainnya maka pariwisata Sasak akan mudah dikenal oleh masyarakat luas,” harapnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Camat Sasak Ranah Pasisia beserta Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) Pasaman Barat yang bisa melaksanakan turnamen bola voli pantai se-Sumbar yang diikuti oleh kabupaten/kota yang ada.

“Ini adalah ajang latihan bagi Pasaman Barat untuk menjadi tuan rumah Pekan Olah Raga Provinsi pada 2020 nanti,” katanya.

 
Baca juga: Presiden nilai Karnaval Khatulistiwa beri dampak besar bagi Kalbar
Baca juga: Pontianak siapkan dua teleskop luar angkasa amati kulminasi matahari

Pewarta: Altas Maulana
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengintip rahasia keunikan jam Gadang

324 Views

ANTARA-Berbeda dengan jam pada umumnya jam Gadang memiliki keunikan tersendiri yang hanya ada dua di dunia. Mesin pada jam Gadang dibuat secara eksklusif, satu digunakan pada jam Gadang dan satu lagi untuk jam besar Big ben di London Inggris.

Tuan Guru, tokoh besar penanda Indonesia di Afrika Selatan

London (ANTARA) – Peluncuran buku From the Spice Islands to Cape Town: The Life and Times of Tuan Guru oleh jurnalis Afrika Selatan Shafiq Morton mengingatkan bangsa Indonesia terhadap tokoh besar dari Tidore, Maluku Utara yang menjadi penanda hubungan antara Indonesia dan Afrika Selatan.

Hal itu disampaikan Dubes RI di Pretoria, Afrika Selatan, Salman Al Farisi dalam keterangannya, Selasa, terkait peluncuran buku tentang Tuan Guru yang bernama asli Imam Abdullah Qadhi Abdus Salam di Cape Town, Afsel, Minggu (17/3).

Dubes Salman menghadiri acara peluncuran buku itu atas undangan Lembaga Waqaf Afrika Selatan, Awqaf SA dan berharap buku ini semakin memperkaya ingatan publik atas keterkaitan sejarah yang kuat dan pentingnya hubungan antara Indonesia dan Afrika Selatan.

Penerbitan buku ini adalah bagian dari proyek the Awqaf’s Leaders and Legacies Project yang bertujuan merawat ingatan atas tokoh besar pemimpin umat.

Tuan Guru, sosok yang diabadikan dalam buku ini adalah ulama keturunan Indonesia yang mendakwahkan Islam di Afrika Selatan. Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam  lahir di Tidore pada tahun 1712, dan meninggal di Cape Town pada tahun 1807 pada usia 95 tahun.

Tuan Guru tiba di Cape Town dengan kapal VOC, Zeepard, pada tahun 1780 ketika berusia 68 tahun. Belanda mengirimnya ke Cape Town untuk menghalangi interaksinya dengan Inggris, musuh bebuyutan Belanda pada era kolonialisme.

Dalam pengasingan, Tuan Guru mendirikan madrasah pertama di Afsel pada tahun 1793, dan tidak lama setelah itu, membangun masjid pertama di Afrika Selatan, Masjid ul-Awwal. Tuan Guru yang Hafiz Quran, menuliskan kembali Al Quran dari hafalannya saat dipenjara di Pulau Robben selama dua kali.

Ulama besar ini juga menulis karya lain  Ma’rifat wal Iman wal Islam (Pengetahuan Iman dan Agama) setebal 613 halaman, yang menjadi panduan Muslim di Cape Town untuk belajar Islam. Tuan Guru sangat dihormati  di Afrika Selatan.

Pendatang Muslim telah menjadi bagian dari perjuangan nasional di Afrika Selatan terhadap belenggu kolonialisme. Nama tahanan politik kolonialisme seperti Tuan Guru, Syekh Yusuf, Hadjie Matarim, dan lainnya menjadi simbol perjuangan melawan kesewenangan Belanda dan Inggris.

Dubes Salman Al Farisi menyampaikan selamat kepada penulis buku yang telah secara artikulatif menyelami kembali hidup dan kontribusi Tuan Guru bagi Afrika Selatan. Dubes meyakini buku ini akan memperkaya pengetahuan kedua bangsa.

Penulis buku Shafiq Morton, jurnalis foto, editor, dan presenter radio/TV memiliki pengalaman puluhan tahun dan memenangkan berbagai penghargaan meliput berbagai topik seperti kampanye anti-apartheid, pembebasan Nelson Mandela, dan pemilihan umum Afsel 1994.

Tahun 2008, Morton memenangkan Penghargaan Vodacom National Award kategori media komunitas dan penghargaan regional pada tahun 2010.

Karya-karya penulis sebelumnya termasuk Notebooks from Makkah and Madinah (a Saudi Arabian travelogue), Surfing behind the Wall, My Palestinian Journey, dan A Mercy to All.

KBRI Pretoria dan KJRI Cape Town mendukung penuh pelaksanaan kegiatan peluncuran buku “From the Spice Islands to Cape Town: The Life and Times of Tuan Guru”. Acara peluncuran buku tersebut menyemarakkan rangkaian kegiatan peringatan 25 tahun hubungan diplomatik RI-Afrika Selatan sepanjang tahun 2019. 

Baca juga: KBRI perluas pasar produk Indonesia di Afrika Selatan
Baca juga: Din Syamsuddin: Indonesia – Afrika Selatan perlu kerja sama bidang keagamaan

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Arak-arakan pengantin Suku Osing

Warga Suku Osing mengarak pengantin dengan kesenian barong di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (18/3/2019). Arak-arakan pengantin yang melibatkan warga dengan berbagai kesenian khas seperti Barong, Macanan dan pitik-pitikan tersebut, merupakan tradisi Suku Osing Kemiren yang hingga saat ini masih dilestarikan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/wsj.

Museum di Bali diharapkan bisa kembali diminati masyarakat

Ini merupakan tantangan untuk Himpunan Pengurus Museum (Himusba) bagaimana menjadikan museum tempat yang menarik dikunjungi, jangan ada suasana suram. Tolong siapkan tempat agar masyarakat nyaman dan senang berkunjung ke museum

Denpasar (ANTARA) – Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra mengharapkan museum-museum di Pulau Dewata bisa kembali diminati masyarakat dan menarik untuk dikunjungi karena merupakan tempat koleksi yang mempunyai nilai cipta, karya dan karsa yang berharga dari para pendahulu.

“Ini merupakan tantangan untuk Himpunan Pengurus Museum (Himusba) bagaimana menjadikan museum tempat yang menarik dikunjungi, jangan ada suasana suram. Tolong siapkan tempat agar masyarakat nyaman dan senang berkunjung ke museum,” kata Dewa Indra pada pengukuhan anggota Himusba masa bakti 2018-2023, di Denpasar, Senin.

Menurut dia, museum bisa ditambah dengan fasilitas kekinian agar masyarakat betah di sana. “Mungkin bisa ditambah dengan spot foto yang menarik atau diisi kafetaria. Pokoknya buat pengunjung bahkan anak-anak senyaman mungkin,” katanya.

Selain itu, Dewa Indra juga menekankan tugas para pengurus yang baru dilantik adalah berupaya membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya arti museum.

“Museum tempat belajar sejarah yang paling bagus, karena ada nilai pelestarian budaya yang harus kita kenal dan jaga,” ujarnya.

Terkait keengganan masyarakat mengunjungi museum, tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka dan itu menjadi tugas Himusba.

“Perbaiki fasilitas museum serta edukasi masyarakat untuk terus belajar ke museum,” katanya.

Di samping itu, Dewa Indra mengharapkan museum diisi dengan SDM yang profesional dan memanfaatkan teknologi dan koleksi yang ditata secara modern sehingga kesan museum yang kuno, sunyi dan menyeramkan bisa hilang.

“Mari semua pihak untuk melakukan upaya kegiatan strategis menggeliatkan museum, seperti membangkitkan gerakan nasional cinta museum, atau mengajak siswa-siswi mengunjungi museum,” katanya.

Pada kesempatan tersebut para pengurus Himusba dikukuhkan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Bali Nomor: 455/04-A/AK/2019. Adapun nama-nama pengurus yang dikukuhkan yakni Penasihat Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Pembina Tjokorda Gde Sukawati (Museum Puri Luksian) dan JMK Pande Wayan Suteja Neka (Museum Neka).

Dewan Kurator dijabat oleh Dr I Wayan Adnyana ISI Denpasar. Untuk Ketua Umum dan Ketua 1 masing-masing dijabat oleh Anak Agung Gede Rai (Museum Arma) dan Tjokorda Bagus Astika (Museum Puri Lukisan).

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Debat cawapres diprediksi akan berjalan sejuk

Jakarta (ANTARA) – Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno adalah dua karakter yang berbeda. Namun, menurut pengamat sosial Vokasi Universitas Indonesia, Devie Rachmawati acara debat calon wakil presiden yang berlangsung malam nanti justru akan berjalan “sejuk”.

Devie menerangkan bahwa dalam sebuah debat biasanya menggunakan tiga pendekatan yakni klaim, menyerang dan bertahan. Namun dalam adat ketimuran, menurut Devie sangat jarang menggunakan klaim dan menyerang.

“Dalam konteks budaya timur, kita tidak akan banyak menggunakan pendekatan menyerang dan klaim. Klaim itu akan hati-hati karena akan dinilai sombong dan sebagainya. Kita lebih senang dengan suasana yang harmonis, saling menghormati kemudian, positif,” kata Devie saat dihubungi Antara, Minggu.

“Saya justru percaya para calon akan melakukan hal tersebut. Karena dari jejak digital keduanya, mereka sama-sama selalu menyampaikan hal yang positif juga optimis. Menurut saya nanti malam akan berjalan dengan sejuk,” lanjutnya.

Devie juga mengatakan bahwa Ma’ruf akan mewakili orang tua dan kaum agamais. Sedangkan Sandiaga adalah gambaran anak muda yang enerjik.

Kedua karakter ini bisa dibilang sudah memiliki targetnya masing-masing. Menurut Devie, pesan komunikasi yang ingin disampaikan oleh para pasangan calon presiden berjalan dengan sangat baik.

“Mereka sama-sama start dari titik yang sama, beda usia memungkinkan keduanya untuk bicara dengan dua target penonton yang berbeda. Artinya memang tidak ada yang salah, karena calon presidennya juga menarget dua pemilih yang berbeda,” jelas perempuan yang pernah belajar di Swansea, UK ini.

Devie menambahkan, “Jadi sebenarnya saya melihat ini sebagai strategi komunikasi yang baik. Mereka memang berbagi peran lah dalam komunikasi politiknya dengan debat nanti.”

Baca juga: Kontrasnya Ma’ruf Amin – Sandiaga Uno, dari sarung hingga media sosial

Baca juga: Ma’ruf Amin tampak santai hadapi Debat Capres ketiga

Baca juga: Debat cawapres menurut Garin Nugroho

Baca juga: Sandiaga memohon doa orangtuanya jelang debat

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Museum Gedung Sate sudah dikunjungi 148.143 orang

Bandung (ANTARA) – Museum Gedung Sate telah dikunjungi  sebanyak 148.143 orang meskipun baru diresmikan pada 8 Desember 2017,  kata Sekretaris Daerah Jawa Barat (Sekda Jabar) Iwa Karniwa.

Capaian ini adalah pengaruh dari konsep smart museum yang menyesuaikan konten museum sesuai dengan tuntutan zaman dan kebutuhan generasi muda dengan pendekatan kekinian, kata Sekda Iwa saat membuka Museum Festivities (Muvies) untuk merayakan hari jadi yang pertama museum tersebut  di area Gedung Sate Bandung, Jumat (15/3) malam.

Konsep ini tidak hanya memamerkan koleksi yang informatif, tetapi juga mengedepankan pemanfaatan kemajuan teknologi canggih.

“Tidak hanya memiliki koleksi informatif, tetapi juga kuat secara visual dan mengedepankan kemajuan teknologi. Di sini hadir pula perpustakaan dengan koleksi buku-buku sejarah serta galeri kopi Jawa Barat sebagai sebuah kesatuan,” kata dia.

“Syukur Alhamdulilah, dengan berbagai kebaruan ini Museum Gedung Sate telah dikunjungi lebih dari 140.000 pengunjung dalam tahun pertamanya,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Sekda Iwa berharap kehadiran museum dapat meningkatkan minat baca masyarakat.

Hal ini, katanya, mengingat hasil survei most littered nation in the world tahun 2016 lalu menunjukkan bahwa posisi Indonesia hampir terbelakang dalam minat baca, yakni posisi ke-60 dari 61 negara yang disurvei, di antara Thailand di posisi ke-59 dan Botswana di posisi bungsu ke-61.

“Secara khusus saya berpengharapan museum mampu menjadi salah satu sumber inspirasi bagi generasi muda untuk meningkatkan budaya baca. Hal ini penting mengingat tingkat minat membaca masyarakat kita sangatlah rendah,” kata Iwa.

Sekda Iwa menambahkan, untuk mendongkrak minat baca melalui museum, maka pemanfaatan teknologi terkini menjadi salah satu prasyarat utama yang perlu diperhatikan bagi seluruh pengelola museum. Dengan demikian, informasi dapat lebih mudah dipahami oleh generasi milenial saat ini.

“Dengan mengedepankan informasi yang bersifat visual, akan lebih menarik dan mudah dipahami di kalangan generasi muda, khususnya kalangan millenial dan generasi Z,” ujar Iwa.

 Muvies akan digelar selama dua hari, yakni tanggal 15-16 Maret 2019, dengan melibatkan 48 museum se-Jawa Barat untuk diperkenalkan kepada khalayak banyak.

Sebanyak 48 museum dari seluruh Jawa Barat juga bereksebisi di halaman belakang Gedung Sate. Turut hadir pada acara para kepala museum dari seluruh Jawa Barat.

Selain itu, pada dua hari gelarannya (15-16 Maret 2019) Muvies juga menggelar berbagai games dan lomba, seperti lomba mewarnai dan menggambar, serta live-action ludo dan yang menarik.

 Baca juga: Museum Gedung Sate dibuka pada 2017
Baca juga: Museum Tanah, alternatif wisata di Bogor

 

Pewarta: Ajat Sudrajat
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Peluncuran buku antologi puisi Amien Kamil

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid (kanan) berbincang dengan seniman Amien Kamil (kanan) saat meluncurkan buku dan cakram padat (cd) musik-puisi, Elegi Untuk Pramoedya Ananta Toer – Catastrophe 1965 – Antologi Puisi Amien Kamil, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (15/3/2019). Buku tersebut berisi kumpulan puisi karya Amien Kamil. ANTARA FOTO/Ismar Patrizki/pras.

Sail Nias 2019 peluang promosikan destinasi wisata kelas dunia

Nias (ANTARA) – Sail Nias yang akan digelar mulai Juli 2019 akan menjadi peluang bagi pemerintah daerah Kepuluan Nias, Sumatera Utara, untuk lebih memajukan sektor pariwisata dan mempromosikan destinasi wisatanya ke pelosok dunia.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Nias Selatan Anggreani Dachi, Jumat, mengatakan, Sail Nias 2019 secara resmi telah diluncurkan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani di Jakarta.

Sail Nias 2019 yang akan digelar Juli 2019 di Kepulauan Nias mengusung tema “Nias Menuju Gerbang Destinasi Wisata Dunia” yang menurut Puan Maharani akan memiliki efek besar bagi kemajuan pariwisata di Kepuluan Nias.

Sail Nias 2019 merupakan tonggak bagi pemerintah daerah di Kepulauan Nias untuk menggaet investor dalam membangun wilayahnya.

“Menko PMK kemarin memberitahu bahwa pelaksanaan Sail Nias 2019 bertujuan untuk mempercepat pembangunan, mempromosikan destinasi wisata dan mengembangkan rute pelayaran kapal di Indonesia, terutama Kepulauan Nias,” jelasnya.

Menko PMK juga tidak lupa mengingatkan bahwa Nias belum punya akomodasi yang representatif, sehingga yang telah dilakukan jangan sampai tidak berguna selanjutnya. Untuk itu perlu gotong royong antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam menarik investor.

Lebih lanjut Anggreani Dachi menyebutkan Kepulauan Nias punya potensi wisata bahari yang baik, ombaknya dikenal dunia sebagai spot selancar terbaik dan atraksi lompat batunya menjadi ciri khas tersendiri, sehingga Sail Nias kali ini mengangkat tema ‘Nias Menuju Gerbang Destinasi Wisata Bahari Dunia”.

“Sail Nias 2019 akan berlangsung di lima kabupaten dan kota yang ada di Kepulauan Nias selama 3 bulan, dan diisi dengan 18 rangkaian kegiatan,” terangnya.

Puncak acara Sail Nias 2019 digelar di Teluk Dalam, Nias Selatan, pada 14 September 2019 dan akan diramaikan kegiatan Wonderful Nias Expo 2019, kejuaraan surfing internasional WS:QS 1500, pagelaran budaya dan bhakti sosial oleh TNI AL.***1***

Pewarta: Juraidi dan Irwanto
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tim tari SMA Muhammadiyah Yogyakarta torehkan prestasi di Rusia

London (ANTARA) – Tim tari SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta menjuarai International Folklore Festival ke-5, setelah menyisihkan peserta dari berbagai negara, seperti Armenia, Malaysia, India, Iran, Uzbekistan, Kazakhstan, Turki dan Rusia, di Saint Petersburg, Rusia pada 10-13 Maret.

Sekretaris Pertama Fungsi Pensosbud KBRI Moskow, Enjay Diana kepada Antara London, Jumat menyebutkan bahwa festival bertema “Menjaga Tradisi” itu merupakan acara tahunan yang diadakan Yayasan Pelangi Utara Rusia.

Kompetisi dibagi dalam dua kategori, yaitu peserta internasional dari berbagai negara dan kategori lokal yang kontestannya berasal dari daerah atau region di Rusia.

Tim tari SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta menyabet penghargaan tim terbaik dan berhak memperoleh Grand Prix pada kategori peserta internasional.

Peserta dari Selangor, Malaysia mendapat penghargaan tim dengan kostum terbaik. Sementara itu, tim kesenian Slavyanochka memenangi kompetisi untuk kategori daerah Rusia.

Perjuangan tim tari Indonesia tidaklah mudah karena persiapan yang cukup singkat. Namun cuaca di St Petersburg yang dingin dan bersalju tidak menyurutkan hasrat siswa-siswi SMA itu untuk ikut serta pada festival tersebut.

Dengan keyakinan dan semangat yang besar, tidak hanya membawa nama sekolah, daerah, tetapi juga negara, tim itu berhasil melewati babak penyisihan dan masuk babak final hingga terpilih menjadi yang terbaik.

Tim tari Indonesia mempersembahkan Tari Saman. Keselarasan antara gerakan dan irama membuat penonton, termasuk dewan juri terkesima dan terpukau.

Tim tari Indonesia tidak hanya memenangi kompetisi, tetapi juga mendapat “standing ovation” yang riuh dari sekitar 700 orang penonton memenuhi Concert Hall, Hotel Saint Petersburg.

Pada acara puncak festival tersebut turut hadir Minister Counselor Ekonomi, Edi Suharto, yang mewakili Dubes RI untuk Rusia merangkap Belarusia.

Panitia penyelenggara memberikan apresiasi atas partisipasi Indonesia, dan berharap Indonesia dapat berpartisipasi dalam festival di Rusia agar keragaman seni dan budaya nusantara semakin dikenal.

Ketua Dewan Juri juga mengundang tim kesenian Indonesia untuk mengikuti International Festival di Batumi, Georgia pada Juni mendatang.

Manajer Tim Tari SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Tika Musfita mengatakan perjuangan dan latihan intensif selama dua bulan sebelum keberangkatan membuahkan hasil yang menjadi kebanggaan bersama.

“Kami ucapkan terima terima kasih kepada semua pihak yang mendukung Tim, termasuk KBRI Moskow”, ujar Tika Musfita.

Selama di St Petersburg, tim tari SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta tidak hanya mengikuti kompetisi, tetapi juga mengadakan master class tari Saman di St Petersburg Pedagogical College No 4.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M Wahid Supriyadi yang mendapat informasi keberhasilan Tim tari SMA Muhamadiyah 1 Yogyakarta tersebut, menyampaikan selamat dan apresiasi tinggi kepada Tim.

Menurut Dubes Wahid, keikutsertaan Indonesia pada festival ini merupakan bagian penting dari upaya kedua bangsa untuk lebih memajukan people to people contact dan cultural understanding yang pada gilirannya dapat lebih mendekatkan hubungan bilateral kedua negara.

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ayu Utami: “Anatomi Rasa” dan usaha memelihara Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Penulis Ayu Utami akan menerbitkan buku terbarunya “Anatomi Rasa” pada akhir bulan ini, bercerita tentang semangatnya untuk mempersatukan dan memelihara Bangsa Indonesia.

“Latar belakangnya panjang. Spiritulitas kebatinan Jawa punya konsep sangat kuat yaitu ‘rasa’. Kesadaran ini yang membuat bangsa Indonesia bisa mengolah perbedaan,” jelas Ayu Utami ketika ditemui Antara, Rabu (13/3) di Salihara, Jakarta.

Ayu mengatakan, berencana menuliskan konsep “Anatomi Rasa” sejak lama, namun pengerjaannya ditulis satu tahun lalu dengan melakukan beberapa penelusuran mengenai konsep rasa dan asal-usulnya.
Penelusuran yang dilakukan melalui pembacaan teks yang ditulis oleh penulis dan para pujangga atau spiritual Jawa.

“Saya melakukan beberapa penelusuran mengenai konsep rasa dan asal-usulnya sampai saya yakin inilah konsep atau struktur rasa yang selama ini membimbing bangsa ini,” katanya.

Ia menimpali, “dan kesadaran itu kalau enggak diingatkan atau dibahasakan ulang bisa terkikis dan kalau enggak terkikis, kita mungkin bisa menjadi bangsa yang dogmatis.”

“Anatomi Rasa” menurutnya adalah buku yang diceritakan oleh Parang Jati, tokoh dari novel Ayu “Bilangan Fu”. Dia menjelaskan buku baru itu menawarkan spiritualisme kritis yang sebelumnya sudah dikenalkan oleh Parang Jati.

“Waktu di ‘Bilangan Fu’ si tokoh menawarkan spiritualisme kritis dan itu satu cara yang dibutuhkan zaman ini. Waktu di ‘Bilangan Fu’ belum jelas betul konsepnya bagaimana. Setelah ‘Bilangan Fu’ saya melakukan riset bagaimana merepresentasikan spiritualisme yang lebih praktis dan gampang,” terangnya.


Modern dan Rasional

Seperti judulnya, “Anatomi Rasa” akan menawarkan bagian struktur rasa atau kesadaran yang diambil dari Nusantara tanpa mengaplikasikan teori kesadaran dari Barat.

“Anatomi Rasa menawarkan bagian struktur kesadaran yang diambil dari Bumi Nusantara sendiri, jadi enggak pakai teori barat sama sekali. Tapi isinya modern dan rasional,” katanya.

Menurut Ayu, buku itu bisa ditawakan sebagai salah satu alternatif teori psikologi pribumi yang menjelaskan struktur rasa yang ada.

Lebih lanjut, Ayu tidak setuju dengan paradigma tentang Jawa yang hanya dilihat sebagai mistik, klenik dan tidak rasional. Melalui bukunya, dia ingin membuktikan bahwa di balik sifat itu ada struktur yang rasional.

“Anatomi Rasa” tidak bisa dilepaskan dengan novel Ayu sebelumnya yakni “Bilangan Fu” yang lahir dengan membawa konsep yang sama yaitu memperkenalkan pemikiran modern dan rasional.

Menurut dia, saat ini di Indonesia banyak terjadi kekerasan berdasarkan agama, dan hal itu tidak bisa berdiri sendiri dengan hanya melihat dari sisi agama. Menurut dia, agama berbarengan dengan rasionalitas.

“Agama dan rasional itu sama. Dia mengategorikan dunia salah-benar, halal-haram, kita-mereka. Rasa itu bekerjanya enggak kaya gitu. Alih-alih mengategorikan seseuatu, rasa itu menyatukan, mencampurkan dan mencari bentuk kesatuan,” tuturnya.

Dengan ditulisnya “Anatomi Rasa”, Ayu menginginkan bangsa ini memelihara ruh Indonesia yang sudah ada sejak dulu, yakni satu persatuan di dalam perbedaan.

“Saya percaya betul bahwa ruh itu ada. Ruh itu kayak gimana? Ruh itu kayak DNA yaitu seperti sesuatu kode yang tersalin. Nah itu yg harus kita pelihara. Kalau enggak ya terus kita mau jadi apa? Jadi Jepang enggak bisa, China enggak bisa, India enggak bisa. Jadi Arab enggak bisa. Kita harus punya karakter kita sendiri,” ucapnya.

Dalam buku ini Ayu menawarkan struktur rasa yang melihat bahwa manusia mempunyai empat dorongan dasar atau napas. Dorongan dasar itu bisa saling menyeimbangkan dan menyelaraskan sehingga manusia bisa hidup damai dan bersatu dalam perbedaan.

Sebelumnya Ayu sudah menerbitkan beberapa buku fiksi dan nonfiksi. Di antaranya Saman (1998), Larung (2001), Si Parasit Lajang (2003), Bilangan Fu (2008), Pengakuan Eks Parasit Lajang (2013), dan Simple Miracles (2014).

“Anatomi Rasa” akan diluncurkan pada 26 Maret 2019, rencananya akan dibuka dengan pertunjukan wayang oleh putra dari sineas Nia Dinata, Gibran Nicholau sebagai dalangnya.

(Penulis: Peserta Susdape XIX/Shofi Ayudiana)

Baca juga: Ayu Utami : menulis adalah tumpahan “curhat”

Baca juga: Suka nonton TV (bukan) pertanda bodoh

Baca juga: Nestapa manusia modern ala ngaji filsafat

Pewarta: Peserta Susdape XIX/Shofi Ayudiana
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Museum MACAN siapkan pameran baru tahun ini

Jakarta (ANTARA) – Setelah berhasil mendatangkan 350.000 pengunjung pada tahun pertama, Museum MACAN yang berdedikasi pada seni modern dan kontemporer mengumumkan program pameran untuk 2019.

Program MACAN pada tahun kedua ini merefleksikan misi untuk mendukung talenta seni Indonesia dan menampilkan seni internasional yang signifikan di Indonesia, didukung oleh program edukasi yang menyeluruh.

“Program kami akan menampilkan sebuah pameran historis yang berfokus pada salah seorang perupa modern penting di Indonesia, sebuah pameran besar yang membahas pergeseran estetika seni yang terlihat dalam praktik karya beberapa perupa Indonesia berpengaruh pada era sebelum dan setelah Reformasi, dan sebuah pameran retrospektif Xu Bing, seorang perupa kontemporer asal Tiongkok yang diakui secara global,” kata Aaron Seeto, Direktur Museum MACAN, dalam siaran pers, Kamis.

Jeihan: Hari-hari di Cicadas
Pada Maret, Museum MACAN akan mempersembahkan “Jeihan: Hari-hari di Cicadas”, sebuah pameran historis yang intim, menampilkan karya-karya Jeihan Sukmantoro. Jeihan adalah seorang perupa dan penyair kelahiran 1938 yang berpengaruh dalam perkembangan seni modern di Indonesia.

Pameran ini menawarkan perspektif baru tentang era yang penting dalam kekaryaan Jeihan mulai 1960an hingga 1980an, ketika sang perupa tinggal di Cicadas. Cicadas, yang berada di bagian timur Bandung, dikenal sebagai area padat penduduk, juga lokasi prostitusi dan tindak kriminal ringan.

Jeihan dikenal dengan karya lukis ekspresionis dan figuratif sejak tahun 1960an.

Lukisan potret dalam pameran ini menampilkan sang perupa, anggota keluarga dan tetangga-tetangga Jeihan, ketika rumahnya berfungsi sebagai tempat komunal, ruang berkumpulnya warga yang ingin menonton TV. Rumah Jeihan kala itu adalah salah satu yang pertama memiliki TV.

Matter and Place
Pada April, MACAN menghadirkan Matter and Place, menampilkan enam karya dan instalasi oleh perupa Indonesia dan internasional.

Pameran ini menampilkan Elevation, sebuah karya arsitektur gagasan Andra Matin yang telah memenangi penghargaan saat pertama kali ditampilkan di Venice Architecture Biennale 2018; instalasi khas-tapak (site-specific installation) oleh perupa Malaysia Shooshie Sulaiman dan beberapa karya dari koleksi museum.

Dunia dalam Berita
Pada 1 Mei-21 Juli 2019, MACAN akan menampilkan pameran survei berskala besar bertajuk “Dunia dalam Berita” karya 10 perupa Indonesia yang merefleksikan pengaruh pergolakan politik sebelum dan sesudah Reformasi, antara dekade 1990an hingga awal 2000an.

Para perupa itu adalah  Mella Jaarsma, I GAK Murniasih, Nyoman Masriadi, FX Harsono, Tisna Sanjaya, Agus Suwage, Heri Dono, Krisna Murti, S. Teddy D., dan Taring Padi.

“Dunia dalam Berita” menghadirkan telaah atas dua perubahan penting dalam perkembangan seni kontemporer di Indonesia, yaitu dampak Reformasi pada kekaryaan sekelompok perupa Indonesia yang telah dikenal secara internasional, juga pengaruh kultur populer dalam konteks globalisasi di Indonesia.

Xu Bing: Thought and Method
Kemudian, pada kuartal terakhir 2019 dan menuju 2020, museum akan menampilkan “Xu Bing: Thought and Method”, pameran retrospektif solo Xu Bing, perupa kontemporer Tiongkok yang berpengaruh.

Xu dikenal akan karya instalasinya yang kuat, pendekatan konseptual terhadap teknik cetak, juga pemahaman yang mendalam tentang teks dan silang budaya di era aliran informasi dan manusia lintas negara.

Xu lahir di Chongqing, sebuah kota di barat daya Tiongkok, pada 1955 dan menempuh studi di Tiongkok dan Amerika Serikat

Pameran ini dihadirkan dalam kerja sama dengan UCCA Center for Contemporary Art, dan pertama kali ditampilkan di Beijing, Tiongkok pada 2018. Karya instalasi dari berbagai fase dalam karya Xu Bing ditampilkan di pameran ini.

Baca juga: Main Getah, kerja sama Museum MACAN dengan perupa Shooshie Sulaiman
Baca juga: Museum Macan punya kurator baru
Baca juga: Jelajahi dunia Yayoi Kusama di Museum Macan

 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dubes Tiongkok terkesan nuansa heritage Hotel Tugu Malang

“Dari dekorasi bangunan, ataupun pengaturan pernak-pernik yang ada, mempunyai ciri khas yang bisa menjadi warisan budaya,”

Malang (ANTARA) – Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia, Xiao Qian, menyatakan terkesan dengan nuansa heritage atau warisan budaya yang kental, di Hotel Tugu, Kota Malang, Jawa Timur.

“Saya menginap tidak jauh dari Balai Kota Malang, di Hotel Tugu. Hotel ini sangat mengesankan,” kata Qian saat menyampaikan sambutannya di Balai Kota Malang, Jawa Timur, Rabu.

Qian menambahkan, detil dekorasi yang ada di hotel tersebut, termasuk pengaturan pernak-pernik seperti lukisan, meja, kursi, dan ornamen lainnya, memiliki ciri khas yang bisa dijadikan warisan budaya.

Hotel Tugu Malang merupakan salah satu hotel tua di Kota Malang. Terletak di pusat kota, persis di depan Alun-Alun Tugu, dan bersebelahan dengan Balai Kota Malang, hotel tersebut menyajikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung yang datang.

Hotel tersebut bagaikan museum yang memamerkan barang antik dengan tema yang sangat unik. Ada beberapa ruang dengan tema tertentu yakni Ruang Raja, Bangsal Merah, Ruang Baba, Tirta Gangga, dan Ruang Soekarno.

Koleksi yang ada di Hotel Tugu Malang tersebut, berisikan barang antik dari pendiri Tugu Group, Anhar Sejadibrata, yang merupakan kerabat dekat dari Oey Tiong Ham, seorang pengusaha gula besar asal Semarang pada zamannya.

Koleksi yang ada merupakan benda warisan keluarga Oey, yang bernuansa peranakan China-Jawa.

“Dari dekorasi bangunan, ataupun pengaturan pernak-pernik yang ada, mempunyai ciri khas yang bisa menjadi warisan budaya,” kata Qian.

Qian menambahkan, meskipun dirinya baru pertama kali menginjakkan kaki di Kota Malang, nuansa wisata ditambah kebersihan kota, dan masyarakat yang ramah, menjadikan kunjungan kerja tersebut meninggalkan kesan yang sangat mendalam.

“Walaupun saya baru saja berada di Kota Malang, saya bisa merasakan bahwa kota ini bersih, rapi, stabil, makmur, dan masyarakatnya sangat ramah, semua ini meninggalkan kesan sangat indah bagi saya,” tutup Qian.

Pewarta: Vicki Febrianto
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua fotografer Indonesia raih penghargaan HIPA

Jakarta (ANTARA) – Dua fotografer Indonesia berhasil memenangi kompetisi fotografi internasional “Hamdan International Photography Award” (HIPA) musim ke-8 2018 – 2019 yang dipromosikan oleh Pangeran Dubai Sheikh Hamdan Bin Mohammed Bin Rashid Al Maktoum, dengan mengangkat tema Harapan atau “HOPE”.

Kedua fotografer tersebut adalah Fanny Octavianus jurnalis foto sekaligus editor foto di Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, sementara fotografer lainnya yakni Muhammad Fahrur Rasyid fotografer lepas dari Makassar. Fanny terpilih sebagai pemenang pertama sedangkan Fahrur berada di posisi kedua.

Hasil karya Fanny Octavianus merekam momen tentang seorang bocah laki-laki sedang bermain di jalan dalam keadaan banjir setelah hujan deras di jalan Sabang, Jakarta Pusat pada 1 Maret 2010.

Saat dihubungi di Jakarta pada Rabu, Fanny Octavianus menceritakan momen tersebut di mana proses pengambilan gambar dilakukan pada pukul 14.00 WIB saat hujan deras melanda kawasan Jakarta.

“Setelah satu jam berlalu tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti, saya putuskan untuk pergi memotret banjir di jalan Sabang,” kata Fanny.

Sampai di lokasi, Fanny mulai mengambil gambar sekelompok bocah yang tengah bermain, dan ia pun menemukan momentum yang tepat.

“Saya mengikuti seorang anak dari belakang, dan mulai menurunkan kamera kemudian men ‘zoom-out’ lensa. Saya mengkomposisikannya berada di tengah dan menutupi sorot langit. Saya katakan ‘ini dia!’” Kata Fanny.

Terkait dengan tema Harapan pada kompetisi HIPA, Fanny mengatakan, gambar tersebut merepresentasikan semangat untuk melawan perubahan iklim demi generasi muda selanjutnya.

Dalam perjalananya di dunia jurnalis foto, pria kelahiran Purwokerto tahun 1977 ini telah memenangkan beberapa penghargaan bergengsi fotografi tingkat nasional di antaranya Foto Terbaik Anugerah Adiwarta 2010, Foto Terbaik Anugerah Adiwarta 2011, juara Anugerah Adinegoro 2013.

“Memotret bukan hanya untuk bekerja, karena yang utama dalam berfotografi adalah untuk bersuara,” kata Fanny menutup pembicaraan.
  Foto karya Muhammad Fahrur Rasyid pemenang kedua Hamdan International Photography Award (HIPA) musim ke-8 2018 – 2019 katagori “Harapan”. (ANTARA News/Official HIPA)

Kemenangan Basarnas

Sedangkan Muhammad Fahrur Rasyid berhasil merekam secara ekspresif momentum dua anggota Basarnas yang berhasil mengevakuasi warga yang terjebak di reruntuhan usai bencana likuifaksi di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah pada 30 September 2018.

“Saya berangkat dari Makassar menuju Palu bersama tim Basarnas Sulsel, sampai disana dapat laporan ada warga yang terjebak reruntuhan,” Kata Fahrur saat dihubungi.

Foto yang diambil Fahrur pada pukul 03.00 WITa menceritakan proses evakuasi seorang warga benama Nurul (15) yang terjebak selama tiga hari dua malam akibat likuifaksi oleh dua anggota Basarnas.

“Saat mengikuti proses evakuasi tersebut lelah saya hilang pas diajak evakuasi korban sama Basarnas,” kata Fahrur.

Ia mengaku tidak menyangka dapat meraih penghargaan HIPA sebab ketika meliput ia hanya berpikir tentang membantu korban melalui fotografi.

Menurut dia tugas liputan saat bencana likuifaksi sangat berharga, pasalnya selain menjalankan tugas jurnalistik dia juga merasa sedang melakukan tugas kemanusiaan.

“Karena mau bantu korban dengan uang enggak punya, saya bantu dengan mempublikasikan keadaan lewat media. Saya rasa berpikir seperti itu untuk kemanusiaan pasti bisa,” kata Fahrur.

Kompetisi HIPA ini bukan yang pertama kalinya diikuti oleh Fahrur namun selalu gagal. Ia telah mengikuti perlombaan tersebut sejak 2014. Akhirnya usaha Fahrur terbayarkan dengan meraih juara kedua dalam penyelenggaraan HIPA tahun 2018-2019.

Untuk setiap pemenang I, II, III dalam katagori Hope masing-masing mendapat hadiah US$ 25.000 (sekira Rp356 juta), US$20.000 (sekira Rp285 juta), US$15.000 (sekira Rp213 juta), sedangkan untuk Grand Prize atau Pemenang Utama berhak meraih hadiah US$ 120.000 (sekira Rp1.7 milliar lebih). Hadiah tertinggi ini diraih oleh fotografer Malaysia, Edwin Ong Wee Kee.

Penulis: Peserta Susdape XIX/Galih Pradipta

Pewarta: Peserta Susdape XIX/Galih Pradipta
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019